Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia


Pengaruh agama dan kebudayaan Islam terhadap kehidupan masyarakat Indonesia terasa dalam tataran kebudayaan berupa bangunan fisik, seni rupa, bahasa, kesusastraan. Dalam praktik peribadatan dan hubungan sosial, unsur-unsur Islam begitu terasa meski unsur-unsur budaya lama (Hindu-Buddha) tidak hilang.

Perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dilihat dari segi politik, ekonomi, dan sosial hingga keruntuhannya akan terlihat bahwa keruntuhan mayoritas kerajaan Islam salah satunya disebabkan oleh kedatangan dan campur tangan bangsa-bangsa Eropa (Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris) yang ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia.


Perkembangan Politik Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

1. Samudera Pasai

Pedagang Persia, Gujarat, dan Arab pada awal abad ke-12 membawa ajaran Islam aliran Syiah ke pantai Timur Sumatera, terutama di negera Perlak dan Pasai. Saat itu aliran Syiah berkembang di Persia dan Hindustan apalagi Dinasti Fatimiah sebagai penganut Islam aliran Syiah sedang berkuasa di Mesir. Mereka berdagang dan menetap di muara Sungai Perlak dan muara Sungai Pasai mendirikan sebuah kesultanan. Dinasti Fatimiah runtuh tahun 1268 dan digantikan Dinasti Mamluk yang beraliran Syafi’i, mereka menumpas orang-orang Syiah di Mesir, begitu pula di pantai Timur Sumatera.

Utusan Mamluk yang bernama Syekh Ismail mengangkat Marah Silu menjadi sultan di Pasai, dengan gelar Sultan Malikul Saleh. Marah Silu yang semula menganut aliran Syiah berubah menjadi aliran Syafi'i. Sultan Malikul Saleh digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Malikul Zahir, sedangkan putra keduanya yang bernama Sultan Malikul Mansur memisahkan diri dan kembali menganut aliran Syiah. Saat Majapahit melakukan perluasan imperium ke seluruh Nusantara, Pasai berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Berikut ini adalah urutan para raja yang memerintah di Samudera Pasai, yakni:
  • Sultan Malik as Saleh (Malikul Saleh).
  • Sultan Malikul Zahir, meninggal tahun 1326.
  • Sultan Muhammad, wafat tahun 1354.
  • Sultan Ahmad Malikul Zahir atau Al Malik Jamaluddin, meninggal tahun 1383.
  • Sultan Zainal Abidin, meninggal tahun 1405.
  • Sultanah Bahiah (puteri Zainal Abidin), sultan ini meninggal pada tahun 1428.

Adanya Samudera Pasai ini diperkuat oleh catatan Ibnu Batutah, sejarawan dari Maroko. Kronik dari orang-orang Cina pun membuktikan hal ini. Menurut Ibnu Batutah, Samudera Pasai merupakan pusat studi Islam. Ia berkunjung ke kerajaan ini pada tahun 1345-1346. Ibnu Batutah menyebutnya sebagai "Sumutrah", ejaannya untuk nama Samudera, yang kemudian menjadi Sumatera.

Ketika singgah di pelabuhan Pasai, Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Lalu laksmana tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada Raja. Ia diundang ke Istana dan bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu Malik as-Saleh. Batutah singgah sebentar di Samudera Pasai dari Delhi, India, untuk melanjutkan pelayarannya ke Cina.

Sultan Pasai ini diberitakan melakukan hubungan dengan Sultan Mahmud di Delhi dan Kesultanan Usmani Ottoman. Diberitakan pula, bahwa terdapat pegawai yang berasal dari Isfahan (Kerajaan Safawi) yang mengabdi di istana Pasai. Oleh karena itu, karya sastra dari Persia begitu populer di Samudera Pasai ini. Untuk selanjutnya, bentuk sastra Persia ini berpengaruh terhadap bentuk kesusastraan Melayu kemudian hari.

Berdasarkan catatan Batutah, Islam telah ada di Samudera Pasai sejak seabad yang lalu, jadi sekitar abad ke-12 M. Raja dan rakyat Samudera Pasai mengikuti Mazhab Syafei. Setelah setahun di Pasai, Batutah segera melanjutkan pelayarannya ke Cina, dan kembali ke Samudera Pasai lagi pada tahun 1347.

Bukti lain dari keberadaan Pasai adalah ditemukannya mata uang dirham sebagai alat-tukar dagang. Pada mata uang ini tertulis nama para sultan yang memerintah Kerajaan. Nama-nama sultan (memerintah dari abad ke-14 hingga 15) yang tercetak pada mata uang tersebut di antaranya: Sultan Alauddin, Mansur Malik Zahir, Abu Zaid Malik Zahir, Muhammad Malik Zahir, Ahmad Malik Zahir, dan Abdullah Malik Zahir.

Pada abad ke-16, bangsa Portugis memasuki perairan Selat Malaka dan berhasil menguasai Samudera Pasai pada 1521 hingga tahun 1541. Selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi kekuasaan Kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Waktu itu yang menjadi raja di Aceh adalah Sultan Ali Mughayat.

2. Malaka

Sesungguhnya, Kerajaan Malaka ini tidak termasuk wilayah Indonesia, melainkan Malaysia. Namun, karena kerajaaan ini memegang peranan penting dalam kehidupan politik dan kebudayaan Islam di sekitar perairan Nusantara, maka Kerajaan Malaka ini perlu dibahas dalam bab ini.

Kerajaan Malaka (orang Malaysia menyebutnya Melaka) terletak di jalur pelayaran dan perdagangan antara Asia Barat dengan Asia Timur. Sebelum menjadi kerajaan yang merdeka, Malaka termasuk wilayah Majapahit.

Pendiri Malaka adalah Pangeran Parameswara, berasal dari Sriwijaya (Palembang). Ketika di Sriwijaya terjadi perebutan kekuasaan pada abad ke-14 M, Parameswara melarikan diri ke Pulau Singapura. Dari Singapura, ia menyingkir lagi ke Malaka karena mendapat serangan dari Majapahit. Di Malaka ia membangun pemukiman baru yang dibantu oleh orang-orang Palembang. Bahkan Parameswara bekerja sama dengan kaum bajak laut (perompak). Ia memaksa kapal-kapal dagang yang melewati Selat Malaka untuk

Untuk melindungi kekuasaannya dari raja-raja Siam di Thailand dan Majapahit dari Jawa, ia menjalin hubungan dengan Kaisar Ming dari Cina. Kaisar Ming inilah yang mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Laksamana Cheng-Ho pada tahun 1409 dan 1414. Dengan demikian, Parameswara berhasil mengembangkan Malaka dengan cepat. Kemudian, Malaka pun mengambil alih peranan Sriwijaya dalam hal perdagangan di sekitar Selat Malaka. Selat Malaka pada waktu itu merupakan Jalur Sutera (Silk Road) perdagangan yang dilalui oleh para pedagang dari Arab, Persia, India, Cina, Filipina, dan Indonesia.

Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Malaka

Gambar: Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Malaka

Parameswara mulai resmi memerintah Malaka pada tahun 1400. Menurut catatan Tome Pires, Parameswara memeluk Islam setelah menikah denan puteri raja Samudera Pasai pada usia 72 tahun. Setelah itu, Parameswara bergelar Muhammad Iskandar Syah. Namun, menurut Sejarah Melayu, pengislaman Malaka berlangsung setelah Sri Maharaja, raja pengganti Parameswara, berkenalan dengan Sayid Abdul Aziz dari Jedah, Arab. Setelah masuk Islam, Sri Maharaja bergelar Sultan Muhammad Syah. Sebagian sejarawan bahkan beranggapan bahwa ia merupakan raja Malaka yang pertama muslim. Pendapat lain menyatakan, Malaka diislamkan oleh Samudera Pasai.

Sri Maharaja memerintah dari tahun 1414 hingga 1444. Ia lalu digantikan oleh Sri Parameswara Dewa Syah, dikenal juga dengan nama Ibrahim Abu Said. Parameswara Dewa Syah hanya memerintah satu tahun, hingga 1445. Yang kemudian menjadi raja adalah Sultan Muzaffar Syah atau Kasim. Pada masanya Malaka mencapai masa keemasannya. Ketika itu, wilayah Malaka melingkupi Pahang, Trengganu, Pattani (sekarang termasuk wilayah Thailand), serta Kampar dan Indragiri di Sumatera. Sultan ini memerintah hingga tahun 1459. Ia digantikan oleh Sultan Mansur Syah, dikenal juga sebagai Abdullah. Mansur Syah memerintah Malaka sampai tahun 1477. Jabatan sultan diserahkan kepada Sultan Alauddin Riayat Syah yang memerintah hingga 1488.

Masa kejayaan Malaka langsung sirna sejak pasukan Portugis menyerang Malaka pada tahun 1511. Portugis yang dipimpin langsung oleh Alfonso de Albuquerque, dengan mudah mengalahkan pertahanan Malaka. Portugis segera membangun benteng pertahanan. Salah satu benteng peninggalan Portugis yang masih tersisa hingga kini adalah Benteng Alfamosa.

Seabad kemudian, Portugis hengkang dari Malaka karena serangan pasukan VOC dari Belanda. Orang Belanda pun tak lama berkuasa atas Malaka karena kemudian Inggris mengambil alih kekuasaan atas Malaka.

3. Aceh

Kerajaan Aceh didirikan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1530 setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pidie. Tahun 1564 Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Alaudin al-Kahar (1537-1568). Sultan Alaudin al-Kahar menyerang kerajaan Johor dan berhasil menangkap Sultan Johor, namun kerajaan Johor tetap berdiri dan menentang Aceh. Pada masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Alaudin Riayat Syah datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk meminta ijin berdagang di Aceh.

Penggantinya adalah Sultan Ali Riayat dengan panggilan Sultan Muda, ia berkuasa dari tahun 1604-1607. Pada masa inilah, Portugis melakukan penyerangan karena ingin melakukan monopoli perdagangan di Aceh, tapi usaha ini tidak berhasil.

Setelah Sultan Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun 1607-1636, kerajaan Aceh mengalami kejayaan dalam perdagangan. Banyak terjadi penaklukan di wilayah yang berdekatan dengan Aceh seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar, Pariaman, Minangkabau, Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).

Gejala kemunduran Kerajaan Aceh muncul saat Sultan Iskandar Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (Sultan Iskandar Sani) yang memerintah tahun 1637-1642. Iskandar Sani adalah menantu Iskandar Muda. Tak seperti mertuanya, ia lebih mementingkan pembangunan dalam negeri daripada ekspansi luar negeri. Dalam masa pemerintahannnya yang singkat, empat tahun, Aceh berada dalam keadaan damai dan sejahtera, hukum syariat Islam ditegakkan, dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan bawahan dilakukan tanpa tekanan politik ataupun militer.

Pada masa Iskandar Sani ini, ilmu pengetahuan tentang Islam juga berkembang pesat. Kemajuan ini didukung oleh kehadiran Nuruddin ar-Raniri, seorang pemimpin tarekat dari Gujarat, India. Nuruddin menjalin hubungan yang erat dengan Sultan Iskandar Sani. Maka dari itu, ia kemudian diangkat menjadi mufti (penasehat) Sultan. Pada masa ini terjadi pertikaian antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan agama (Teungku).

Seusai Iskandar Sani, yang memerintah Aceh berikutnya adalah empat orang sultanah (sultan perempuan) berturut-turut. Sultanah yang pertama adalah Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675), janda Iskandar Sani. Kemudian berturut-turut adalah Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam, Inayat Syah, dan Kamalat Syah. Pada masa Sultanah Kamalat Syah ini turun fatwa dari Mekah yang melarang Aceh dipimpin oleh kaum wanita. Pada 1699 pemerintahan Aceh pun dipegang oleh kaum pria kembali.

Ketika Sultanah Safiatuddin Tajul Alam berkuasa, di Aceh tengah berkembang Tarekat Syattariah yang dibawa oleh Abdur Rauf Singkel. Sekembalinya dari Mekah tahun 1662, ia menjalin hubungan dengan Sultanah, dan kemudian menjadi mufti Kerajaan Aceh. Abdur Rauf Singkel dikenal sebagai penulis. Ia menulis buku tafsir Al-Quran dalam bahasa Melayu, berjudul Tarjuman al-Mustafid (Terjemahan Pemberi Faedah), buku tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis di Indonesia.

Pada tahun 1816, sultan Aceh yang bernama Saiful Alam bertikai dengan Jawharul Alam Aminuddin. Kesempatan ini dipergunakan oleh Gubernur Jenderal asal Inggris, Thomas Stanford Raffles yang ingin menguasai Aceh yang belum pernah ditundukkan oleh Belanda. Ketika itu pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai Indonesia tengah digantikan oleh pemerintahan Inggris. Pada tanggal 22 April 1818, Raffles yang ketika itu berkedudukan di Bengkulu, mengadakan perjanjian dagang dengan Aminuddin. Berkat bantuan pasukan Inggris akhirnya Aminuddin menjadi sultan Aceh pada tahun 1816, menggantikan Sultan Saiful Alam.

Pada tahun 1824, pihak Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian di London, Inggris. Traktat London ini berisikan bahwa Inggris dan Belanda tak boleh mengadakan praktik kolonialisme di Aceh. Namun, pada 1871, berdasarkan keputusan Traktat Sumatera, Belanda kemudian berhak memperluas wilayah jajahannya ke Aceh.

Dua tahun kemudian, tahun 1873, Belanda menyerbu Kerajaan Aceh. Alasan Belanda adalah karena Aceh selalu melindungi para pembajak laut. Sejak saat itu, Aceh terus terlibat peperangan dengan Belanda. Lahirlah pahlawan-pahlawan tangguh dari Aceh, pria-wanita, di antaranya Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Panglima Polim.

Perang Aceh ini baru berhenti pada tahun 1912 setelah Belanda mengetahui taktik perang orang-orang Aceh. Runtuhlah Kerajaan Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekah, yang telah berdiri selama tiga abad lebih. Kemenangan Belanda ini berkat bantuan Dr. Snouck Horgronje, yang sebelumnya menyamar sebagai seorang muslim di Aceh. Pada tahun 1945 Aceh menjadi bagian dari Republik Indonesia.

4. Demak

Kerajaan Demak didirikan oleh persekutuan pedagang Islam di pantai utara Jawa yang dipimpin oleh Raden Patah (Fatah), seorang keturunan Raja Brawijaya V yang menikah dengan putri Campa, Vietnam. Ketika Majapahit masih berkuasa walaupun dalam keadaan lemah, Raden Patah diangkat menjadi bupati di Bintoro (Demak). Tahun 1500 Demak menyerang Majapahit dan memindahkan pusat pemerintahan ke Demak. Dengan demikian, Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Raden Patah lahir di Palembang pada 1455 M. Nama kecilnya Pangeran Jimbun. Selama 20 tahun, ia hidup di istana adipati Majapahit yang berkuasa di Palembang, yakni Arya Damar. Setelah beranjak dewasa, ia kembali ke Majapahit. Oleh orang tuanya Patah dikirim kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel (Ngampel) Denta untuk belajar Islam. Ia mempelajari pendidikan Islam bersama murid-murid Sunan Ampel yang lainnya, seperti Raden Paku (Sunan Giri), Maulana Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Qasim (Sunan Derajat).

Raden Patah dinikahkan dengan cucu Raden Rahmat, Nyi Ageng Maloka. Selanjutnya ia dipercaya untuk menyebarkan Islam di Desa Bintoro dengan diiringi oleh Sultan Palembang, Aryadila, beserta 200 pasukannya. Oleh para Wali, daerah ini telah direncanakan sebagai pusat dakwah Islam di Jawa. Lambat laun, Bintaro semakin ramai oleh para pendatang, baik yang ingin belajar Islam maupun yang berdagang.

Oleh para Wali, Patah diangkat menjadi sultan di Bintoro dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah, sebagai bawahan Majapahit. Bintoro pun berganti nama menjadi Demak. Para Wali sepakat bahwa sudah saatnya Demak melepaskan diri dari Majapahit dan mengangkat Raden Patah menjadi raja Demak pertama. Oleh Tome Pires, ia ditulis sebagai Pate Rodin Sr.

Pelepasan kekuasan ini ditandai dengan pemindahan pusaka Majapahit ke Bintoro. Hal ini menegaskan bahwa Demak merupakan ahli waris Majapahit dan karenanya seluruh wilayah Majapahit menjadi hak milik Demak. Dalam menjalani roda pemerintahan, Raden Patah banyak dibantu oleh Wali Sanga yang berperan sebagai penasihat. Ia juga yang membangun Masjid Agung Demak pada tahun 1489, dibantu sepenuhnya oleh para Wali.

Makam Raden Patah dan Keluarga

Gambar: Makam Raden Patah dan Keluarga, terletak di utara Masjid Agung Demak

Keberhasilan Raden Patah dalam memperluas wilayahnya dapat dilihat ketika Demak berhasil menaklukkan Girindrawardhana yang pada tahun 1478 berhasil merebut pusat Majapahit di Dayo (menurut Tome Pires). Ia pun mampu menyerang benteng Portugis di Malaka. Ia mengutus anaknya yang bernama Muhammad Yunus (Dipati Unus) tahun 1512 guna menghantam benteng Portugis, namun gagal. Walaupun gagal, namun keberanian Dipati Unus menyerang Portugis menyebabkan ia dijuluki Pangeran Sabrang Lor yang berarti "pangeran yang pernah menyeberang ke utara".

Mengenai Dipati Unus ini para sejarawan berbeda pendapat. Sebagian berpendapat ia adalah mantu Raden Patah. Unus sendiri awalnya merupakan penguasa Jepara. Kakeknya konon berasal dari Kalimantan. Maka dari itu ia disebut Pangeran dari Seberang Utara, mengacu kepada Pulau Kalimantan yang memang berada di utara Jawa. Ketika menjadi Adipati Jepara, ia sempat melancarkan serangan ke benteng Portugis di Malaka tahun 1512-1513.

Dipati Unus naik tahta menggantikan Raden Patah pada tahun 1518. Pada masa pemerintahannya, sekali lagi Demak menyerang Portugis di Malaka. Kali ini ia didukung oleh raja Malaka, yaitu Sultan Mahmud Syah, yang melarikan diri dari kejaran pasukan Portugis. Namun, lagi-lagi Unus mengalami kegagalan. Pasukan gabungan Demak-Jepara-Palembang tak mampu menghalau Portugis. Ketika sampai di Jepara, hanya 10 kapal perang (jung) dan 10 kapal barang yang tersisa. Sebagai kenang-kenangan, ia membiarkan sebuah kapal jungnya disimpan di pantai Jepara, sebagai bukti bahwa ia pernah melawan "bangsa yang paling gagah berani di dunia", yaitu Portugis di Malaka, meskipun kalah.

Setelah Dipati Unus wafat tahun 1521, terjadi kemelut di Demak yang disebabkan persaingan antara Pangeran Sekar Seda Lepen dengan Pangeran Trenggana (Trenggono). Akhirnya, yang tampil menjadi pemimpin Demak adalah Sultan Trenggana. Demak mencapai puncak kejayaannya di bawah Sultan Trenggana. Sebagai kerajaan maritim, Demak menjadi bandar transit antardaerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Timur (Maluku) dan Malaka di barat. Ia pun menjadikan Demak sebagai pusat kekuasaan sekaligus pusat penyebaran Islam di Jawa. Untuk itu Sultan Trenggana menguasai kerajan-kerajaan di pantai utara Jawa. Menurut Tome Pires, Sultan Trenggana merupakan raja yang selalu menghabiskan waktu bersenang-senang. Ia tak terlalu memperhatikan ancaman Portugis di Malaka terhadap kedaulatan Demak.

Kekuasaan Demak kala itu meliputi sebagian Jawa Barat, Jayakarta, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Tokoh Demak yang terkenal adalah Fatahillah (Faletehan menurut lidah orang Portugis), berjasa menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, Jawa Barat.

Dalam usaha meluaskan kekuasaannya ke Jawa Timur, Trenggana meninggal dunia di perjalanan ketika akan menyerang Pasuruan (Blambangan, Jawa Timur) pada tahun 1546. Setelah Sultan Trenggana tiada, kembali terjadi kemelut politik antara keluarga Pangeran Sekar Seda Lepen dengan keluarga Sultan Trenggana. Di tengah kemelut tersebut, tampil Joko Tingkir, adipati Pajang bawahan Demak. Ia meredam pemberontakan Arya (Ario) Penangsang, putera Pangeran Sekar Seda Lepen, yang berkuasa di Jipang (Bojonegoro).

Sebelumnya, Penangsang berhasil membunuh Susuhunan Prawoto, ahli waris tahta sepeninggal Trenggana. Ario Penangsang sendiri tewas terbunuh Sutawijaya, putera Ki Ageng Pemanahan. Setelah kemelut berakhir, Joko Tingkir memindahkan pusaka kerajaan dari Bintoro Demak ke Pajang yang menandai berakhirnya Demak sekaligus awal dari Kerajaan Pajang.

5. Banten

Berdirinya kerajaan ini atas inisiatif Sunan Gunung Jati pada 1524, setelah sebelumnya mengislamkan Cirebon. Awalnya, Banten merupakan bagian dari wilayah Pajajaran yang Hindu, namun setelah Demak berhasil menghalau pasukan Portugis di Batavia, Banten pun secara tak langsung berada di bawah kekuasaan Demak. Semasa Sunan Gunung Jati, Banten masih termasuk kekuasaan Demak. Pada tahun 1552, ia pulang ke Cirebon dan Banten diserahkan kepada anaknya, Maulana Hasanuddin.

Sumber lain mengatakan bahwa pendiri Banten adalah Fatahillah (Faletehan menurut catatan Tome Pires) atau Fadhilah Khan atau Nurullah yang berasal dari Pasai. Ia merupakan panglima perang Demak dan juga menantu Sunan Gunung Jati.

Keadaan Demak yang goncang karena adanya perebutan kekuasaan, mendorong Banten pada 1522 memutuskan untuk melepaskan diri. Dengan demikian, Hasanuddin adalah pendiri dan peletak cikal-bakal kerajaan Banten. Hasanuddin dinikahkan dengan putri Sultan Trenggana.

Hasanuddin memerintah selama 18 tahun, yaitu hingga tahun 1570. Ia digantikan Sultan Panembahan Maulana Yusuf. Ia sangat memperhatikan perkembangan perdagangan dan pertanian. Ia juga giat menyebarkan ajaran Islam. Pada masa pemerintahannya, tahun 1579 Banten berhasil menaklukkan Pakuan Pajajaran dan menyebarkan Islam lebih luas lagi di Jawa Barat. Panembahan Yusuf wafat karena sakit pada tahun 1580 setelah memerintah selama 10 tahun.

Hasanuddin memiliki satu putera lagi, yaitu Pangeran Jepara. Pangeran Jepara menikah dengan putri penguasa Jepara, Ratu Kali Nyamat dan menjadi pengganti penguasa Jepara.

Setelah Maulana Yusuf wafat tahun 1580, kekuasaan diberikan kepada Maulana Muhammad. Karena masih berumur sembilan tahun, maka yang menjalankan roda pemerintahan untuk sementara adalah Pangeran Arya Jepara, paman Maulana Muhammad. Setelah dewasa Maulana Muhammad resmi memerintah Banten dengan gelar Kanjeng Ratu Banten.

Semasa pemerintahannya, Banten menyerang Palembang yang akan dijadikannya batu loncatan untuk menguasai Selat Malaka. Serangan itu gagal dan Maulana Muhammad tewas dalam pertempuran pada tahun 1596. Kemudian, yang menjadi sultan Banten berturut-turut adalah Abu Ma’ali dan Abdul Qadir.

Pada tahun 1638, Raja Abdul Qadir mendapatkan gelar "sultan" dari Syarif Mekah. Gelar lengkapnya adalah Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Qadir. Gelar ini diperoleh setelah Abdul Qadir mengirim utusan ke Mekah. Sebagai tanda gelar tersebut telah diterima olehnya, Sultan Abdul Qadir mendapatkan "bendera dan pakaian suci". Pada setiap hari raya Maulid Nabi, pemberian dari Syarif Mekah ini selalu diarak berkeliling Banten.

Nuriddin Ar-Raniri

Gambar: Nuriddin Ar-Raniri

Pada tahun 1651 Abdul Qadir mangkat dan tahta Banten diduduki oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Tirtayasa dan ayahnya begitu menyenangi ilmu pengetahuan. Keduanya sering mengirimkan pertanyaan kepada ulama terkemuka saat itu, di antaranya Nuruddin ar-Raniri di Aceh dan Syekh Yusuf dari Makassar. Para ulama ini biasanya kemudian menulis kitab-kitab khusus sebagai jawaban pertanyaan para sultan itu.

6. Cirebon

Awalnya Cirebon adalah daerah kecil di bawah Kerajaan Sunda yang pada masa itu masih menganut Hindu. Ada dua naskah lokal yang menjadi informasi tentang riwayat Cirebon ini, yaitu Purwaka Caruban Nagari dan Carita Caruban.

Berdasarkan Purwaka Caruban Nagari, pada abad ke-15 ada beberapa wilayah yang diberi hak otonomi oleh Kerajaan Galuh Pajajaran. Wilayah tersebut berada di sekitar Pelabuhan Muara Jati, sebuah bandar perdagangan di Cirebon.

Pada 1470, tibalah di Pelabuhan Muara Jati (masih termasuk wilayah Caruban Larang) seorang mubalig bernama Syarif Hidayatullah, anak Nyi Lara Santang, yang tak lain kemenakan Pangeran Cakrabuana. Sebelum tiba di Cirebon, Hidayatullah singgah di India, Samudera Pasai, Bantam (Banten), dan menetap cukup lama di Ngampel, Jawa Timur, pesantren Sunan Ampel. Berdasarkan mufakat anggota Wali Sanga, Syarif Hidayatullah diutus untuk menyebarkan Islam di Jawa bagian barat. Ia kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Menurut Purwaka Caruban Nagari syahdan pada 1418, tibalah ulama bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik di pelabuhan Muara Jati. Ia masih saudara dengan syahbandar di Muara Jati, Ki Gedeng Tapa. Syekh Hasanuddin lalu pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren di Desa Talaga Sari dan menjadi ulama dengan gelar Syekh Quro. Pada tahun 1420, datang pula seorang ulama dari Baghdad bernama Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Idofi. Ia pun bersahabat dengan Ki Gedeng Tapa. Ia kemudian tinggal di Pasambangan, dekat Muara Jati, lalu mendirikan pasantren dan bergelar Syekh Nurul Jati. Pada tahun itu pula, puteri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subang Larang tiba di Cirebon dari Malaka. Subang Larang kemudian belajar agama Islam di pesantren Syekh Quro di Karawang.

Sepulangnya dari pesantren tahun 1422, ia dinikahi Prabu Siliwangi, Raja Pakuan Pajajaran. Siliwangi merupakan anak Raja Galuh Pajajaran. Karena permintaan dari Subang Larang, Prabu Siliwangi pun masuk Islam. Dari perkawinannya dengan Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang memiliki tiga anak, yakni Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raden Sengara (Kian Santang). Ketiganya lalu tingal di Galuh hingga Nyai Subang Larang meninggal dunia.

Setahun setelah ibunya wafat, Walangsungsang dan Lara Santang meninggalkan Galuh dan berdiam di rumah seorang pendeta Buddha, Ki Gedeng Danuwarsih. Di tempat ini, Walangsungsang menikah dengan anak Danuwarsih, bernama Nyai Endang Geulis yang penganut Buddha. Setelah itu, bersama adiknya dan istrinya, Walangsungsang belajar Islam di pesantren Syekh Nurul Jati. Pada waktu di pesantren inilah, Walangsungsang dan Lara Santang pergi ke Mekah. Sementara itu, Nyai Endang Geulis tak ikut karena hamil. Di Mekah, Nyai Lara Santang menikah dengan bangsawan Arab bernama Maulana Sultan Mahmud yang bergelar Syarif Abdullah. Mereka menikah tahun 1447, dan Lara Santang bergelar Syarifah Mudaim. Mereka dikarunia dua anak: Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.

Setelah kembali ke Cirebon tahun 1456, Walangsungsang membangun masjid kecil Jalagrahan dan rumah yang besar (kelak menjadi Keraton Pangkuwati). Ia menjadi akuwu Caruban II menggantikan Ki Danusela (Ki Gedeng Alang-Alang) yang wafat. Ia pun menikahi puteri Ki Danusela yang bernama Nyai Retna Riris. Mereka dikarunia anak bernama Pangeran Cerbon. Lambat-laut Caruban bertambah luas dan menjadi Nagari Caruban Larang. Walangsungsang kemudian bergelar Pangeran Cakrabuana.

Mengenai riwayat Hidayatullah ini Purwaka Caruban Nagari tak jauh beda dengan naskah Carita Caruban. Menurut Carita Caruban, ada dua tokoh yang dianggap pendiri Kerajaan Cirebon ini. Tokoh pertama adalah Syarif Hidayat, kelahiran Mekah. Ia merupakan anak tertua dari pasangan Nyai Lara Santang dengan Maulana Sultan Mahmud, seorang anak raja Mesir. Lara Santang sendiri adalah anak Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang naik tahta pada 1482 M. Sekembalinya dari Mekah, Syarif Hidayat menjadi pemuka Islam dan bergelar Sunan Jati. Sebagai cucu Raja Pajajaran, ia diberi kekuasaan di daerah Caruban atau Cirebon.

Di samping Syarif Hidayat, tokoh yang dianggap pendiri Cirebon adalah Fadhilah Khan, dikenal juga sebagai Fatahillah. Ia kelahiran Samudera Pasai tahun 1409. Ayahnya berasal dari Gujarat, bernama Maulana Makhdar Ibrahim. Setelah dewasa, Fadhilah Khan meninggalkan Aceh, pergi ke Jawa. Di Jawa ia diterima di Kerajaan Demak sebagai panglima pasukan Demak. Ia lalu dinikahkan dengan puteri Sunan Jati.

Berdasarkan sumber dari Tome Pires, pendiri Cirebon (dan juga Banten) adalah Faletehan. Menurut sejarawan Husein Djajadiningrat, Faletehan ini adalah Nurullah yang dikenal dengan nama Syekh Ibnu Maulana, berasal dari Pasai, Aceh. Ketika Samudera Pasai direbut oleh Portugis tahun 1521, Nurullah sedang pergi haji ke Mekah.

Sepulangnya dari Mekah tahun 1524, ia enggan tinggal di Pasai karena sudah dikuasai Portugis, lalu pergi ke Demak. Atas izin raja Demak, ia berhasil menyebarkan Islam di Banten dan kemudian membangun komunitas muslim di sana. Kemudian hari, Banten diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin. Nurullah sendiri pergi ke Cirebon dan mendirikan sebuah dinasti di sana.

Berdasarkan riwayat hidupnya, dapat dipastikan bahwa Nurullah itu adalah Fadhilah Khan atau Fatahillah dalam Carita Caruban atau Faletehan menurut catatan Tome Pires. Tokoh inilah yang menggantikan kekuasaan Sunan Jati di Cirebon. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendiri Banten dan Cirebon yang sesungguhnya adalah Nurullah, yang tak lain Fadhilah Khan atau Faletehan atau Fatahillah.

Dari Cirebon, Fatahillah mengembangkan Islam ke Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Khususnya terhadap Banten ia berhasil meletakkan dasar bagi pengembangan agama Islam dan perdagangan di sana. Setelah wafat, ia dimakamkan di samping makam mertuanya, Sunan Gunung Jati.

Setelah Sunan Gunung Jati meninggal, tahta jatuh kepada Panembahan Ratu I. Pada masa pemerintahannya, Cirebon masih berada di bawah kekuasaan Demak. Namun, setelah Demak runtuh oleh Pajang, Cirebon memerdekakan diri. Kemerdekaan Cirebon ini bahkan berlangsung hingga periode Mataram berkuasa. Guna menjaga hubungan dengan Cirebon, raja Mataram lalu menikahi puteri Panembahan Ratu I. Selama itu Mataram memandang Cirebon sebagai pusat keagamaan.

Namun, hubungan Cirebon-Mataram berubah sejak tahun 1628. Ketika itu Cirebon memberikan bantuan kepada Mataram dalam menyerang Batavia yang dikuasai VOC. Setelah gagal mengusir VOC di Batavia, banyak orang Cirebon berpindah ke Banten. Tindakan orang Cirebon ini oleh Sultan Agung Mataram dianggap pengkhianatan terhadap Mataram. Karena selama ini Banten belum mau tunduk kepada Mataram. Banten bahkan membantu rakyat Surabaya ketika berkonflik dengan Mataram pada tahun 1620-1625. Oleh sebab itu, Sultan Agung lalu menyerbu Cirebon, dan sejak itu Cirebon harus mengirimkan upeti kepada Mataram.

Hubungan Cirebon-Mataram makin runyam ketika Sultan Mataram Amangkurat I mengharuskan Panembahan Ratu II, pengganti Panembahan Ratu I, untuk pindah dari Cirebon dan tinggal di Mataram. Panembahan Ratu II dikenal juga sebagai Panembahan Giri Laya. Sedangkan, pemerintahan Cirebon dijalankan oleh Pangeran Wangsakerta, anak Panembahan Ratu II. Oleh Wangsakerta, Cirebon lalu dibagi dua menjadi Kasepuhan dan Kanoman.

Ketika di Mataram terjadi pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC. Sebagai imbalannya, VOC diberi hadiah daerah-daerah pesisir yang dikuasai Mataram. Akibatnya, Cirebon masuk dalam kekuasaan VOC. Sejak itu, VOC berhak membangun benteng, dan Cirebon mau tak mau harus membantu VOC bila berhadapan dengan musuh. Pelabuhan Cirebon pun dimonopoli oleh VOC. Ekspor lada, kayu, gula, serta impor candu diatur oleh VOC. Pada tahun 1705, Cirebon sepenuhnya diserahkan kepada VOC oleh Sultan Paku Buwono I karena VOC telah membantu Paku Buwono I melawan Amangkurat III yang dibantu Untung Surapati. Sejak saat itu juga, Cirebon bersama Indramayu dan Priangan menjadi karesidenan dan langsung di bawah VOC.

7. Pajang

Jaka Tingkir, menantu Pangeran Trenggana, memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang, dan kemudian mendirikan kerajaan Pajang dan menjadi raja pertama di Pajang dengan gelar Hadiwijaya. Jaka Tingkir melakukan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur. Setelah berhasil, ia memberikan hadiah kepada dua orang yang telah berjasa selama penaklukan, mereka adalah Ki Ageng Pamanahan yang ditempatkan di Mataram dan Ki Ageng Panjawi yang ditempatkan di Panjawi.

Kerajaan Pajang merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di pedalaman. Tidak seperti kerajaan-kerajaan lainnya yang biasanya berada di sekitar pesisir. Sebelum menjelma menjadi kerajaan, Pajang merupakan daerah yang bereda dalam kekuasaan Demak. Lokasinya terletak di daerah Kartasura, dekat Surakarta (Solo). Pada waktu itu yang menjadi adipati (semacam bupati) di Pajang adalah Joko Tingkir.

Joko Tingkir disebut juga Panji Mas atau Mas Karebet. Ia merupakan keturunan Raja Pengging yang bernama Handoyoningrat. Pengging ini terletak di lereng tenggara Gunung Merapi, Jawa Tengah. Setelah setelah berhasil menghabisi Ario Penangsang, Joko Tingkir naik tahta menjadi sultan pertama Pajang, bergelar Raden Hadiwijaya.

Pada tahun 1554, Sultan Hadiwijaya merebut daerah Blora, dekat Jipang. Pada tahun 1568, semua perangkat kebesaran Majapahit yang terdapat Demak ia pindahkan ke Istana Pajang. Selanjutnya, guna melebarkan sayap kekuasaannya ia menyerang Kediri pada tahun 1577. Tiga tahun setelah itu, raja-raja di Jawa Timur mengakui kedaulatan Pajang.

Hadiwijaya wafat pada tahun 1587, dimakamkan di Desa Butuh. Ia digantikan oleh menantunya, Arya Pangiri. Arya Pangiri sendiri adalah putera Sunan Prawoto dari Demak. Arya Pangiri lalu mengangkat Pangeran Benawa (Benowo), anak Hadiwijaya, menjadi adipati di Jipang.

Karena merasa lebih berhak atas tahta Pajang, Pangeran Benawa melakukan pemberontakan terhadap Pangiri. Ia dibantu oleh sejumlah pejabat Demak. Selain Demak, Benawa juga dibantu oleh adipati Mataram, Panembahan Senopati (Sutawijaya). Karena didukung kekuatan yang lebih besar, Pangeran Benawa berhasil mengalahkan Pangiri, yang tak lain masih saudara iparnya sendiri. Benawa menjadi sultan Pajang pada tahun 1588.

Pada perkembangan selanjutnya, Pangeran Benawa lebih memilih menjadi penyiar Islam daripada mengurusi Pajang. Karena itu, yang berkuasa atas Jawa selanjutnya adalah Mataram. Pada tahun 1589 Pangeran Benawa digantikan oleh Gagak Bening atas kebijakan Sutawijaya. Pada tahun 1591, Gagak Bening meninggal dan digantikan oleh anak Benawa, yang ketika itu telah menjadi bawahan Mataram.

Pada tahun 1618, putera Benawa memberontak terhadap Sultan Agung, Raja Mataram. Karena tak seimbang, Sultan Agung dengan mudah melumpuhkan perlawanan penguasa Pajang ini. Abdi-abdi Pajang yang selamat melarikan diri ke Giri dan Surabaya. Setelah pemberontakan betul-betul redam, Sultan Agung mengirimkan penduduk Pajang ke Mataram untuk menjadi buruh kerja paksa. Dengan demikian, tamatlah riwayat Pajang yang berkuasa hanya 45 tahun. Seluruh pusaka kerajaan lalu Pajang dipindahkan ke Mataram.

8. Mataram-Islam

Pada tahun 1578 Ki Ageng Pamanahan diberi tanah di Plered oleh Jaka Tingkir karena jasa-jasa terhadap Pajang. Wilayah inilah yang kelak dijadikan ibukota Mataram oleh anak Ki Ageng yang bernama Panembahan Senopati (Senapati).

Setelah Hadiwijaya wafat, segera Senopati menguasai Pajang pada tahun 1582. Pada tahun itu juga ia mengumumkan berdirinya kerajaan baru di Jawa Tengah, Mataram. Senopati adalah anak angkat sekaligus menantu Hadiwijaya. Bersama pamannya, Ki Juru Mertani, Senopati menaklukkan Demak, Kadiri, Madiun, Kedu, Bagelen, Surabaya, dan Pasuruan.

Peta Kekuasaan Mataram menjelang tahun 1645

Gambar: Peta Kekuasaan Mataram menjelang tahun 1645

Setelah menaklukkan Kediri, Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601. Tahta lalu beralih ke puteranya, Mas Jolang. Setelah menjadi raja, ia bergelar Sultan Hanyokrowati. Ia meneruskan perjuangan ayahnya, namun tidak lama. Sewaktu pulang dari pertempuran, pada tahun 1613 Mas Jolang wafat di Desa Krapyak, Jawa Timur. Itulah sebabnya Mas Jolang dikenal sebagai Panembahan Seda ing Krapyak.

Mas Jolang digantikan oleh Raden Rangsang, puteranya, yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pada masa Sultan Agung, Mataram berhasil menaklukkan Surabaya dan Blambangan hingga kekuasaan Mataram meliputi sebagian Jawa Barat (kecuali Banten dan Batavia), seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di samping Jawa, Mataram pun menguasai Madura, Sukadana di Kalimantan Barat, serta Palembang.

Pada tahun 1613-1645, Sultan Agung membawa Mataram ke masa kejayaannya. Pada masa Sultan Agung, Mataram menghadapi dua lawan yang besar, yaitu pasukan Kerajaan Banten dan tentara VOC di Jayakarta (Batavia) yang bercita-cita memonopoli perdagangan. Mataram pernah dua kali melakukan serangan ke benteng VOC di Jayakarta, yaitu pada 1628 dan 1629. Kedua serangan itu gagal karena kekurangsiapan logistik tentara selama pertempuran.

Setelah Sultan Agung wafat tahun 1646, tahta Mataram diduduki Susuhunan Amangkurat I. Ia memindahkan pusat kerajaan ke Plered setahun berikutnya. Berbeda dengan ayahnya, Amangkurat I bersikap lunak dan cenderung berkompromi dengan VOC. Ia mengizinkan serikat dagang Belanda itu mendirikan benteng di Mataram. Karena tidak setuju atas kebijakan Amangkurat I dan kesewenangan VOC, meletuslah pemberontakan Pangeran Trunojoyo (Trunajaya). Pada 1667, pasukan Trunojoyo menyerang istana Plered. Pemberontakan itu berhasil dipadamkan dengan bantuan VOC, meski Amangkurat terluka dan wafat.

Amangkurat I lalu digantikan oleh anaknya, Amangkurat II. Amangkurat II memerintah dari tahun 1667 hingga 1703. Semasa pemerintahan Amangkurat II, Mataram mengalami kemunduran. Daerah-daearah kekuasaannya banyak yang dikuasai VOC. Bahkan pusat pemerintahan Mataram terpaksa pindah ke Kartasura.

Yang menjadi Sultan selanjutnya adalah Amangkurat III. Pada tahun 1704, Pangeran Puger, paman Amangkurat III, didaulat oleh VOC sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Tak senang atas pengangkatan pamannya ini, Amangkurat III bekerja sama dengan Untung Surapati, melawan VOC dan melakukan serangan gerilya.

Karena persenjataan yang tak seimbang, akhirnya Amangkurat III harus mengakui kemenangan VOC pada tahun 1708. Pada tahun 1719, Paku Buwono I meninggal dunia dan digantikan oleh Amangkurat IV. Amangkurat IV hanya memerintah selama 7 tahun. Pada tahun 1726 ia wafat, digantikan oleh Paku Buwono II.

Pada masa Paku Buwono ini, terjadi kekisruhan yang dilakukan Sunan Kuning, cucu Amangkurat III. Sunan Kuning menyimpan dendam terhadap keturunan Paku Buwono. Istana Kartasura direbut oleh Sunan Kuning pada tahun 1742. Namun, setahun kemudian istana Kartasura dapat direbut kembali oleh pasukan Cakra Ningrat IV, raja Madura, yang bekerjasama dengan VOC. Sunan Kuning pun menyerah, dan Paku Buwono II diangkat kembali menjadi sultan. Tahun 1746, Paku Buwono II memindahkan pusat pemerintahan ke istana baru di Plered.

Perubahan besar terjadi di Mataram pada tahun 1755. Atas campur tangan VOC, Mataram dibagi dua menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta di Solo. Pemisahan daerah ini tercatat dalam Perjanjian Giyanti. Perjanjian ini berawal dari kekecewaan Pangeran Mangkubumi kepada Paku Buwono II yang sebelumnya berjanji memberikan hadiah tanah beserta 3.000 warga kepada Mangkubumi atas keberhasilannya memadamkan sebuah pemberontakan. Namun, Paku Buwono II mengingkari janjinya. Malah sebuah daerah pesisir diserahkannya kepada VOC.

Mangkubumi menganggap Paku Buwono II melanggar etika dan sopan-santun Jawa. Paku Buwono II dinilai tidak bermusyawarah dulu dengannya menyangkut keputusan sepihak tersebut. Merasa tersinggung, Mangkubumi kemudian bergabung bersama Raden Mas Said untuk melancarkan pemberontakan kepada Mataram pada Mei 1746. Pemberontakan ini berlangsung cukup lama. Mas Said pun mendapatkan gelar baru, Pangeran Samber Nyawa, karena ia sangat lihai dalam mematahkan perlawanan lawan.

Baru, pada tahun 1755 pemberontakan berakhir, setelah Paku Buwono II meninggal dunia dan Perjanjian Giyanti dibuat. Atas persetujuan VOC, Kesultanan Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) diperintah oleh Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Sementara, Kasunanan Surakarta diperintah oleh Susuhunan Paku Buwono III, anak Paku Buwono II.

Sementara itu, Mas Said merasa diliciki oleh Hamengku Buwono I yang seakan-akan lupa akan bantuannya dulu ketika memerangi Paku Buwono II. Oleh karena itu, pemberontakan pun meletus untuk kedua kalinya di Jawa Tengah. Kali ini pasukan Mas Said harus berhadapan dengan tiga kekuatan, yaitu pasukan Yogyakarta, Surakarta, serta VOC. Namun, berkat kelihaian taktik Mas Said, pasukan gabungan tersebut tak mampu mengalahkannya. Mas Said bahkan berhasil membakar istana baru di Yogyakarta, setahun setelah Perjanjian Giyanti.

Namun, karena jumlah pasukan yang tak seimbang, laskar Mas Said pun kewalahan. Akhirnya, ia rela berunding dan menyerahkan diri kepada Paku Buwono II tahun 1757. Melalui Perjanjian Salatiga, Kasunanan Surakarta dibagi lagi menjadi dua wilayah, yaitu Kasunanan Surakarta dan Mangkunegara. Pangeran Samber Nyawa kemudian mengucapkan ikrar setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Sebagai imbalannya, ia diberikan tanah berikut 4.000 orang warga. Ia pun menjadi adipati di wilayah Mangkunegaran dengan gelar Pangeran Adipati Mangkunegara.

Pada Desember 1810, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman William Daendels, bersama 3.200 pasukannya memaksa Hamengku Buwono II turun sebagai sultan Yogyakarta. Kemudian, Daendels mengangkat puteranya, Hamengku Buwono III menjadi sultan. Namun, baru menjadi sultan setahun, Hindia Belanda (Indonesia) dikuasai Inggris sebagai akibat dari penaklukan Belanda oleh Inggris.

Melihat kesempatan ini, Hamengku Buwono II mengambil alih kekuasaan kembali dari anaknya. Namun, pada Juni 1812 sekitar 1.200 prajurit Ingris yang dibantu prajurit Sepoy dari India dan 800 prajurit dari Legiun Mangkunegaran, berhasil merebut istana Yogyakarta. Perpustakaan, arsip, dan sejumlah besar uang Kasultanan Yogyakarta habis dirampas pihak lawan. Hamengku Buwono II pun, sekali lagi, turun tahta, dan dibuang ke Penang, Malaysia. Anaknya, Hamengku Buwono III naik tahta kembali.

Adapun Pangeran Natakusuma, yang membantu Inggris dalam perang tersebut, diberi tanah merdeka serta 4.000 warga di Yogyakarta. Natakusuma kemudian bergelar Pangeran Pakualam I dan memerintah di Kasunanan Pakualam di Yogyakarta. Selama itu, otomatis yang membuat kebijakan di istana Yogyakarta, Surakarta, dan Mangkunegaran adalah Belanda.

Baru pada bulan September 1945, Sultan Hamengku Buwono menyatakan kepada pemerintahan Soekarno-Hatta bahwa Kasultanan Yogyakarta termasuk bagian dari Republik Indonesia. Langkah ini diikuti oleh istana Surakarta.

9. Goa dan Tallo (Makassar)

Di Sulawesi Selatan, pada awal abad 16 sudah berdiri kerajaan-kerajaan diantaranya Luwu, Goa, Wajo, Soppeng, Tallo dan Bone. Namun kerajaan yang memiliki perkembangan yang pesat adalah Goa dan Tallo, kelak kerajaan ini disebut sebagai kerajaan Makassar dengan ibukota Makassar.

Goa dan Tallo merupakan kerajaan kembar, pada tahun 1603 Goa menjadi kerajaan Islam Daeng Manrabia masuk Islam dan bergelar Alauddin, Tallo menjadi kerajaan Islam saat Kraeng Matoaya masuk Islam dan bergelar Sultan Abdullah. Wilayahnya meliputi sebagian besar Sulawesi dan bagian timur Nusa Tenggara. Alaudin sangat menentang politik dagang Belanda yang monopoli, karena kebenciannya itu dan membantu rakyat setempat menentang Belanda, berulang kali melakukan penyerbuan ke Maluku.

Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

Gambar: Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

Setelah Alaudin meninggal, tahta diserahkan kepada Hasanuddin (1654-1660). Usaha ayahnya menentang Belanda dilanjutkannya, bahkan kegigihannya sangat merepotkan. Oleh karena itu Hasanuddin dikenal dengan "Ayam Jantan dari Timur". Perlawanan Hasanuddin berakhir dengan perjanjian damai dan ia harus turun tahta. Ia digantikan oleh anaknya, Mapasomba. Belanda berharap Mapasomba dapat bekerja sama, namun sebaliknya, ia meneruskan perjuangan ayahnya.

Bone merupakan wilayah kekuasaan Makassar yang dipimpin oleh Aru Palakka (Arung Palakka) menawarkan kerjasama untuk membantu Belanda. Tahun 1666 Belanda berusaha mati-matian menduduki Makassar melalui pertempuran sengit di darat dan di laut. Hingga akhirnya tahun 1667, Belanda dapat menghancurkan Makassar dan memaksa dilakukan Perjanjian Bongaya, yang isinya:
  • Pengakuan hak monopoli Belanda.
  • Belanda dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan di Makassar.
  • Makassar melepaskan daerah-daerah kekuasaan.
  • Aru Palakka diakui sebagai Raja Bone.

Rakyat Makassar marah atas keputusan Perjanjian Bongaya. Perlawanan rakyat Makassar kian berkobar dan berlangsung hampir dua tahun. Banyak pejuang Makassar pergi ke daerah-daerah lain, seperti Banten, Madura, dan sebagainya guna membantu daerah-daerah bersangkutan dalam upaya mengusir VOC. Pejuang tersebut di antaranya Karaeng Galesung, Monte Marano yang membantu perjuangan rakyat di Jawa Timur.

Makam Aru Palakka

Gambar: Makam Aru Palakka di luar Kota Makassar yang dianggap keramat oleh penduduk setempat

Sementara itu Aru Palaka semakin leluasa untuk menguasai daerah Soppeng dengan pengawasan dan pantauan dari VOC. Setelah perjuangan rakyat Makassar benar-benar padam, Makassar pun jatuh ke tangan VOC secara keseluruhan. Sebutan Makasar sebagai pusat perdagangan bebas, lenyap begitu saja.

10. Ternate dan Tidore

Di pulau Maluku terdapat empat kerajaan besar, yaitu Jailolo, Bacan, Ternate, dan Tidore. Ternate dan Tidore merupakan kerajaan besar yang menguasai persaingan perdagangan dibandingkan dengan lainnya. Dalam persaingannya Ternate membentuk Uli Lima (Persekutuan Lima) yang terdiri dari Bacan, Obi, Seram dan Ambon, sedangkan Tidore membentuk Uli Siwa (Persekutuan Sembilan) yang terdiri dari Jailolo, Makian, dan pulau-pulau kecil di Maluku sampai Irian.

Pada 1486, raja Ternate ke-19, Sultan Zainal Abidin (1486-1500) memeluk Islam setelah belajar di pesanten Giri di Gresik, dekat Surabaya. Setelah Sultan Zainal Abidin mangkat pada 1500, tahta Ternate dikuasai Sultan Tabariji. Sultan Tabariji bergelah Sultan Sirullah. Pada 1512, pasukan dagang Portugis tiba di Kepulauan Maluku.

Pada tahun 1522 Ternate bersekutu dengan Portugis. Sultan memberi Portugis hak mendirikan benteng dan memonopoli perdagangan cengkeh. Untuk menyeimbangkan persekutuan Ternate-Portugis, Ternate bekerja sama dengan Spanyol pada tahun 1524. Kemudian pada tahun 1529, Ternate berhasil mengalahkan Tidore dengan bantuan tentara Portugis. Yang kemudian naik tahta pada tahun 1540 adalah Sultan Khairun. Semasa pemerintahannya Islam menyebar hingga ke Ambon. Awalnya Sultan melakukan hubungan persahabatan dengan Portugis. Penandatanganan persahabatan pun dilaksanakan pada 1565.

Namun kemudian, sikap kasar gubernur Portugis yang bernama Tritoa de Altaida, membuat Sultan Khairun memutuskan untuk menyerang Portugis. Benteng Portugis di Ternate berhasil diduduki untuk sementara, sebelum akhirnya dapat direbut kembali oleh Portugis setelah bala bantuan dari pasukan cadangan Portugis dari Malaka.

Perlawanan Sultan Khairun dapat dipadamkan oleh Portugis pada 1570. Mereka menipu Sultan Khairun agar datang ke benteng Portugis. Sultan yang tidak menaruh curiga datang pada tanggal 28 Februari dan di sanalah ia ditikam oleh pengawal gubernur Portugis hingga wafat.

Sultan Khairun digantikan Sultan Baabullah dan ia melanjutkan perjuangan Khairun. Pada 1575 benteng Portugis di Ternate dapat direbut oleh pasukan Baabullah. Dua tahun kemudian Portugis bahkan benar-benar terusir dari Maluku. Kejayaan Ternate tercapai ketika pemerintahan Baabullah. Sekitar 80 pulau berhasil dikuasai Ternate.

Namun, kemerdekaan Maluku tidak berlangsung lama. Sejak 1605, VOC menduduki Ambon dan dari tempat inilah VOC menanamkan pengaruhnya di seluruh Maluku. Pada 1660, Ternate akhirnya ditaklukkan benar-benar oleh VOC.

11. Palembang

Pada awalnya Palembang termasuk ke wilayah kekuasaan Demak. Oleh Demak, Palembang dijadikan pangkalan untuk menyerang Portugis di Malaka, sekaligus untuk membendung serangan orang Eropa ke Jawa. Setelah Raja Demak, Raden Patah, wafat, sebagian bangsawan Demak melarikan diri ke Palembang. Mereka mendirikan kesultanan baru dengan Ki Gedeng Suro (1539-1572) sebagai raja pertama.

Ki Gedeng Suro digantikan oleh anaknya, Ki Gedeng Suro Muda pada tahun 1572. Pada tahun 1589 Ki Gedeng Suro Muda digantikan oleh Ki Mas Dipati. Ki Mas Dipati kemudian turun tahta pada tahun 1594 dan digantikan oleh Madi Angsuka. Pada masa Madi Angsuka ini, VOC mengirim rombongan di bawah pimpinan Crijn van Raenburg untuk membuka urusan dagang. Utusan tersebut diterima dengan ramah karena Palembang merupakan pelabuhan terbuka bagi siapapun selama kaum pendatang mengikuti aturan-aturan Palembang. Belanda lalu mendirikan kantor dagang di samping Sungai Aur, berhadap-hadapan dengan keraton Kesultanan. Kemudian, kantor dagang ini diubah menjadi loji yang dilengkapi dengan meriam.

Pemerintahan Madi Angsuka pada tahun 1629 digantikan oleh Madi Alit. Pada tahun 1630 ia digantikan oleh Seding Pura. Seding Pura memerintah Palembang hingga tahun 1639. Yang menjadi raja kemudian adalah Sedo ing Kenayan yang memerintah hingga tahun 1650.

Kemudian yang menjadi sultan selanjutnya adalah Abdurrachman yang memerintah dari 1659 sampai 1706. Pada tahun 1702 tiba-tiba VOC menyerang benteng Palembang di Kampung Candi. VOC menyerang dengan alasan bahwa pihak Palembang tidak memberikan perlindungan terhadap kepentingan dagang Belanda. Karena terdesak oleh kekuatan perang VOC yang lebih canggih, Sultan Abdurrahman mengungsi ke Jambi. Kekosongan kekuasaan di Palembang digunakan VOC di Batavia untuk mengangkat sultan pilihan mereka, yaitu Mahmud Badaruddin Jaya Wikrama.

Sementara itu, di Palembang pun telah ada sultan baru yaitu Muhammad Mansyur Kebon Gede yang mulai memerintah pada tahun 1706. Sultan ini menjadi raja hingga tahun 1714. Baru pada tahun 1724 Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikrama sah menjadi raja Palembang. Pada masa pemerintahannya, VOC semakin berkuasa dan melarang rakyat Palembang menjual lada serta timah kepada Inggris, Cina, Arab, dan India. Jadinya, pihak Belandalah yang menjadi konsumen tunggal.

Pada masa Badaruddin Jaya Wikrama ini perkembangan dunia Islam semakin pesat. Para ulama Arab diperlakukan secara istimewa. Sultan menempatkan mereka di jabatan-jabatan penting di Kerajaan, biasanya di bidang keagamaan. Sayid Aydarus, misalnya, bahkan dinikahkan dengan saudara perempuan Sultan pada tahun 1754. Dengan demikian, Palembang menjadi pusat keagamaan para ulama setempat, seperti Syekh Syihabuddin, Kemas Fakhruddin, Muhammad Muhyiuddin, serta KemasMuhammad.

Badaruddin Jaya Wikrama berkuasa hingga tahun 1758. Sebagai penggantinya adalah Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo. Pada tahun 1776 Adi Kesumo turun tahta, digantikan oleh Muhammad Badaruddin. Sultan Muhammad Badaruddin berkuasa atas Palembang sampai tahun 1803. Yang tampil sebagai sultan berikutnya adalah Mahmud Badaruddin.

Sultan Mahmud Badaruddin terkenal dengan kepribadiannya yang kuat. Ia terampil dalam berdiplomasi, berperang, berorganisasi. Ia pun sangat mengemari dunia sastra. Sejumlah pantun ia gubah. Ia pun senang menulis. Sejak usia muda, ia sangat tak senang terhadap Belanda. Ketika pada 1811 Belanda menyerah kepada Inggris, Mahmud Badaruddin pun segera mengusir Belanda dari tanah Palembang. Ia lalu mengundang residen Palembang, J. Groenhof van Woortman, ke istana. Pada saat yang sama pasukan Palembang menyerang loji Belanda di Sungai Aur. Pasukan Palembang berhasil menawan 24 orang Belanda dan 63 serdadu Belanda yang terdiri atas orang Jawa. Perang ini mengilhami para sastrawan untuk menyusun Hikayat Perang Palembang.

Pada tahun 1812, Sultan Mahmud berperang melawan pasukan Inggris yang mulai menguasai wilayah Nusantara setelah Belanda menyerah. Benteng Kesultanan Palembang di Bontang direbut oleh Inggris sehingga terpaksa Sultan mengungsi ke Muara Belida. Pada tanggal 19 Maret 1812, Sultan Mahmud Badaruddin diperintah Inggris untuk turun tahta. Oleh Inggris, Ahmad Najamuddin, adik Mahmud Badaruddin, naik singgasana Palembang. Pada 1816, Inggris menyerahkan Palembang kepada Belanda kembali. Pada tahun 1945, Kesultanan Palembang menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Masjid Agung Palembang

Gambar: Masjid Agung Palembang yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin

Karena letaknya yang strategis, Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada. Pedagang muslim, India, dan Cina menjadikan Palembang sebagai tempat bertemu. Belanda lalu memonopoli perdagangan lada dan timah.

12. Banjar

Kerajaan Banjar merupakan kerajaan Islam yang ada di Kalimantan Selatan yang didirikan oleh Pangeran Samudera. Kerajaan ini berkembang menjadi pusat perkembangan yang banyak dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai daerah.

Dalam penyebaran Agama Islam di Kalimantan Selatan Khususnya daerah Banjar (Banjarmasin) dilakukan oleh para pemuk agama Islam dari Demak. Penyebaran Agama Islam ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Kalimantan. Pangeran Samudera, Raja Banjar, yang sebelumnya kerajaan Hindu merasa tertarik terhadap ajaran Islam, sehingga akhirnya ia memeluk Islam dan namanya diganti menjadi Sultan Suryamullah atau Sultan Suryansyah. Dengan masuk Islamnya Suryamullah, maka bentuk Banjar berubah menjadi kerajaan bercorak Islam.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang raja, Sultan Suryamullah dibantu oleh beberapa bawahannya yang mempunyai tugas masing-masing, yaitu:
  • Patih Pangiwa dan Manteri Pangan, bertugas mengurus bidang politik dan pertahanan negara.
  • Patih, bertugas sebagai kepala pelaksana pemerintahan.
  • Manteri Bhuni dan Manteri Sikap, bertugas mengurus keuangan dan istana dan perpajakan.
  • Penghulu, bertugas mengurus bidang agama.
  • Patih Balit, Patih Kuwin dan Patih Muhur, bertugas mengurus bidang pengadilan dan hakim istana.

Selain adanya para pembantu tersebut, di kerajaan Banjar pun ada suatu lembaga yang disebut dengan Dewan Mahkota yang tugasnya antara lain:
  • Mengawasi atau membatasi kekuasaan raja.
  • Sebagai pembantu dan penasehat raja dalam memecahkan persoalan-porsoalan dalam pemerintahan.

Yang menjadi anggota Dewan Mahkota ini terdiri dari para Bangsawan, Patih, Mantri, Kyai, serta pejabat-pejabat tinggi lainnya dalam pemerintahan.

Dalam perkembangan sejarahnya kerajaan Banjar merupakan sekutu kerajaan Demak. Ketika kerajaan Demak berperang dengan Portugis, kerajaan Banjar ikut membantu. Begitu pula Demak pun ikut membantu kerajaan Banjar dalam penyebaran Agama Islam di Kalimantan Selatan. Selain itu Demak pun pernah membantu Sultan Suryamullah ketika kerajaan Banjar melakukan penyerbuan ke kerajaan Hindu Negaradipa. Dikalahkannya Negaradipa ini membawa akibat positif terhadap perkembangan Islam di Kalimantan Selatan.

Sultan Suryanullah digantikan puteranya, Sultan Rahmatullah. Rahmatullah lalu digantikan oleh Sultan Hidayatullah. Pada masa Hidayatullah ini, hubungan dengan Demak terputus. Ia memindahkan ibukota ke Muara Tambangan dari Martapura. Berikut adalah raja-raja Banjar yang memerintah setelah Sultan Hidayatullah:
  • Sultan Tahlilullah (1700-1745);
  • Sultan Tamjidillah (1745-1778);
  • Sultan Tahmidillah (1778-1808);
  • Sultan Sulaiman (1808-1825);
  • Sultan Adam al-Wasi Billah (1825-1857);
  • Pangeran Tamjidillah (1857-1859).

Pada tahun 1859 hingga 1905, berlangsung Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari (1809-1862). Pangeran Antasari yang masih kerabat istana, tak setuju terhadap kebijakan Pangeran Tamjidillah yang pro Belanda. Pertempuran besar melawan Belanda berhenti pada tahun 1863, namun pertempuran-pertempuran dalam skala kecil masih berlangsung hingga tahun 1905 yang dipimpin oleh putera Antasari, Muhammad Seman. Pada tahun 1860, Belanda menghapuskan Kerajaan Banjar.

13. Bima

Mulanya, Bima merupakan kerajaan yang dipengaruhi Hindu-Buddha yang bercampur dengan kebudayaan asli. Sebelum Islam datang, penduduknya mempercayai arwah-arwah lelulur mereka sebagai penjaga kehidupan. Pada awal abad ke-17, barulah ajaran Islam masuk ke Bima, yang terletak di bagian timur Pulau Sumbawa. Tepatnya pada tahun 1620, raja Bima yang bernama La Ka'i memeluk Islam dan namanya berganti menjadi Abdul Kahir.

Sesungguhnya, ajaran Islam telah masuk ke daerah Sumbawa sejak abad ke16. Persebaran Islam di wilayah ini terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama sekitar tahun 1540-1550 oleh para mubalig dan pedagang dari Demak. Sementara, gelombang kedua terjadi pada 1620 oleh orang-orang Sulawesi. Pada gelombang kedua inilah Raja Bima, La Ka’i, tertarik untuk menjadi muslim.

Sejak penguasanya masuk Islam, Bima menjelma menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara. Para ulama yang berdakwah sebagian diangkat menjadi penasihat Sultan dan berperan besar dalam menentukan kebijakan Kerajaan. Banyak ulama termasyur yang datang ke Bima ini. Ada Syekh Umar al-Bantani dari Banten yang berasal dari Arab, Datuk Di Bandang dari Minangkabau, Datuk Di Tiro dari Aceh, Kadi Jalaluddin serta Syekh Umar Bamahsun dari Arab.

Di bagian barat dan timur pelabuhan Bima telah terdapat perkampungan orang Melayu. Perkampungan ini menjadi pusat pengajaran Islam. Sultan Bima begitu menghormati orang-orang Melayu dan menganggap mereka saudara. Mereka bahkan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Ulama dan penghulu Melayu mendapat hak istimewa untuk mengatur perkampungan mereka sesuai dengan hukum Islam. Dengan demikian, dengan mudah bahasa Melayu menyebar di Bima dan sekitarnya.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Bima meliputi Pulau Flores, Timor, Solor, Sumba, dan Sawu. Pada waktu itu, Bima merupakan salah satu bandar utama. Para pedagang yang pergi dari Malaka ke Maluku, atau sebaliknya, pasti melewati perairan Sumbawa.

Untuk meningkatkan perdagangannya, Bima mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain yang berdekatan. Salah satunya dengan Kerajaan Goa. Datuk Di Bandang dan Datuk Di Tiro adalah ulama yang datang ke Sumbawa atas dukungan Goa. Hubungan dua kerajaan ini dipererat dengan pernikahan antara keluarga kedua kerajaan.

Kerajaan Bima terbukti telah membantu pihak Goa dalam menghadapi Belanda. Ketika Goa menandatangani Perjanjian Bongaya tahun 1667 dengan pihak Belanda, Bima pun dipaksa untuk ikut menandatangani perjanjian tersebut. Ketika itu Sultan Bima menolak. Namun, dua tahun kemudian, 1669, Kerajaan Bima akhirnya harus mengakui kekuasaan Belanda. Perjanjian damai pun dilaksanakan. Sejak itulah bangsa Belanda ikut serta dalam urusan dalam negeri Bima.

Pada tahun 1906, penguasa Bima, Sultan Ibrahim, dipaksa menandatangani kontrak politik yang bertujuan menghapus kedaulatan Kerajaan Bima oleh Belanda. Isi perjanjian ini antara lain: Bima mengakui wilayahnya menjadi bagian dari kekuasaan Hindia Belanda, Sultan tidak boleh mengadakan kerjasama dengan bangsa Eropa lain. Selain itu, Bima harus membantu Belanda bila sedang berperang dan Sultan dilarang menyerahkan kekuasaannya selain kepada Belanda.

Pada masa pemerintahan sultan terakhir, Muhammad Salahuddin (1915-1951), pendidikan agama Islam mengalami perkembangan yang pesat. Sultan Muhammad memperbanyak sarana peribadahan dan pendidikan, seperti masjid dan madrasah.

Kerajaan Bima berakhir pada tahun 1951 karena Sultan Muhammad Salahuddin meninggal dunia. Di samping itu, sebelumnya Bima telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan menjadi bagiannya. Kini Bima menjadi wilayah kabupaten, berada dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat.

14. Siak Sri Indrapura

Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Sebelum menjadi sultan, ia bernama Raja Kecil. Ayahnya adalah Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Johor, Malaysia. Kerajaan Siak Sri Indrapura ini berada di Negeri Buantan, sekitar 10 km di hilir Kota Siak Sri Indrapura, sebelah timur laut Pekanbaru, sekarang termasuk Provinsi Riau. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mangkat pada tahun 1746. Ia digantikan oleh Abdul Jalil Muzhaffar Syah, puteranya. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Siak berhadapan memerangi Belanda pada tahun 1752. Pihak Kerajaan berhasil memukul pasukan Belanda.

Wilayah Siak di Provinsi Riau

Gambar: Wilayah Siak yang meliputi hampir seluruh Provinsi Riau

Ketika masa pemerintahan Muzhaffar Syah, di Siak muncul seorang ulama dari Jazirah Arab bernama Sayid Usman. Ia menikahi puteri Sultan Aminuddin yang masih kerabat istana Siak. Dan ketika Abdul Jalil Muzhaffar Syah pada tahun 1760 turun tahta, tampuk Kerajaan diteruskan oleh Sayid Usman. Sejak itulah, yang memegang pemerintahan di Siak adalah Dinasti Usman.

Pada masa Dinasti Sayid inilah Belanda menyerang Siak untuk kedua kalinya, tahun 1751. Pada tahun 1784, yang memegang kekuasaan adalah Sultan Sayid Ali Abdul Jalil Saefuddin. Pada masa inilah, Siak mencapai kejayaannya. Hampir semua daerah Sumatera bagian timur dapat dikuasai. Sayid Ali Abdul Jalil Saefuddin memerintah hingga tahun 1811.

Sepeninggalnya Jalil Saefuddin, Siak mengalami kemunduran karena para penerusnya dalam menghadapi Belanda. Pada tahun 1858, akhirnya terjadi kesepakatan antara Siak dan Belanda. Kedua pihak menandatangani Traktat Siak. Isi dari traktat ini adalah: otonomi Kerajaan Siak tetap diakui Belanda namun beberapa daerah milik Siak harus diserahkan kepada Belanda. Keduabelas kekuasaan Siak itu antara lain: Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Badagai, Kualiluh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta Deli. Akibat dari Traktat Siak inilah Siak mengalami kemunduran yang drastis.

15. Buton

Sekitar akhir abad ke18, terdapat beberapa kerajaan kecil di kawasan Sulawesi Tenggara. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Buton, Konawe-Laiwui, dan Mekongga.

Sejak tahun 1613, VOC sudah mengadakan hubungan dan perjanjian dengan Kerajaan Buton. Perjanjian antara VOC dengan Buton ini berisi ketentuan tentang bantuan yang diberikan Buton kepada VOC jika sewaktu-waktu diperlukan. Ketentuan lainnya dalah peraturan pelayaran dan perdagangan, persetujuan VOC jika ada pengangkatan raja Buton yang baru, dan kawan dan lawan VOC adalah kawan dan lawan Buton juga. Selain itu, Buton dilarang berdagang dengan pedagang lain selain Belanda, dan pemberian ganti rugi oleh pihak VOC atas penebangan pala dan cengkeh di wilayah Buton.

Kesultanan Buton mencapai masa kejayaannya ketika pemerintahan Sultan Muhammad Idrus. Sultan ini memerintah dari tahun 1824 hingga 1850. Kekuasaan Buton ketika itu mencakup wilayah Pulau Buton, Muna, Kabaena, Tukangbesi, Poleang, Rumbia, serta pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Buton dan Muna.

Sistem pemerintahan Buton dibagi lagi menjadi tiga wilayah, yakni wilayah inti, moronene, dan barata. Wilayah inti dipecah lagi menjadi dua, yakni wilayah bonto yang diperintah oleh kadie, dan wilayah bobato yang diperintah oleh lakina. Daerah moronene merupakan daerah yang diperintah langsung oleh adat, namun tak langsung berada dalam sistem pemerintahan. Sedangkan, daerah barata (berarti perahu atau cadik) merupakan wilayah yang dianggap dan diharapkan untuk menjaga kestabilan Kerajaan. Dalam Kesultanan Buton, terdapat empat barata, yaitu Muna, Tiworo, Kalingsusu, dan Kaledupa.

Berbeda dengan Buton, Kerajaan Konawe-Laiwui dan Kerajaan Mekongga tidak pernah berhubungan dan membuat perjanjian dengan pihak VOC. Wilayah Konawe-Laiwui kini termasuk daerah Kabupaten Kendari, sedangkan wilayah Mekongga termasuk Kabupaten Kolaka. Dua kerajaan ini merupakan kerajaan merdeka. Namun, pada pertengahan abad ke-19 dua kerajaan ini akhirnya menandatangani perjanjian dengan pihak Belanda.

Belanda mulai menguasai Sulawesi Tenggara sejak diadakannya perjanjian antara Belanda dengan Sultan Buton pada 1873, dengan Raja Konawe-Laiwui pada tahun 1858 dan 1885, serta dengan Datu Luwu yang dianggap penguasa Mekongga pada tahun 1861 dan 1887. Isi perjanjian-perjanjian ini sangat merugikan ketiga kerajaan karena kini ketiga wilayah tersebut termasuk ke dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Meskipun demikian, nyatanya baru pada tahun 1906 angkatan perang Hindia Belanda mulai ditempatkan di wilayah Buton. Belanda pun menangkap sejumlah pemuka dan pembesar pribumi yang berkuasa. Belanda berkuasa hingga tahun 1942 setelah tentara Jepang menginjakkan kaki di Kendari pada tanggal 16 Januari 1942.


Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Indonesia pada Masa Kerajaan-Kerajaan Islam

1. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Samudera Pasai

a. Kehidupan Ekonomi

Menurunnya peranan kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Di bawah kekuasaan Samudera Pasai, jalur perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat. Banyak pedagang-pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat yang berlabuh di Pidie, Perlak dan Pasai. Pada masa raja Hayam Wuruk berkuasa, Samudera Pasai berada di bawah kendali Majapahit. Walau demikian Samudera Pasai diberi keleluasan untuk tetap menguasai perdagangan di Selat Malaka. Belakangan diketahui bahwa sebagian wilayah dari kerajaan Majapahit sudah memeluk agama Islam.

Awal abad 15 M, Samudera Pasai mengirim utusan untuk membayar upeti kepada Cina dengan tujuan mempererat hubungan diplomatik dan mengamankan diri dari serangan kerajaan Siam dari Muangthai. Pada masa kekuasaan Samudera Pasai, uang dirham sudah dipakai sebagai alat tukar menukar, di salah satu sisi uang tertulis kalimat Sultan yang Adil.

Peta Pengaruh Samudera Pasai di Selat Malaka

Gambar: Peta Pengaruh Samudera Pasai secara ekonomis di sekitar Selat Malaka

Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar. Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.

Berdasarkan catatan Ma Huan yang singgah di Pasai tahun 1404, meskipun kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai redup seiring munculnya Kerajaan Aceh dan Malaka, namun negeri Pasai ini masih cukup makmur. Ma Huan ini seorang musafir yang mengikuti pelayaran Laksamana Cheng Ho, pelaut Cina yang muslim, menuju Asia Tenggara (termasuk ke Jawa).

Ma Huan memberitakan bahwa kota Pasai ditidaklah bertembok. Tanah dataran rendahnya tidak begitu subur. Pada hanya ditanam di tanah kering dua kali dalam setahun. Lada, salah satu hasil rempah-rempah yang banyak diminati pedagang asing, ditanam di ladang-ladang di daerah gunung. Berita mengenai Samudera Pasai juga didapat dari Tome Pires, penjelajah dari Portugis, yang berada di Malaka pada tahun 1513. Tome Pires menyebutkan bahwa negeri Pasai itu kaya dan berpenduduk cukup banyak. Di Pasai, ia banyak menjumpai pedagang dari Rumi (Turki), Arab, Persia, Gujarat, Tamil.

Melayu, Siam (Thailand), dan Jawa. Begitu pentingnya keberadaan Samudera Pasai sebagai salah satu pusat perdagangan, tak mengherankan bila ibukotanya yang bernama Samudera menjadi nama pulau secara keseluruhan, yaitu Sumatera.

b. Kehidupan Agama

Samudera Pasai adalah dua kerajaan kembar yakni Samudera dan Pasai, kedua-duanya merupakan kerajaan yang berdekatan. Saat Nazimuddin al-Kamil (laksamana asal Mesir) menetap di Pasai, kedua kerajaan tersebut dipersatukan dan pemerintahan diatur menggunakan nilai-nilai Islam. Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan pesisir sehingga pengaruhnya hanya berada di bagian Timur Sumatera.

Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama. Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.

2. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Malaka

a. Kehidupan Ekonomi

Sejak Kerajaan Malaka berkuasa, jalur perdagangan internasional yang melalui Selat Malaka semakin ramai. Bersamaan dengan melemahnya kekuatan Majapahit dan Samudera Pasai, kerajaan Malaka tidak memiliki persaingan dalam perdagangan.

Tidak adanya saingan di wilayah tersebut, mendorong kerajaan Malaka membuat aturan-aturan bagi kapal yang sedang melintasi dan berlabuh di Semenanjung Malaka. Aturan tersebut adalah diberlakukan pajak bea cukai untuk setiap barang yang datang dari wilayah barat (luar negeri) sebesar 6% dan upeti untuk pedagang yang berasal dari wilayah Timur (dalam negeri). Tingkat keorganisasian pelabuhan ditingkatkan dengan membuat peraturan tentang syarat-syarat kapal yang berlabuh, kewajiban melaporkan nama jabatan dan tanggungjawab bagi kapal-kapal yang sedang berlabuh, dan sebagainya.

Raja dan pejabat kerajaan turut serta dalam perdagangan dengan memiliki kapal dan awak-awaknya. Kapal tersebut disewakan kepada pedagang yang hendak menjual barangnya ke luar negeri. Selain peraturan-peraturan tentang perdagangan, kerajaan Malaka memberlakukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam perdagangan dan diplomatik.

b. Kehidupan Sosial

Dalam pemerintahannya, raja menunjuk seorang patih untuk mengurusi kerajaan, dari patih diteruskan kepada bawahannya yang terdiri dari bupati, tumenggung, bendahara raja, dan seterusnya.

Masalah perpajakan diurus seorang tumenggung yang menguasai wilayah tertentu, urusan perdagangan laut diurus oleh syahbandar dan urusan perkapalan diurus oleh laksamana. Kekayaan para raja dan pejabat kerajaan semakin bertambah akibat dari penarikan upeti dan usaha menyewakan kapal. Uang yang didapat dipakai untuk membangun istana kerajaan, membuat mesjid, memperluas pelabuhan, dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang cenderung mewah. Gejala timbulnya kecemburuan sosial disebabkan oleh dominasi para bangsawan dan pedagang dalam kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang menjadi penyebab lemahnya Kerajaan Malaka.

3. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kerajaan Aceh

Daerah Aceh terkenal sebagai penghasil lada dan timah yang diekspor ke luar negeri. Semakin ramainya Selat Malaka, berdatangan pula bangsa-bangsa Eropa yang ingin berdagang, diantaranya Spanyol, Inggris, Portugis dan Belanda.

Pelabuhan yang terletak di wilayah Aceh merupakan daerah transit barang-barang yang dijual dari dalam negeri ke luar negeri dan sebaliknya. Barang-barang dari dalam negeri diantaranya beras, lada, timah, emas, perak dan rempah-rempah. Sedangkan barang-barang dari luar negeri adalah kain, porselin, sutra dan minyak wangi.

4. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Demak

a. Kehidupan Ekonomi

Posisi kerajaan Demak sangat strategis dalam perdagangan laut, pelabuhannya sering dipakai transit kapal-kapal dagang dari wilayah Barat yang hendak ke Selat Malaka, begitu pun sebaliknya. Keinginan untuk menjadi kerajaan maritim dilakukan dengan usaha menaklukan Malaka dari Portugis.

Usaha ini gagal, walau demikian tidak meruntuhkan perekonomian Demak karena didukung oleh hasil pertanian dan memperoleh keuntungan ekonomi yang besar. Kesadaran pentingnya memanfaatkan ekonomi pertanian, Demak melakukan perluasan wilayah ke daerah-daerah di sekitarnya termasuk ke Jawa Barat.

b. Kehidupan Sosial

Keadaan sosial di Demak tidak jauh berbeda dengan masa berkuasanya Majapahit. Perbedaan yang mencolok terdapat pada penggunaan aturan-aturan dan hukum yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga terasa lebih tertib dan teratur.

Demak merupakan pusat penyebaran agama Islam di Nusantara. Lahirnya wali-wali di Demak mempercepat proses penyebaran agama Islam bahkan sampai ke pelosok. Mendirikan pesantren adalah cara penyebaran agama Islam yang efektif. Hitu yang berasal dari Ternate, pernah belajar di pesantren yang didirikan oleh Sunan Giri. Setelah selesai belajar, ia menyebarkan agama Islam di Ternate.

5. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pajang

Pajang merupakan dinasti atau kerajaan Islam yang berada di pedalaman pertama di Jawa. Dengan demikian, masyarakatnya agraris: mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan. Maka dari itu, umur Kerajaan Pajang tidaklah bertahan lama karena kurang menguasai perdagangan laut sebagai basis perekonomian pada masa itu.

Secara sistem dan struktur sosial, masyarakat Pajang tak jauh beda dengan masyarakat Demak.

6. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Banten

a. Kehidupan Sosial

Pemerintahan Banten di Jawa Barat menggunakan aturan dan hukum Islam, sehingga kehidupan masyarakatnya hidup secara teratur. Banyak orang India, Arab, Cina, Melayu dan Jawa yang menetap di Banten. Mereka berkumpul dan membuat perkampungan sesuai dengan nama asalnya, misalnya Pekojan (perkampungan orang Arab), Pecinan (perkampungan orang Cina), Kampung Melayu, Kampung Jawa dan sebagainya. Di Banten terdapat orang keturunan Madura. Mereka adalah pelarian dari Madura yang meminta perlindungan ke Banten karena tidak mau tunduk kepada Mataram.

Selama Hasanuddin berkuasa, Banten mengalami perkembangan yang pesat. Banten menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Pada masa inilah Banten melepaskan diri dari Demak, menjadi kerajaan merdeka. Maka dari tu, Hasanuddin lalu dianggap sebagai pendiri dan raja pertama Banten. Kekuasannya meliputi daerah Priangan (Jawa bagian barat), Lampung, hingga Sumatera Selatan. Di bawah pemerintahannya Banten berkembang pesat dan banyak dikunjungi pedagang-pedagang asing dari Gujarat, Persia, Cina, Usmani, Pegu (Myanmar), dan Keling.

Hasanuddin mempelopori pembangunan Istana Surosowan. Yang masih tersisa sekarang hanyalah benteng yang mengelilingi wilayah seluas 4 ha dan berbentuk presegi panjang. Ketinggian tembok benteng ini berkisah antara 0,5 hingga 2 meter dengan lebar sekitar 5 meter. Dahulu benteng ini dikelilingi parit pertahanan. Tembok benteng dan gerbangnya ini dibangun pada masa Maulana Yusuf. Bagian yang tersisa dari istana ini selain benteng, adalah tempat pemandian, kolam, dan taman.

Sementara itu, para sultan Banten bertempat tinggal di Keraton Kaibon yang terletak di Kampung Kroya. Kaibon ini berlokasi tak jauh dari Surosowan. Sayang, pada tahun 1832 keraton ini dibongkar oleh Belanda. Selain keraton, di Banten pun terdapat Benteng Speelwijk yang direbut dari VOC oleh pasukan Banten ketika terjadi peperangan antarkedua pihak tersebut.

Istana atau keraton Surosowan ini berdekatan dengan Masjid Agung Banten. Di serambi kiri masjid ini terdapat makam sejumlah raja Banten beserta keluaraganya, di antaranya Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Haji. Sedangkan di serambi sebelah kanan terdapat makam Maulana Muhammad. Di halaman masjid ini terletak gedung Tiamah. Tiamah ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda yang menjadi muslim, Hendrik Lucasz Cardeel, yang diberi gelar Pangeran Wiraguna. Tempat ini digunakan oeh para ulama untuk tempat diskusi keagamaan.

Tak jauh dari Keraton Surosowan ini terdapat kelenteng Cina kuno. Kelenteng ini dibangun ketika pemerintahan awal Sultan Banten. Ini merupakan bukti bahwa ketika itu telah terjalin toleransi antara orang Banten dengan etnis Cina.

Selain Masjid Agung, di Banten pun terdapat satu masjid lagi yang tak kalah bersejarahnya. Masjid Kasunyatan namanya. Usianya bahkan lebih tua dari Masjid Agung. Salah satu pemimpin Masjid Kasunyatan ini adalah Kyai Dukuh, guru Maulana Yusuf, raja Banten kedua.

b. Kehidupan Ekonomi

Kerajaan Banten berada pada posisi yang strategis dalam perdagangan internasional. Berkuasanya Portugis di Malaka mendorong Banten untuk membuat pelabuhan di tepi Selat Sunda dan Teluk Banten, pelabuhan ini dipakai untuk ekspor lada yang akan dikirim ke luar negeri. Untuk menambah ekspor lada, Maulana Yusuf melakukan penaklukan ke Lampung. Dengan ditaklukkannya Lampung sebagai penghasil lada terbesar mampu meningkatkan ekspor ke luar negeri dan meningkatkan perekonomian.

7. Kehidupan Sosial Ekonomi Mataram-Islam

a. Kehidupan Sosial-Budaya

Antara tahun 1614 hingga 1622, Sultan Agung mendirikan keraton baru di Kartasura, sekitar 5 km dari Keraton Kotagede. Ia memperkuat militer, berhasil mengembangkan kesenian, serta pertukangan. Selain itu, ia pun membangun komplek pemakaman raja-raja Mataram di Bukit Imogiri. Kalender Jawa ia ganti dengan sistem kalender Hijriah. Pada tahun 1639, sultan ini mengirim utusannya ke Mekah. Setahun kemudian, 1640, utusan Mataram ini membawakan gelar baru bagi Sultan Agung dari syarif di Mekah. Gelar baru itu adalah Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani.

Seperti halnya ibukota kerajaan Islam lainnya, ibukota Mataram memiliki ciri khas kota berarsitekturkan gaya Islam. Tata letak istana atau keraton senantiasa berdekatan dengan bangunan masjid. Letak keraton biasanya dikelilingi benteng dengan pos-pos pertahanan di berbagai penjuru angin. Di luar pagar benteng terdapat parit bautan yang berfungsi sebagai barikade pertahanan ketika menghadapi lawan. Parit buatan ini berfungsi juga sebagai kanal, tempat penampungan yang memasok air ke dalam kota.

Pada masa Paku Buwono II ini di istana Surakarta terdapat seorang pujangga bernama Yasadipura I (1729-1803). Yasadipura I dipandang sebagai sastrawan besar Jawa. Ia menulis empat buku klasik yang disadur dari bahasa Jawa Kuno (Kawi), yakni Serat Rama, Serat Bharatyudha, Serat Mintaraga, serta Arjuna Sastrabahu.

Selain menyadur sastra-sastra Hindu-Jawa, Yasadipura I juga menyadur sastra Melayu, yakni Hikayat Amir Hamzah yang digubah menjadi Serat Menak. Ia pun menerjemahkan Dewa Ruci dan Serat Nitisastra Kakawin. Untuk kepentingan Kasultanan Surakarta, ia menerjemahkan Taj as-Salatin ke dalam bahasa Jawa menjadi Serat Tajusalatin serta Anbiya. Selain buku keagamaan dan sastra, ia pun menulis naskah bersifat kesejarahan secara cermat, yaitu Serat Cabolek dan Babad Giyanti.

b. Kehidupan Ekonomi

Posisi ibukota Mataram di Kota Gede yang berada di pedalaman menyebabkan Mataram sangat tergantung kepada hasil pertanian. Dengan kehidupan masyarakat yang agraris membentuk tatanan masyarakat sistem feodal. Bangsawan, priyayi dan kerabat kerajaan yang memerintah suatu wilayah diberi tanah garapan yang luas, sedangkan rakyat bertugas untuk mengurus tanah tersebut. Sistem ini melahirkan tuan tanah yang menganggap menguasai wilayahnya.

Kehidupan kerajaan Mataram mengandalkan dari agraris, sedangkan daerah pesisir pantai di wilayah yang dikuasai tidak dimanfaatkan. Dengan mengandalkan dari pertanian, Mataram melakukan penaklukan ke beberapa kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Dengan menarik upeti dari wilayah-wilayah penghasil beras menyebabkan perekonomian berkembang dengan cepat.

Keadaan tersebut tidaklah menguntungkan bagi rakyat, karena mereka seakan-akan diperlakukan tidak benar oleh penguasa. Tidaklah mengherankan apabila banyak yang melarikan diri dari wilayah kekuasaan Mataram atau terjadinya pemberontakan.

8. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Goa-Tallo (Makassar)

a. Kehidupan Sosial

Orang Makassar dikenal sebagai pelaut ulung, transportasi yang digunakan adlah perahu Pinisi. Mereka berani menyeberang lautan menuju negara-negara yang sangat jauh bahkan sampai Madagaskar dan Afrika Selatan. Masuknya agama Islam dan maraknya perdagangan di Nusantara menambah kuatnya usaha dagang yang dijalankan oleh orang Makassar. Tidaklah heran, jika saat ini orang Makassar terkenal dalam bisnis.

b. Kehidupan Ekonomi

Setelah dikuasainya Makassar oleh Belanda, banyak rakyat setempat yang melarikan diri ke Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Mereka melakukan dagang dengan orang Makassar yang tetap tinggal. Hak monopoli dagang oleh Belanda tidak mempengaruhi sifat usaha dagang mereka yang tinggi, bahkan nilai-nilai Islam tetap dipertahankan. Berbeda dengan kerajaan Mataram yang melakukan percampuran nilai Islam dengan budaya Hindu.

Hubungan dagang pun diperluas hingga Turki dan India, dan untuk mempererat diplomatik dengan Jawa, terjadi perkawinan antara raja Goa dengan putri Mataram.

9. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Ternate-Tidore

a. Kehidupan Sosial

Agama Islam masuk di bandar Hitu, Ambon. Banyak pemuda-pemuda Maluku yang belajar agama Islam di Gresik, salah satunya adalah Zainal Abidin yang menjadi raja Ternate. Diceritakan dalam sejarah bahwa Sunan Giri pernah berkunjung ke Ternate dan Tidore untuk mengunjungi murid-muridnya.

Sejak kedatangan Portugis yang membawa misi gospel, Franciscus Xaverius menyebarkan agama Katolik di Maluku terutama di Ternate dan Ambon.

Masuknya Belanda ke Maluku menjadikan Maluku menjadi wilayah yang terjajah. Pada awalnya mereka diterima dengan tujuan mengusir Portugal dari Maluku, namun hal itu berubah setelah Belanda terlalu banyak turut campur dalam pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat. Orang Maluku yang semula beragama Kristen Katolik harus diganti menjadi Kristen Protestan.

b. Kehidupan Ekonomi

Ternate dan Tidore merupakan kerajaan yang berada di wilayah bagian timur Nusantara dan kedua kerajaan ini merupakan penghasil rempah-rempah terbanyak di dunia. Oleh karena itu, bila menggunakan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan Ternate dan Tidore seakan-akan seperti pangkal perdagangan yang berakhir di tempat tujuan yang siap membeli.

Eropa merupakan konsumen rempah-rempah terbanyak, cuaca yang dingin mengharuskan mereka mencari sumber rempah-rempah berada. Selain untuk tujuan mencari kebutuhan, bangsa Eropa juga ingin menguasai perdagangan karena harganya akan jauh lebih murah bila langsung dibeli di tempat asalnya.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: