Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Aksara


Sebelum masyarakat mengenal sistem tulisan, masyarakat Indonesia telah berhubungan dengan para pedagang asing, terutama dari Cina Selatan dan India Selatan. Karena Kepulauan Nusantara terletak di antara jalur pelayaran Cina-India maka para pedagang yang pergi dari Cina ke India atau sebaliknya dipastikan melewati perairan Indonesia. Selama pelayaran ini, para pedagang asing menyempatkan diri singgah di tempat-tempat di Indonesia.

Persinggahan para pedagang asing tersebut dapat berlangsung sementara atau untuk waktu yang cukup lama. Adakalanya mereka singgah di pelabuhan-pelabuhan yang ramai didatangi para pelaut dan pedagang lain, sekadar menawarkan barang dagangnya. Dan adakalanya pula mereka mencari dan membuka lahan baru sebagai tempat tinggal sementara sebelum melanjutkan pelayaran. Ingat, pelayaran mereka sangat tergantung pada kondisi cuaca.

Para pedagang dan pelaut asing yang berdiam relatif lama itu pada akhirnya bersosialisasi dengan penduduk pribumi Nusantara. Dengan demikian, terjadilah kontak budaya antara mereka dengan orang-orang pribumi. Memang, pengaruh India dan Cina terhadap kehidupan pribumi tidak sama. Ini terlihat dari segi politik. Kita akan mengetahui bahwa ternyata orang-orang Indialah yang banyak memainkan peran politik di awal-awal tarikh masehi di Nusantara. Ini terlihat dari sistem pemerintahan kerajaan yang diadopsi dari sistem di India.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para pakar, bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah sekitar abad ke-5 Masehi, yaitu dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang berbentuk yupa di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Pengaruh India sangat kental dalam penemuan yupa tersebut yaitu terdapatnya huruf Pallawa yang tertulis dalam yupa tersebut. Dari sinilah kemudian tradisi sejarah pada masyarakat Indonesia mulai terbentuk. Mereka mulai membuat catatan tertulis atau merekam pengalaman hidup masyarakatnya. Berikut contoh beberapa rekaman pengalaman masyarakat Indonesia yang berwujud prasasti sebagai berikut:

Prasasti

a. Prasasti Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai terletak di sekitar aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Menurut bukti prasasti yang ditemukan, Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Prasasti Kutai itu berbentuk tugu atau yupa yang berbahasa sanskerta dan huruf pallawa. Dalam salah satu prasasti dinyatakan nama-nama raja seperti Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman sebagai peringatan upacara kurban. Dilihat dari bentuk tulisan pada yupa diduga prasasti itu dibuat pada abad ke-5 Masehi.

Raja terkenal Kutai adalah Mulawarman, seperti diungkapkan pada salah satu yupa berikut ini: "Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang masyur yang bernama Aswawarman. (Dia) mempunyai tiga orang putra yang seperti api. Yang terkemuka di antara ketiga putranya adalah sang Mulawarman, raja yang besar, yang berbudi baik, kuat, dan kuasa, yang telah upacara korban emas amat banyak dan untuk memperingati upacara korban itulah tugu ini didirikan".

Ia sering disamakan dengan Ansuman, yaitu Dewa Matahari. Raja Mulawarman dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia juga memiliki hubungan yang baik dengan kaum Brahmana yang datang ke Kutai. Diceritakan bahwa Raja Mulawarman sangat dermawan. Ia memberi sedekah segunung minyak dan lampu. Ia juga memberikan hadiah 20.000 ekor lembu kepada Brahmana di suatu tempat yang disebut Wafrakeswara. Wafrakeswara adalah tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa Raja Mulawarman menganut agama Hindu Siwa. Dari besarnya sedekah Raja Mulawarman ini memperlihatkan keadaan masyarakat Kutai yang sangat makmur. Kemakmuran ini didukung oleh peranan yang besar. Kerajaan Kutai dalam pelayaran dan perdagangan dunia. Hal ini disebabkan karena letak Kutai yang sangat strategis, yaitu berada dalam jalur perdagangan utama Cina-India.

b. Prasasti Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara terletak di daerah Bogor, Jawa Barat. Adanya kerajaan tertua di Pulau Jawa ini, didukung oleh beberapa prasasti, seperti:
  1. Prasasti Ciaruteun/Ciampea (Bogor). Prasasti Ciaruteun ditemukan di dekat muara Cisadane. Prasasti itu ditulis pada sebuah batu besar disertai cap sepasang telapak kaki. Terjemahan tulisan prasasti itu antara lain: Ini bekas sebuah kaki yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Purnawarman, raja negeri Taruma yang gagah berani di dunia.
  2. Prasasti Kebon Kopi (Bogor). Prasasti ini ditemukan di Cibungbulang, Bogor. Dalam prasasti ini terdapat gambar dua telapak gajah yang disamakan dengan telapak gajah Airawata (gajah kendaraan Dewa Wisnu). Terjemahan tulisan prasasti itu antara lain: Di sini tampak sepasang dua telapak kaki.... yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dan ... kejayaan. Isi prasasti tidak dapat dibaca selengkapnya karena ada bagian tulisan yang sudah usang.
  3. Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta). Prasasti ini ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini merupakan prasasti Tarumanagara yang terpanjang dan terpenting. Isinya antara lain tentang penggalian sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak (lebih kurang 11 Km), yang bernama Gomati. Penggalian itu dilakukan pada tahun ke-22 pemerintahan Raja Purnawarman. Pekerjaan penggalian diselesaikan dalam waktu 21 hari. Setelah selesai, diadakan selamatan di mana raja memberikan hadiah 1000 ekor sapi kepada para Brahmana. Di samping itu, prasasti tugu menyebutkan penggalian sungai bernama Candrabaga.
  4. Prasasti Muara Cianten (Bogor). Prasasti ini ditulis dengan huruf ikal dan belum dapat dibaca.
  5. Prasasti Jambu (Leuwiliang). Prasasti ini ditemukan di Bukit Koleangkak, termasuk perkebunan Jambu, kira-kira 30 km sebelah barat Bogor. Prasasti ini berisi sanjungan kebesaran, kegagahan, dan keberanian Raja Purnawarman.
  6. Prasasti Lebak (Banten). Prasasti Lebak ditemukan pada tahun 1947. Prasasti ini hanya terdiri atas dua baris kalimat. Corak tulisan mirip dengan tulisan pada prasasti Tugu. Isinya memuji kebesaran dan keagungan Raja Purnawarman.

Sumber prasasti Tarumanagara dibuat dengan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Dari salah satu prasasti diketahui diketahui Raja terkenal dari Tarumanegara adalah Purnawarman. Hal itu seperti diungkapkan dalam prasasti Ciaruteun, yaitu: "Ini adalah dua tapak kaki Raja Purnawarman raja dari negeri Taruma, raja yang gagah berani". Purnawarman pun dikenal sebagai raja yang memperhatikan masalah pertanian dan peternakan yang diungkapkan dalam prasasti Tugu.

c. Prasasti Kerajaan Sriwijaya

Prasasti-prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Sriwijaya antara lain:
  1. Prasasti Kedukan Bukit. Isi Prasasti menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan membawa 2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah.
  2. Prasasti Talang Tuwo. Isi prasasti menyatakan pembuatan taman bernama Sriksetra. Taman itu dibuat oleh Dapunta Hyang untuk kemakmuran semua makhluk.
  3. Prasasti Telaga Batu. Isi prasasti menyatakan kutukan bagi rakyat yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada perintah raja.
  4. Prasasti Kota Kapur. Isi prasasti menyatakan usaha Kerajaan Sriwijaya untuk menaklukkan Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya.
  5. Karang Berahi. Isi kedua prasasti menyatakan permintaan dewa agar menjaga Kerajaan Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.

Isi prasasti membawa kita pada kesimpulan sebagai berikut:
  • Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu yang ditemukan di dekat Palembang menceritakan berdirinya Kerajaan Sriwijaya pada tahun 683 M. Pusat kerajaan terletak di dekat kota Palembang sekarang.
  • Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi yang ditemukan di Bangka dan Jambi menceritakan wilayah kekuasaan Sriwijaya sampai ke Pulau Bangka dan Melayu.

Setelah prasasti di atas, sumber sejarah tentang Kerajaan Sriwijaya dapat kita ketahui dari prasasti di Indo Cina dan India serta catatan-catatan Cina dan Arab. Catatan dari Cina berasal dari I Tsing, seorang rahib Buddha. Sedangkan catatan dari Arab berasal dari Raihan Al-Beruni seorang ahli geografi dari Persia.

Karya Sastra

Selain prasasti yang telah dijelaskan di atas, bukti kebiasaan tulisan yang dilakukan oleh raja-raja di kerajaan di Indonesia adalah ketika mereka mempunyai para penulis keraton atau para pujangga yang bertugas mencatat beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan kerajaannya. Misalnya, menyangkut sebuah peristiwa penting yang menyangkut bidang sosial, ekonomi, politik maupun keagamaan, serta pembuatan silsilah kerajaan dan kebijakan-kebijakan raja.

Para pujangga istana menulis tentang hal-hal yang baik dan positif saja dari seorang raja, bersifat istanasentris dan mempunyai tujuan untuk menunjukan kelebihan, keistimewaan, dan menjadi alat legitimasi dari seorang raja. Misalnya, ketika di kerajaan Singosari Ken Arok membentuk wangsa Giridrawangsa untuk memberikan pemahaman kepada rakyat bahwa dia adalah keturunan dewa.

Pada awalnya karya sastra ini ditulis di atas daun lontar yang bila rusak selalu diperbaiki. Sejalan dengan kemajuan teknologi kemudian diubah menggunakan kertas. Karya sastra ini bisa berbentuk puisi, kakawin, maupun prosa. Berikut karya sastra yang dimaksud antara lain:
  • Kitab Kakawin Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, pada masa pemerintahan Raja Jayabaya dari Kediri. Kisah peperangan Pandawa dengan Kurawa yang secara implisit menggambarkan perang antara Jenggala dan Kediri.
  • Kitab Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh.
  • Kitab Smaradhana, karya Mpu Dharmaja.
  • Kitab Lubdaka dan Kitab Wrtasancaya, karya Mpu Tanakung.
  • Kitab Kresnayana, karya Mpu Triguna.
  • Kitab Pararaton, isinya sebagian besar mitos tentang riwayat Ken Arok, Riwayat Raden Wijaya dan Kertanegara sampai menjadi raja di Majapahit.
  • Kitab Sundayana, yang mengisahkan terjadinya peristiwa Bubat, yaitu perkawinan yang berubah menjadi pertempuran.
  • Negarakretagama, yang dikarang oleh Mpu Prapanca, mengisahkan perjalanan Hayam Wuruk ke daerah-daerah kekuasaan Majapahit.
  • Kitab Sutasoma, yang dikarang oleh Mpu Tantular, berisi tentang riwayat Sutasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Budha. Dalam kitab ini tergambar adanya kerukunan umat beragama di Majapahit antara umat Hindu dengan umat Budha. Dalam kitab ini terdapat ungkapan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.
  • Kitab Ranggalawe, yang menceritakan pemberontakan Ranggalawe.
  • Kitab Sorandaka, yang menceritakan pemberontakan Sora.
  • Kitab Usana Jawa, yang menceritakan penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar.

Sedangkan tradisi tulisan peninggalan kerajaan-kerajaan Islam berupa karya sastra yang mendapat pengaruh dari Persia. Namun pengaruh sastra Indonesia dan Hindu juga masih ada. Pada masa itu muncullah hikayat, yaitu karya sastra yang kebanyakan berisi dongeng belaka, ada pula yang berisi cerita sejarah; di pulau Jawa disebut babad biasa di Jawa berupa puisi (tembang) di luar Jawa bisa berbentuk syair atau prosa. Beberapa contoh karya sastra antara lain:
  1. Cerita Panji. Mengisahkan perkawinan Panji Inu Kertapati, putra raja Kahuripan dengan Galuh Candra Kirana, putri raja Daha. Perkawinan berlangsung setelah berhasil mengatasi berbagai kesulitan.
  2. Cerita Amir Hamzah. Mengisahkan permusuhan antara Amir Hamzah dengan mertuanya, raja Nursewan dari Madayin, yang masih kafir.
  3. Hikayat Bayan Budiman. Mengisahkan burung nuri yang pandai cerita sehingga Prabawati yang ditinggal suaminya, Madasena, berlayar terhindar dari perbuatan serong.
  4. Hikayat Hang Tuah. Mengisahkan perkawinan Hang Tuah, abdi raja Malaka yang setia, gagah berani, lagi bijaksana. Setelah mengundurkan diri, kemudian Hang Tuah hidup sebagai pertapa dan hilang secara gaib. Hang Tuah adalah tokoh sejarah, yaitu laksamana armada kerajaan Malaka waktu masa jayanya. Ia adalah prajurit yang utama, berani serta pandai dan bijaksana, dan abdi sang raja yang taat dan setia. Bisa dikatakan dalam segala hal ia adalah wakil sang raja dan duta kerajaannya. Berkali-kali namanya kita jumpai dalam Sejarah Melayu, dan ia selalu dijadikan contoh teladan. Dalam hikayat ini ia digambarkan sudah menjadi pahlawan pada masa Gajah Mada (sekitar tahun 1350), mengenal kerajaan Wijayanagara di India pada puncak kejayaannya (sekitar tahun 1500) dan mengalami pula jatuhnya Malaka pada tahun 1511, bahkan juga direbutnya Malaka oleh Belanda pada tahun 1641! Hang Tuah tidak meninggal melainkan gaib, setelah ia mengundurkan diri dari hidup kemasyarakatan dan menjadi petapa. Sebagai keramat ia masih sering kali menampakkan diri kepada keturunannya. Demikianlah menurut ceritanya.
  5. Hikayat Raja-Raja Pasai. Kitab ini disusun sekitar abad ke-15 M. Isinya mengenai riwayat raja-raja yang pernah memerintah Samudera Pasai. Hikayat Raja-raja Pasai. Kitab babad ini dalam pokoknya meriwayatkan kerajaan Pasai, sejak didirikan oleh Malik al-Saleh (wafat th. 1297) sampai ditaklukkan oleh Majapahit zaman Gajah Mada. Angka tahun tidak ada didapatkan dalam kitab ini, dan uraian seluruhnya ditenun dalam dongeng-dongeng sehingga jika tidak ada bahan-bahan sejarah untuk mencocokkan dan sebagai perbandingan maka tak dapatlah kita membedakan mana fakta-fakta sejarahnya. Demikianlah misalnya, permulaannya berupa dongeng tentang seorang anak perempuan yang dilahirkan dari sebatang bambu dan nantinya kawin dengan seorang putera bangsawan yang waktu kecilnya diasuh oleh seekor gajah. Bagian yang mengisahkan raja-raja Pasai pun lebih berupa cerita roman daripada sejarah. Tentang sebabnya Pasai diserang Majapahit diceritakan sebagai berikut: Seorang puteri Maja pahit, Raden Galuh Gumarancang, jatuh cinta kepada Tun Abd al-Jalil, putera Raja Pasai, dan datang sendiri di Pasai menjemput kekasihnya. Raja Pasai tidak menyetujui perkawinan ini, dan menyuruh bunuh puteranya dan buang ke laut mayatnya. Ketika sang puteri mengetahui hal ini, ia menenggelamkan diri bersama perahunya untuk bersatu dengan sang pangeran itu. Raja Majapahit segera mengirimkan armadanya ke Pasai untuk menyatakan amarahnya.

Sementara karya sastra babad adalah cerita sejarah yang biasanya lebih bersifat cerita daripada nilai sejarahnya. Karya-karya babad yang berhasil terkumpul antara lain:
  1. Babad Tanah Jawi. Isi kitab ini menceritakan kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak kerajaan Hindu-Buddha sampai kerajaan-kerajaan Islam. Babad Tanah Jawi. Kitab ini menguraikan sejarah pulau Jawa mulai dari Nabi Adam sampai 1647 tahun Jawa (=1722 Masehi). Adam ini ber-anak Nabi Sis, Sis beranak Nurcahya, Nurcahya beranak Nurasa beranak Sang Hyang Wenang beranak Sang Hyang Tunggal beranak Batara Guru. Batara Guru yang bertakhta di Suralaya beranak 5 orang, di antaranya: Batara Wisnu. Wisnu inilah raja pertama di Jawa, bergelar Prabu Set. Jelaslah bahwa permulaannya sulit kita terima sebagai sejarah. Begitu pula lanjutannya, yang menguraikan berbagai raja dan kerajaan seperti Pajajaran dan Majapahit. Mulai dari zaman Demak ada juga sedikit-sedikit sejarah, makin mendekat abad ke-18 makin banyak, akan tetapi uraian seluruhnya banyak yang lebih berupa cerita daripada sejarah. Dalam hal ini fakta sejarahnya lebih banyak didapatkan di Sejarah Melayu, artinya lebih nyata dikemukakan. Sebaliknya Babad Tanah Jawi memuat berbagai angka tahun, yang memberi kemungkinan untuk dicocokkan dengan bahan-bahan sejarah lain.
  2. Sejarah Melayu. Kitab ini ditulis oleh patih Kerajaan Johor bernama Bendahara Tun Muhammad. Isinya menceritakan kebesaran Iskandar Zulkarnain yang menurunkan raja-raja Melayu. Sejarah Melayu, juga dinamakan Sulalat us-salatin. Kitab ini betul-betul dimaksudkan sebagai sejarah. Meskipun banyak juga terdapatkan dongeng-dongeng di dalamnya, dalam garis besarnya yang diuraikan adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh terjadi. Penulisnya adalah Bendahara Tun Muham mad, patih kerajaan Johor, atas perintah dari Raja 'Abdullah, adik dari Sultan Ala’uddin Riayat Syah III. Kitab ini dimulai dalam tahun 1612 dan selesai dalam tahun 1615, jadi ditulis waktu kerajaan Johor berulang kali mendapat serangan dari Aceh. Sejarah ini dimulai dengan riwayat Iskandar dari Makadunia (Iskandar dzu’l Karnain). Seorang keturunannya tiba di Bukit Seguntang dekat Palembang dan menjadi raja. Kerajaan ini nantinya pindah ke Singapura, dan kemudian ke Malaka. Mulai dari sini semakin banyaklah fakta-fakta sejarah yang diceritakan.
  3. Babad Cirebon. Kitab ini memuat tentang daftar sejarah Cirebon.
  4. Bustanul Salatin. Kitab ini ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri. Isinya memuat intisari ajaran Islam, seperti penciptaan langit dan bumi, riwayat nabi-nabi, dan riwayat para sultan yang pernah memerintah Aceh (kronik).
  5. Babad Giyanti. Menceritakan pembagian kerajaan Mataram menjadi kerajaan Yogyakarta dan Surakarta pada tahun 1755. Pada tahun 1757, berdiri kerajaan Mangkunegaran, sebagian dari kerajaan Surakarta. Babad Giyanti, karangan Yasadipura. Isinya meriwayatkan pecahnya kerajaan Mataram dalam tahun 1755 dan 1757 menjadi Surakarta di bawah pemerintahan Paku Buwono III, Yogyakarta dengan Hamengku Buwono I dan Mangkunegaran yang diperintah oleh Mangkunegoro I. Apa yang diuraikan dalam kitab ini adalah betul-betul sejarah, meskipun banyak beberapa penambahan oleh penulisnya.

Karya sastra berupa syair peninggalan sejarah Islam di Indonesia antara lain:
  1. Syair Abdul Muluk. Syair ini menceritakan bahwa Raja Abdul Muluk mempunyai dua orang istri, yaitu Siti Rahmah dan Siti Rafiah. Ketika kerajaan Barbar diserang oleh Kerajaan Hindustan, Siti Rafiah dapat meloloskan diri. Kemudian berkat bantuan sahabatnya, ia dapat merebut kerajaannya kembali.
  2. Gurindam Dua Belas. Karya sastra ini ditulis oleh Ali Haji, yang berisi nasihat bagi para pemimpin, pegawai, dan rakyat biasa menjadi terhormat dan disegani oleh sesama manusia.
  3. Suluk Sukarsah. Isinya mengisahkan seseorang yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
  4. Suluk Wijil. Isinya mengenai wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wijil. Wijil adalah seorang yang kerdil bekas abdi raja Majapahit.
  5. Suluk Karya Hamzah Fansuri, yaitu: Syair Prahu. Manusia yang diibaratkan perahu yang mengarungi lautan zat Tuhan dengan menghadapi segala macam marabahaya yang hanya dapat dihadapi oleh tauhid dan ma’rifat. Syair Si Burung Pingai. Jiwa manusia disamakan dengan seekor burung, tetapi bukan burung arti yang sebenarnya, melainkan zat Tuhan.
  6. Suluk Malang Sumirang. Isinya tentang seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup.

Setelah memasuki era pembangunan ini banyak tradisi-tradisi yang dikomersialkan menjadi sarana hiburan bagi masyarakatnya ataupun masayarakat pendatang. Selain itu banyak tradisi-tradisi yang dijadikan salah satu bentuk atraksi wisata oleh pemerintah daerah sebagai salah satu upaya memperkenalkan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Berikut tradisi sejarah masyarakat di berbagai daerah di Indonesia:

1. Wayang

Fungsi dan peran wayang sepanjang perjalanan tidaklah tetap dan tergantung pada kebutuhan manusia. Pertunjukan wayang pada mulanya merupakan upacara pemujaan arwah nenek moyang. Wayang merupakan salah satu pertunjukan tradisional warisan budaya leluhur yang mampu bertahan berabad-abad dan mengalami perubahan dan perkembangannya sampai mencapai bentuk sekarang ini. Sebelum pertunjukan wayang dilakukan, terlebih dahulu seorang dalang mengadakan upacara keagamaan dengan membakar dupa dan memberikan saji.

Kesenian wayang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara tertentu dengan menampilkan lakon/cerita seperti: perkawinan Arjuna, Suyudono, Baratayudha, "Semar Mbangun Kayangan", "Babat Alas Wanamarto " dan lain-lain. Wayang mengalami perubahan baik dalam penyajiannya maupun dalan bentuk wayangnya sesuai dengan pola budaya dan sistem nilai budaya masyarakat pendukungnya.

Pada zaman berkembangnya pengaruh Islam oleh para wali, wayang dijadikan alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa pagelaran wayang sudah dijadikan media komunikasi.

Untuk menggelar pertunjukan wayang ada beberapa perlengkapan yang perlu dipersiapkan, antara lain sebagai berikut:
  • Dalang yaitu orang yang memainkan lakon wayang.
  • Keprak atau kecrek biasanya dibuat dari kayu atau logam yang akan digerakkan oleh dalang pada waktu ada keributan dalam peperangan.
  • Blencong yaitu lampu yang dipergunakan untuk memainkan wayang dan digantungkan di muka kelir.
  • Kelir yang dibuat dari mori tempat dalang menancapkan dan memainkan wayang.
  • Gamelan terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu: Rebab celempung yaitu alat musik pakai senar, Suling yaitu alat tiup dari bambu atau logam dan Gamelan yaitu alat pukul dari kayu atau logam.
  • Kotak penyimpan wayang.

Teknologi modern yang semakin mengalami kemajuan sangat berperan dalam sejarah perkembangan wayang. Penggunaan alat-alat pengeras suara, sarana radio, televisi, tape recorder, dan piringan hitam memperlancar perluasan pergelaran wayang sehingga dapat menjangkau khalayak penggemarnya.

2. Upacara Labuhan

Setiap tahun keluarga besar Keraton Yogyakarta selalu mengadakan upacara labuhan, biasanya dilakukan 1 hari setelah penobatan dan pada waktu ulang tahun penobatan (tinggalan dalem). Upacara labuhan diselenggarakan di empat tempat:
  • Parang Kusumo,
  • Gunung Lawu,
  • Gunung Merapi, dan
  • Dlepih.

Upacara labuhan yaitu upacara mengirimkan barang-barang dan sesaji ke tempat-tempat yang dianggap keramat dengan maksud sebagai penolak bala untuk keselamatan masyarakat. Upacara ini merupakan adat yang turun temurun sejak Panembahan Senopati memegang kekuasaan di Mataram. Beliau seorang raja yang sangat "sakti" dan gemar bertapa. Dengan kesaktiannya beliau dapat melindungi rakyatnya, mudah berhubungan dengan jin atau penguasa setempat yang dianggap keramat untuk dapat dimintai pertolongan. Sebagai imbalannya beliau mempersembahkan sesaji maupun benda-benda tertentu yang menjadi kesukaan makhluk halus tersebut dalam bentuk upacara-upacara. Oleh karena itu, sampai sekarang upacara tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk keselamatan Sri Sultan dan keluarganya, juga untuk keselamatan rakyatnya.

Jenis sesaji untuk upacara labuhan terdiri atas: sanggan (setangkap pisang), kinang, abon-abon terdiri atas bunga mawar, melati, kenanga, dan serbuk kayu, cendana, jajan pasar, (pisang, ketimun, salak, roti, jadah, wajik), pala gumantung, pala kependem, dan pala kesimpar. Sedangkan untuk keselamatan upacara labuhan dan jumenengan terdiri atas: tumpeng yuswo, tumpeng ucok, dahar rasul, lengkap dengan lauk pauknya, palagara, bekakak, tumpeng robyong, tumpeng mancawarna, tumpeng urubing damar, tumpeng kendit atau gelang, tumpeng asrepasrepan, tumpeng garing, apem alit, rujak-rujakan warni pitu, ketan, kolak, apem, dan lain-lain. Barang-barang yang dilabuh antara lain: kain/sinjang cangkring, semekan atau pintu solok, gadung melati, gadung jinggo, udorogo, bangun tulak masing-masing satu lembar, sela (batu), ratus, lisah (minyak), yatra (uang) tindih dan lain-lain.

Pelaksanaannya diawali dengan diadakannya upacara sugengan yang diselenggarakan dalam keraton, setelah kelengkapannya diperiksa, dan setelah mendapat izin dari Sri Sultan rombongan upacara siap diberangkatkan. Sesampainya di sana rombongan diterima oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II beserta stafnya yang kemudian diserahkan kepada juru kunci yang akan memimpin jalannya upacara labuhan.

3. Upacara Gerebeg dan Sekaten Keraton Yogyakarta

Gerebeg (gerbeg atau grebeg berarti desakan/embusan tetapi anggerebeg berarti pengawalan terhadap seorang, pembesar yang penting, seorang raja atau seorang pengantin wanita; gerebegan menampakkan diri pada hari gerebeg untuk mengambil bagian di dalam pesta itu). Sri Sultan di Yogyakarta dan Sri Sunan di Surakarta menampakkan diri di Sitinggil dikelilingi para pengikut-pengikutnya (punggawa) yang berada di pagelaran untuk memberikan penghormatan kepada penguasa.

Upacara grebeg dilakukan tiga kali setiap tahun baik di Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta, yaitu pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Gerebeg Maulud tanggal 12 Mulud), hari Raya Idul Fitri (Gerebeg Pasa) pada tanggal 1 Syawal setelah umat Islam menjalankan puasa selama satu bulan dan hari Idul Adha/Kurban (Gerebeg Besar) pada tanggal 10 besar.
  • Perayaan Sekaten. Perayaan ini berbentuk pasar malam yang biasanya dimulai 1 atau 2 minggu sebelum upacara tradisional Sekaten yang dilangsungkan di alun-alun utara dengan beraneka ragam macam-macam jajanan, juga ada berbagai pertunjukan, permainan, dan pameran yang digelar untuk menghibur masyarakat.
  • Gerebeg Maulud, Gerebeg Maulud adalah pesta yang diadakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul awal. Dalam memperingati hari kelahiran tersebut ada macam perayaan: Keramaian Sekaten (pasar malam ) dan Upacara Sekaten pada tanggal 5 sampai 11 Maulud, Gerebeg Maulud tanggal 12 Mulud.

4. Tradisi Hari Raya

Ada lima macam agama yang diakui oleh pemerintah di Indonesia sampai dengan masa akhir pemerintahan Orde Baru, yaitu agama Islam, Protestan, Katholik, Hindhu, dan Buddha. Ketika Indonesia memasuki era reformasi tahun 1999 maka tradisi, adat istiadat dan juga agama orang-orang Tionghoa yakni Konghuchu diakui. Dengan demikian sekarang ini ada enam agama yang diakui pemerintah Indonesia. Dari keenam agama tersebut terdapat hari penting (hari raya) yang selalu dilaksanakan dengan tradisi pola budaya masyarakat setempat, sehingga tradisi budaya menghiasi pelaksanaan hari raya tersebut. Dengan demikian dalam pelaksanaan hari raya agama masing-masing mempunyai tata cara sendiri-sendiri. Tradisi-tradisi tersebut adalah/sebagai berikut:
  • Tradisi Perayaan Lebaran (Idul Fitri). Tradisi perayaan Lebaran (Idul Fitri) bagi umat yang beragama Islam. Hari raya diselenggarakan setelah umat Islam selama satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa. Perayaan lebaran jatuh pada tanggal 1 Syawal, di mana umat Islam melakukan salat Idul Fitri di masjid atau di lapangan dan setelah itu melakukan kunjungan ke orang tua, keluarga, tetangga dan sanak saudara untuk saling memaafkan.
  • Tradisi Perayaan Natal. Tradisi perayaan Natal ini dilaksanakan pada tanggal 25 Desember, setelah umat Kristen (Protestan dan Katholik) melakukan Ibadat Natal/Misa Natal di Gereja. Tanggal 25 Desember bagi umat Kristiani diyakini sebagai hari kelahiran Juru Selamat (penyelamat dunia) yakni Yesus Kristus (Nabi Isa) yang turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia.
  • Tradisi Perayaan Nyepi (bagi umat Hindu). Perayaan hari raya Nyepi di Indonesia dilaksanakan dengan serangkaian upacara yang mempunyai tujuan menjadikan alam semesta bersih, serasi, selaras, dan seimbang yang disebut memarisudha bumi. Dengan perayaan ini mengharap dunia terbebas dari malapetaka, kekacauan dan perang sehingga manusia hidup sejahtera, dan terbebas dari kebodohan dan kemiskinan.
  • Tradisi Perayaan Waisak. Waisak ialah hari raya umat Buddha yang biasanya jatuh pada hari purnamasidi (bulan purnama) di bulan Mei. Karena pada hari tersebut ada tiga peristiwa penting yakni: kelahiran Sang Buddha Gautama, tercapainya penerangan oleh Sang Budha Gautama dan wafat Sang Budha Gautama. Itulah sebabnya, Waisak disebut juga Trisuci Waisak. Menurut tradisi Waisak di Borobudur, rangkaian upacara biasanya diawali dengan pengambilan api alam di Merapen dan pengambilan air dari sumber mata air Jumprit untuk disucikan dalam upacara di Candi Mendut. Upacara dilanjutkan dengan prosesi agung oleh para anggota Sangha dan umat mulai dari Candi Mendut, menuju Candi Pawon dan diakhiri di Candi Borobudur tempat upacara suci Waisak diselenggarakan.
  • Tradisi Perayaan Imlek. Tradisi perayaan Imlek dilakukan oleh umat Konghuchu (sebagian besar dianut oleh warga keturunan Cina/Tionghoa). Imlek adalah pergantian tahun menurut kalender Cina, yang dimaksud ialah pergantian dari musim dingin ke musim semi. Dalam tradisi dan kepercayaan mereka, Imlek juga berkaitan dengan harapan baru yang lebih baik. Jadi Imlek tidak sekedar pergantian tahun namun juga perubahan sikap, pergantian rezeki menuju ke arah kehidupan yang lebih baik. Berbagai hal yang berkaitan dengan tradisi perayaan Imlek ialah barongsai, angpau, kue keranjang, lampion, dan tradisi pay kui (sungkeman).

5. Adat dan Tata Cara Penguburan

Setiap daerah di Indonesia memiliki adat dan tata cara penguburan berbeda-beda yang mempunyai corak dan ragam sendiri-sendiri. Hal ini wajar mengingat bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa dengan adat-istiadat yang berbeda pula.

Ada berbagai cara penguburan misalnya jenazah harus dibakar (kremasi), dibiarkan hancur di alam terbuka, disimpan di gua atau disimpan di bangunan khusus. Ada yang menentukan jenazah harus segera dikuburkan pada hari kematian, yang diyakini di kalangan pemeluk agama Islam. Ada juga yang mengharuskan orang menanti berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum jenazah dikuburkan dalam hal ini upacara penguburan terdapat beberapa tahap. Sambil menunggu tahapan upacara berikutnya jenazah disimpan dalam ruangan khusus. Dalam upacara itu biasanya disertai dengan pengorbanan sejumlah hewan ternak sesuai dengan tingkat sosial ekonomi pada masyarakatnya. Adat penguburan seperti ini dikenal pada suku Nias, Batak, Sumba, dan Toraja.

Dalam masyarakat Jawa yang sebagian besar beragama Islam upacara adat kematian dan penguburan masih diwarnai oleh tata cara Hindhu, Buddha atau kejawen. Sebagian penduduk yang menganut ajaran Islam Muhammadiyah menghilangkan tata upacara selain yang diajarkan dalam agama Islam. Namun secara umum tradisi yang berupa campuran berbagai tata upacara itu masih berlaku.

Seperti halnya kelahiran dan perkawinan, pada kematian pun tata cara ini diikuti dengan rangkaian selamatan. Rangkaian upacara tersebut adalah selamatan pada hari kematian yang disebut hari geblak, selanjutnya diadakan selamatan pada hari ketiga, seratus sampai hari ke seribu (nyewu).

Bagi masyarakat Bali yang sebagian besar menganut agama Hindu adat upacara kematian dan penguburan sangat dipengaruhi agama Hindu. Upacara kematian didasari oleh kepercayaan bahwa manusia yang mati dapat menitis kembali. Untuk mempercepat kesempurnaan jazad orang yang meninggal, jenazah harus dibakar. Upacara pembakaran mayat tersebut dinamakan Ngaben. Setelah pembakaran selesai, abu mayat dihanyutkan dalam sungai atau laut, sedangkan bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah juga melakukan upacara pembakaran mayat yang dikenal dengan sebutan Tiwah.

6. Adat Perkawinan

Pada dasarnya adat perkawinan suku di Indonesia bertolak dari anggapan masyarakat bahwa perkawinan adalah suatu hal yang luhur, bukan sekedar ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi merupakan proses menyatukan dua keluarga, dan istilah orang Jawa disebut kadang katut. Upacara perkawinan dilakukan dengan cara gotong royong. Semua keluarga ikut memberikan sumbangan demi terselenggaranya upacara perkawinan itu, demikianjuga para tetangga dan kenalan lain.

Upacara perkawinan biasanya dilakukan secara terbuka, yang dihadiri para undangan dengan maksud untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa kedua pengantin telah sah menjadi suami istri. Adat dan upacara perkawinan pada umumnya diawali dengan tahap perkenalan dilanjutkan dengan meminang. Setelah itu, menentukan hari yang baik untuk melangsungkan perkawinan.

Hampir semua urutan upacara adat perkawinan mengandung pemikiran filsafat dan perlambang tertentu. Oleh karena itu, kalau ada bagian upacara yang tidak dapat diselenggarakan, maka harus ada syarat yang menjadi penggantinya. Hal tersebut dimaksudkan agar kedua mempelai terlindung dari marabahaya.

Adat perkawinan di Indonesia banyak sekali ragamnya, setiap suku mempunyai adat perkawinan sesuai dengan agama dan tradisi upacara yang ada di daerah masing-masing, antara lain sebagai berikut:

1) Adat Perkawinan Suku Batak

Pada masyarakat Batak ada ketentuan seorang pemuda dalam memilih calon istrinya, dianggap ideal apabila menikah dengan anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya. Mereka tidak boleh mengadakan perkawinan dalam satu marga atau mengambil anak perempuan dari saudara perempuan ayah untuk dijadikan istri.

Proses perkawinan dimulai dengan penjajakan tidak resmi antara keluarga pria terhadap keluarga wanita. Setelah ada kecocokan pihak laki-laki melamar dengan mengirimkan utusan untuk marhusip atau mungkuni. Apabila keluarga wanita menerima marhusip itu, tahap berikutnya adalah ngembah manuk, yaitu perundingan antara dua keluarga guna menentukan mas kawin atau tukur/tuhor. Mas kawin ini dapat berupa perhiasan dan dapat pula berbentuk babi atau kerbau.

Ditentukan pula berapa jumlah harta yang akan diterima oleh saudara laki-laki ibu gadis. Ini disebut tulang, upa atau bere-bere. Juga ditentukan jumlah harta yang akan diterima oleh saudara nenek si gadis dari pihak ibu (perempuan). Masih banyak lagi kewajiban pemberian harta dari pihak keluarga calon pengantin pria kepada keluarga pihak si gadis. Semua dilakukan dengan perundingan dan pembicaraan terakhir, yaitu menentukan perkawinan yang akan dilaksanakan.

Upacara perkawinan umumnya dilakukan secara meriah dengan berbagai nyayian dan tarian serta pemotongan kerbau atau beberapa ekor babi untuk keperluan pesta. Adat Batak juga mengenal adanya kawin lari yang disebut mangalua. Jika kawin lari terpaksa dilakukan dalam tempo 1 hari 1 malam harus ada utusan dari pihak keluarga laki-laki yang datang pada orang tua si gadis untuk melaporkannya. Selang beberapa waktu kemudian, apabila diperkirakan keluarga pihak wanita sudah mulai reda marahnya di adakan upacara manuruk-nuruk sebagai cara minta maaf. Kawin lari pada suku Batak boleh dipestakan sesudah upacara permintaan maaf.

2) Adat Perkawinan di Aceh

Pada masyarakat Aceh dalam mencari jodoh dipertimbangkan soal keserasian dan keseimbangan kedudukan antara keluarga pihak pria dan wanita. Kalau keluarga dan pemuda sudah menetapkan gadis pilihannya, maka diutus seorang seulangke (utusan) untuk menemui keluarga pihak wanita. Apabila lamarannya diterima saulangke dibekali dengan kongnarit (berbagai perhiasan) tanda ikatan untuk diberikan kepada keluarga pihak wanita.

Seorang seulangke harus mempunyai kepandaian bicara, luas pengetahuannya, ramah, dan bijaksana karena merupakan wakil dari pihak laki-laki. Pada hari perkawinan saat ijab kabul, pemuda harus menyerahkan mas kawin yang disebut jeunamee. Besar kecilnya mas kawin biasanya disesuaikan dengan tinggi rendahnya si wanita dalam masyarakat.

Setelah perkawinan si pemuda akan tinggal dengan mertuanya. Selama ia tinggal bersama mertua, walaupun telah sah menjadi suami ia tidak mempunyai tanggung jawab terhadap keluarganya, yang bertanggung jawab ialah mertuanya sebagai kepala keluarga. Seorang suami baru memikul tanggung jawab terhadap rumah tangganya kalau sudah diberi sawah atau rumah oleh mertuanya. Pemberian tersebut disebut peunulang.

3) Adat Perkawinan Suku Dayak

Seorang gadis Dayak boleh menikah dengan pemuda suku bangsa lain asal pemuda itu bersedia dengan tunduk dengan adat Dayak. Pada dasarnya orang tua suku Dayak berperanan penting dalam memikirkan jodoh bagi anak mereka, tetapi cukup bijaksana dengan menanyakan terlebih dahulu pada anaknya apakah ia suka dijodohkan dengan calon yang mereka pilihkan. Kalau sudah ada kecocokan, ayah si pemuda datang meminang gadis itu dengan menyerahkan biaya lamaran yang disebut hakumbang Auh. Pada orang Dayak Ngaju umumnya mas kawin berbentuk uang atau perhiasan.

Mas kawin di kalangan suku Dayak biasanya tinggi sekali, karena besarnya mas kawin dianggap sebagai martabat keluarga wanita.

Upacara perkawinan suku Dayak sepenuhnya ditanggung oleh keluarga pihak wanita. Untuk pelaksanaan upacara perkawinan dipotong beberapa ekor babi, sedangkan memotong ayam untuk hidangan dianggap hina. Pada upacara perkawinan pengantin pria biasanya menghadiahkan berbagai tanda kenangan berupa barang antik kepada abang mempelai wanita. Sebagai pernyataan terima kasih karena selama ini abang telah mengasuh calon istrinya. Tanda kenangan yang oleh orang Dayak Ot Danum disebut sapput itu berupa piring keramik Cina, gong antik, meriam kecil kuno, dan lain-lain.

4) Adat Perkawinan di Jawa

Suku Jawa mempunyai banyak aturan adat dan tata cara perkawinan. Adat perkawinan pada suku Jawa dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu adat pesisiran (adat loran) dan adat pedalaman (adat kidulan). Adat perkawinan Jawa pesisiran dipengaruhi budaya Arab dan Cina, sedangkan adat perkawinan Jawa di daerah kidulan sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu, Buddha, dan Kejawen. Selain itu, tata tertib, tata ras, pakaian, upacara perkawinan di kalangan suku Jawa terutama dipengaruhi oleh adat Keraton Solo dan Yogyakarta. Hal ini disebabkan pada masa penjajahan, kedua keraton itulah yang menjadi pusat adat dan panutan budaya upacara.

Pada masyarakat Jawa pertimbangan dalam memilih calon menantu berdasarkan bibit, bebet, dan bobot. Pertimbangan bibit, bebet, dan bobot merupakan dasar pertimbangan apakah si calon menantu berasal dari keluarga baik-baik, berperangai baik, dan berada pada kondisi sosial ekonomi keluarga yang setara. Kalau perhitungan dari segi ini telah memenuhi keinginan, hal berikutnya yang dilakukan adalah nontoni, artinya kesempatan melihat wajah si gadis. Apabila sudah terdapat kecocokan, keluarga pemuda mengirim utusan untuk mengajukan lamaran dan penyerahan paningset (tanda ikatan) berupa seperangkat pakaian terdiri atas kebaya/bahannya, kain batik, selendang, selop, dan juga perhiasan. Upacara memberikan paningset disebut srah-srahan.

Langkah berikutnya adalah menentukan hari baik dan bulan baik dan umumnya diserahkan kepada keluarga wanita karena sebagai penyelenggara upacara perkawinan. Selama menunggu upacara perkawinan, si gadis harus membatasi pergaulan dengan pria lain karena pada saat itu sudah dalam keadaan terikat.

Tiga hari menjelang upacara perkawinan, keluarga calon pengantin pria datang ke rumah orang tua calon pengantin wanita untuk menyerahkan asak tukon (barang-barang keperluan peralatan perkawinan). Penyerahan asak tukon ini umumnya dilakukan bersama dengan upacara pasang tarub (tanda penutup halaman) untuk para undangan. Pemasangan tarub dimulai dengan memasang bleketepe, yakni semacam tirai terbuat dari anyaman daun kelapa. Yang memasang bleketepe harus orang tua dari keluarga pengantin wanita. Upacara pemasangan tarub hampir selalu dilakukan bersama dengan sesaji tulak udan (sesaji untuk menolak hujan).

Sementara itu, si calon pengantin wanita sejak lima hari atau sepasar sebelum hari pernikahan sudah harus dipingit. Selama dipingit si gadis harus berpantang terhadap makanan tertentu. Gadis itu harus minum ramuan jamu-jamu khusus demi kebahagiaan pada malam pertamanya. Ia tidak boleh makan umbi mentah, pisang ambon, mentimun, dan mengurangi makan pedas. Si gadis juga harus selalu mandi dengan lulur serta mangir agar kulitnya halus dan wangi. Selama lima hari dianjurkan agar tidak tidur sebelum pukul 12 malam dan harus bangun pagi sebelum ayam jantan berkokok. Semua dilakukan dalam rangka tirakat agar kelak hidupnya mendapat keberuntungan dan kemuliaan.

Sehari sebelum upacara perkawinan, pengantin wanita dimandikan dengan air bunga (upacara siraman). Untuk mengguyur air kembang ke kepala dan tubuh calon pengantin wanita, dipilih tujuh orang tua dari pihak keluarga wanita. Selama menjalani upacara adat siraman, calon pengantin itu memakai kain telesan yang dililitkan sampai sebatas dada. Malam harinya diselenggarakan upacara selamatan yang dihadapi oleh keluarga pihak wanita dan keluarga calon pengantin pria, juga tetangga terdekat.

Dalam upacara selamatan tersebut calon pengantin wanita dirias oleh juru rias manten, yakni juru rias merangkap pimpinan upacara temu esok harinya. Selesai selamatan diadakan upacara midodareni, di mana calon pengantin putri sudah kelihatan cantik bagaikan bidadari, ia duduk sendirian di kursi pelaminan. Setelah upacara midodareni selesai pemuda dan kerabat calon pengantin wanita tetap tinggal untuk mengikuti acara lek-lekan yakni tidak tidur semalam suntuk dengan membuat hiasan-hiasan janur.

Pada hari perkawinan pagi-pagi sekali calon pengantin wanita sudah harus mandi keramas dengan londo (air larutan merang dan jerami), sesudah itu rambut yang masih basah diberi wewangian, lalu diasapi dengan asap ratus (dupa wangi yang terdapat dari kemenyan dan serbuk kayu gaharu ditambah beberapa ramuan lain). Selanjutnya calon pengantin wanita dirias dengan diawali pemotongan rambut sinom (rambut tipis di dahi) beberapa saat sebelum ijab kabul dilaksanakan. Pengantin pria datang diiringi oleh kerabatnya, tetapi orang tuanya sendiri tidak boleh hadir. Orang tua pengantin pria baru boleh hadir kalau upacara ijab kabul dan temu selesai. Ini sebagai perlambang bahwa seorang pemuda yang berani menikah harus berani menikah sendiri tanpa ditunggui orang tuanya. Orang tua baru hadir setelah kedua pengantin didudukkan di pelaminan.

Upacara temu dilaksanakan di pintu masuk ruangan pelaminan. Sebelumnya kedua pengantin dibekali dengan sadak (gulungan daun sirih yang diikat dengan benang lawe). Sadak ini harus dilemparkan pada calon istri atau suami pada saat mereka ketemu dalam upacara panggih. Orang Jawa percaya, siapa yang paling dahulu melempar sadak akan dominan atau menang dalam kehidupan rumah tangganya. Kalau yang menang pengantin putri, anak sulung mereka mungkin sekali perempuan begitu pula sebaliknya. Pihak yang kalah selama hidup berumah tangga kelak akan selalu mengalah terhadap pasangannya.

Di pintu upacara panggih dipasang seuntai benang warna-warni yang disebut lawe. Pengantin pria harus memotong benang itu, lalu menginjakkan kaki kanannya ke sebuah telur ayam kampung sampai pecah dan pengantin putri berjongkok membasuhnya dengan air kembang. Ini adalah sebagai perlambang bakti istri dalam melayani suami. Sesudah itu, pengantin wanita berdiri mendampingi suaminya, tangan kanan pengantin wanita menggandeng tangan kiri pengantin pria. Saat itu pula ibu pengantin wanita menyelimuti punggung kedua pengantin dengan kain sindur atau selindur dan memegang erat sindur itu di bahu keduanya. Sementara itu, ayah pengantin wanita berdiri di depan ke dua pengantin. Tangan kanan pengantin pria dan tangan kanan pengantin wanita memegang ujung beskap sang bapak, kemudian melangkah perlahan dengan membimbing kedua pengantin menuju kursi pelaminan. Langkah-langkah mereka diiringi oleh gending Kodok Ngorek atau Monggang.

Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, barulah orang tua pengantin pria datang. Kedatangan orang tua pengantin pria ini disebut dengan besan mertui. Kedatangan mereka disambut kedua orang tua pengantin wanita dengan diiringi gending Kebo Giro, yakni lagu penghormatan bagi tamu agung. Setelah mereka duduk, dilakukan upacara sungkem dimulai dari kedua orang tua pengantin kemudian kerabat lainnya.

Di kiri dan kanan kursi pelaminan diletakkan kembar mayang yang dibuat dari daun kelapa muda serta beberapa jenis buah-buahan. Ini perlambang kedua mempelai adalah jejaka dan gadis. Sebelum memasuki ke peraduan ayah pengantin wanita memberikan keris pertanda pengakuan sebagai anggota kerabat dari keluarga pihak wanita diberikan kepada pengantin pria. Keris yang dinamakan kancing gelung itu merupakan tanda ikatan batin antara mertua dan menantu, tetapi jika kelak terjadi perceraian si menantu berkewajiban mengembalikan keris itu kepada mertuanya.

Hari kelima setelah upacara perkawinan dilakukan upacara boyongan, pengantin pria membawa istrinya ke rumah orang tuanya. Sebelum boyongan dilaksanakan, pihak keluarga wanita membuat jenang sumsum yang harus dimakan semua orang yang ikut aktif dalam penyelenggaraan upacara itu. Menurut kepercayaan orang Jawa, jenang sumsum ini dapat menghilangkan rasa lelah dan letih akibat pekerjaan yang mereka lakukan. Sementara itu, di rumah orang tua pengantin pria diselenggarakan persiapan ngunduh mantu, suatu upacara yang mirip resepsi pengantin masa kini. Upacara ngunduh mantu tidak selengkap upacara perkawinan, karena tujuan utamanya hanyalah memperkenalkan kedua pengantin kepada pada tetangga di lingkungan pengantin pria.

5) Adat Perkawinan di Minang

Suku Minangkabau mempunyai sistem kekerabatan yang menganut garis ibu atau matrilineal. Adat perkawinan Minangkabau tidak mengenal mas kawin, tetapi berupa uang jemputan (mirip mas kawin) yang diserahkan oleh keluarga pihak wanita kepada pihak pria. Besar kecilnya uang jemputan disesuaikan dengan kedudukan sosial ekonomi keluarga pihak laki-laki.

Apabila martabat dan kedudukan keluarga pria lebih tinggi (berasal dari keluarga bangsawan), maka setelah upacara dilangsungkan, pengantin pria hanya mengunjungi istrinya pada malam hari saja. Bahkan ia tidak berkewajiban memberi uang belanja kepada istrinya. Oleh karena itu, pada zaman dahulu pria bangsawan beristri banyak untuk menaikkan derajat sosialnya. Kalau terjadi perceraian, anak dan istri yang ditinggalkan akan diurus oleh saudara laki-laki dari ibu bekas istrinya. Adat semacam itu kini sudah banyak ditinggalkan terutama oleh golongan muda. Kebiasaan merantau pada pemuda Minangkabau membuat mereka mengenal adat suku bangsa lain sehingga adat Minangkabau yang mereka nilai tidak sesuai dengan zaman, banyak yang tidak dipakai lagi.

6) Adat Perkawinan Irian

Suku Irian memiliki banyak macam adat dan upacara perkawinan karena suku itu terbagi atas banyak anak suku. Namun secara umum perkawinan hampir serupa dan adat perkawinan orang Irian termasuk sederhana dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Hal paling penting dalam adat perkawinan itu adalah perundingan dan pembayaran mas kawin yang disebut krae. Mas kawin dapat berupa babi, rangkaian perhiasan kerang atau manik-manik, hiasan kerang besar yang disebut sebkos, ikat pinggang dari manik-manik yang disebut bitem. Dalam perkembangannya mas kawin tersebut sering ditambah dengan sejumlah uang. Karena mas kawin seperti itu oleh kebanyakan pemuda Irian Jaya, dianggap berat biasanya mereka mengumpulkannya dibantu oleh sanak saudara yang lain. Bahkan tidak jarang mas kawin itu baru dilunasi lama setelah pesta perkawinan berlalu

Sejak tahun 1930-an banyak suku Irian Jaya yang mengharuskan diadakan upacara perkawinan gereja setelah upacara adat selesai. Namun, kalau upacara perkawinan adat sudah diselenggarakan dengan pesta makan ubi dan potong babi, perkawinan gereja tidak dipestakan. Setelah upacara itu barulah pengantin laki-laki memboyong istrinya ke rumah orang tua pihak laki-laki.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: