Perkembangan dan Keruntuhan Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia


Pengaruh agama Hindu-Buddha terhadap perkembangan agama dan kebudayaan di Indonesia terlihat bahwa pengaruh tersebut meninggalkan sejumlah peninggalan berupa bangunan fisik, kesusastraan, dan sejumlah karya seni lainnya. Peninggalan-peninggalan tersebut mengindikasikan bahwa pengaruh Hindu-Buddha tak hanya melingkupi level agama dan budaya. Peninggalan-peninggalan tersebut merupakan manifestasi adanya pengaruh secara politis dalam perkembangan masyarakat Indonesia masa dulu, yaitu berupa kerajaan bercorak Hindu-Buddha.

Candi Brahu di Desa Bejijong, Trowulan

Gambar: Candi Brahu di Desa Bejijong, Trowulan, diperkirakan merupakan gerbang menuju ibu kota Majapahit, Kerajaan Hindu terbesar di Jawa pada abad ke-14

Berikut ini perjalanan kerajaan-kerajaan tradisonal Hindu-Buddha yang tersebar di Indonesia, dari abad ke-4 hingga ke-15 M terutama dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.

Perkembangan Politik, Ketatanegaraan, dan Militer Kerajaan-Kerajaan Hindu-buddha di Indonesia

1. Kutai

Kerajaan Kutai terletak di sekitar aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Berdasarkan bukti-bukti berupa yupa yang ditemukan, Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Yupa tersebut berbahasa Sansekerta dan berhuruf Pallawa. Dalam salah yupa dinyatakan nama-nama raja Kutai seperti Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman. Yupa-yupa tersebut merupakan peringatan upacara kurban yang dilakukan kaum brahmana. Dilihat dari bentuk tulisan diduga yupa itu dibuat pada abad ke-4 Masehi, pada masa Raja Mulawarman.

Mulawarman adalah raja terkenal dari Kutai, seperti diungkapkan pada salah satu yupa berikut: "Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang masyur bernama Aswawarman. (Dia) mempunyai tiga orang putra yang seperti api. Yang terkemuka di antara ketiga putranya adalah sang Mulawarman, raja yang besar, yang berbudi baik, kuat, dan kuasa, yang telah upacara korban emas amat banyak dan untuk memperingati upacara korban itulah tugu ini didirikan."

Mulawarman, menurut yupa tersebut, sering diwujudkan dengan Ansuman, yaitu Dewa Matahari. Raja Mulawarman dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia juga memiliki hubungan yang baik dengan kaum brahmana yang datang ke Kutai. Diceritakan bahwa Mulawarman sangat dermawan. Ia memberikan sedekah berupa minyak dan lampu. Ia juga memberikan hadiah 20.000 lembu kepada brahmana di suatu tempat yang disebut Waprakeswara (tempat suci untuk memuja Dewa Siwa). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Mulawarman menganut Hindu-Siwa. Dari besarnya sedekah raja Mulawarman ini memperlihatkan keadaan masyarakat Kutai yang sangat makmur. Kemakmuran ini didukung oleh peranan yang besar Kutai dalam pelayaran dan perdagangan di sekitar Asia Tenggara. Hal ini disebabkan karena letak Kutai yang strategis, yaitu berada dalam jalur perdagangan utama Cina-India.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa raja pertama Kutai yang bernama Kudungga diyakini belum dipengaruhi agama Hindu—setidaknya terlihat dari namanya yang masih asli. Kudungga diperkirakan adalah seorang pemimpin suku setempat yang kemudian mendirikan kerajaan pada saat pengaruh Hindu-Buddha mulai masuk ke Indonesia. Putra Kudungga, Aswawarman, kemungkinan adalah raja pertama Kutai yang beragama Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti sehingga diberi gelar Wangsakerta yang artinya pembentuk keluarga. Dalam masa pemerintahannya wilayah Kutai makin diperluas. Hal ini diketahui dari diadakannya upacara aswamedha, yaitu upacara pelepasan kuda.

Setelah Aswawarman, Kutai diperintah oleh Mulawarman, putra Aswawarman. Dari prasasti yang ditemukan diketahui bahwa dalam masa pemerintahan Mulawarman pada abad ke-4 M, Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Pada masa pemerintahannya pula, rakyat Kutai hidup makmur.

Pada zaman kerajaan dahulu, bila seorang raja ingin memperluas wilayah politiknya dan wilayah tersebut “belum” ada pemiliknya, maka ia akan melepaskan seekor kuda untuk dibiarkan berlari hingga kuda tersebut berhenti. Upacara semacam ini pernah diadakan oleh masyarakat India pada masa pemerintahan Raja Gupta, Samuderagupta. Untuk menentukan luas wilayah, Samuderagupta melepaskan kuda-kuda mereka. Sejauh mana kuda-kuda itu berlari, sejauh itu pula luas wilayah kerajaannya. Tradisi asmamedha ini tak hanya berlaku di India, melainkan juga di Eropa dan daerah Asia lainnya.

Setelah Aswawarman, Kutai diperintah oleh Mulawarman, putra Aswawarman. Dari prasasti yang ditemukan diketahui bahwa dalam masa pemerintahan Mulawarman pada abad ke-4 M, Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Pada masa pemerintahannya pula, rakyat Kutai hidup makmur.

2. Tarumanagara

Tarumanagara berdiri sekitar abad ke-5 M di sekitar Bogor dan Bekasi, Jawa Barat. Rajanya yang terkenal bernama Purnawarman, seorang Indonesia.

Fa-Hsien, seorang rahib Buddha dari Cina, menyebutkan adanya kerajaan To-lo-mo. Pada tahun 414 M, Fa-Hsien bertolak dari Sailan (atau Ceylon, sekarang Sri Lanka) untuk balik ke Kanton, Cina. Sebelumnya ia bertahun-tahun belajar Buddha di kerajaan-kerajaan Buddhis. Ia sering berziarah ke India. Setelah dua hari berlayar, kapalnya diterjang topan. Ia pun terdampar dan mendarat di Ye Po Ti, ejaan Cina bagi kata Jawadwipa, yaitu Pulau Jawa. Diduga, tanah yang ia darati adalah Tarumanagara. Kronik lain yang menyinggung Tarumanagara adalah berita Cina era Dinasti Tang. Sekitar tahun 528-539 dan 666-669 M, datang seorang utusan dari To-lo-mo ke Cina. Tolomo adalah ucapan lidah orang Cina untuk "taruma".

Sebelum ada pengaruh India, di sekitar Tarumanagara terdapat kerajaan Aruteun. Setelah dipengaruhi Hindu, Aruteun pun berganti nama menjadi Tarumanagara. Oleh karena itu, Aruteun atau Ci Aruteun (kata "ci" dalam bahasa Sunda berarti "air" atau "sungai" atau "tanah") dijadikan pusat pemerintahan Tarumanagara. Pendapat ini didapat dari kronik Cina abad ke-5 M. Menurut sumber ini, kerajaan dari Jawa yang pertama mengirim utusan ke Cina adalah Ho-lo-tan. Kronik Li-Sung-Shu mengabarkan (430-452 M), utusan Ho-lo-tan dari She-po (Jawa) ini berkali-kali datang ke Cina, menjalin persahabatan. Para ahli berpendapat bahwa nama ho-lo-tan adalah ucapan lidah Cina untuk "Aruteun". Nama Ho-lo-tan tidak terdengar lagi pada abad ke-6. Sebagai gantinya muncul nama To-lo-mo (Tarumanagara) yang utusannya sering berkunjung ke Cina. Pendapat ini bisa benar adanya, karena adanya prasasti di tepi Sungai Ciaruteun (sekitar Bogor) yang mengabarkan adanya Raja Tarumanagara yang memerintah pada abad ke-6 (Purnawarman).

Dari naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (ditulis pada masa Kesultanan Cirebon pada 1680 M) diketahui ada beberapa raja penerus Purnawarman. Pada naskah ini disebutkan nama Suryawarman, raja ke-7 Tarumanagara yang memerintah tahun 535-561, yang dilanjutkan oleh Sri Maharaja Kretawarman yang memerintah hingga tahun 628. Disebutkan bahwa Suryawarman menikahkan puterinya, Tirtakancana, dengan Resiguru Manikmaya yang kelak pendiri Kerajaan Kendan yang terletak di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Setelah Kretawarman, ada beberapa yang memerintah Tarumanagara. Raja-raja tersebut, yaitu Sudawarman (628-639), Dewamurti (639-640), Nagajayawarman (640-666), Linggawarman (666-669), dan Tarusbawa (669-670 M). Di bawah Tarusbawa, pamor Tarumanagara makin meredup. Pusat Tarumanagara dialihkan ke Pakuan, Bogor, dan berganti nama menjadi Kerajaan Sunda. Kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan bawahan Tarumangara, masing-masing mulai memisahkan diri, salah satunya Kendan.

Selanjutnya, yang berkuasa di Jawa Barat adalah Kerajaan Sunda di sebelah barat dan Kerajaan Kendan (Galuh) di sebelah timur. Dua kerajaan ini dibatasi oleh Sungai Citarum. Kelak, dua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja, menjadi Pajajaran. Menurut keterangan Dinasti Tang, Tarumanagara masih ada hingga abad ke-7. Setelah masa itu, tak ada lagi berita tentangnya. Sangat mungkin, setelah abad ke-7 Tarumanagara dikuasai oleh Sriwijaya dari Sumatera.

Bukti-bukti adanya Tarumanagara adalah ditemukannya tujuh buah prasasti, yakni Prasasti Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu, Tugu, Pasir Awi dan Muara Ciaruteun, serta Lebak. Kebanyakan prasasti-prasasti ini berbahasa Sansekerta dan berabjad Pallawa. Prasasti Ciaruteun ditemukan di muara Sungai Cisadane, memuat informasi tentang Raja Purnawarman, yang diidentikkan sebagai Dewa Wisnu beserta cap kakinya. Prasasti Kebon Kopi ditemukan di Cibungbulang. Prasasti ini memuat gambar dua telapak gajah Airawata, gajah tunggangan Dewa Wisnu. Sementara itu, Prasasti Jambu ditemukan di Bukit Koleangkak, berisi sanjungan terhadap Purnawarman.

Prasasti Tugu ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini menyebutkan tentang penggalian saluran air (kanal) bernama Gomati sepanjang 6.112 tombak (11 km). Penggaliannya dilakukan di tahun pemerintahan ke-22 Purnawarman dan diselesaikan dalam waktu 21 hari. Setelah selesai, Purnawarman mengadakan selamatan dengan memberikan hadiah 1000 ekor sapi kepada para brahmana. Prasasti Tugu ini juga menyebutkan penggalian sebuah sungai bernama Candrabaga. Prasasti Pasir Awi dan Muara Ciaruteun ditulis dengan huruf ikal dan belum dapat diartikan. Pada Prasasti Lebak, lagi-lagi disebutkan kebesaran Purnawarman.

Sumber yang memberikan gambaran jelas mengenai kehidupan politik Tarumanagara, cukup minim. Meski demikian, kronik Fa-Hsien mengisyaratkan bahwa stabilitas politik Tarumanagara cukup terjaga. Ini tergambar dari perekonomiannya yang stabil, karena maju-tidaknya perekonomian tergantung pada stabil-tidaknya keamanan wilayah. Kuatnya pemerintahan Tarumanagara terlihat pada proyek saluran Gomati dan Candrabaga. Proyek ini membutuhkan tenaga manusia yang cukup besar. Tak mungkin proyek tersebut berjalan bila pemerintahan tak berwibawa dan tak dihormarti rakyatnya. Kekuasaan raja Tarumanagara bersifat mutlak. Ini tergambar dari pengagungan Purnawarman sebagai penjelmaan Dewa Wisnu, salah satu dari Trimurti.

3. Kendan dan Galuh

Sumber mengenai kerajaan ini diperoleh dari Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Bisa jadi cerita yang ada di pustaka tersebut tak sepenuhnya benar terjadi. Namun juga, di dalamnya ada beberapa peristiwa yang memang benar-benar terjadi.

Pendiri Kendan bernama Resiguru Manikmaya, berasal dari Jawa Timur. Aslinya ia berasal dari India Selatan. Ketika tiba di Jawa Barat, Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, puteri Suryawarman Raja Tarumanagara. Setelah menikah, Manikmaya diberi daerah bernama Kendan, antara Sumedang-Bandung. Di Kendan, Ia diangkat menjadi rajaresi dan dibekali tentara. Oleh mertuanya, ia dinobatkan menjadi raja kecil, bawahan Tarumanagara. Dari pernikahan itu, Manikmaya memperoleh keturunan. Salah satu putera bernama Rajaputera Suraliman. Di usia 20, Suraliman diangkat menjadi senopati Kendan. Tak lama, ia didaulat menjadi panglima balatentara (Baladika) Tarumanagara. Manikmaya sendiri memerintah di Kendan selama 32 tahun, dari 536-568 M. Setelah Manikmaya wafat, Suraliman naik tahta. Pengangkatan Suraliman berlangsung pada tanggal 12 bagian Gelap Bulan Asuji 490 Saka, bertepatan dengan 5 Oktober 568 M. Kendan di bawah Suraliman terkenal tangguh dalam hal berperang.

Raja Suraliman menikahi puteri Raja Bakulapura dari Kutai, Dewi Mutyasari. Pernikahan ini bertujuan menjalin persahabatan antar dua kerajaan. Dari pernikahan ini, Suraliman anak bernama Kandiawan (laki-laki) dan Kandiawati (perempuan). Kandiawan bergelar Rajaresi Dewaraja Sang Layuwatang. Sedangkan, Kandiawati ikut bersama suaminya seorang pedagang kaya dari Sumatera. Suraliman memerintah selama 29 tahun (568-597 M). Ia digantikan puteranya, Kandiawan, yang ketika itu telah menjadi raja di wilayah Medang Jati atau Medang Gana. Oleh karena itu, Kandiawan bergelar Rahiyangta ri Medang Jati. Setelah menjadi raja, Kandiawan memindahkan pusat pemerintahan dari Kendan ke Medang Jati yang diperkirakan daerah Cangkuang, Garut. Perkiraan ini didapat, karena Raja Kandiawan merupakan pemeluk Hindu-Wisnu, dan di daerah Cangkuang ini terdapat sebuah candi Hindu-Wisnu (Candi Cangkuang). Penemuan situs di Bojong Menje, Cicalengka, boleh jadi berkaitan dengan Kendan. Para ahli memperkirakan situs tersebut bercorak Hindu.

Kandiawan berputerakan lima orang: Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandang Greba, dan Wretikandayun. Mereka masing-masing menguasai daerah Kulikuli, Surawulan, Peles Awi (Paleswari), Rawung Langit, dan Menir. Bisa jadi, kerajaan-kerajaan kecil bawahan Kendan ini terletak di antara Bandung-Garut. Kandiawan memerintah selama 15 tahun, 597-612 M. Ia melanjutkan hidupnya sebagai pertapa di Layuwatang, Kuningan. Ia menunjuk anak bungsunya, Wretikandayun, untuk merajai Kendan. Ketika itu Wretikandayun merupakan rajaresi di Menir. Ia mulai memerintah Kendan pada 23 Maret 612 M, pada usia 21 tahun.

Raja Wretikandayun memindahkan ibu kota Kendan ke Galuh. Daerah ini diapit oleh dua sungai, yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur. Kata galuh berarti "permata". Kawasan Galuh ini berada di Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis. Wretikandayun beristrikan anak seorang pendeta Resi Makandria, Dewi Manawati, yang menghasilkan tiga orang anak: Sempakwaja, Jantaka, serta Amara. Pada saat Wretikandayun memerintah di Galuh, yang berkuasa di Tarumanagara adalah Maharaja Kretawarman. Kendan (Galuh) saat itu masih kerajaan bawahan Tarumanagara. Ketika di bawah Raja Tarusbawa, nama Tarumanagara telah berubah menjadi Kerajaan Sunda. Dengan kondisi ini, Wretikandayun yang pada saat itu berusia 78 tahun, beranggapan bahwa Galuh harus memisahkan diri dari Tarumanagara.

Akhirnya, Wretikandayun mengirim utusan ke Pakuan, ibu kota Kerajaan Sunda. Utusan ini mengirim surat kepada Tarusbawa yang menyatakan bahwa Galuh hendak memisahkan diri dari Sunda, menjadi kerajaan merdeka. Raja Tarusbawa tak keberatan. Ia lebih memilih mengurus rakyat dan urusan dalam negeri daripada harus mempertahankan wilayah yang ingin memerdekakan diri. Lalu, Kerajaan Galuh dan Sunda disatukan oleh Sri Baduga, menjadi Kerajaan Pajajaran.

4. Sriwijaya

Informasi tentang Sriwijaya diperoleh dari beberapa sumber, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sumber-sumber lokal yang memberikan informasi tentang Sriwijaya ini kebanyakan berupa batu tulis ata prasasti, di antaranya: Prasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), Kota Kapur (686), Telaga Batu (683), dan Karang Berahi. Sedangkan sumber luar negeri terdiri dari Prasasti Ligor (775) di Malaysia, Prasasti Nalanda (860) di India dan berita-berita pendeta I-Tsing dari Cina.

Prasasti Kedukan Bukit menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan membawa 2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah. Prasasti Talang Tuwo menyatakan pembuatan taman bernama Sriksetra yang oleh Dapunta Hyang untuk kemakmuran semua makhluk. Prasasti Telaga Batu menyatakan kutukan bagi rakyat yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada perintah raja. Prasasti Kota Kapur menyatakan usaha penaklukan Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya. Prasasti Karang Berahi menyatakan permintaan agar dewa menjaga Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat. Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Telaga Batu yang ditemukan di dekat Palembang menceritakan letak pusat Sriwijaya yang ada di dekat Palembang. Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi yang ditemukan di Bangka dan Jambi menceritakan wilayah kekuasaan Sriwijaya sampai ke Pulau Bangka dan Melayu.

Selain prasasti, sumber sejarah tentang Kerajaan Sriwijaya dapat kita ketahui dari prasasti di Indocina dan India serta catatan Cina dan Arab. Catatan Cina berasal dari I-Tsing, rahib Buddha. Sedangkan catatan Timur Tengah berasal dari Raihan Al Baruni.

Sriwijaya sebagai kerajaan bercorak Buddha dalam perkembangannya mampu berperan penting sebagai:
  • Pusat perdagangan internasional, peranan ini dimiliki oleh Sriwijaya karena Sriwijaya berkembang sebagai kerajaan maritim, mempunyai kapal-kapal dagang yang besar jumlahnya. Sriwijaya memiliki angkatan laut yang kuat serta posisi strategis Sriwijaya yang berada di jalur perdagangan internasional.
  • Tempat membina ilmu dan agama, menurut catatan pendeta I-Tsing disebutkan bahwa untuk memperdalam ajaran agama Buddha sebelum pergi ke India, para calon rahib terlebih dahulu mempersiapkan diri di Sriwijaya, dan untuk mempertahankan peran Sriwijaya sebagai tempat memperdalam ajaran Buddha, raja Balaputradewa mengirim pelajar-pelajarnya ke India untuk memperdalam ajaran Buddha, hal ini dibuktikan dalam Prasasti Nalanda di India Selatan.

Ada dua kronik Cina yang menggambarkan keberadaan Sriwijaya, yakni catatan masa Dinasti Tang dan catatan I-Tsing. Dalam catatan Dinasti Tang disebutkan bahwa Sriwijaya telah beberapa kali mengirimkan utusan ke Cina. Utusan itu datang tahun 971, 972, 974, 975, 980 dan 983 M. ketika hendak pulang, utusan itu tertahan di Kanton, Cina bagian selatan, karena negerinya sedang berperang melawan Raja Jawa. Sementara catatan I-Tsing menyebutkan bahwa dalam perjalanan ziarahnya ke India di tahun 672 M, ia singgah terlebih dulu di Sriwijaya. Dari Sriwijaya, ia melanjutkan perjalanannya ke Melayu, Jambi, kemudian ke India. Dalam perjalanan pulang, ia kembali singgah di Sriwijaya selama 5 tahun. Di sana, ia menerjemahkan kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Cina. Diceritakan pula bahwa saat itu Melayu sudah menjadi wilayah Sriwijaya.

Keunggulan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan pusat Buddha ditunjang oleh politik luar negerinya yang cenderung diplomatis. Diplomasi ini dilaksanakan untuk mengontrol hubungan dagang di wilayah Selat Malaka. Dengan sejumlah bandar penting di daerahnya, Sriwijaya menawarkan jaminan perlindungan keamanan. Tawaran itu dapat bersifat halus, dapat pula keras. Untuk itu, Sriwijaya membangun armada maritim yang kuat. Diplomasi ini juga dilakukan untuk membentuk persekutuan dengan kerajaan tetangga. Dengan diplomasi seperti ini, Sriwijaya mampu menanamkan pengaruhnya di sepanjang timur Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan Jawa Barat. Diplomasi ala Sriwijaya ini juga diarahkan untuk membendung pengaruh Cina, India, dan Jawa di Selat Malaka.

Untuk hubungan dagang dengan Cina, Sriwijaya melakukannya dengan mengutus utusan secara teratur. Siasat ini dimaksudkan untuk meminta perlindungan Cina dari serangan Jawa. Kerja sama antara Sriwijaya dengan Cholamandala terbukti dengan adanya Piagam Besar Leiden. Piagam ini adalah sebuah prasasti dari lempengan tembaga yang berasal dari India Selatan, ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Tamil.

Dari prasasti-prasasti lain yang ditemukan, tidak diketahui siapa raja pertama Sriwijaya. Petunjuk pertama tentang raja Sriwijaya baru ditemukan pada Prasasti Kedukan Bukit. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Raja Dapunta Hyang, Sriwijaya berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Jambi.

Raja lain yang pernah memerintah Sriwijaya adalah Balaputeradewa. Dalam masa pemerintahan Raja Balaputradewa ini, Sriwijaya mengalami masa keemasan. Raja Balaputradewa meningkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan. Ia juga menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan-kerajaan di luar negeri, seperti Kerajaan Benggala dan Chola di India. Bahkan pada masa pemerintahan Balaputeradewa ini, Sriwijaya dikenal sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Buddha di Asia Tenggara.

Raja Sriwijaya yang lain adalah Sanggrama Wijayatunggawarman. Dalam masa pemerintahan raja ini, Sriwijaya berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Chola. Raja Wijayatunggawarman berhasil ditawan. Namun, pada masa Rajendracholadewa dari Cholamandala (1024 dan 1030), Wijayatunggawarman dibebaskan kembali.

Sriwijaya mengalami kemunduran pada abad ke-13. Saat itu, terjadi pengendapan yang sangat cepat di muara Sungai Musi. Hal ini mengakibatkan pusat kota di Palembang semakin jauh dari laut dan menjadikannya tidak strategis lagi sebagai pelabuhan pusat perdagangan. Keadaan ini memperlemah perekonomian Sriwijaya. Apalagi Sriwijaya semakin sulit mengontrol daerah kekuasaannya yang begitu luas karena kemampuan militernya yang semakin merosot. Akibatnya, banyak daerah taklukan yang melepaskan diri dari Sriwijaya. Pada masa ini, Sriwijaya juga mendapat banyak serangan dari luar. Di antaranya serangan Dharmawangsa Teguh dari Jawa yang terjadi tahun 992 M; serangan Rajendracholadewa dari Cholamandala tahun 1024, 1030, dan 1068; serangan dari Kertanegara Singasari tahun 1275; dan serangan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada tahun 1377. Sriwijaya, menurut sebuah catatan Cina, pada 1225 M, Palembang, ibukota Sriwijaya, telah dikuasai oleh Kerajaan Melayu.

5. Melayu

Informasi tentang Kerajaan Melayu, di sekitar Jambi, dapat dilihat dari catatan perjalanan pendeta Buddha dari Cina, I-Tsing. Rahib ini mengadakan perjalanan dari Cina ke India dan sebelum sampai ke India, ia sempat berdiam di Sriwijaya sekitar 6 bulan. Setelah singgah sebentar di Sriwijaya, I-Tsing kemudian menyempatkan diri singgah di Mo-lo-yeou (Melayu) sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Pada 685 M, I-Tsing kembali dari India dan singgah lagi di Melayu yang ketika itu sudah dikuasai Sriwijaya. Pada waktu itu Sriwijaya tengah jaya-jayanya berkat kekuatan maritimnya.

Pengaruh dari Sriwijaya yang besar di sekitar Sumatera dan Semenanjung Melayu membuat corak agama dam budaya Kerajaan Melayu pun Buddha. Melayu sempat menjalin hubungan dengan Cina sebelun dikuasai oleh Sriwajaya. Hal itu terbukti lewat sumber dari Cina, bahwa tahun 644 M ada utusan dari negeri Mo-lo-yeou ke Cina, dengan tujuan untuk memperkenalkan hasil bumi rakyat Melayu sehingga terjalinlah hubungan perdagangan dengan Cina. Melayu mengembangkan perekonomian melalui bidang agraris. Hubungan dagang dengan Cina telah dimulai sejak abad ke-7 M.

Setelah Sriwijaya mengalami kemunduran, Melayu kemudian melepaskan diri menjadi kerajaan merdeka. Namun, kemudian Melayu berhasil dikuasai oleh Singasari dari Jawa melalui ekspedisi Pamalayu yang dikirim oleh Raja Kertanegara yang bertujuan memperluas wilayah taklukan Singasari. Akhirnya, pamor Melayu makin meredup.

Setelah Melayu di Jambi pamornya merosot, pusat pemerintahan berpindah ke Pulau Singapura. Otomatis dengan pindahnya pusat pemerintahan, pusat kebudayaan pun berpindah juga. Kerajaan Melayu-Singapura ini merupakan kerajaan Buddha-Hindu terakhir di daerah Melayu. Pada abad ke-14 kerajaan ini dapat pulih kembali setelah Majapahit mengalami keruntuhan. Namun, pada sisi lain Kerajaan Melayu-Singapura ini akhirnya harus bersaing dengan kerajaan lain yang lebih kuat, yaitu Samudera Pasai di Aceh yang beragama Islam.

6. Sunda dan Pajajaran

Berita tentang Kerajaan Sunda terdapat pada Prasasti Sanghyang Tapak yang berhuruf Kawi bertahun 952 Saka (1050 M), yang ditemukan di Citatih, Cibadak, Sukabumi (diperkirakan sezaman dengan Airlangga di Jawa Timur). Disebutkan bahwa yang memerintah Sunda ketika itu adalah Maharaja Jayabhupati yang bergelar Sri Jayabhupati Jayamanahen Wishnumurti Samarawijaya Sakalabhuwana Mandala Weswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa. Jayabhupati disebutkan berkuasa di Praharyan Sunda dan beragama Waisnawa (Hindu-Wisnu). Dan pada masa berikutnya, ibukota dipindahkan dari Pakuan ke Kawali, Ciamis.

Replika Prasasti Sanghyang Tapak (Kawali)

Gambar: Replika Prasasti Sanghyang Tapak (Kawali)

Sementara itu, Kerajaan Pajajaran banyak dibahas dalam babad atau kidung. Seperti Kidung Sunda, Sundayana, Pararaton, Carita Parahiyangan, Babad Galuh, dan Babad Pajajaran. Kitab ini sebagian memang disusun pada waktu Pajajaran masih ada. Namun, yang lainnya banyak ditulis pada masa kemudian, ketika Pajajaran tinggal hanya nama. Nama Pajajaran pun tertulis pada Prasasti Batutulis dan Prasasti Kebantenan. Prasasti Batutulis ditulis dengan bentuk candrasangkala dan memakai bahasa Sunda Kuno, berbunyi:
  • ...ini sakakala Prabu Ratu Purana pun, di Wastu
  • diva dingaran Prabu Guru Dewataprana di Wastu dija dingaran
  • Sri Baduga, maharaja ratuhaji di Pakwan Pajajaran
  • dewata pun ya nu nyusuk na Pakwan, dija anak rahiyang
  • niskala sasida mokta di guna tiga, incu Rahiyang Niskala Wastu
  • Kancana sakakala mokta ka nusa larang ya siya nu nyiyan
  • sakakala gugunungan ngabalay ngiyan samida nyiyan sang hiyang talaga
  • rena maha wijaya ya siya pun, i saka panca pandawa ngemban bumi.

Prasasti ini dianggap sebagai awal berdirinya Pajajaran. Ada pula yang beranggapan prasasti ini dibuat pada masa Prabu Surawisesa yang berisi penghormatan terhadap jasa-jasa ayahnya, Prabu Ratu Purana yang telah wafat. Mengenai tahun berdirinya, ada yang menyebutkan 1225 Saka (1335 M), ada yang berpendapat 1445 Saka (1533 M). Belum ada ahli yang tahu pasti kapan berdirinya Pajajaran dan siapa raja-raja yang memerintah. Setiap babad menyebutkan nama-nama raja yang berlainan, meski ada pula nama-nama yang sama. Kisah dalam kitab-kitab tersebut banyak yang bercampur dengan cerita-cerita legenda.

Raja-raja yang diketahui memerintah Pajajaran adalah Maharaja Jayabhupati, Rahyang Niskala Wastu Kencana, Rahyang Dewa Niskala, Sri Baduga Maharaja, Hyang Wuni Sora, Prabu Surawisesa (catatan Portugis menulisnya Samian, mungkin ucapan tak sempurna dari Sanghyang), dan Prabu Ratu Dewata. Dari prasasti Sanghyang Tapak diketahui bahwa raja Maharaja Jayabhupati menyebut dirinya Haji ri Sunda. Sebutan ini bertujuan untuk meyakinkan kedudukannya sebagai raja Pajajaran. Disebutkan bahwa Jayabhupati memeluk Hindu Waisnawa. Pada masa Jayabhupati, pusat Kerajaan terletak di Pakwan (Pakuan atau Pakuwan) di Bogor yang kemudian dipindahkan ke Kawali.

Pengganti Jayabhupati adalah Rahyang Niskala Wastu. Pusat kerajaan Pajajaran ketika masa pemerintahan raja ini sudah di Kawali. Istananya bernama Surawisesa. Kemudian Rahyang Dewa Niskala menggantikan Niskala Wastu. Namun tidak diketahui perkembangan Pajajaran dalam masa pemerintahan raja ini. Raja Rahyang Dewa Niskala kemudian digantikan oleh Sri Baduga Maharaja. Pada masa pemerintahan raja ini, terjadi Perang Bubat antara pasukan Gajah Mada Majapahit dengan Pajajaran. Dalam pertempuran ini, semua pasukan Pajajaran termasuk raja Sri Baduga tewas terbunuh. Sepeninggalan Sri Baduga, Pajajaran diperintahkan oleh Hyang Wuni Sora, kemudian berturut-turut oleh Prabu Niskala Wastu Kencana, Tohaan, dan Ratu Jaya Dewata.

Raja Pajajaran yang lainnya adalah Prabu Surawisesa. Dalam peninggalan sejarah disebutkan bahwa Ratu Samian pernah berkunjung ke Malaka untuk meminta bantuan Portugis dalam rangka menghadapi Demak yang ingin menguasai Sunda Kepala. Namun, Sunda Kelapa sebagai pelabuhan utama Pajajaran (konon lebih ramai dari pelabuhan Banten dan Cirebon) akhirnya jatuh ke tangan pasukan Demak pimpinan Fatahillah (Faletehan atau Fadillah Khan, menantu Sunan Gunung Jati). Ratu Samian digantikan Prabu Ratu Dewata. Pada masa pemerintahan Ratu Dewata, Pajajaran banyak mendapat serangan dari Kerajaan Banten yang dipimpin Maulana Hasanuddin. Akhirnya, Pajajaran runtuh dan wilayahnya dikuasai Banten.

Dalam Carita Parahyangan terdapat nama Sanjaya yang bergelar Rakryan Jambri. Padahal pada Prasasti Canggal, nama Sanjaya disebut sebagai Raja Mataram Hindu. Dalam Babad Galuh dan Babad Pajajaran disebutkan bahwa Ciung Wanara dan Nyai Purbasari (yang menikah dengan Lutung Kasarung) adalah juga raja Pajajaran. Padahal, selama ini Ciung Wanara dan Lutung Kasarung dianggap tokoh-tokoh rekaan, belum terbukti kebenarannya.

7. Mataram Kuno: Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra

Di Jawa Tengah pada abad ke-8 M telah berdiri sebuah kerajaan, yakni Mataram. Mataram yang bercorak Hindu-Buddha ini diperintah oleh dua dinasti (wangsa) yang berbeda, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Ibukota Mataram adalah Medang atau Medang Kamulan hingga tahun 925. Pada Prasasti Canggal terdapat kata-kata “Medang i bhumi Mataram”. Namun, hingga sekarang letak pasti ibukota ini belum diketahui (kecuali ada sebuah desa bernama Mendang di Purwodadi, Semarang).

Berdasarkan Prasasti Canggal diketahui, Mataram Kuno mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Sanna kemudian digantikan oleh keponakannya, Sanjaya. Sanjaya adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna (Sanna tidak memiliki keturunan). Sanjaya memerintah dengan bijaksana sehingga rakyat hidup makmur, aman, dan tenteram. Hal ini terlihat dari Prasasti Canggal yang menyebutkan bahwa tanah Jawa kaya akan padi dan emas. Selain pada Prasasti Canggal, nama Sanjaya juga tercantum pada Prasasti Balitung.

Setelah Sanjaya, Mataram diperintah oleh Panangkaran. Dari Prasasti Balitung diketahui bahwa Panangkaran bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Raka i Panangkaran. Hal ini menunjukkan bahwa Raka i Panangkaran berasal dari keluarga Sanjaya dan juga keluarga Syailendra. Sepeninggal Panangkaran, Mataram Kuno terpecah menjadi dua, Mataram bercorak Hindu dan Mataram bercorak Buddha. Wilayah Mataram-Hindu meliputi Jawa Tengah bagian utara, diperintah oleh Dinasti Sanjaya dengan raja-rajanya seperti Panunggalan, Warak, Garung, dan Pikatan. Sementara wilayah Mataram-Buddha meliputi Jawa Tengah bagian selatan yang diperintah Dinasti Syailendra dengan rajanya antara lain Raja Indra.

Perpecahan di Mataram ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 850, Raka i Pikatan dari Wangsa Sanjaya mengadakan perkawinan politik dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Melaui perkawinan ini, Mataram dapat dipersatukan kembali. Pada masa pemerintahan Pikatan-Pramodhawardani, wilayah Mataram berkembang luas, meliputi Jawa Tengah dan Timur. Pikatan juga berhasil mendirikan Candi Plaosan.

Sepeninggal Pikatan, Mataram diperintah oleh Dyah Balitung (898 -910 M). Setelah Balitung, pemerintahan dipegang berturut-turut oleh Daksa, Tulodong, dan Wawa. Raja Wawa memerintah antara tahun 924-929 M. Ia kemudian digantikan oleh menantunya bernama Mpu Sindhok. Pada masa pemerintahan Mpu Sindhok inilah, pusat pemerintahan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur. Hal ini disebabkan semakin besarnya pengaruh Sriwijaya yang diperintah oleh Balaputradewa. Selama abad ke-7 hingga ke-9 terjadi serangan-serangan dari Sriwijaya ke Mataram. Hal ini mengakibatkan Mataram semakin terdesak ke timur. Selain itu, adanya bencana alam berupa letusan Gunung Merapi merupakan salah satu penyebab kehancuran Mataram. Letusan gunung ini diyakini oleh masyarakat Mataram sebagai tanda kehancuran dunia. Oleh karena itu, mereka menganggap letak kerajaan di Jawa Tengah sudah tidak layak dan harus dipindahkan.

Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha mengembangkan berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinansti Sanjaya yang bercorak Hindu berpusat di Jawa Tengah bagian utara. Perbedaan letak antara dua dinasti ini terlihat dari perbedaan arsitektur candi-candi yang ada di Jawa Tengah bagian selatan dan utara. Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) diketahui, raja pertama Mataram dari Dinasti Sanjaya adalah Raka i Mataram Ratu Sanjaya yang memerintah di ibukota Medang Kamulan. Berdasarkan isi Prasasti Mantyasih (Kedu) terdapat beberapa dari Wangsa Sanjaya yang memerintah di kemudian hari.

Antara Wangsa Syailendra dengan Sanjaya terjadi persaingan, namun kedua wangsa tersebut sempat menjalin hubungan baik. Pada abad ke-9 terjadi perkawinan antara Raka i Pikatan dari Sanjaya dengan Pramodawardhani dari Syailendra. Perkawinan ini mendapat tentangan dari Balaputeradewa, adik Pramodawardhani. Setelah bertikai dengan Pikatan dan kalah, Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke Sriwijaya, dan menjadi raja di sana, karena Balaputeradewa memunyai darah Sriwijaya dari ibunya, Dewi Tara, yang merupakan keturunan Sriwijaya. Sedangkan Raka i Pikatan yang berhasil menyingkirkan Balaputradewa mendirikan Candi Roro Jonggrang (Prambanan) yang bercorak Siwa.

Candi Kalasan, candi Buddha pertama di Jawa

Gambar: Candi Kalasan, candi Buddha pertama di Jawa, didirikan atas perintah Raka i Panangkaran guna menghormati Dewi Tara bagi umat Buddhis Mataram

Rakai Pikatan dan Pramodawardhani yang berbeda agama ini banyak mendirikan bangunan yang bercorak Hindu maupun Buddha. Raka i Pikatan mendirikan Candi Loro Jongrang, sedangkan Pramodarwadhani sangat memperhatikan Candi Borobudur di Bumisambhara yang dibangun oleh ayahnya, yaitu Samaratungga pada 842 M.

Susunan raja-raja yang memerintah di Mataram berdasarkan Prasasti Balitung (Mantyasih) adalah: Raka i Mataram Ratu Sanjaya, Raka i Tejah Purnapana Panangkaran, Raka i Panunggalan, Raka i Warak, Raka i Garung Patapan, Raka i Pikatan, Raka i Kayuwangi, Raka i Watukumalang, Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu, Daksa, Tulodhong, Wawa, dan Sindhok.

Prasasti ini dibuat oleh Dyah Balitung yang memerintah dari 898 hingga 910. Setelah Sindok menjadi raja (929), pusat-pusat pemerintahan Mataram dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pemindahan ini dikarenakan pusat kerajaan mengalami kehancuran akibat letusan Gunung Merapi. Mpu Sindok kemudian mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isana. Ia memerintah hingga tahun 949. Pengganti Mpu Sindok yang terkenal adalah Dharmawangsa yang memerintah 990-1016. Dharmawangsa pernah berusaha untuk mengalihkan pusat perdagangan dari Sriwijaya pada 990, akan tetapi mengalami kegagalan karena Sriwijaya gagal ditaklukkan.

Pada tahun 1016 Dharmawangsa dan keluarganya mengalami pralaya (kehancuran) akibat serangan dari Sriwijaya yang bekerja sama dengan kerajaan kecil di Jawa yang dipimpin Wurawari. Akibat serangan ini kerajaan Dharnawangsa mengalami kehancuran. Menantu Dharmawangsa yang bernama Airlangga kemudian membangun kembali kerajaan, dan pada tahun 1019 ia dinobatkan menjadi raja. Keberhasilan Airlangga membangun kerajaan diabadikan dalam karya sastra Mpu Kanwa yaitu Arjuna Wiwaha. Pada 1041 Airlangga membagi dua kerajaan menjadi Janggala dan Panjalu.

8. Medang Kamulan (Kahuripan)

Medang Kamulan dapat dikatakan sebagai kelanjutan Mataram karena ia tak lain adalah ibukota Mataram. Nama kamulan bisa dianggap sebagai perubahan kata "kamulyaan" atau "kemulian". Namun, sebagian ahli berpendapat, Medang Kamulan adalah ibukota Kediri atau Jenggala. Adapula yang menyebutnya Kerajaan Kahuripan.

Pada masa Medang Kamulan inilah terjadi perpindahan kekuasaan politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, setelah Mataram hancur karena letusan Gunung Merapi. Pergeseran peta kekuasaan ini pada perkembangannya sangat menentukan sejarah perpolitikan di Jawa khususnya. Medang Kamulan dibangun oleh keturunan raja Mataram. Namanya Mpu Sindhok, pendiri Dinasti Isana. Dinasti Isana ini memerintah Medang Kamulan selama satu abad sejak 929 M.

Ada dua prasasti yang mengisahkan Medang Kamulan, yakni Prasasti Mpu Sindhok, menceritakan masa pemerintahan Mpu Sindhok; dan Prasasti Kalcutta, menceritakan awal mula silsilah Dinasti Isana sampai zaman pemerintahan Airlangga. Mpu Sindhok bergelar Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa. Raja ini memerintah selama 20 tahun. Ia memiliki seorang permaisuri, bernama Sri Wardhani Pu Kbin. Menurut berita prasasti, Sindhok memerintah dengan adil dan rakyatnya makmur.

Salah satunya prestasi Sindhok adalah membangun sebuah bendungan sebagai tanggul dan menanami bendungan tersebut dengan ikan. Meski beragama Hindu-Siwa, Mpu Sindhok bertoleransi terhadap agama Buddha. Salah satu kitab umat Buddha berjudul Sang Hyang Kamahayanikan diterbitkan pada masa pemerintahannya.

Mpu Sindhok digantikan Sri Isana Tunggawijaya, puteranya. Setelah Tunggawijaya, Medang Kamulan diperintah oleh Dharmawangsa Teguh, cucu Mpu Sindhok. Dharmawangsa Teguh adalah raja Medang Kamulan yang paling tersohor. Semasa pemerintahannya, Teguh berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan mengembangkan pertanian dan perdagangan. Namun, usahanya ini terhambat oleh Sriwijaya yang ingin menguasai perdagangan Jawa dan Sumatera.

Untuk merebut perairan Selat Malaka dari dominasi pedagang-pedagang Sriwijaya, Teguh mengirimkan tentaranya pada 1003 M, namun tidak berhasil. Bahkan Sriwijaya mampu memukul balik Medang Kamulan. Kekalahan Medang Kamulan atas Sriwijaya ini bermula dari pemberontakan penguasa Wurawuri. Awalnya, Wurawuri merupakan kerajaan kecil bawahan Medang Kamulan. Namun karena dihasut orang-orang Sriwijaya, raja Wurawuri nekad mengudeta pemerintahan Medang Kamulan. Gerakan Wurawuri ini terjadi ketika di Medang Kamulan sedang dilangsungkan pesta pernikahan Airlangga dengan puteri Dharmawangsa Teguh. Airlangga adalah putera Raja Bali Udayana dengan Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh). Peristiwa berdarah ini dinamai Pralaya Medang. Medang Kamulan hancur dan Dharmawangsa tewas. Pralaya atau perlaya berarti "runtuh" atau "mati".

Airlangga sendiri berhasil meloloskan diri bersama para pengikutnya yang setia, Narottama. Dalam pelariannya, Airlangga diterima oleh para brahmana yang bersimpati. Kemudian, Airlangga digembleng oleh para brahmana itu. Airlangga lalu dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan pada 1019 M, pusat pemerintahan pun beralih ke Kahuripan. Sebagai mantu sekaligus kemenakan Dharmawangsa, Airlangga merasa berkewajiban mengembalikan kewibawaan Medang Kamulan. Ia berhasil menaklukkan raja-raja yang dulu merupakan bawahan Medang. Raja Bisaprabhawa ditaklukkan tahun 1029, Raja Wijayawarman dari Wengker ditundukkan tahun 1030, Raja Adhamapanuda ditaklukkan tahun 1031. Raja Wurawari, musuh bebuyutannya, ditaklukkan tahun 1035.

Setelah menundukkan raja-raja kecil itu, Airlangga memindahkan ibukota ke wilayah Kahuripan di Jawa Timur. Ia juga memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Brantas. Pada masa Airlangga, Pelabuhan Tuban (Kembang Putih) dan Hujung Galuh merupakan pelabuhan dagang yang ramai. Dua pelabuhan ini merupakan tempat transit dan bertemunya para pedagang pribumi dengan pedagang mancanegara, seperti dari India, Birma, Kamboja, dan Campa.

Setelah menjadi raja, Airlangga tidak melupakan jasa-jasa para brahmana yang telah menggembengnya dulu. Sebagai balas jasa, ia membangun candi dan asrama sebagai tempat beribadah para brahmana di daerah Pucangan. Tak lupa pula, Airlangga membangun Waduk Waringin Sapta sebagai pencegah banjir dan mengairi lahan pertanian. Ia pun membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir pantai ke pusat Kerajaan. Berkatnyalah, Medang Kamulan mencapai keemasannya. Kisah hidup Airlangga kemudian dituturkan dalam Kitab Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa.

Airlangga memutuskan mundur sebagai raja. Ia memilih menjadi seorang pertapa dengan sebutan Resi Gentayu. Ia meninggal pada 1049 M dan disemayamkan di Gunung Penanggungan, di sekitar Komplek Candi Belahan. Pewaris takhta Medang Kamulan seharusnya adalah puteri Airlangga yang lahir dari permaisuri, yakni Sri Sanggramawijaya. Namun, karena Sanggramawijaya juga memilih hidup menjadi pertapa, takhta beralih kepada putera Airlangga dari selir. Untuk mencegah kemungkinan perang saudara, Mpu Bharada, seorang petinggi istana, membagi Medang Kamulan menjadi dua; Panjalu (disebut juga Kediri) dan Janggala. Panjalu diberikan kepada Samarawijaya dengan ibu kota Daha, sementara Jenggala diberikan kepada Panji Garasakan dengan ibu kota Kahuripan. Wilayah Jenggala meliputi hampir sebagian Jawa Timur, wilayah Kediri (Panjalu) mencakupi Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Dengan demikian, berakhirlah Medang Kamulan dan Dinasti Isana.

9. Bali

Informasi tentang Kerajaan Bali diperoleh dari Prasasti Blanjong dekat daerah Sanur. Prasasti ini menerangkan bahwa raja yang memerintah adalah Raja Ugratha, dinastinya bernama Warmadewa. Ugratha kemudian digantikan Raja Tabandra Warmadewa yang memerintah dari tahun 877 hingga 889. Dengan demikian, lahirnya Kerajaan Bali berbarengan dengan masa jayanya Mataram Hindu-Buddha.

Raja Bali selanjutnya adalah Udayana. Berdasarkan namanya Udayana diduga merupakan raja yang besar wibawa dan pengaruhnya. Udayana berarti "penyampai wahyu", seperti matahari yang memberikan sinar terang kepada umat manusia. Udayana menikah dengan Mahendradatta (ada yang menyebutnya Sri Gunaprya Darmapatni), saudara perempuan Darmawangsa Teguh dari Medang Kamulan di Jawa Timur. Perkawinan mereka membuahkan beberapa putra: Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga sebagai anak sulung menikahi salah seorang puteri Raja Darmawangsa Teguh (Airlangga mengawini sepupunya sendiri). Setelah Dharmawangsa tewas akibat pemberontakan Wura-wuri, Airlangga mengambil alih kekuasaan Medang Kamulan dan memindahkan ibukota ke Kahuripan.

Setelah meninggal Udayana dimakamkan di Banuwka, ia digantikan oleh puteranya, Dharmawangsa Marakata. Marakata wafat pada tahun 1025 M dan dimakamkan di Camara di kaki Gunung Agung. Sedangkan ibunya, Mahendradatta, wafat pada tahun 1010 dan dimakamkan di Burwan dekat Gianyar yang diarcakan sebagai Dewi Durga.

Sepeninggal Marakata, takhta Bali dipegang oleh Anak Wungsu, adiknya. Anak Wungsu mulai memerintah pada 1049. Selama pemerintahannya, ia meninggalkan 28 buah prasasti, di antaranya Prasasti Gua Gajah, Gunung Penulisan, dan Sangit. Menurut pemberitaan prasasti-prasasti tersebut, Anak Wungsu dicintai rakyatnya dan dianggap penjelmaan Dewa Wisnu. Ia memerintah selama 28 tahun, sampai tahun 1077, dan wafat pada tahun 1080 M dan dimakamkan di Candi Padas Tampaksiring.

Anak Wungsu kemudian digantikan oleh Sri Maharaja Walaprabu yang diduga memerintah tahun 1079-1088. Berbeda dengan raja-raja Bali sebelumnya yang memakai gelar Sang Ratu atau Paduka Haji, Walaprau malah menggunakan gelar Sri Maharaja yang berbau Sansekerta. Raja yang terkenal dari Bali adalah Jayapangus yang berkuasa dari tahun 1177 hingga 1181. Sebanyak 35 prasasti tentang Jayapangus telah ditemukan. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Jayapangus dibantu oleh dua orang permasyurinya, yaitu Sri Prameswari Indujaketana dan Sri Mahadewi Sasangkajacinhna. Kitab yang digunakan sebagai hukum adalah Manawakamandaka, yang sering disebut pula Manawasasana Dharma.

Gunung Kawi, tempat makam raja-raja Bali

Gambar: Gunung Kawi, tempat makam raja-raja Bali; candi bentuk ini tak terdapat di Jawa

Raja Bali yang terakhir adalah Paduka Bhatara Parameswara Sri Hyang ning Hyang Adedewalancana (1260-1324). Tahaun 1282, Bali diserang oleh raja Singasari, Kretanegara. Setelah itu Bali berada dalan kekuasaan Majapahit. Pada masa runtuhnya Majapahit banyak bangsawan, pendeta, pedagang, seniman, dan rakyat lainnya yang pindah ke Bali untuk menghindari islamisasi di Jawa. Maka dari itu, hingga sekarang mayoritas penduduk Bali penganut Hindu sebagai pengaruh Majapahit yang Hindu.

Masyarakat Bali mayoritas penganut Hindu kemudian Buddha. Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, perdagangan cukup maju. Pada saat itu, telah dikenal adanya pedagang (saudagar) laki-laki yang disebut wanigrama dan pedagang wanita yang disebut wanigrami.

10. Kediri

Sepeninggal Airlangga, Medang Kamulan dibagi dua. Kediri diperintah Samara Wijaya, Jenggala diperintah Panji Garasakan. Tidak banyak informasi mengenai pemerintahan Samarawijaya. Data sejarah menyebutkan raja yang berikutnya bernama Sri Bameswara. Raja ini banyak meninggalkan prasasti. Namun, tidak banyak informasi dari prasasti-prasasti tersebut kecuali perihal kehidupan keagamaan saja.

Pada perkembangan selanjutnya, kedua kerajaan tersebut tidak dapat hidup berdampingan secara damai. Terjadilah perang saudara yang berlangsung hingga 1052. Semula Jenggala menang, namun Jenggala berhasil ditaklukkan oleh Samarawijaya raja Kediri. Dengan demikian, Kediri berhak memimpin kekuasaan.

Pengganti Bameswara adalah Jayabaya. Di bawah pemerintahahnya, Kediri berhasil menguasai kembali Janggala yang sempat memberontak kembali karena ingin memisahkan diri. Keberhasilannya ini mengingatkan orang pada keberhasilan Airlangga mempersatukan Medang Kamulan yang sempat tercerai berai. Itulah sebabnya Jayabaya dianggap sama dengan Airlangga yang juga dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu dan mengenakan lencana narasingha.

Jayabaya, bergelar Sri Maharaja Sri Warmeswara, memerintah Kediri cukup lama, dari 1057-1079 Saka atau 1135-1157 M. Raja selanjutya adalah Sarweswara (1160-1170), Aryeswara (1170-1180), Sri Gandra (1180-1190), Sringga Kameswara (1190-1200), dan Kertajaya (1200-1222). Raja Kediri umumnya dibantu oleh 4 orang menteri, 300 orang pegawai administrasi, dan 1.000 orang sebagai pegawai yang mengurus perbendaharaan keuangan, pertahahan, dan administrasi. Untuk menjaga keamanan, diangkat pula para panglima dengan prajurit berjumlah 30.000 orang.

Di bawah pemerintahan Jayabaya, Kediri mencapai puncak kejayaannya. Jayabaya dikenal sebagai raja yang besar dan bijaksana. Ia juga dikenal sebagai pujangga. Karya Jayabaya yang hingga kini sangat dikenal adalah Jangka Jayabaya, yang berisi ramalan Jayabaya tentang masa depan Jawa dan datangnya sang Ratu Adil yang akan menghantarkan rakyat Jawa pada masa keemasannya kembali.

Raja terakhir Kediri adalah Kertajaya. Kekuasaan Kertajaya berakhir setelah dikalahkan Ken Arok dari Tumapel tahun 1222. Pertempuran ini berawal ketika para biksu Buddha Kediri dikejar-kejar Kertajaya karena mereka kecewa terhadap kebijakan Kertajaya yang mengintimidasi umat Buddha. Para biksu tersebut lalu datang ke Tumapel untuk meminta perlindungan Ken Arok, penguasa (akuwu) Tumapel. Ken Arok mengabulkan permintaan mereka. Kertajaya meminta Ken Arok agar menyerahkan para rahib itu, namun ditolaknya. Terjadilah pertempuran di desa Ganter, Kertajaya berhasil dibunuh Ken Arok. Dengan meninggalnya Kertajaya, hancurlah Kediri.

11. Singasari

Singasari didirikan sekitar tahun 1222 M oleh Ken Arok. Ini berawal dari keberhasilan Ken Arok menggulingkan Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Akuwu ini jabatan yang diperkirakan setara dengan lurah sekarang. Setelah Ametung dibunuh, Ken Arok kemudian menggantikan jabatan akuwu tersebut. Perlu diketahui, untuk membunuh Ametung, Ken Arok menggunakan keris buatan Mpu Gandring. Namun, nasib Mpu Gandring pun naas: ia dihabisi Ken Arok dengan keris buatannya sendiri, sebelum digunakan Ken Arok membunuh Ametung.

Setelah mengalahkan Kertajaya dalam pertempuran di Desa Ganter, Ken Arok lalu menjadikan Tumapel sebagai basis kekuatan militernya guna menguasai Kediri yang ditinggal mati oleh rajanya. Kekosongan politik di Jawa Timur ini tak disia-siakan oleh Ken Arok. Ia pun memproklamasikan berdirinya kerajaan baru, Singasari. Janda Tunggul Ametung, Ken Dedes, kemudian dinikahi oleh Ken Arok; perkawinan ini menghasilkan seorang anak lelaki. Sebelum menikahi Ken Dedes, Arok pun memiliki istri bernama Ken Umang yang membuahkan putera bernama Tohjaya. Dari Ametung sendiri, Ken Dedes melahirkan putera bernama Anusapati.

Sumber sejarah yang memuat Singasari di antaranya adalah Negarakretagama dan Pararaton (Kitab Raja-Raja). Kedua kitab ini berisi sejarah raja-raja Jawa hingga Singasari. Disebutkan bahwa raja-raja Majapahit adalah keturunan raja-raja Singasari seperti juga raja-raja Kediri dan Mataram Kuno. Selain kedua kitab tersebut, prasasti dan candi yang dibuat pada masa berdirinya Singasari menceritakan banyak hal tentang kehidupan masyarakat Singasari. Catatan dari Cina yang sejak abad pertama telah berhubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Jawa juga menjadi sumber sejarah Singasari yang penting. Dalam Pararaton disebutkan raja-raja yang pernah memerintah Singasari adalah: Ken Arok (1222-1227), Anusapati (1227-1248), Tohjaya (1248), Ranggawuni (1248-1268), dan Kertanegara (1268-1292).

Setelah menjadi raja, Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwahbumi. Dalam masa pemerintahannya, Singasari berkembang menjadi sebuah kerajaan yang besar. Namun pemerintahan Ken Arok tidak berlangsung lama, hanya lima tahun. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh anak tirinya yang bernama Anusapati. Abu jenazah Ken Arok kemudian disimpan di Candi Kagenengan di selatan Singasari.

Setelah membunuh Ken Arok, Anusapati menggantikan kedudukannya sebagai raja. Kekuasaan Anusapati berakhir pada 1248, ia dibunuh ketika sedang beradu ayam (Anusapati dikenal dengan kegemarannya beradu ayam). Yang membunuh Anusapati adalah orang suruhan Tohjaya. Tohjaya melakukan ini sebagai balas dendam atas kematian ayahnya, Arok. Anusapati kemudian dimakamkan di Candi Kidal, tenggara Malang.

Raja Singasari berikutnya adalah Tohjaya. Diceritakan bahwa banyak di antara para pejabat Singasari yang kurang simpati dengan Tohjaya karena ia bukan berasal dari keluarga istana, meskipun anak dari Ken Arok. Tohjaya memegang pemerintahan Singasari tidak lama. Ia dibunuh oleh anak dari Anusapati bernama Ranggawuni. Tohjaya kemudian dimakamkan di Katang Lumbang, selatan Pasuruan (Panarukan). Ranggawuni naik tahta Singasari dengan gelar Srijaya Wisnuwardhana. Dalam menjalankan pemerintahan, ia didampingi oleh Mahesa Campaka (cucu Ken Arok- Ken Dedes) yang bergelar Narasinghamurti. Campaka ini berperan sebagai ratu angabaya (wakil raja). Mereka memerintah bersamasama. Kepemimpinan mereka dilambangkan sebagai kerja sama Dewa Wisnu-Dewa Indra. Ranggawuni juga mengangkat putera sendiri, Kertanegara, sebagai Yuwaraja atau Kuwararaja (raja muda).

Pada tahun 1268, Ranggawuni wafat, abunya dimakamkan di dua tempat yaitu di Weleri dekat Blitar sebagai Dewa Siwa dan di Candi Jago sebagai Sang Buddha. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Kertanegara yang bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara berarti “pemersatu dua negara” karena ibunya merupakan puteri Kediri, sedangkan ayahnya (Ranggawuni) dari Jenggala.

Pada masanya, Singasari mencapai kejayaan. Dalam menjalankan pemerintahannya, Kertanegara dibantu oleh tiga orang mahamantri, yaitu rakryan i hino, rakryan i sirikan, dan rakryan i halu. Di bawah ketiga mahamantri ini terdapat pula tiga orang pejabat: rakryan apatih, rakryan demung, dan rakryan kanuruhan. Sementara soal keagamaan, diangkat pejabat yang disebut dharma dhyaksa ring kasogatan untuk urusan agama Buddha, sedangkan dharmadyaksa ring kasaiwan untuk umat Siwa.

Untuk mengatasi masalah dalam negeri, Kertanegara melakukan beberapa kebijakan. Di antaranya, ia mengganti atau memindahkan pejabat-pejabat kritis terhadap kebijakan Raja yang tidak loyal kepadanya, seperti Patih Raganatha yang digantikan oleh Aragani. Demikian pula Arya Wiraraja yang dipindahkan ke Sumenep, Madura. Selain itu, Raja Kertanegara juga memberi penghargaan dan kedudukan yang terhormat kepada lawan-lawan politiknya. Misalnya, Jayakatwang diangkat menjadi adipati Kediri, Ardaraja anak Jayakatwang dijadikan menantunya, serta Raden Wijaya keturunan Mahisa Cempaka juga dijadikan menantunya.

Di bawah Kertanegara, Singasari melakukan ekspansi luar negeri bernama Pamalayu tahun 1275, yakni sebuah invasi militer yang bertujuan menaklukkan daerah-daerah di Sumatera dan Semenanjung Melayu yang belum tunduk. Ekspedisi ini dipimpin oleh Kebo Anabrang. Dalam ekspedisi tersebut, kerajaan Melayu berhasil ditaklukkan pada tahun 1260. Sebagai bukti bahwa ia telah menaklukkan Kerajaan Melayu adalah ditemukannya patung Amoghapasha di Jambi, tepatnya di Padangroco di sekitar Sungai Langsat yang berangka tahun 1286. Dituliskan, patung Amoghapasha beserta 14 patung lainnya dikirim ke Swarnabhumi (Sumatera) dari Bhumijawa (Jawa) atas perintah Sri Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa. Ketika itu, ibukota Melayu berkedudukan Jambi. Dengan tunduknya Melayu, pengaruh budaya Jawa dari Singasari pun menyebar di Semenanjung Melayu dan Sumatera. Orang Melayu dan Sumatera pun mulai mengenal kisah-kisah pewayangan.

Pada tahun 1289, datang seorang utusan dari kaisar Cina Kubilai Khan, bernama Meng Chi, ke Singasari untuk mengakui kekuasaan Mongol. Keinginan Kubilai Khan itu ditolak oleh Kertanegara dengan cara merusak muka sang utusan, Meng Chi. Kubilai Khan tidak terima penolakan Kertanegara tersebut, lalu mengirimkan tentaranya ke Jawa untuk menghukum Kertanegara. Tetapi ketika tentara itu datang, Kertanegara sudah tidak berkuasa lagi.

Banyaknya pasukan Singasari yang ke Melayu menyebabkan pertahanan dalam negeri Singasari menjadi lemah. Hal ini dimanfaatkan oleh para musuh Kertanegara untuk merebut kekuasaan. Pada 1292, Jayakatwang dari Kediri menyerang Kertanegara. Dalam serangan Jayakatwang yang mendadak itu, Kertanegara bersama pembesar lainnya tewas. Namun, keempat putri Kertanegara dan menantunya, Raden Wijaya selamat. Jenazah Kertanegara kemudian dimakamkan di dua tempat, yaitu di sebuah candi di dekat Tretes, Malang, dan di Candi Singasari dekat Malang. Kertanegara diabadikan sebagai arca Joko Dolok.

12. Majapahit

Kerajaan Hindu-Buddha yang terakhir dan terbesar di Jawa adalah Majapahit. Kerajaan ini terletak di sekitar Sungai Brantas, dengan pusat di hutan Tarik di Desa Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara, sekitar tahun 1293 M. Setelah berhasil lolos dari maut penyerangan Kediri, ia bersama para bangsawan Singasari lain yang setia seperti Nambi, Lembu Sora, Ronggo Lawe, dan Kebo Anabrang, kemudian meminta bantuan kepada Arya Wiraraja, yang sebelumnya adalah pejabat Singasari yang oleh Kertanegara dijadikan bupati di Sumenep, Madura. Atas anjuran Aria Wiraraja, Bupati Sumenep, Wijaya disarankan menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Atas jaminan Wiraraja pula Wijaya diterima di Kediri.

Raden Wijaya oleh Jayakatwang diperbolehkan membuka sebuah hutan untuk dijadikan desa baru, yakni Tarik. Setelah dibuka, hutan ini disulap menjadi desa tempat membinan kekuatan militer oleh Wijaya guna membalas dendam terhadap Kediri. Kemudian hutan Tarik ini dinamai Majapahit. Sejarah Majapahit ini dapat diketahui dari Pararaton dan Sutasoma karangan Mpu Tantular, Negarakretagama karangan Prapanca, berita Cina Ying-Yai Sheng Lan, serta Prasasti Kudadu.

Dua tahun setelah pemberian hutan Tarik kepada Wijaya dan kawan-kawan, datanglah tentara Kubilai Khan dari Mongolia yang mendarat di Tuban dan Surabaya. Kedatangan tentara Kubilai Khan ke Jawa ini bertujuan untuk menghukum Kertanegara, raja Singasari, yang telah memotong telinga utusannya. Kedatangan tentara Kubilai Khan ini memberi kesempatan kepada Raden Wijaya untuk merebut kekuasaan dari Jayakatwang.

Melalui muslihat yang cerdik, Wijaya lalu mengajak pasukan Mongol yang baru mendarat di Tuban. Pasukan Mongol yang tak tahu bahwa Kertanegara telah tiada, dengan mudah diliciki oleh Wijaya bahwa Kediri seolah-olah adalah Singasari dan Jayakatwang adalah Kertanegara. Pasukan Mongol mempercayai saja ucapan Wijaya. Lalu terjadilah peristiwa yang diharapkan oleh Wijaya: pasukan Mongol kemudian menyerang Kediri dan merebutnya. Pasukan Wijaya pun bergabung dengan tentara Kubilai Khan dalam menghancurkan Kediri dan Jayakatwang. Dalam penyerangan ini Jayakatwang tewas terbunuh. Raden Wijaya kemudian berbalik menyerang pasukan Kubilai Khan. Ia berhasil mengusir tentara Kubilai Khan ini kembali ke negerinya. Raden Wijaya kemudian mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Majapahit.

Raja-raja yang memerintah Majapahit di antaranya: Raden Wijaya (1293-1309), Sri Jayanegara (1309-1328), Tribhuwanatunggadewi (1328-1350), Hayam Wuruk (1350-1389), dan Wikramawardhana (1389-1429). Raden Wijaya naik tahta pada tahun 1293 M. Raden Wijaya bergelar Kertajasa Jayawardhana. Gelar Kertarajasa dipakai karena Raden Wijaya masih keturunan Ken Arok. Raden Wijaya mengawini keempat putri Kertanegara yaitu Tribhuwana, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri (Rajapatni). Selain keempat putri Kertanegara, Wijaya juga mengawini Dara Petak, putri boyongan dari Melayu.

Raden Wijaya memerintah dengan bijaksana sehingga keadaan kerajaan menjadi aman dan tenteram. Raden Wijaya tidak lupa atas jasa para pembantunya yang telah ikut mendirikan Majapahit. Aria Wiraraja diberi kedudukan sebagai penasihat. Ia berkedudukan di daerah Lumajang dan Blambangan. Nambi diangkat menjadi Rakyan Mapatih. Lembu Sora diangkat sebagai patih di Daha. Kebo Anabrang diangkat sebagai panglima perang Kerajaan Majapahit. Sementara Ranggalawe diangkat sebagai menteri perkembangan Majapahit.

Pada masa Raden Wijaya sempat terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh sahabat-sahabat dekat raja yang merasa tidak puas dengan jabatannya, di antaranya oleh Lembu Sora, Nambi, dan Ranggalawe. Namun pemberontakan-pemberontakan ini akhirnya dapat dipadamkan. Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 dan dimakamkan di Candi Simping di Blitar sebagai Siwa dan Wisnu serta di Antapura sebagai Buddha.

Sepeninggal Raden Wijaya pemerintahan di pegang oleh puteranya yang bernama Kala Gemet yang bergelar Sri Jayanegara. Tidak seperti ayahnya, Jayanegara dikenal sebagai raja yang tidak bijaksana dan lebih suka bersenang-senang. Oleh karena itu, banyak pembantunya merasa tidak puas dan melakukan pemberontakan, di antaranya pemberontakan yang dilakukan Juru Demung (1313), Wandana dan Wagal (1314), Nambi (1316), Semi (1318), dan Kuti (1319). Di antara pemberontakan tersebut, yang dianggap paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti. Pada saat itu, pasukan Kuti berhasil menduduki ibu kota negara. Jayanegara terpaksa menyingkir ke Desa Badander di bawah perlindungan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada. Gajah Mada kemudian menyusun strategi dan berhasil menghancurkan pasukan Kuti. Atas jasa-jasanya, Gajah Mada diangkat sebagai patih Kahuriapn (1319-1321) dan patih Kediri (1322-1330).

Pada 1328, Jayanegara meninggal. Abu jenazahnya dimakamkan di Sela Petak dan di Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha Amoghsidi. Jayanegara tidak memiliki anak. Oleh karena itu, kekuasaan Majapahit diberikan kepada Gayatri, putri Kertanegara dan janda Raden Wijaya yang masih hidup. Namun karena lebih memilih sebagai biksuni, tahta kemudian diserahkan kepada putri Gayatri, Tribhuwanatunggadewi.

Tribhuwanatunggadewi memerintah Majapahit bersama suaminya yang bernama Kertawardhana. Menurut Negarakertagama disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi ini sering terjadi pemberontakan. Di antaranya: pemberontakan Sadeng dan Kuti tahun 1331. Pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Berkat jasanya, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi mahapatih di Majapahit menggantikan Arya Tadah. Dalam upacara pelantikan sebagai mahapatih, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya: tidak akan berhenti sebelum berhasil menyatukan Nusantara di bawah panji-panji Majapahit. Sumpah ini dikenal dengan "Sumpah Amukti Palapa". Untuk mewujudkan cita-citanya ini, Gajah Mada membangun armada laut yang kuat di bawah pimpinan Laksamana Nala.

Pada 1343, dengan bantuan Adityawarman, Gajah Mada berhasil menaklukan Bali. Adityawarman kemudian diangkat sebagai penguasa Melayu. Selanjutnya, pasukan Gajah Mada menguasai Sriwijaya, Tumasik, dan semenanjung Melayu di wilayah barat. Seram, Guam, dan Dompu di wilayah timur juga berhasil dikuasainya.

Patung Adityawarman sebagai Bhairawa

Gambar: Patung Adityawarman sebagai Bhairawa

Pada 1350, Tribhuwanatunggadewi turun tahta dan digantikan oleh putranya yang bernama Hayam Wuruk. Ketika itu, Hayam Wuruk berusia 16 tahun. Ia didampingi Gajah Mada sebagai Mahapatih. Hayam Wuruk bergelar Rajasa Negara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai masa kejayaannya. Dalam Negarakretagama dijelaskan bahwa pada masa Hayam Wuruk, wilayah Majapahit meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Malaya. Daerah yang belum dapat dikuasai Majapahit adalah Pajajaran.

Pada 1364, Gajah Mada wafat setelah mengabdikan diri lebih dari 30 tahun di Majapahit. Pada 1389, Hayam Wuruk juga wafat. Sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit berangsur-angsur mengalami kemunduran. Hayam Wuruk tidak memiliki putra mahkota dari permaisuri. Oleh karena itu, putrinya yang bernama Kusumawardhani diangkat sebagai penguasa Majapahit bersama suaminya yang bernama Wikramawardhana. Sebenarnya Hayam Wuruk memiliki seorang putra yang bernama Bhre Wirabhumi dari selirnya. Untuk menghindari pertikaian, Bhre Wirabhumi diberi kekuasaan di daerah Blambangan, ujung timur di Pulau Jawa.

Setelah Hayam Wuruk meninggal, terjadi perang saudara antara kedua anak Hayam Wuruk ini. Pengangkatan Kusumawardhani sebagai penguasa Majapahit tidak disenangi Bhre Wirabhumi. Rasa tidak senang ini kemudian berkembang menjadi perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg (1401-1406). Dalam Perang Paregreg ini Bhre Wirabhumi terbunuh. Perang berkepanjangan ini membuat Majapahit menjadi semakin lemah. Biaya perang serta jumlah korban yang demikian besar membuat Majapahit tidak bisa mempertahankan keutuhan wilayah. Akhirnya, setelah Wikramawardhana meninggal, Kerajaan Majapahit pecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Raja-rajanya antara lain: Suhita (1429-1447), Kertawijaya (1447-1451), Rajasawardhana (1451-1453), Purwa Wisesa (1451- 1466), Sunghawikrama Wardhana (1466-1447). Keruntuhan Majapahit diketahui dari Candrasengkala yang berbunyi Sirno Ilang Kertaning Bumi I yang berarti tahun 1400 Saka atau 1478 M.

Di samping perang saudara yang berkepanjangan, penyebab lain keruntuhan Majapahit adalah semakin berkembangnya pengaruh Islam di Nusantara, terutama di daerah-daerah pantai Jawa, seperti Gresik, Giri, dan Demak. Daerah-daerah ini kemudian melepaskan diri dari Majapahit. Keadaan ekonomi Majapahit yang buruj pun turut menyebabkan keruntuhan Majapahit. Pemerintah pusat mengalami kesulitan untuk mengurus wilayah kekuasaannya yang demikian luas. Oleh karena itu, banyak daerah yang kemudian tidak terurus dan menyatakan melepaskan diri dari Majapahit.

Akan tetapi, adapula pendapat bahwa Majapahit (yang kekuasaannya tinggal seluas ibukotanya sendiri) benar-benar runtuh setelah ibukota kerajaan tersebut diserang oleh sejumlah santri-santri muslim dari Kudus yang dibantu oleh Raden Patah dari Demak. Mereka ingin menghancurkan kerajaan non-Islam pada 1527 M. Ibukota Majapahit tersebut oleh Tome Pires ditulis Dayo. Patah merupakan anak Raja Majapahit terakhir Brawijaya V dari selir yang berasal dari Campa, Cina bagian selatan (Vietnam).

Pada masa Majapahit, sistem ketatanegaraan telah terstruktur dengan baik. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang kekuasaan tertinggi. Dalam melaksanakan pemerintahan raja dibantu oleh Dewa Sapta Prabu yang bertugas memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada raja. Anggota dewa sapta prabu adalah para sanak saudara raja. Urusan keagamaan diurus oleh dharma dyaksa, yaitu dharmadyaksa ring kasiwan untuk urusan agama Hindu dan dharmadhyaksa ring kasogatan untuk urusan agama Buddha.


Sistem Sosial Ekonomi Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

Kehidupan politik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membawa perubahan baru dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur sosial dari masa Kutai hingga Majapahit mengalami perkembangan yang ber-evolusi namun progresif. Dunia perekonomian pun mengalami perkembangan: dari yang semula sistem barter hingga sistem nilai tukar uang.

1. Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Kutai

Dari berbagai peninggalan yang ditemukan diketahui bahwa kehidupan masyarakatnya Kutai sudah cukup teratur. Walau tidak secara jelas diungkapkan, diperkirakan masyarakat Kutai sudah terbagi dalam pengkastaan meskipun tidak secara tegas. Dari penggunaan bahasa Sansekerta dan pemberian hadiah sapi, disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat golongan brahmana, golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli penyebaran dan upacara keagamaan. Di samping golongan brahmana, terdapat pula kaum ksatria. Golongan ini terdiri dari kerabat dekat raja. Di luar kedua golongan ini, sebagian besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan, namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk menjalankan kepercayaan aslinya.

Diperkirakan bahwa pertanian, baik sawah maupun ladang, merupakan mata pencarian utama masyarakat Kutai. Melihat letaknya di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi laut, diperkirakan perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi pedagang luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka harus memberikan “hadiah” kepada raja agar diizinkan berdagang. Pemberian “hadiah” ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal harganya; dan pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan. Melalui hubungan dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan transportasi darat, berkembanglah hubungan agama dan kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitar. Banyak pendeta yang diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang Kutai yang berkunjung ke daerah asal para pendeta tersebut.

2. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Tarumanagara, Kendan, dan Galuh

Kehidupan masyarakat Tarumanagara tak jauh beda dengan Kutai. Menurut sebuah prasasti, kehidupan sosialnya telah berkembang baik, terlihat dari penggalian kanal (sungai yang digali) Gomati dan Candrabhaga secara gotong-royong. Tenaga kerja yang diperintah menggali kanal tersebut biasanya dari golongan budak dan kaum sudra. Pembangunan kanal Gomati dan Candrabaga begitu bermakna bagi perekonomian Tarumanagara. Selain sebagai sarana pencegah banjir, juga dapat dipergunakan sebagai sarana transportasi (lalu lintas) air dan perdagangan antara pedagang Tarumanagara dengan pedagang daerah lain. Hasil bumi merupakan komoditas utama.

Melalui perdagangan, masyarakat Tarumanagara dapat memperoleh barang yang tidak dihasilkan di kerajaannya. Kehidupan ekonomi Tarumanagara bertumpu pada hasil ladang dan kebun. Barang yang ditawarkan adalah beras dan kayu jati. Mayoritas rakyat Tarumanagara adalah peladang. Karena masyarakat peladang selalu berpindah-pindah tempat. Ini berbeda dengan masyarakat petani yang selalu menetap di satu tempat, misalnya di Jawa Tengah dan Timur.

Kehidupan sosial-ekonomi Kendan-Galuh tidak jauh beda dengan Tarumanagara. Masyarakatnya berprofesi sebagai peladang. Agama yang dianut bangsawan adalah Hindu-Wisnu, sedangkan rakyatnya mayoritas menganut animisme dan dinamisme. Sementara itu, sistem transportasi pada masa Kendan dan Galuh diperkirakan dilakukan melalui Sungai Cimanuk dan pelabuhan tua di pesisir pantai utara, contohnya di sekitar Indramayu dan Cirebon.

Sementara itu mengenai masalah tenaga kerja, baik pegawai istana maupun tentara, biasanya berasal dari golongan bangsawan kerabat raja. Mengenai sistem perpajakan biasanya pedagang mengeirim hadiah berupa benda-benda langka dan mahal. Sedangkan bagi wilayah yang berada di bawah kerajaan maka mereka harus mengirimkan upeti berupa emas atau benda-benda berharga lain, sebagai tanda kesetiaannya terhadap atasan.

Menurut Jacob Sumardjo, masyarakat peladang adalah masyarakat yang hidup di daerah dataran tinggi dan pegunungan, hidup dengan berladang karena itu mereka berpindah-pindah. Bila hasil panen ladang telah habis, mereka berpindah tempat untuk mencari lahan baru untuk ditanami buah-buahan, sayur, mayur, ubi-ubian, serta padi. Maka dari itu, di Jawa Barat jarang ditemukan bekas-bekas peninggalan kerajaan karena baik pemimpin maupun rakyatnya cenderung berpindah-pindah tempat, tidak berdiam untuk tempo yang cukup lama. Ini mengingat tanah di daerah dataran tinggi tidak terlalu baik untuk dijadikan lahan pertanian. Sebaliknya, tradisi pertanian hidup di dataran rendah seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang lebih banyak meninggalkan artefak dan benda bersejarah.

Kehidupan sosial-ekonomi Kendan-Galuh tidak jauh beda dengan Tarumanagara. Masyarakatnya berprofesi sebagai peladang. Agama yang dianut bangsawan adalah Hindu-Wisnu, sedangkan rakyatnya mayoritas menganut animisme dan dinamisme. Sementara itu, sistem transportasi pada masa Kendan dan Galuh diperkirakan dilakukan melalui Sungai Cimanuk dan pelabuhan tua di pesisir pantai utara, contohnya di sekitar Indramayu dan Cirebon.

Patung Siwa yang ditemukan di Jawa Barat

Gambar: Patung Siwa yang ditemukan di Jawa Barat mengisyaratkan bahwa selain Wisnu, Siwa merupakan dewa yang dihormati pula oleh masyarakat Jawa Barat

Sementara itu mengenai masalah tenaga kerja, baik pegawai istana maupun tentara, biasanya berasal dari golongan bangsawan kerabat raja. Mengenai sistem perpajakan biasanya pedagang mengirim hadiah berupa benda-benda langka dan mahal. Sedangkan bagi wilayah yang berada di bawah kerajaan maka mereka harus mengirimkan upeti berupa emas atau benda-benda berharga lain, sebagai tanda kesetiaannya terhadap atasan.

3. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Sriwijaya dan Melayu

Sriwijaya adalah sebuah negara maritim yang mempunyai hubungan perdagangan internasional. Para pedagang dari berbagai bangsa, seperti Cina, anak benua India (Gujarat, Urdu-Pakistan, dan Tamil), Sri Lanka, dan Campa datang ke Sriwijaya. Bukan tidak mungkin terjadi perkawinan campur antara para pedagang asing tersebut dengan penduduk asli Sriwijaya. Hal ini dapat kita simpulkan dari berita I-Tsing yang menyebutkan banyaknya kapal asing yang datang ke Sriwijaya. Para pelaut ini tinggal beberapa lama di Sriwijaya menunggu datangnya pergantian angin yang akan membawa mereka berlayar menuju tempat tujuan. Jelaslah bahwa transportasi laut dan Sungai Musi di Palembang sangat membantu Sriwijaya dalam mengembangkan pertumbuhan ekonominya.

Dengan kenyataan ini, masyarakat Sriwijaya diperkirakan sangat majemuk. Mereka juga telah mengenal pembagian (stratifikasi) sosial walaupun tidak begitu tegas. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa istilah dalam Prasasti Kota Kapur yang menunjukkan kedudukan para bangsawan terdiri dari para putera raja dan kerabat istana. Adanya istilah yuwaraja (putra mahkota), pratiyuwaraja (putra raja kedua), dan rajakuman (putra raja ketiga) menunjukkan hal itu. Ditemukan juga istilah-istilah yang berkaitan dengan pekerjaan atau jabatan tertentu seperti jabatan nahkoda kapal yang disebut puhavam atau puhawan, bupati, dan senopati. Prasasti Kota Kapur juga menggambarkan adanya kelompok masyarakat yang memiliki profesi tertentu sebagai tenaga kerja, seperti saudagar, tukang cuci, juru tulis, pembuat pisau, dan budak-belian yang dipekerjakan oleh raja.

Alat Batu Penggiling Masa Megalitikum

Gambar: Alat batu penggiling (peninggalan budaya megalitikum zaman prasejarah) serpihan emas yang digunakan pada abad ke-7 pada masa Sriwijaya; terlihat bahwa profesi pendulang emas telah ada pada masa itu

Sebagai negara maritim, diyakini bahwa perdagangan merupakan bidang andalan Sriwijaya. Hal ini bisa dilihat dari letak geografisnya yang berada di tengah-tengah jalur perdagangan antara India dan Cina. Apalagi setelah Selat Malaka berhasil dikuasai Sriwijaya, banyak kapal asing yang singgah di pelabuhan ini untuk menambah perbekalan (nasi, daging, air minum), beristirahat, dan melakukan perdagangan. Untuk mengontrol aktifitas perdagangan di Selat Malaka, penguasa Sriwijaya membangun sebuah bandar di Ligor (Malaysia). Hal ini diketahui dari Prasasti Ligor yang bertahun 775 M. Pengiriman hadiah dari pedagang dan upeti dari raja-raja taklukan kepada raja Sriwijaya merupakan ketentuan hukum. Sriwijaya sebagai tuan rumah sekaligus negara niaga dan maritim, yang sering dikunjungi oleh pedagang asing maka Sriwijaya berhak menentukan jumlah atau harga pajak yang harus dipatuhi oleh para pedagang bersangkutan.

Selain perdagangan, rakyat Sriwijaya mengandalkan pertanian. Hal ini bisa kita simpulkan dari tulisan Abu Zaid Hasan, pelaut Persia, yang mendapat keterangan dari seorang pedagang Arab bernama Sulaiman. Abu Zaid Hasan menceritakan bahwa Zabaq (Sriwijaya) memiliki tanah yang subur dan wilayah kekuasaan yang luas hingga ke seberang lautan. Dengan tanah yang subur, Sriwijaya kemungkinan memiliki hasil pertanian yang cukup diminati para pedagang asing. Apalagi wilayah Sriwijaya demikian luas hingga mencapai ke pedalaman Sumatera dan Jawa. Sementara itu, masalah penguasaan tanah pada masa Sriwijaya dapat dilihat dari Prasasti Kedukan Bukit yang membahas taman Sriksetra. Diduga, masalah kepemilikan tanah ini sepenuhnya hak raja.

Kehidupan ekonomi dan sosial Kerajaan Melayu tak jauh berbeda dengan Sriwijaya. Kaum bangsawannya memeluk Buddha, masyarakatnya sebagian besar memeluk keyakinan tradisional.

4. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kerajaan Sunda dan Pajajaran

Kehidupan sosial masyarakat Sunda dan Pakwan Pajajaran secara garis besar dapat digolongkan ke dalam golongan seniman, peladang (pecocok tanam), pedagang. Dari bukti-bukti sejarah diketahui, umumnya masyarakat Pajajaran hidup dari hasil perladangan. Seperti masyarakat Tarumanagara dan Galuh, mereka umumnya selalu berpindah-pindah. Hal ini berpengaruh pada bentuk rumah tempat tinggal mereka yang sederhana. Dalam hal tenaga kerja, yang menjadi anggota militer diambil dari rakyat jelata dan sebagian anak bangsawan. Mereka dibiayai oleh negara.

Dalam bidang ekonomi, Kerajaan Sunda dan Pajajaran telah lebih maju dari masa Tarumanagara. Kerajaan Sunda-Pajajaran memiliki setidaknya enam pelabuhan penting: Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa, dan Cimanuk. Setiap pelabuhan ini dikepalai oleh seorang syahbandar yang bertanggung jawab kepada raja. Para syahbandar ini bertindak sebagai wakil raja di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasainya, sekaligus menarik pajak dari para pedagang yang ingin berjualan di daerah ini pajak tersebut berupa kiriman upeti berwujud barang dagangan yang mahal atau uang. Dalam hal transportasi air, selain melalui laut, dilakukan pula melalui sungai-sungai besar seperi Citarum dan Cimanuk, sebagai jalur perairan dalam negeri.

Melalui pelabuhan ini, Pajajaran melakukan aktifitas perdagangan dengan negara lain. Dalam berbagai peninggalan sejarah diketahui, masyarakat Pajajaran telah berlayar hingga ke Malaka bahkan ke Kepulauan Maladewa yang kecil di sebelah selatan India. Barang-barang dagangan mereka umumnya bahan makanan dan lada. Di samping itu, ada jenis bahan pakaian yang didatangkan dari Kambay (India). Sementara mata uang yang dipakai sebagai alat tukar adalah mata uang Cina.

5. Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Mataram Kuno

Sumber-sumber berita Cina mengungkapkan keadaan masyarakat Mataram dari abad ke-7 sampai ke-10. Kegiatan perdagangan baik di dalam maupun luar negeri berlangsung ramai. Hal ini terbukti dari ditemukannya barang-barang keramik dari Vietnam dan Cina. Kenyataan ini dikuatkan lagi dengan berita dari Dinasi Tang yang menceritakan kebesaran sebuah kerajaan dari Jawa, dalam hal ini Mataram.

Dari Prasasti Warudu Kidul diperoleh informasi adanya sekumpulan orang asing yang berdiam di Mataram. Mereka mempunyai status yang berbeda dengan penduduk pribumi. Mereka membayar pajak yang berbeda yang tentunya lebih mahal daripada rakyat pribumi Mataram. Kemungkinan besar mereka itu adalah para saudagar dari luar negeri. Namun, sumber-sumber lokal tidak memperinci lebih lanjut tentang orang-orang asing ini. Kemungkinan besar mereka adalah kaum migran dari Cina.

Dari berita Cina diketahui bahwa di ibukota kerajaan terdapat istana raja yang dikelilingi dinding dari batu bata dan batang kayu. Di dalam istana, berdiam raja beserta keluarganya dan para abdi. Di luar istana (masih di dalam lingkungan dinding kota) terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan termasuk putra mahkota beserta keluarganya. Mereka tinggal dalam perkampungan khusus di mana para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal sekitarnya. Sisa-sisa peninggalan pemukiman khusus ini sampai sekarang masih bisa kita temukan di Yogyakarta dan Surakarta. Di luar tembok kota berdiam rakyat yang merupakan kelompok terbesar.

Kehidupan masyarakat Mataram umumnya bersifat agraris karena pusat Mataram terletak di pedalaman, bukan di pesisir pantai. Pertanian merupakan sumber kehidupan kebanyakan rakyat Mataram. Di samping itu, penduduk di desa (disebut wanua) memelihara ternak seperti kambing, kerbau, sapi, ayam, babi, dan itik. Sebagai tenaga kerja, mereka juga berdagang dan menjadi pengrajin.

Dari Prasasti Purworejo (900 M) diperoleh informasi tentang kegiatan perdagangan. Kegiatan di pasar ini tidak diadakan setiap hari melainkan bergilir, berdasarkan pada hari pasaran menurut kalender Jawa Kuno. Pada hari Kliwon, pasar diadakan di pusat kota. Pada hari Manis atau Legi, pasar diadakan di desa bagian timur. Pada hari Paking (Pahing), pasar diadakan di desa sebelah selatan. Pada hari Pon, pasar diadakan di desa sebelah barat. Pada hari Wage, pasar diadakan di desa sebelah utara.

Pada hari pasaran ini, desa-desa yang menjadi pusat perdagangan, ramai didatangi pembeli dan penjual dari desa-desa lain. Mereka datang dengan berbagai cara, melalui transportasi darat maupun sungai sambil membawa barang dagangannya seperti beras, buah-buahan, dan ternak untuk dibarter dengan kebutuhan yang lain.

Selain pertanian, industri rumah tangga juga sudah berkembang. Beberapa hasil industri ini antara lain anyaman seperti keranjang, perkakas dari besi, emas, tembaga, perunggu, pakaian, gula kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi industri ini dapat diperoleh di pasar-pasar tadi.

Sementara itu, bila seseorang berjasa (biasanya pejabat militer atau kerabat istana) kepada Kerajaan, maka orang bersangkutan akan diberi hak memiliki tanah untuk dikelola. Biasanya tempat itu adalah hutan yang kemudian dibuka menjadi pemukiman baru. Orang yang diberi tanah baru itu diangkat menjadi penguasa tempat yang baru dihadiahkan kepadanya. Ia bisa saja menjadi akuwu (kepala desa), senopati, atau adipati atau menteri. Bisa pula sebuah wilayah dihadiahkan kepada kaum brahmana atau rahib untuk dijadikan asrama sebagai tempat tinggal mereka, dan di sekitar asrama tersebut biasanya didirikan candi atau wihara.

Hari-hari dalam penanggalan Jawa Kuno selain berhubungan erat dengan kegiatan pasaran, juga selalu dihubungkan dengan waktu pembangunan rumah, pesta perkawinan, perjodohan, perayaan kenduri atau selametan, serta sejumlah praktik kehidupan lainnya. Setiap hari Jawa, selain berhubungan dengan arah mata angin, juga memiliki perhitungan angka dan warna tersendiri: Legi = 5 = putih, Pahing = 9 = merah, Pon = 7 = kuning, Wage = 4 = hitam, dan Kliwon = 8 = aneka warna.

6. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Medang Kamulan

Dalam hal kepemilikan tanah, transportasi, perpajakan, dan tenaga kerja; kehidupan rakyat Medang Kamulan menyerupai Mataram, karena Medang Kamulan tak lain adalah kelanjutan Mataram, hanya nama dinastinya saja yang berbeda. Toh, yang berbeda hanya perpindahan wilayah kekuasaan dari barat ke timur.

Masa pemerintahan Mpu Sindok lalu Sri Isana Tunggawijaya, merupakan masa yang damai. Namun, sejak pemerintahan Dharmawangsa Teguh, politik Kerajaan cenderung mengarah ke luar negeri. Tujuannya adalah untuk merebut dominasi perdagangan di perairan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, yang ketika itu dikuasai Sriwijaya. Untuk keperluan ini, Dharmawangsa Teguh membangun armada militer yang tangguh. Dengan kekuatan militer ini, Medang Kamulan menaklukkan Bali, lalu mendirikan semacam koloni di Kalimantan Barat. Dengan armada ini pula, Medang Kamulan kemudian menyerang Sriwijaya, walaupun tidak menang.

Relief pada Candi Morangan, Jawa Tengah

Gambar: Relief pada Candi Morangan, Jawa Tengah, abad ke-9 yang menggambarkan para brahmana tengah memagang daun rontal (lontar)

Dharmawangsa pun mengembangkan pelabuhan Hujung Galuh di selatan Surabaya dan Kembang Putih (Tuban) sebagai tempat para pedagang bertemu. Ketika Airlangga berkuasa, kerajaan menjaga hubungan damai dengan kerajaan-kerajaan tetangga demi kesejahteraan rakyat. Ini diperlihatkan dengan mengadakan perjanjian damai dengan Sriwijaya. Kerajaan pun memperlakukan umat Hindu dan Buddha sederajat.

7. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kediri dan Singasari

Kediri terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang damai. Menurut berita Cina, masyarakat Kediri hidup berkecukupan. Penduduk wanitanya memakai kain sarung sampai bawah lutut dan rambutnya terurai. Rumah mereka bersih dan rapi, lantainya dari ubin berwarna hijau dan kuning. Dalam upacara perkawinan mereka memakai mas kawin dari emas dan perak. Masyarakatnya sering mengadakan pesta air (sungai atau laut) maupun pesta gunung sebagai ungkapan terima kasih kepada para dewa dan leluhur mereka.

Kehidupan perekonomian Kediri berpusat pada bidang pertanian dan perdagangan. Hasil pertanian masyarakat Kediri umumnya beras. Sementara barang-barang yang diperdagangkan antara lain emas, kayu cendana, dan pinang. Walaupun terletak di pedalaman, jalur perdagangan dan pelayaran maju pesat melalui Sungai Brantas yang dapat dilayari sampai ke pedalaman wilayah Kediri dan bermuara di Laut Selatan (Samudera Indonesia). Masyarakat Kediri juga sudah mempunyai kesadaran tinggi dalam membayar pajak. Mereka membayar pajak dalam bentuk natura yang diambil dari sebagian hasil bumi mereka.

Sementara itu, kehidupan sosial Singasari dapat diketahui dari Nagarakretagama dan Pararaton serta kronik Cina. Disebutkan, masyarakat Singasari terbagi dalam kelas atas, yaitu keluarga raja dan kaum bangsawan, dan kelas bawah yang terdiri dari rakyat umum. Selain itu, ada kelompok agama, pendeta Hindu maupun rahib Buddha. Namun pembagian atas golongan ini tidak seketat pengkastaan seperti di India. Ini membuktikan, sekali lagi, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pribumi.

Dari Negarakretagama dan Pararaton diperoleh gambaran tentang kehidupan perekonomian di Jawa pada masa Singasari. Di desa pada umumnya penduduk hidup dari bertani, berdagang, dan kerajinan tangan. Tidak sedikit pula yang bekerja sebagai buruh atau pelayanan. Kegiatan berdagang dilakukan dalam lima hari pasaran pada tempat yang berbeda (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Oleh karena itu, sarana transportasi darat memegang peranan penting. Beberapa prasasti melukiskan bagaimana para pedagang, pengrajin, dan petani membawa barang dagangannya. Mereka digambarkan melakukan perjalanan sambil memikul barang dagangannya atau mengendarai pedati-kuda. Ada pula yang melakukan perjalanan melalui sungai dengan menggunakan perahu. Dengan disebutnya alat angkut pedati dan perahu, dapatlah disimpulkan bahwa perdagangan antardesa cukup ramai. Apalagi di wilayah Singasari terdapat dua sungai besar, Bengawan Solo dan Kali Brantas yang dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian dan lalu lintas perdagangan air.

Perdagangan mulai mendapatkan perhatian cukup besar semasa Kertanegara memerintah. Kertanegara mengirimkan ekspedisi militer ke Melayu (Pamalayu) untuk merebut kendali perdagangan di sekitar Selat Malaka. Pada masa ini memang Selat Malaka merupakan jalur sutera yang dilalui oleh para pedagang asing.

8. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Majapahit

Dari peninggalan sejarah diketahui bahwa masyarakat Majapahit relatif hidup rukun, aman, dan tenteram. Majapahit menjalin hubungan baik dan bersahabat dengan negara tetangga, di antaranya dengan Syangka (Muangthai), Dharma Negara, Kalingga (Raja Putera), Singhanagari (Singapura), Campa dan Annam (Vietnam), serta Kamboja. Negara-negara sahabat ini disebut dengan Mitreka Satata.

Disebutkan bahwa pada masa Hayam Wuruk, penganut agama Hindu Siwa dan Buddha dapat bekerjasama. Hal ini diungkapkan oleh Mpu Tantular dalam Sutasoma atau Purusadashanta yang berbunyi "bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrawa" yang artinya: "di antara pusparagam agama adalah kesatuan pada agama yang mendua."

Rakyat Majapahit terbagi dalam kelompok masyarakat berdasarkan pekerjaan. Pada umumnya, rakyat Majapahit adalah petani, sisanya pedagang dan pengrajin. Selain pertanian, Majapahit juga mengembangkan perdagangan dan pelayaran. Ini bisa kita simpulkan dari wilayah kekuasaan Majapahit yang meliputi Nusantara bahkan Asia Tenggara. Barang utama yang diperdagangkan antara lain rempah-rempah, beras, gading, timah, besi, intan, dan kayu cendana. Sejumlah pelabuhan terpenting pada masa itu adalah Hujung Galuh, Tuban, dan Gresik.

Majapahit memegang dua peranan penting dalam dunia perdagangan. Pertama, Majapahit adalah sebagai kerajaan produsen yang menghasilkan barang-barang yang laku di pasaran. hal ini bisa dilihat dari wilayah Majapahit yang demikian luas dan meliputi daerah-daerah yang subur. Kedua, peranan Majapahit adalah sebagai perantara dalam membawa hasil bumi dari daerah satu ke daerah yang lain.

Perkembangan perdagangan Majapahit didukung pula oleh hubungan baik yang dibangun penguasa Majapahit dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Barang-barang dari luar negeri dapat dipasarkan di pelabuhan-pelabuhan Majapahit. Dan sebaliknya, barang-barang Majapahit dapat diperdagangkan di negara-negara tetangga. Hubungan sedemikian tentu sangat menguntungkan perekonomian Majapahit.

Dalam hal kepemilikan tanah, di Majapahit sama saja dengan yang berlaku di kerajaan-kerajaan sebelumnya. Begitu pula mengenai perpajakan dan tenaga kerja. Para petani selalu bergotong-royong dalam hal bercocok tanam dan mengairi sawah.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: