Peradaban Awal Masyarakat Cina, India, Mesir, Mesopotamia, Romawi dan Yunani


Peradaban adalah kebudayaan yang memiliki nilai yang tinggi dan halus. Kelahiran peradaban sangat ditentukan oleh faktor geografis. Pada umumnya, peradaban lahir di lembah sungai atau di daerah-daerah yang subur, daerah yang memungkinkan memberikan kehidupan bagi manusia. Di daerah tempat lahirnya peradaban akan timbul suatu sistem kemasyarakatan, sistem kekuasaan, bangunan-bangunan hasil kebudayaan, sistem mata pencaharian hidup, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Bentuk-bentuk dari peradaban tersebut berkembang dalam suatu kurun tertentu. Bahkan peradaban suatu wilayah dapat menyebar dan mempengaruhi kehidupan di wilayah lainnya. Berikut ini rangkuman peradaban-peradaban yang lahir di dunia pada masa lalu dan bagaimana pengaruhnya ke Indonesia.


Peradaban Cina

Cina dianggap sebagai pusat dunia dan berada di tengah-tengah dunia. Wilayah Cina terbagi atas tiga bagian, yaitu Cina Utara, Cina Tengah, dan Cina Selatan. Di Cina utara mengalir Sungai paling besar, yaitu sungai HuangHo yang disebut juga sungai Kuning, airnya selalu kuning akibat endapan lumpur dan membuat air sungai keruh. Di lembah sungai HuangHo itulah mula-mula berdiam bangsa Cina asli. Di situ pulalah tumbuh dan berkembang kebudayaan Cina. Cina Tengah dialiri sungai Yang tze Kiang. Daerah ini pun dihuni orang-orang Cina dari Utara. Mereka adalah rakyat biasa. Peking merupakan ibu kotanya, sedangkan Nanking di Cina Tengah merupakan kota kedua.

Daerah Cina Utara dan Cina Tengah dipisahkan oleh pegunungan yang sukar dilalui. Di Cina Selatan terdapat banyak sekali pegunungan. Daerah itu berbukit-bukit di sebelah tenggara sampai ke laut. Kanton di Cina Selatan merupakan kota dagang. Karena keadaan alamnya itu, maka orang-orang Cina Selatan terutama hidup dari perdagangan dan banyak berhubungan dengan bangsabangsa asing. Di sebelah Utara dan barat Negeri Cina terbentang padang rumput dan padang pasir yang luas.

Peta Cina

Gambar: Peta Cina

Di sebelah Barat Daya dan Selatan terdapat pegunungan yang tinggi. Hubungan darat dengan negeri-negeri di sebelah barat dilakukan melalui padang rumput dan gurun. Jalan tersebut kemudian terkenal dengan nama Jalan Sutra.

Ajaran filsafat yang berkembang di Cina, antara lain:
  • Lao Tse. Mengajarkan Taoisme, yang isinya mengajarkan manusia harus menerima nasibnya. Kitab sucinya Tao Te Ching (surat jalan dan kebaikan)
  • Kung Fu Tse. Ajaran berpokok pada Hsiao artinya kebaktian. Menekankan ajarannya pada soal pemerintahan dan keluarga.
  • Meng Tse. Mengajarkan demokrasi dan rakyat merupakan pusat segalanya. Selama berabad-abad, Cina diperintah oleh kaisar dari berbagai dinasti.

Penjelasan singkat dinasti-dinasti yang pernah berkuasa di Cina adalah:
  • Zaman dongeng Pemerintah pada zaman dongeng dimulai pada masa tiga raja, yaitu Sui Jen (pencipta api), Fu Hsi (mengajarkan cara menangkap binatang), dan Shen Nung (mengajarkan ilmu pengetahuan). Setelah itu Cina diperintah oleh Kaisar Kuning (Huang ti). Zaman dongeng berakhir pada masa pemerintahan Yu, yang mendirikan Dinasti Hsia (2205 SM).
  • Dinasti Shang Dinasti ini didirikan oleh Chen Tang. Hasil kebudayaan dinasti Shang antara lain: Pit, yaitu alat tulis orang Cina yang terbuat dari bulu halus, guci-guci dari tanah dan suasa, dan istem penanggalan.
  • Dinasti Chou Pendiri Dinasti ini adalah Wu Wang, ibu kota kerajaannya di Chang An. Hasil kebudayaan dinasti Chou antara lain: membagi tanah dalam sistem sembilan kotak, masyarakat dibagi dalam empat golongan: Shih (terpelajar), Nung (Petani), Kung (pertukangan), dan Shang (Saudagar), menghasilkan karya sastra seperti : Shu Ching (kitab sejarah), Shih Ching (kitab syair), I Ching (kitab perubahan), Li Chi (kitab adat), Ch’un ch’I (catatan musim semi dan musim rontok).
  • Dinasti Chin Dinasti ini didirikan oleh Pangeran Cheng (Shih Huang Ti). Tindakan-tindakan yang dilakukannya antara lain: menghapus sistem Feodalisme dan pemerintahan yang bersifat sentralisasi, membakar buku-buku kuno, membangun tembok raksasa (Wan Li Chang Cheng), menyamakan tulisan (huruf).
  • Dinasti Han Dinasti ini didirikan Liu Pang (Han Kao Tsu). Ibu kotanya di Chang An. Pada masa pemerintahan Han Wu Ti, dinasti ini mencapai kebesarannya dan ini diberlakukan kembali ajaran Konfusionisme dan sistem pemerintahan Feodalisme, serta seleksi yang ketat untuk menjadi pegawai.
  • Dinasti Tang Dinasti ini didirikan oleh Tang Tai Tsung, pada masa ini Cina mengalami masa keemasan, hasil kebudayaan dinasti Tang antara lain: terdapat banyak sastrawan seperti Li tai Po dan Li Yu Chen, banyak dikirim utusan ke berbagai daerah, dan diterbitkannya koran resmi Ching Pao.
  • Dinasti Yuan Dinasti ini didirikan oleh Ku Bilai Khan (bangsa Mongol). Pada mulanya pusat pemerintahan di Kara Korum kemudian dipindahkan ke Peking, Dinasti ini melaksanakan ekspansi ke berbagai daerah, termasuk ke Indonesia, yaitu ke kerajaan Singasari.

Peradaban Cina memberikan warna bagi perkembangan Indonesia. Pada masa pemerintahan Dinasti Tang dan Sung, bangsa Indonesia beberapa kali mengirimkan utusannya ke Cina. Dalam tahun 640 atau 648 M kerajaan Jawa mengirim utusan ke Cina yang kemudian tahun 666 M, dikatakan bahwa tanah Jawa diperintah oleh seorang raja perempuan yakni dalam tahun 674 675 M, orang-orang Holing atau Kaling (Jawa) menobatkan raja perempuan yang bernama Simo, dan memegang pemerintahannya dengan keras.

Pada masa raja Kertanegara datang seorang utusan dari negeri Cina, yaitu Kubilai Khan. Raja Kertanegara juga mengadakan ekspedisi Pamalayu tahun 1275, menguasai kerajaan Melayu dengan tujuan menghadang serangan tentara Cina agar peperangan tidak terjadi di wilayah kerajaan Singasari.

Peradaban Lembah Sungai Mekong

Sungai Kuning (Sungai Hoang Ho) disebut duka Cina karena sungai besar yang merupakan tempat kelahiran Peradaban China ini sering kali mendatangkan banjir dan mengancam kehancuran peradaban Cina. Banjir telah menelan banyak korban jiwa, rusaknya lahan pertanian dan hancurnya banyak bangunan.

Bagi bangsa Cina, sungai Yang Tse lebih dikenal sebagai Chang Kiang, yang berarti sungai panjang. Sungai Yang Tse Kiang merupakan sumber sejarah dan kehidupan Cina. Bagi dunia luas, sungai ini lebih dikenal dengan Yang Tze, yaitu sungai terpanjang di Asia. Hulu sungai ada di Propinsi Cianghai di tanah tinggi Tibet, berliku-liku mengalir sejauh 5.520 km dan melalui 8 propinsi serta bermuara di Laut Cina Timur.

Bersamaan dengan anak sungainya, yaitu: Min, Han, Yalung, Kialang Sungai Yang Tse mendatangkan Lumpur jutaan ton setiap tahunnya. Daerah deltanya merupakan daerah penghasil beras yang utama di Cina.

1. Lokasi

Daerah pegunungan Kwen Lun di Asia Tengah merupakan asal Sungai Mekong atau Kamboja, mengalir melalui daerah Cina Selatan, menjadi perbatasan Thailand dan Indo Cina dan membangun Tanjung Kamboja. Sungai Mekong memberikan kesuburan tanah kepada daerah-daerah yang dilalui, seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja.

2. Pendukung

Manusia-manusia kuno juga berasal dari Asia Tengah. Melalui sungai atau lembah mereka menyebar ke daerah pantai. Penyebaran mereka mungkin disebabkan karena adanya wabah penyakit atau bencana alam. Dari fosil yang ditemukan, dapat dinyatakan bahwa mereka terdiri atas beberapa jenis, seperti Papua Melanesoid, Mongoloid dan Austroloid. Percampuran mereka melahirkan bangsa Melayu yang berkulit sawo matang. Daerah Teluk Tonkin di Indo Cina merupakan tanah air mereka yang kedua. Dari Indo Cina mereka menyebar ke Kamboja, Muangthai yang kemudian menjadi bangsa Austro-Asia, dan sebagian besar ke kepulauan yang kemudian menjadi bangsa Austronesia.

3. Kebudayaan

Pada lembah sungai Mekong terdapat dua pusat peradaban, yaitu Bacson Hoabinh dan Dongson. Bascon adalah daerah pegunungan dan Hoabinh adalah dataran. Keduanya terletak tidak jauh dari Teluk Tonkin. Peradaban daerah ini pada mulanya adalah Mesolitikum. Hasil budayanya yang terkenal ialah kapak Sumatra dengan bangsa Papua Melanesoid sebagai pendukungnya. Kemudian dari Teluk Tonkin berkembang kebudayaan Neolitikum dengan alat-alatnya berupa kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi menyebar melalui Muangthai, Semenanjung Melayu ke Indonesia Barat dengan pendukungnya bangsa Melayu Austronesia. Sedangkan, kapak lonjong menyebar melalui Taiwan, Filipina ke Indonesia Timur dengan Papua Melanesoid sebagai pendukungnya. Penyebaran tersebut berlangsung sekitar 2000 SM.

Dongson merupakan asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Karena itu, kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut juga Kebudayaan Dongson. Pendukung dan penyebar kebudayaan Dongson adalah bangsa Melayu Baru yang menyebar ke kepulauan Nusantara sekitar 500 SM. Beberapa jenis alat dari perunggu adalah kapak corong yang merupakan kapak logam bertangkai.

Selain kebudayaan yang sifatnya material tersebut, juga telah dikenal beberapa macam kebudayaan spiritual, antara lain:
  • Kepandaian Membuat Perahu. Perahu ini dipergunakan untuk perpindahan dari daratan Asia ke daerah kepulauan (Austronesia). Salah satu ciri khas perahu buatan bangsa Melayu adalah dipergunakannya cadik. Cadik terbuat dari kayu atau bambu dan yang membuat perahu menjadi seimbang sehingga tidak mudah goyang.
  • Kepandaian Bercocok Tanam. Bercocok tanam meliputi berladang maupun bersawah. Hasilnya berupa padi yang merupakan bahan makanan pokok, di samping palawija yang merupakan tanaman selingan, seperti kacang, kedelai, dan jagung. Untuk mengerjakan sawah, mereka menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbau atau sapi.
  • Pengetahuan Perbintangan atau Astronomi. Pengetahuan astronomi dipergunakan bangsa Melayu untuk pertanian dan pelayaran. Gugusan bintang Waluku yang bentuknya seperti bajak dipergunakan sebagai tanda untuk mengetahui datangnya musim bercocok tanam; sedangkan gugusan Bintang Salib Selatan dipergunakan untuk mengetahui arah dalam pelayaran.
  • Kepercayaan. Pemujaan roh nenek moyang (animisme) dan pemujaan terhadap benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib (dinamisme) adalah kepercayaan yang mereka kenal. Dalam prakteknya kedua macam kepercayaan itu menimbulkan kebudayaan wayang, pemujaan makam dan sebagainya.

Peradaban Lembah Sungai Hoang Ho

Manusia purba yang ditemukan dalam gua-gua Choukoutien di Lembah Hoang Ho adalah Sinantropus Pekinensis, artinya manusia Cina dari Peking. Jenis manusia ini setingkat dengan Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di Indonesia yang mendukung kebudayaan Palaeolitikum. Kebudayaan Lembah Sungai Hoang-Ho ditemukan sekitar 3000 SM. Orang Cina menyebut negerinya sebagai Chung Kuo, artinya negeri tengah karena terletak di tengah-tengah dunia. Rakyatnya disebut Hoang-Chung Hua atau Cina, yang umumnya berada di Lembah Sungai Hoang Ho dan Sungai Yang Tse Kiang. Di sinilah pusat peradaban Cina banyak ditemukan.

1. Aksara dan Astronomi

Masyarakat Cina sudah mengenal tulisan gambar dan mempunyai bahasa persatuan, yaitu bahasa Kuo-Yu. Selain itu, sudah mengenal astronomi (ilmu perbintangan) yaitu sistem penanggalan yang penting untuk kegiatan pertanian dan pelayaran.

2. Pertanian, Perdagangan, dan Teknologi

Kedua sungai besar, yakni Sungai Hoang-Ho dan Sungai Yang Tse Kiang merupakan daerah yang subur sehingga menjadi urat nadi kehidupan bangsa Cina. Mereka hidup dari bercocok tanam dengan hasil gandum, padi, jagung, kedelai, dan murbai. Selain itu, mampu menghasilkan barang-barang keramik dan sutera yang diperdagangkan sampai ke luar wilayah Cina.

3. Kepercayaan

Kepercayaan bangsa Cina adalah polytheisme atau menyembah banyak dewa sebagai kekuatan alam, seperti Dewa Feng-Pa sebagai dewa angin dan Lei-Shik sebagai dewa taufan. Masyarakat Cina kuno juga mengenal upacara korban manusia (gadis cantik) untuk persembahan dewa tertinggi Ho-Po yang bertahta di Hwang-Ho.

4. Filsafat

Filsafat kehidupan Cina berkembang pada zaman Dinasti Chou (1100-156 SM) sehingga Dinasti Chou berhasil meletakkan dasar-dasar kehidupan dan berpengaruh sepanjang sejarah Cina. Filsuf Cina antara lain:
  • Lao Tse, ajarannya disebut Taoisme, tertulis dalam buku Tao Te-ching, yang intinya. Adanya semangat keadilan dan kesejahteraan bernama Tao, Orang tidak boleh mengekang jalannya alam, dan Orang supaya mau menerima nasib; seperti suka, duka, bahagia, sengsara dan sebagainya.
  • Mo Ti. Ajarannya mendasarkan pada Chien Ai, yakni cinta universal. Maksudnya, cinta yang tanpa pandang bulu, yakni mencintai sesama seperti mencintai dirinya sendiri. Jika setiap orang bertindak demikian, maka dunia akan damai.
  • Kung Fu Tse (Konfusianisme). Kung Fu Tse dalam bahasa Tionghoa, sedangkan orang-orang Barat menyebutnya Confusius. Ajarannya biasa disebut Ju Chia (Kung Chia), orang banyak menyebutnya Confusianisme. Pokok-pokok ajarannya terletak pada Li, Ren dan I. Jika manusia atau masyarakat telah memegang teguh Li, Ren dan I, maka dunia akan damai.

Apa itu Li, Ren dan I? Li, adalah adat istiadat. Sesuai dengan ajaran Li, maka orang itu harus mengetahui dirinya dan menempatkan diri pada tempatnya. Ada 5 (lima) hubungan yang dapat dipertimbangkan paling utama, yakni:
  • Bagaimana hubungan antara penguasa dengan yang dikuasai?
  • Bagaimana hubungan antara orang tua dengan anak?
  • Bagaimana hubungan antara suami dengan istri?
  • Bagaimana hubungan antara saudara tua dengan saudara muda?
  • Bagaimana hubungan antara teman dengan teman?

Sebagai contoh orang tua harus memberi teladan tindakan yang baik bagi anak-anaknya dan bertindak bijaksana; sebaliknya, anak-anak harus patuh dan meluhurkan orang tuanya.

Ren, yakni peri kemanusiaan; dan I adalah perikeadilan. Menurut Kung Fu Tse, kalau masyarakat memegang teguh Li, Ren dan I, maka masyarakat akan hidup tenteram dan sejahtera. Ini semua merupakan usaha Kung Fu Tse untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat. Bapak menjadi semua pusat anggota keluarga sehingga bapak harus menjadi panutan, sedang anak harus tunduk kepadanya. Negara adalah keluarga dalam bentuk besar dan raja atau kaisar adalah sebagai bapak yang harus adil dan bijaksana, sedang rakyat harus tunduk kepada raja. Ajaran Kung Fu Tse sampai sekarang tetap menjadi pegangan hidup rakyat Cina.

5. Sistem Pemerintahan

Kerajaan (kekaisaran di Cina merupakan kerajaan agraris yang menimbulkan susunan masyarakat dan negara feodal). Bila pusat pemerintahannya ada di tangan raja atau kaisar yang kuat, negara-negara kecil yang merupakan bagian dari negara induk akan tunduk. Sebaliknya, bila pusat pemerintahannya lemah, maka raja-raja kecil akan memperkuat dirinya dan melawan pusat. Sejarah pemerintahan negeri Cina ditandai dengan pemerintahan dinasti yang bergantian dan masing-masing dinasti memiliki ciri tersendiri.

a. Dinasti Hsia (2000 - 1500 SM)

Dinasti Hsia merupakan dinasti tertua di Cina. Termasuk zaman Proto sejarah Cina karena tidak meninggalkan prasasti.

b. Dinasti Shang (1500 - 1100 SM)

Pada masa ini Cina memasuki zaman sejarah dengan tulisan pictograf. Mata pencaharian masyarakat bercocok tanam, beternak, berdagang, keramik dan sutera. Selain itu, masyarakatnya juga sudah mengenal astronomi. Bidang kepercayaan masyarakat Cina menyembah dewa Shang Ti.

c. Dinasti Chuo (1222 - 221 SM)

Dinasti Chou didirikan oleh Wu Wang dengan ibukotanya Chang -an. Pada masa ini, berlaku sistem pemerintahan feodalisme dan muncul tokoh-tokoh filsafat yaitu Lao Tse, Mo Ti dan Kung Fu Tse.

d. Dinasti Chin (221 - 207 SM)

Dinasti ini didirikan oleh Shih Huang Ti, dengan pusat pemerintahannya di Han Tan. Dinasti Chin menghapuskan sistem pemerintahan feodal dan diganti sistem pemerintahan unitarisme (kekuasaan terpusat). Oleh karena itu, Shih Huang Ti memerintahkan membuat jalan-jalan besar yang menghubungkan daerah dengan pusat. Jalan ini dikenal dengan nama Jalan Kerajaan.
Tindakan-tindakan Shih Huang Ti lain yang penting, di antaranya adalah:
  • Membangun The Great Wall atau Tembok Raksasa dengan panjang 6.000 km, dengan tinggi 16 meter yang berguna untuk menahan serangan bangsa Bar - bar (bangsa Hsiung Nu). Sampai sekarang tembok ini masih berdiri megah dan merupakan salah satu keajaiban dunia.
  • Untuk mengamankan kekuasaannya dari rongrongan yang kurang menyetujui pemerintahannya, Kaisar Shih Huang Ti mengeluarkan dekrit untuk membakar dan memusnahkan buku-buku ajaran guru besar Kung Fu Tse, kecuali buku pertanian, pengobatan dan ramalan.
  • Mengadakan penyeragaman tulisan-tulisan di seluruh Cina
  • Mengadakan penyeragaman ukuran-ukuran, timbangan-timbangan, perkakas pertanian dan sebagainya.

e. Dinasti Han (206 SM - 220 M)

Dinasti Han didirikan oleh Liu Pang, setelah naik tahta bergelar Han Kao Tsu. Pusat Pemerintahan Han adalah Chang-an.
  • Kaisar yang terkenal Han Wu Ti (140-87 SM). Ia berusaha menghidupkan kembali sistem feodalisme dan ajaran Kung Fu Tse.
  • Segala aktivitas kehidupan berdasarkan ajaran Konfusianisme (Kung Fu Tse).
  • Berhasil dibangunnya jalan sutera melalui Asia Tengah. Dikenal dengan "jalan sutera", karena di antara barang dagangan yang di bawa lewat jalan tersebut yang terbanyak adalah sutera.
  • Pada masa Dinasti Han inilah agama Buddha masuk ke Cina, yakni masa pemerintahan Kaisar Ming Ti (58 -75 M)

f. Dinasti Sui (589 - 618 M)

Dinasti Sui dengan ibukotanya di Chang-an. Kaisar terbesar dari Dinasti Sui adalah Sui Yang Ti (605-618). Kaisar ini terkenal karena membangun istana yang mewah dan membuat Saluran Kaisar dengan panjang 1.800 km guna memperlancar perdagangan.

g. Dinasti Tang (618 - 906 M)

Dinasti Tang didirikan oleh Li Yuan, setelah naik tahta bergelar Tang Kao Tsu (618-627). Kaisar terbesar dari Dinasti Tang adalah Tang Tai Tsung (627-649). Masa ini Cina mengalami zaman keemasan karena dapat mempersatukan seluruh Cina bahkan sampai Kamboja, Persia dan Laut Kaspia.

h. Dinasti Sung (906 - 1279 M)

Masa Sung Utara (960-1227) pusat pemerintahannya berada di Chang -an, tetapi masa Sung Selatan (1227-1279) pusat pemerintahannya berada di Nanking. Kaisar terbesar adalah Sung Jen Tsung (1023-1063). Dinasti Sung mengadakan perdamaian dengan bangsa K'itan dan bangsa Tangut. Untuk menjaga perdamaian, maka kaisar Sung harus membayar upeti kepada bangsa-bangsa tersebut, agar tidak mengadakan serangan.

i. Dinasti Mongol atau Yuan (1260 - 1368 M)

Pembentuk imperium Mongol adalah Jengis Khan, kemudian diteruskan oleh Kublai Khan. Dinasti Yuan didirikan oleh Kublai Khan, yang berasal dari Mongolia. Oleh karena itu, dinasti ini dianggap sebagai pemerintahan asing (dinasti asing). Kaisar yang terkenal ialah Kublai Khan (1260-1294). Ibukota pemerintahannya berada di Peking.

Kublai Khan pernah mengadakan serangan ke Pulau Jawa khususnya ke Kerajaan Singasari di masa pemerintahan Kertanegara. Ia mengadakan Pax Mongolia sebagai gabungan pemerintahan raja-raja Mongol di Asia. Di masa pemerintahannya, seorang musafir Barat kenamaan, yakni Marco Polo datang ke negeri Cina. Pada masa Dinasti Mongol ini pula agama Kristen mulai masuk ke Cina.

j. Dinasti Ming (1368 - 1644 M)

Masa ini Cina diperintah bangsa sendiri dengan ibukota di Nanking. Dinasti Ming merupakan pemerintahan nasional yang timbul sebagai reaksi atas pemerintahan asing Mongol. Dinasti Ming didirikan oleh Chu Yuan Chang dengan gelar Ming Tai Tsu (lebih dikenal dengan Hung Wu), yang berkuasa memulihkan kehidupan Cina, memperluas ajaran Kung Fu Tse dan mempersatukan Cina.

Kaisar terkenal dari Dinasti Ming adalah Ming Ch'eng Tsu, yang lebih dikenal dengan nama Yung Lo (1403-1424). Pada masa pemerintahannya, ibukota kerajaan di pindahkan dari Nanking ke Peking. Di masa pemerintahannya dikirimlah ekpedisi-ekspedisi ke seberang lautan di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho. Pada masa kaisar Yung Lo ini, Cheng Ho pernah mengadakan pelayaran ekspedisi diplomatik sebanyak enam kali.

k. Dinasti Manchu (1644 - 1912 M)

  • Bangsa Manchu berhasil meruntuhkan Dinasti Ming.
  • Dinasti Manchu merupakan dinasti terakhir di Cina, dan merupakan dinasti asing karena berasal dari Manchuria. Pusat pemerintahannya ada di Peking.
  • Dinasti Manchu mencapai masa kejayaaan pada masa pemerintahan Kaisar K'ang Hsi (1662-1722) dan Kaisar Ch'ien Lung (1736-1795). Kebesaran kedua kaisar tersebut, meliputi bidang politik, ekonomi dan budaya khususnya sastra.
  • Pada masa ini ajaran Kristen berkembang di Cina.
  • Golongan nasionalisme Cina bangkit untuk melepaskan diri dari pengaruh pemerintahan asing (Manchu).
  • Pada tahun 1911 terjadi Revolusi Cina di bawah pimpinan Sun Yat Sen, dan berhasil menggulingkan kekuasaan Manchu kemudian berdiri Republik Cina dengan Sun Yat Sen sebagai presidennya.

Peradaban Lembah Sungai Kuning

1. Prasejarah Cina

Manusia tertua yang pernah ditemukan di Cina adalah Pithecantropus Pekinensis. Pithecantropus Pekinensis hidup sezaman dengan Pithecantropus Erectus, ditemukan di Gua Chou Kau Tien dengan artefak-artefak yang ada di bukit-bukit pasir.

2. Perjalanan dinasti-dinasti di Cina

Kronologi dinasti yang memegang tampuk kekuasaan di Cina dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Xia (2000-1500 SM)

Dinasti ini masih merupakan dinasti mitos. Cerita tentang Dinasti Xia baru populer pada zaman Dinasti Chou. Hal ini merupakan sebuah upaya legitimasi Dinasti Chou untuk meneruskan Dinasti Shang, kemudian Dinasti Chou menciptakan mitos tentang Dinasti Xia dengan mengatakan bahwa Dinasti Xia adalah dinasti yang baik dan menjustifikasi bahwa Dinasti Shang adalah dinasti yang zalim serta menyebutkan bahwa keberadaan Dinasti Shang merupakan penyebab runtuhnya Dinasti Xia

b. Shang (1523-1028 SM)

Dinasti ini mempunyai pusat pemerintahan di Lembah Sungai Wei yang terletak di antara Sungai Huang Ho (utara) dan Sungai Yang Tse (selatan). Pada masa ini, masyarakatnya telah memiliki kehidupan bertani dengan pengolahan yang baik. Kepercayaan mereka dibangun kepada Dewa Kesuburan/Dewa Bumi. Sistem pemerintahannya masih menggunakan sistem "Primus Inter Pares", yaitu orang yang paling kaya, mempunyai tanah yang luas, dan mempunyai pasukan yang banyak, yang dapat memimpin. Dalam masyarakatnya juga tercipta sebuah sistem clan (kinship) yang amat kuat.

Masyarakatnya telah mempunyai tingkat kebudayaan yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya keramik-keramik yang indah, gerabah-gerabah, keramik tripod (guci 3 kaki) dan black pottery (budaya periuk hitam tanpa ornamen). Pada masa ini juga dikenal dengan kebudayaan tulang (culture bones). Hal ini dibuktikan dengan penemuan pada tahun 1921 yang menemukan adanya tumpukan tulang binatang yang berfungsi untuk ramalan-ramalan cuaca. Penemuan ini menunjukkan bahwa masyarakat yang hidup pada zaman Dinasti Shang telah memiliki tingkat pertanian yang maju.

Pada masa ini juga ditemukan gambar di dalam kulit kura-kura, yaitu gambar seorang penguasa yang naik kereta kuda. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perpaduan budaya, yaitu budaya selatan (pertanian) dan kebudayaan padang rumput. Pada masa ini juga, tulisan-tulisan sudah bisa dibaca. Hal ini berarti bahwa pada masa dinasti ini, Cina mengakhiri masa prasejarah dan memasuki masa baru, yaitu zaman Neolit. Dinasti ini runtuh karena dikudeta oleh clan Chou.

c. Chou/Zhou (1028-256 SM)

Sesuatu yang menarik pada masa ini ialah adanya kepercayaan/pemujaan terhadap Dewa Langit (Astral). Dewa Langit dijadikan sebuah legalitas dalam memperoleh kekuasaan dan menyingkirkan dinasti terakhir, yaitu Dinasti Shang. Dengan konsep kekuasaan Mandat dari Langit, clan Chou mengklaim bahwa clan-nyalah yang ditunjuk oleh Dewa untuk memerintah, sehingga berhak untuk mengakhiri kekuasaan Dinasti Shang. Zaman ini juga disebut sebagai Zaman Seratus Filsafat. Di antara filsafat-filsafat yang berkembang pada masa dinasti ini yaitu sebagai berikut:
  • Konfusianisme. Ajaran Konfusianisme lahir sebagai dampak dari kerusakan dan kehancuran berbagai sendi kehidupan di Cina sebagai akibat dari banyaknya konflik politik yang berujung pada peperangan. Ajaran konfusianisme mengajarkan hal-hal yang real dan praktis, yaitu bagaimana menjalankan berbagai peran, baik itu sebagai rakyat, penguasa, raja, ayah, anak, maupun ibu yang baik.
  • Taoisme. Menurut ajaran Tao, untuk mencapai kebahagian yang hakiki, maka manusia harus meninggalkan kehidupan dunia dengan menjauhi kehidupan kota dan pergi ke hutan untuk mencari arti dari hidup dengan merenung.
  • Legalisme. Legalisme adalah filsafat yang mengutamakan ditegakkannya hukum yang tegas dan keras agar tercipta kehidupan yang aman dan tentram. Filsafat ini didasarkan pada anggapan bahwa manusia itu jahat dan akan baik jika ditegakkan hukum.

d. Chin (221-207 SM)

Dinasti Chin bersifat sentralistik dengan Kaisar Chin Shin Huang Ti. Pada zaman Dinasti Chin ini berkembang filsafat legalisme karena para penasihat kaisar merupakan penganut legalisme. Ajaran Konfusius dilarang, buku-bukunya dibakar dan para penganutnya dibunuh. Strategi politik Dinasti Chin yaitu dengan mendirikan bangunan-bangunan yang dapat menghalau orang-orang Barbar sejauh mungkin. Bangunan itu berbentuk benteng-benteng yang dibangun di celah-celah bukit yang bisa dimasuki pasukan berkuda dan inilah embrio Tembok China (Great Wall) yang diperbaharui oleh dinasti-dinasti setelahnya.

e. Han (206-200 SM)

Pada masa Dinasti Han, ajaran Konfusionisme mencapai beberapa masa keemasan. Dinasti Han mempersyaratkan adanya ujian ajaran Konfusianisme ketika merekrut para pegawai kerajaan. Dengan demikian, rakyat berbondong-bondong belajar ajaran Konfusianisme. Mereka yang lulus dari ujian ini menjadi pegawai kerajaan dan disebut dengan kaum gentry. Kaisar terbesar pada Dinasti Han adalah Han Wu Ti (141-78 SM). Pada masanya, Cina dapat dipersatukan, dan beberapa daerah seperti Manchuria jatuh ke tangan bangsa Cina. Setelah Han Wu Tio meninggal, Dinasti Han mengalami kemunduran dan akhirnya jatuh pada tahun 221 M setelah datangnya serangan dari bangsa Tartar.

f. Enam dinasti (220-589 M)

Keenam dinasti yang memerintah Cina antara tahun 220 - 589 M secara berturut-turut yaitu:
  • Wei (220-265 M);
  • Tsin (265-420);
  • Liu Sung (420-477 M);
  • Chai (479-502 M);
  • Liang (502-556 M);
  • Ch’en (557-589).

Pada masa ini Cina berada dalam perang antarkerajaan-kerajaan atau perang saudara. Tidak ada satu kerajaan yang kuat dan berhasil mempersatukan Cina dalam satu kekuasaan Dinasti.

g. Sui (589-625 M)

Pada masa ini Cina dapat disatukan kembali. Namun, dinasti ini habis energinya untuk melakukan upaya konsolidasi ke dalam. Oleh karena itu, Sui tidak banyak melakukan ekspansi keluar.

h. Tang (625-906 M)

Pada masa Dinasti Tang, perdagangan internasional melalui jalur pantai selatan. Secara perlahan-lahan Dinasti Tang mampu menggulingkan Dinasti Sui kemudian mulai membangun infrastruktur ekonomi dan menjalin hubungan internasional yang baik. Pada masa Dinasti Tang, ajaran agama Buddha mulai masuk dan berkembang di Cina. Agama Buddha sangat berpengaruh secara signifikan di Cina. Hal itu disebabkan adanya kesamaan prinsip-prinsip Buddha dan ajaran Konfusionisme sehingga pada masa Dinasti Tang terjadi perpaduan dan sinkretisme agama antara Buddha, Konfusionisme, dan Taonisme. Ramainya perdagangan di laut menyebabkan Islam mulai masuk ke Cina.

i. Lima Dinasti (907-1280 M)

Pada masa ini sama seperti halnya dengan masa Enam Dinasti, yaitu tidak adanya satu dinasti yang mampu mempersatukan Cina dalam satu kekuasaan. Cina berada dalam perang antarkerajaan atau perang saudara.

j. Mongol/Yuan (1260-1368 M)

Dinasti Yuan adalah dinasti asing pertama yang berhasil menguasai Cina. Mereka adalah bangsa Mongol, atau orang Cina sering menyebut mereka yaitu bangsa Hun (Yungnu). Pada awalnya bangsa Mongol memiliki tingkat kebudayaan yang lebih rendah dibandingkan kebudayaan Cina. Setelah menguasai Cina, bangsa Mongol melakukan kekerasan untuk mengkonsolidasi dinasti-dinasti Cina yang masih merdeka. Setelah berkuasa secara penuh, bangsa Mongol mulai berasimilasi dengan budaya Cina.

k. Ming (1368-1644 M)

Ming adalah salah satu dinasti yang besar di antara beberapa dinasti yang pernah memerintah di Cina. Zaman Dinasti Ming memunculkan fenomena baru tentang zaman modern dalam sejarah dan peradaban Cina. Dengan karakteristik yang dimilikinya, Dinasti Ming telah berhasil merebut perhatian dunia, baik pada zamannya maupun pada masa kini. Membicarakan Ming, tentulah tidak bisa dilepaskan dari kebesaran nama para kaisar itu sendiri dan kebijakan-kebijakannya, maupun seorang penjelajah Muslim yang terkenal, yaitu Laksamana Cheng Ho, adapun untuk membicarakan tentang perkembangan Islamnya, kita perlu melihat latar belakang kedatangan Islam ke Cina untuk menjelaskan Islam ini secara kronologis, sehingga tidak menghasilkan perkembangan Islam di Cina yang anakronis.

Agama Islam yang dipercaya berkembang di Cina pada tahun 651 M yaitu pada zaman Dinasti Tang, telah mengalami perkembangan yang pesat di Cina. Persebaran Islam ke negeri Cina tidak terlepas dari peran perdagangan yang pada zamannya merupakan aset yang utama. Sejak masa Khalifah Umayah (abad ke-7), Islam menyebar melalui Jalur Sutera, baik itu darat maupun laut.

Ekspedisi Laksamana Cheng Ho turut mengharumkan nama Dinasti Ming dan Islam. Pada masa ini, Islam mendapat kesempatan untuk berkembang. Sebagian besar panduduk daerah Yunnan, Shensi, dan Hopei memeluk agama Islam. Laksamana Cheng Ho sendiri adalah seorang Tionghoa Muslim, walaupun ia seorang kasim. Selama hidupnya, ia melakukan petualangan antarbenua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433) dengan 6 kali pelayarannya di bawah titah Kaisar Yung Lo. Pelayarannya lebih awal dari para pelaut barat yang terkenal, sebut saja Colombus, Vasco Da Gama, ataupun Ferdinand Magellan. Pelayaran luar biasa ini, menghasilkan buku Zheng He’s Navigation Map yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina berubah, tidak sekedar bertumpu pada Jalur Sutera antara Beijing-Bukhara.

Cheng Ho adalah sahabat karib Kaisar Ming yang pertama, dan kemudian ditugasi untuk mengepalai 7 ekspedisi maritim raksasa ke Nusantara (Jawa dan Sumatera), Malaka, Srilangka, Samudera Hindia, Calcuta di pesisir barat anak benua India, Arab, dan pantai Afrika Timur.

Tujuan dari ekspedisi dinasti Ming ini menurut Jeanette Mirsky (sejarawan) ialah memperkenalkan dan mengangkat prestise Dinasti Ming ke seluruh dunia. Hal itu dimaksudkan agar negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Tiongkok sebagai The Son Of Heaven (putra dewa langit). Berbeda dengan para penjelajah Eropa yang berbekal semangat imperialis, armada Cheng Ho tak pernah serakah menduduki tempat-tempat yang disinggahinya. Mereka hanya ingin mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, menyebarluaskan pengaruh politik ke negeri asing, serta mendorong perniagaan Tiongkok.

Di dalam perniagaan, telah kita ketahui bersama bahwa pada zaman ini, Dinasti Ming merupakan penghasil keramik yang indah di dunia, dan tentu saja keramik yang indah ini menjadi komoditi ekspor utama di dalam setiap perniagaan yang dilakukan para pedagang Cina, bukan hanya Cheng Ho saja. Dalam majalah Star Weekly, HAMKA pernah menulis, "Senjata alat pembunuh" tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah "senjata budi" yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang "diziarahi", sedangkan tujuan yang lainnya ialah untuk menjaga wibawa dan hegemoni kekaisaran Ming di Asia dan untuk menyebarkan agama Islam. Setiap kali berlayar, banyak awak kapal yang beragama Islam turut serta. Sebelum melaut, mereka melakukan salat berjamaah. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut, yaitu Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha’ban, dan Pu Heri. Ma Huan dan Guo Chongli fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai penerjemah. Hasan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (provinsi Shan Xi), berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekpedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin salat hajat ketika armadanya diserang badai.


Peradaban India

Wilayah India adalah sebuah jazirah di Asia Selatan yang tertutup oleh batas-batas alam, di sebelah utara terbentang pegunungan Himalaya yang tinggi dan memanjang. Pegunungan itu merupakan benteng alam yang sukar dilalui. Di sebelah barat mengalir sungai Indus atau Sindhu. Nama India diambil dari nama Sungai Indus, sedangkan sebutan Hindia diambil dari kata Sindhu. Pantai sebelah barat dihalangi oleh pegunungan yang curam yang disebut Ghat Barat dan sepanjang pantai sebelah timur terdapat Ghat Timur. Di lembah pegunungan Himalaya mengalir sungai Gangga dan Yumuna yang bermuara di teluk Benggala. Satu-satunya jalan masuk ke India melalui darat melewati celah antara pegunungan Pamir dengan Hindukusy di bagian barat daya celah itu disebut celah Kaibar. Bangsa-bangsa pengembara dari luar masuk ke India melalui celah Kaibar dan menetap di daerah aliran sungai Gangga dan Yumuna yang subur. Di daerah ini berkembang kebudayaan Hindu.

Peta India

Gambar: Peta India

Berdasakan penelitian Antropologis, pendukung kebudayaan India adalah bangsa Dravida. Kira-kira tahun 3000 sebelum Masehi, bangsa Dravida masuk ke India melalui celah Kaibar, mereka menetap di sekitar aliran sungai Gangga dan Yumuna. Mereka tidak lama tinggal di sana karena didesak oleh bangsa Arya. Tanda-tanda perawakan bangsa Dravida ialah berkulit hitam, pendek, rambut kriting, hidung tidak mancung. Bangsa Dravida terdesak oleh Bangsa Arya ke daerah daratan tinggi Dekhan, sebagian bercampur darah dengan bangsa Arya. Bangsa Arya serumpun dengan bangsa Eropa, yaitu Indo Jerman. Kawasan sungai Gangga dan Yamuna disebut Aryavarta, artinya pemukiman bangsa Arya. Di lembah sungai inilah berkembang kebudayaan Hindu yang merupakan kebudayaan bangsa Arya. Bangsa Arya mengaku sebagai bangsa "Mulia". Untuk menjaga kemurnian darahnya, bangsa Arya membagi masyarakatnya dalam beberapa golongan atau kasta, seperti:
  • Kasta Brahmana ialah golongan para ahli agama dan ilmu pengetahuan. Golongan ini paling dihormati dan biasanya menjadi penasihat raja.
  • Kasta Waisya ialah golongan pedagang dan petani. Mereka merupakan golongan yang berusaha, mengeluarkan keringat untuk menghasilkan perbekalan yang diperlukan oleh semua golongan.
  • Kasta Ksatria ialah golongan ningrat dan para prajurit. Golongan inilah yang memegang kekuasaan dan menjalankan pemerintahan.
  • Kasta Sudra ialah golongan buruh kasar dan hamba sahaya.

Ada pula orang-orang yang "bernoda" dikeluarkan dari kastanya. Mereka tidak termasuk kasta manapun juga. Mereka golongan masyarakat yang paling hina, mereka tidak punya hak apapun. Mereka disebut golongan "Paria". Agama yang berkembang di India meliputi:
  • Agama Hindu. Agama Hindu memuja dewa-dewa, ada tiga dewa yang paling terkemuka Dewa Brahma sebagai pencipta alam, Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam, dan Dewa Syiwa sebagai perusak alam. Kitab sucinya disebut Weda.
  • Agama Buddha. Agama Buddha diajarkan oleh Sidarta Gautama, putra mahkota kerajaan Kapilawastu di India Utara. Sidarta Gautama memperoleh pencerahan tentang masalah kehidupan, itulah yang disebut "Bodh", sejak itu ia disebut "Budha", artinya orang yang memperoleh "Bodh". Kitab sucinya Tripitaka. Sejak abad ke-3 Masehi, di India telah berdiri kerajaan-kerajaan besar.

Berdasarkan hasil penelitian secara arkeologis, di India banyak ditemukan peninggalan budaya yang tinggi nilainya, seperti:
  • Benda-benda terakota, yaitu lempeng-lempeng tanah yang ada hiasannya dan tulisan piktograf.
  • Tata kota Mohenjo Daro dan Harrapa, rumah-rumah dibangun dengan batu bata merah, jalan-jalan dibuat lurus dengan di kiri dan kanannya dibuat saluran air yang baik.
  • Alat-alat pertanian yang berupa cangkul dan kapak.
  • Alat-alat perhiasan yang berupa kalung dan gelang.

Hasil kesusastraan India yang berupa wiracarita antara lain:
  • Kitab Ramayana. Kitab ramayana merupakan karangan Resi Walmiki. Menceritakan kisah putra mahkota bernama Rama putra Raja Dasaratha. Karena ulah ibu tirinya, Rama harus menjalani pengembaraan ke hutan, dalam pengembaraannya itu istrinya, Dewi Sinta, diculik oleh Rahwana atau Dasamuka, raja raksasa dari negeri Alengka (Sri Lanka). Rahwana dicegat oleh Jatayu, burung garuda raksasa, tetapi dapat dikalahkan oleh Rahwana. Dewi Sinta dilarikan sampai istana Alengka. Dengan pertolongan kera Sugriwa dan Hanoman, Sri Rama dapat menyerbu Kerajaan Alengka. Dengan bantuan bala tentara kera akhirnya Rahwana dapat dikalahkan dan Dewi Sinta dapat diselamatkan.
  • Kitab Mahabharata. Kitab Mahabharata karangan Resi Wiyasa. Menceritakan kisah keadaan keluarga besar Bharata, yang memerintah di kerajaan Hastina. Dua keturunan itu adalah Kurawa dan Pandawa saling memperebutkan tahta kerajaan. Mula-mula keluarga pandawa menjalani hukuman dibuang ke hutan selama 12 tahun, dalam pembuangan itu keluarga Pandawa memperoleh gemblengan ilmu, sehingga kuat lahir dan batin. Akhirnya terjadi perang saudara yang hebat antara dua turunan itu di medan perang Kuruksetra. Perang tersebut terkenal sebagai perang Bratayudha, yaitu perang antara kejahatan (pihak Kurawa) dengan kebaikan (pihak Pandawa). Akhirnya, Pandawalah yang menang.

Peradaban India memiliki pengaruh yang besar bagi bangsa Indonesia. Kebudayan India diterima oleh penduduk kepulauan Indonesia melalui proses perdagangan. Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia benar-benar barang baru, yang tidak mereka kenal sebelumnya, misalkan aksara Pallawa, agama Hindu dan Buddha, dan penghitungan angka tahun Saka. Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia terpacu dengan pesatnya, berkembang dan menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuna yang pada akhirnya pencapaian itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri.

Melalui aksara Pallawa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam kehidupannya. Terbitnya prasasti-prasasti dari kerajaan-karajaan kuna, penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya adalah berkat dikenalnya aksara Pallava. Bahkan di masa kemudian aksara Pallava itu kemudian "dinasionalisasikan" oleh berbagai etnis Indonesia, maka muncullah antara lain aksara Jawa Kuna, Bali Kuna, Sunda Kuna, Lampung, Batak, dan Bugis.

Setelah diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi turut berkembang pula. Hal yang dapat diamati secara nyata terjadi dalam bidang seni arca dan seni bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat adalah seni sastra. Banyak karya sastra dan susastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan Hindu atau Buddha. Juga diuraikan perihal ajaran agama yang dianyam dengan cerita-cerita yang melibatkan para ksatrya dan kerajaan-kerajaan atau kehidupan pertapaan.

Peradaban Lembah Sungai Indus

1. Lokasi

Sungai Indus atau Sindhu terletak di wilayah Pakistan. Sungai Indus memilki banyak anak sungai yang berasal dari wilayah Punjab di Pakistan Utara. Punjab artinya daearah aliran lima sungai. Sungai Indus mengalir melalui Pakistan dan menyebabkan tanah di negeri itu menjadi subur. Sungai tersebut bermuara di Laut Arab.

2. Pendukung

Berdasarkan peninggalan yang ada, dapat dinyatakan bahwa pendukung peradaban Sungai Indus adalah bangsa Dravida. Bangsa Dravida merupakan penduduk asli India dengan bercirikan hitam dan berambut keriting serta berhidung pesek. Sisa-sisa bangsa ini masih dapat ditemukan di Dataran Tinggi Dekan di India Selatan. Mereka meninggalkan daerah yang subur karena di desak bangsa Aria yang masuk ke India pada tahun 1500 SM.

3. Kebudayaan

Peradaban Lembah Sungai Indus ditemukan di dua tempat, yakni Harrapa (daerah hulu Punjab) dan Mahenjo Daro di daerah hilir sungai Indus. Dari penemuan-penemuan yang diperoleh dapatlah diketahui bahwa peradaban Lembah Sungai Indus telah tinggi. Beberapa penemuan hasil peradaban daerah tersebut adalah:
  • Kota Harappa dan Mahenjo Daro. Kota Harappa dan Mahenjo Daro merupakan kota kuno daerah Pakistan yang dibangun berdasarkan tata kota yang baik. Jalan-jalan di kedua kota tersebut dibuat lurus. Pembangunan kota juga memperhatikan arah angin muson (Barat Daya - Timur Laut), sehingga arus angin dalam kota lancar. Di kanan kiri jalan dibangun saluran air dalam tanah untuk menampung air dari rumah-rumah.
  • Bangunan Umum. Bangunan umum dalam kota di antaranya pasar yang menunjukkan bahwa perdagangan di kedua kota tersebut telah lancar, tempat pemujaan dewa atau kuil, dan bangunan lainnya diperkirakan berupa sebuah istana. Bangunan-bangunan tersebut terbuat dari batu bata. Rumah penduduk berhadapan di kanan kiri jalan.
  • Benda-Benda Purba. Benda-benda purba yang merupakan lempeng-lempeng tanah (terra cotta) berbentuk segi empat dan bergambarkan binatang seperti gajah, harimau, sapi, badak atau pohon-pohonan seperti beringin. Di bawahnya terdapat tulisan yang belum terbaca betul maksudnya, tetapi diperkirakan bahwa antara tulisan dan gambar ada hubungannya. Huruf-huruf itu disebut pietograph yang berarti tulisan gambar. Lempeng-lempeng tanah tersebut menunjukkan adanya kepercayaan menyembah binatang atau pohon-pohon dan benda-benda yang merupakan jimat. Peninggalan lain yang ditemukan berupa tembikar yang berbentuk periuk belanga, semacam piring dan cangkir dalam berbagai macam bentuk dan ukuran. Alat-alat pertanian yang ditemukan berupa cangkul dan kapak. Sedangkan, alat-alat perhiasan berupa kalung, gelang, ikat pinggang yang dibuat dari tembaga atau emas. Dari temuan yang ada dapat diketahui bahwa penduduk telah mengenal kebudayaan batu dan logam.
  • Akhir Peradaban. Pada tahun 1500 SM peradaban Lembah Sungai Indus mengalami keruntuhan. Hal ini disebabkan adanya bahaya banjir Sungai Indus dan adanya serangan bangsa Aria yang berasal dari Asia Tengah. Bangsa Dravida sebagai pendukung peradaban Lembah Sungai Indus terdesak ke daerah Dataran Tinggi Dekan yang kurang subur, sedangkan bangsa Aria menjadi penghuni baru Lembah Sungai Indus.

Peradaban Lembah Sungai Gangga

1. Lokasi

Lembah Sungai Gangga dengan anak sungainya Yamuna terletak antara Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Vindhya. Kedua sungai tersebut bermata air di Pegunungan Himalaya dan mengalir melalui kota-kota besar seperti Delhi, Agra, dan bermuara di wilayah Bangladesh ke Teluk Benggala. Sungai Gangga bertemu dengan Sungai Brahmaputra yang bermata air di Pegunungan Kwen Lun. Lembah Sungai Gangga merupakan daerah yang subur.

2. Pendukung

Pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Aria yang termasuk bangsa Indo Jerman. Bangsa Aria memasuki wilayah India kurang lebih tahun 1500 SM melalui Pas Kaiber di Pegunungan Hindu Kush. Merek berkulit putih, berbadan tinggi, dan berhidung mancung. Pencahariannya semula beternak, tetapi setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus yang subur dan menguasai daerah tersebut, mereka kemudian bercocok tanam dan menetap.

3. Masyarakat

Bangsa Aria berusaha untuk tidak campur dengan bangsa Dravida yang merupakan penduduk asli India. Mereka menyebut bangsa Dravida anasah, artinya tidak berhidung atau berhidung pesek dan dasa yang berarti raksasa. Untuk memelihara kemurnian keturunannya, diadakan sistem pelapisan (kasta) yang dikatakannya bersumber pada ajaran agama.

Bangsa Aria berhasil mengambil alih kekuasaan politik, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, dalam kebudayaan terjadi percampuran (asimilasi) antara Aria dan Dravida. Percampuran budaya itu melahirkan kebudayaan Weda. Kebudayaan inilah yang melahirkan agama dan kebudayaan Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang kemudian disebut Aryawarta (negeri orang Aria) atau Hindustan (tanah milik orang Hindu). Untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah kehidupan masyarakat, bangsa Arya berusaha menjaga kemurnian ras. Artinya, mereka melarang perkawinan campur dengan bangsa Dravida. Untuk itulah, bangsa Arya menciptakan sistem kasta dalam kemasyarakatan. Sistem kasta didasarkan pada kedudukan, hak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat.

Pembagian golongan atau tingkatan dalam masyarakat Hindu terdiri dari empat kasta atau caturwarna, yakni : Brahmana (pendeta), bertugas dalam kehidupan keagamaan; Ksatria (raja, bangsawan dan prajurit), berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara, Waisya (pedagang, petani, dan peternak), dan Sudra (pekerja-pekerja kasar dan budak). Kasta Brahmana, Kastria, Waisya terdiri dari orang-orang Aria. Kasta Sudra terdiri dari orang-orang Dravida. Selain keempat kasta di atas, ada lagi kasta Paria/Candala atau Panchama. Panchama yang berarti "kaum terbuang". Kasta ini dipandang hina, karena melakukan pekerjaan kotor, orang jahat dan tidak boleh disentuh, lebih-lebih bagi kaum Brahmana.

4. Agama Hindu

Agama dan kebudayaan Hindu lahir pertama kali di India sekitar tahun 1500 SM. Agama dan kebudayaan Hindu ini mengalami pertumbuhan pada zaman Weda. Kebudayaan Hindu merupakan perpaduan antara kebudayaan bangsa Aria dari Asia Tengah yang telah memasuki India dengan kebudayaan bangsa asli India (Dravida). Hasil percampuran itulah yang disebut agama Hindu atau Hinduisme. Daerah perkembangan pertamanya di lembah Sungai Gangga yang disebut Aryawarta (negeri orang Aria) dan Hindustan (tanah milik orang Hindu). Sejak berkembangnya kebudayaan Hindu di India maka lahir agama Hindu. Dari India, agama Hindu menyebar ke seluruh dunia dan banyak memengaruhi kebudayaan-kebudayaan di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut pendapat para ahli sejarah, berdasarkan temuan berbagai peninggalan sejarah, diyakini bahwa bekas kota Mahenjo-Daro (Larkana) dan Harappa (Punjab) di lembah Sungai Indus merupakan tempat timbul dan berkembangnya agama Hindu.

Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Arya (Indo-Jerman) ke India kira-kira tahun 1500 SM. Mereka datang melewati celah Kaiber. Celah tersebut terletak di pegunungan Hindu Kush, sebelah barat laut India. Itulah sebabnya celah Kaiber terkenal dengan sebutan "Pintu Gerbang India". Kemudian bangsa Arya mendesak bangsa Dravida dan Munda yang telah mendiami daerah tersebut.

Akhirnya bangsa Arya berhasil menempati daerah celah Kaiber yang sangat subur. Bangsa Dravida mendiami Dataran Tinggi Dekan (India Selatan). Bangsa Munda mendiami daerah-daerah pegunungan.

Pemeluk agama Hindu mengenal tiga dewa tertinggi yang disebut Trimurti, yakni Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pelindung), dan Syiwa (dewa perusak). Dewa-dewi lainnya antara lain: Agni (dewa api), Bayu (dewa angin), Surya (dewa matahari), Candra (dewa bulan), Indra (dewa perang), Saraswati (dewi pengetahuan dan seni), Lakshmi (dewi keberuntungan), dan Ganesha (dewa pengetahuan dan penolong). Sumber ajaran Hindu adalah kitab Weda, yang bermakna pengetahuan Hindu. Kitab-kitab penganut Hindu:
  • Kitab Weda. Terdiri dari 4 Samhita atau himpunan, yaitu: Reg Weda (merupakan kitab yang tertua), berisi puji-pujian kepada dewa, Sama Weda berisi nyanyian-nyanyian suci yang merupakan pujian pada waktu melaksanakan upacara, Yajur Weda berisi doa-doa yang diucapkan pada waktu upacara sesaji, dan Atharwa Weda, berisikan doa-doa bagi penyembuhan penyakit dan nyanyian sakti kaum brahmana.
  • Kitab Brahmana. Berisi penjelasan kitab Weda, yang disusun oleh para pendeta.
  • Kitab Upanishad. Berisi petunjuk-petunjuk, agar orang dapat melepaskan diri dari samsara, dan dapat mencapai moksa (kebahagiaan abadi).
  • Kitab yang berisikan cerita kepahlawanan: Mahabharata, karya Wiyasa berisikan cerita peperangan antara Pandawa melawan Kurawa. Keduanya masih keluarga seketurunan, yang memperebutkan tahta kerajaan Astina. Perebutan akhirnya dimenangkan oleh Pandawa, dan Ramayana, karya Walmiki menceritakan peperangan antara Rama dengan Rahwana. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Rama. Cerita Ramayana melambangkan kejujuran (dilambangkan Rama) melawan keangkaramurkaan (dilambangkan Rahwana).

Inti ajaran agama Hindu didasarkan pada karma, reinkarnasi dan moksa. Karma adalah perbutan baik buruk dari manusia ketika di dunia yang menentukan kehidupan berikutnya. Reinkarnasi ialah penjilmaan kembali kehidupan manusia sesuai dengan karmanya. Bila seseorang berbuat baik akan lahir kembali ke tingkat yang lebih tinggi; sebaliknya jika berbuat buruk mengakibatkan reinkarnasi ke tingkat yang lebih rendah, misalnya lahir sebagai hewan. Keadaan hidup-mati kembali merupakan persitiwa hidup yang menderita (samsara). Moksa ialah tingkat hidup tertinggi yang terlepas dari ikatan keduniawian atau terbebas dari reinkarnasi.

Agama Hindu mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta, yaitu Brahmana, terdiri dari golongan pendeta, bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan; Ksatria, terdiri dari golongan bangsawan dan prajurit, berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk mempertahankan negara; Waisya, bertugas untuk berdagang, bertani, dan beternak; Sudra, bertugas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, seperti budak dan pelayan.

Adanya sistem kasta (caturwarna) tersebut pada dasarnya merupakan pembagian tugas dan kelas dalam masyarakat Hindu yang didasarkan atas keturunan. Perkawinan antar kasta dilarang, terhadap yang melanggar dikeluarkan dari kasta (out cast) dan masuk dalam golongan atau kasta Paria.

5. Agama Buddha

Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta, putra raja Sudhodana dari Kerajaan Kosala. Sidharta berarti orang yang mencapai tujuannya. Ia juga disebut Buddha Gautama, berarti orang yang menerima bodhi (wahyu), orang yang telah mendapatkan penerangan. Ia juga disebut Jina artiya orang yang telah mencapai kemenangan atau Sakyamuni yang berarti orang yang bijaksana keturunan Sakya Gautama.

Ketika Sidarta Gautama berumur 29 tahun, mencoba mengelilingi desa-desa di sekitar istana. Sejak itulah ia menjumpai kenyataan yang belum pernah ia lihat selama hidupnya. Misalnya orang tua, jenazah yang diangkat dengan keranda, orang sakit, dan rahib (pendeta). Untuk pertama kalinya ia melihat tanda-tanda penderitaan. Misalnya usia tua, penyakit, dan kematian. Hal inilah yang membuat Siddarta merasa gelisah. Penderitaan di atas selalu menghantui pikirannya. Kemudian ia memutuskan untuk mencari jawaban apa hakikat hidup ini. Untuk mencari jawaban apa hakikat hidup ini, Sidarta Gautama pergi dari istana dengan menanggalkan semua kemewahan yang terdapat di tubuhnya, dan berganti pakaian sebagai rahib. Sekitar enam bulan, ia belajar hidup sebagai rahib seperti bertapa, berpuasa, dan hidup prihatin. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain.

Suatu ketika, Sidarta Gautama tiba di desa Gaya, dekat Bihar, Kapilawastu. Di bawah pohon, ia bersila untuk bertapa, yang kemudian memeroleh penerangan, yang berarti "menjadi paham tentang makna kehidupan". Peristiwa itu menandai Sidarta Gautama menjadi Buddha. Tempat Buddha memeroleh penerangan dinamakan Bodh Gaya. Pohon tempat ia bertapa dinamakan pohon bodhi.

Ada empat tempat yang dianggap suci oleh umat Buddha, karena berhubungan dengan kehidupan Sidharta:
  • Taman Lumbini, di Kapilawastu yang merupakan tempat kelahiran Sidharta (563 SM).
  • Bodh Gaya, sebagai tempat Sidharta menerima penerangan agung.
  • Benares (Taman Rusa), tempat Sang Buddha pertama kali mengajarkan ajarannya.
  • Kusinagara, tempat Sang Buddha wafat (482 SM).

Oleh Raja Ashoka, keempat tempat suci tersebut diberi tanda, yakni bunga saroja sebagai lambang kelahiran Buddha; pohon pippala atau bodhi sebagai lambang penerangan agung; jantera sebagai lambang memulai memberikan ajarannya, dan stupa sebagai lambang kematiannya. Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung dan kematiannya terjadi pada tanggal yang bersamaan, yaitu waktu bulan purnama pada bulan Mei. Ketiga peristiwa tersebut oleh umat Buddha dirayakan sebagai Waisak atau Tri Waisak.

Setelah mendapat "penerangan" atau "sinar terang" Sang Buddha Gautama memberikan "wejangan" (khotbah) yang pertama di Taman Rusa. Agama Buddha tidak mengenal pembagian kasta dan golongan masyarakat. Dalam agama Buddha diakui adanya karma, yaitu pembalasan atau ganjaran bagi manusia dalam hidupnya. Setiap orang yang beramal baik pada waktu hidup di dunia akan masuk nirwana.

Para pemeluk agama Buddha mempunyai ikrar yang disebut Tri Sarana atau Tri Dharma, artinya tiga tempat berlindung, yaitu:
  • Saya berlindung kepada Buddha
  • Saya berlindung kepada Dharma
  • Saya berlindung kepada Sanggha

Buddha, Dharma, dan Sanggha disebut Tri Ratna atau tiga mutiara. Sidarta Gautama mencapai nirwana yang sempurna, yang disebut Parinirwana. Ajaran agama Buddha dibukukan dalam kitab suci yang disebut Tripitaka. Tripitaka berarti "tiga keranjang" karena ditulis pada daun lontar yang tersimpan dalam keranjang.

Setelah seratus tahun Sang Buddha Gautama wafat, muncul bermacam-macam panafsiran terhadap hakekat ajaran Sang Buddha Gautama. Ajaran Agama Buddha kemudian terpecah menjadi dua aliran yaitu Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana:
  • Buddha Hinayana melambangkan ajaran Sang Buddha Gautama sebagai kereta kecil, yang bermakna sifat tertutup. Penganut aliran ini hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri. Menurut aliran ini yang berhak "menjadi Sanggha" adalah para biksu dan biksuni yang berada di wihara.
  • Buddha Mahayana melambangkan ajaran Sang Buddha sebagai kereta besar, yang bermakna sifat terbuka. Penganut aliran ini tidak hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain. Menurut aliran ini setiap orang berhak menjadi Sanggha Buddha, sejauh sanggup menjalankan ajaran dan petunjuk Sang Buddha.


Peradaban Mesir

Di wilayah Mesir terutama di sepanjang hilir sungai Nil sejak zaman prasejarah telah berkembangan suatu peradaban yang tinggi di dunia. Peradaban ini lahir di sekitar lembah Sungai Nil. Di sepanjang hilir Sungai Nil terdapat lembah yang subur, bentuknya memanjang dan sempit. Kesuburan lembah itu adalah akibat terjadinya banjir tahunan Sungai Nil. Setelah banjir surut terjadilah lapisan lumpur di lembah tersebut yang membuat tanah itu subur.

Di lembah sungai tersebut hidup suatu bangsa yang mata pencahariannya bertani dan berternak dengan bentuk pemerintahan dan adat keagamaan yang kesemuanya diatur oleh suatu golongan kaum pemimpin agama. Di samping hidup kegamaan yang maju, kekuasaan kaum pemimpin agama baik dalam bidang rohani maupun keduaniawian meningkat pula ilmu-ilmu pengetahuan timbul dari kalangan pemimpin agama itu, seperti astronomi maupun astrologi. Di sebelah barat dan timur lembah sungai Nil terbentang gurun pasir. Dua gurun pasir itu menjadi benteng bagi daerah subur itu dari bahaya serbuan bangsa-bangsa pengembara.

Masyarakat Mesir kuno pada umumnya hidup sebagai petani gandum, beras, dan jagung serta sebagian pedagang. Mereka sudah dapat mengembangkan ilmu alam (astronomi dan astrologi). Kepercayaan bangsa Mesir Kuno meliputi:
  • Totemisme, menganggap suci terhadap binatang tertentu, misalnya: sapi jantan, kucing dan buaya.
  • Polytheisme, percaya pada banyak dewa, dengan dewa tertingginya dewa Ra (dewa Matahari). Pada masyarakat mesir kuno terdapat kebiasaan mengawetkan mayat (mumi).

Di Mesir kuno terdapat pandangan hidup bahwa kehidupan di akhirat merupakan kelanjutan dari kehidupan di dunia, maka manusia harus mempersiapkan diri sebelumnya karena kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan di akhirat itu abadi dan dapat berlangsung selama jasad manusia dapat diabadikan dalam bentuk patung atau mumi. Oleh karena itu agar mumi atau patung tidak mudah rusak dan hidup abadi, maka harus disimpan si tempat yang terlindung dalam bangunan yang kuat dan kokoh. Maka timbulah seni bangunan yang terdiri dari piramid, mastaba dan makam lainnya yang kokoh. Bangsa Mesir kuno menjelang tahun 3000 SM sudah membangun piramida dan kuil yang berhiaskan gambaran, relief dan arca yang melukiskan riwayat para raja, madah pujaan agamawi, serta kejadian sehari-hari.

Dalam menjalankan pemerintahnya, Mesir diperintah oleh seorang raja. Di Mesir terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang disebut Nomen, kemudian diperintahkan oleh Menes dengan gelar Fir’aun atau Pharao yang kuasa mutlak. Pusat pemerintahannya antara lain di Memphis, Thebe, dan Akhenaton. Kerajaan Mesir Kuno diperkirakan berdiri sejak 3400 tahun sebelum Masehi. Rajanya disebut Fir’aun, yang mempunyai ‘kekuasaan mutlak, baik dalam hal pemerintahan maupun urusan agama. Fir’aun disamping sebagai Kepala Negara, juga sebagai Kepala Agama dan dipuja sebagai Dewa Yang Berkuasa. Dengan mempercayai kekuasaan Fir’aun sebagai dewa, masya-rakat Mesir kuno tidak berani membantah sedikit pun terhadap segala perintah raja.

Sampai akhir abad ke-18 sejarah Mesir Kuno belum terungkap, sebab tulisan-tulisan Mesir Kuno yang banyak tampak pada dinding-dinding kuil, piramida dan bangunan lainnya belum dapat dibaca oleh para ilmuwan. Pada abad ke-18 ketika Mesir dikuasai oleh pasukan Perancis, yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, ditemukan sebuah batu besar di tepi Sungai Rosetta yang memuat aksara Mesir Kuno didampingi aksara Yunani yang sudah dikenal di Eropa. Batu Rosetta merupakan kunci untuk membaca tulisan-tulisan Mesir kuno, setelah dipelajari dengan tekun selama lebih 20 tahun oleh seorang sarjana Perancis bernama Champollan, maka lambat laun mulailah terungkap rahasia yang selama puluhan abad terkandung dalam peninggalan-peninggalan kebudayaan Mesir kuno.

Hasil kebudayaan yang terdapat di Mesir antara lain:
  • Piramida. Piramida terdiri dari beberapa kamar di dalamnya sebagai tempat atau tanda kuburan yang dihiasi oleh berbagai lukisan dan relief yang mencerminkan kehidupan di akhirat. Bangunan ini didirikan pada saat raja yang bersangkutan masih hidup. Pada piramid terdapat relief menggambarkan asal dan perbuatan sang raja di dunia. Penutupan ruangan dikerjakan setelah upacara pemakaman.
  • Spinx Patung hewan-hewan mitologis yang berbadan singa dan bermuka manusia.
  • Mastaba Mastaba berbentuk seperti piramid terpotong bagian atasnya dengan tingginya kurang lebih lima meter dengan dua buah pintu asli dan dua buah pintu palsu. Jenazah berada di ruang bawah tanah dan ditutup dengan batu. Mastaba berfungsi sebagai tempat pemakaman para raja-raja yang merupakan bentuk awal piramida.
  • Kuil Kuil dibedakan dari dua jenis, yaitu kuil dewa dan kuil makam. Di dalam terdiri dari kamar pemujaan yang mengelilingi kamar dewa. Pada mulanya kedua kuil disatukan, kemudian dipisahkan agar tidak dicuri orang.
  • Makam Makam merupakan tempat kuburan para bangsawan di atas gunung karang terdiri dari serambi dan tiang-tiang yang berisi patung. Hiasan dan relief memprlihatkan upacara pemakaman dan amal baik jenazah serta perbuatan tercela yang dilakukannya.
  • Aksara. Peninggalan Mesir kuno yang besar pengaruhnya bagi kebu-dayaan dunia ialah aksara, yang disebut hieroglyph. Pada mulanya aksara itu berupa gam bargam bar. Lambat laun gambar-gambar itu mempunyai arti tertentu dan menjadi lambang.
  • Arca Patung-patung yang sengaja dibuat untuk disembah sebagai perwujudan dari kepercayaan orang-orang Mesir Kuno.
  • Obelisk Tugu-tugu ramping dan runcing menjulang tinggi ke angkasa sebagai pemujaan.

Peradaban Lembah Sungai Nil

Sejarah kebudayaan tertua di Benua Afrika dapat ditemukan di lembah sungai Nil. Peradaban Lembah Sungai Nil di Mesir, Afrika, lahir disebabkan kesuburan tanah di sekitar lembah sungai yang diakibatkan oleh banjir yang membawa lumpur. Hal inilah yang menarik dan mendorong perhatian manusia untuk membangun kehidupan dan peradaban. Sungai Nil terletak di negara Mesir sekarang.

Peradaban Lembah Sungai Nil disebut juga dengan sebutan peradaban Mesir Kuno. Kebesaran dan kejayaan peradaban ini masih dapat dilihat dari bangunan-bangunan bersejarah yang banyak terdapat di Mesir saat ini seperti Piramida, Sphinx, dan Obelisk. Mesir merupakan sebuah wilayah yang terletak di Afrika bagian Utara dan memiliki letak yang strategis karena berada di jalur pertemuan antara Asia, Eropa, dan Afrika. Sungai Nil yang mengalir di negara ini merupakan sungai terpanjang di dunia. Sungai ini mengalir dari Afrika tengah melewati Mesir dan bermuara di Laut Tengah. Sungai Nil bersumber dari mata air yang terletak di daratan tinggi Afrika Timur. Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yaitu mencapai 6400 kilometer. Sungai Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi (pegunungan) Kilimanjaro di Afrika Timur.

Ada empat negara yang dilewati Sungai Nil, yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia, dan Mesir. Herodotus menjuluki Mesir sebagai Hadiah dari Sungai Nil. Hal itu didasarkan dari fakta bahwa peradaban Mesir tumbuh dan berkembang karena kesuburan daerah-daerah di sekitar Sungai Nil. Setiap tahun, Sungai Nil selalu banjir yang membawa lumpur ke daratan Mesir. Banjir tersebut mengubah padang pasir yang gersang menjadi lembah-lembah yang subur. Lebar Lembah Sungai Nil itu berkisar antara 15-50 km. Pentingnya Sungai Nil bagi perkembangan Peradaban Mesir Kuno dapat dilihat dari kota-kota besar dan kuno Mesir seperti Kairo, Iskandaria, Abusir, dan Rosetta yang terletak di delta-delta muara Sungai Nil. Delta-Delta yang luas itu terletak di muara Sungai Nil dan tanahnya sangat subur. Sungai Nil yang besar dan panjang bukan hanya digunakan untuk sumber pertaniaan, tetapi juga dipakai untuk lalu lintas perdagangan dari dan keluar Mesir, serta jalur penghubung antara Laut Tengah dan daerah pedalaman.

1. Pemerintahan

Kerajaan-kerajaan yang berkembang di Mesir melewati beberapa tahap perkembangan, yaitu sebagai berikut:

a. Zaman Kerajaan Mesir Tua (3400-2160)

Diperkirakan 5000 SM, berbagai perkampungan kecil didirikan di sekitar Sungai Nil. Berabad-abad kemudian perkampungan itu berubah menjadi sebuah kerajaan yang disebut mones. Pada perkembangan selanjutnya mones berkembang menjadi dua kerajaan besar yaitu Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Raja-raja yang memerintah di Mesir selalu dipanggil dengan sebutan Firaun atau Pharaoh. Firaun berarti “Rumah Besar”. Firaun merupakan pusat kehidupan sosial, politik, dan kepercayaan bangsa Mesir Kuno.

Dia memiliki kekuasaan yang luas untuk mengatur seluruh bidang kehidupan masyarakat. Rakyat Mesir mempercayai bahwa Firaun adalah Dewa Horus anak dewa Osiris. Kemampuan Firaun untuk memobilisasi massa yang banyak dapat dilihat dari kemegahan piramida di Mesir yang jumlahnya sangat banyak. Pada masa Kerajaan Mesir Tua terdapat banyak raja yang memerintah di Mesir, antara lain sebagai berikut:
  • Menes. Menes merupakan pemimpin yang dapat mempersatukan Mesir Hulu dengan Mesir Hilir. Usahanya yang berhasil mempersatukan dua kerajaan itu menyebabkan dia mendapat julukan Nesutbiti (Raja bermahkota kembar). Kerajaan ini berpusat di Thinis.
  • Chufu, Chepren, dan Menkaure. Pada masa ketiga raja itu, muncul kebudayaan untuk mengawetkan mayat dengan cara dibalsem (Mumi). Upaya mengawetkan mayat itu didasarkan pada keyakinan bahwa orang akan hidup terus selama jasadnya masih utuh. Mumi tersebut dimakamkan di mastaba yang berupa makam yang berudak-undak yang disebut dengan piramida. Di hampir setiap piramida selalu terdapat patung berbentuk manusia berkepala singa yang disebut Sphinx.
  • Pepi I. Pada masa pemerintahan Pepi I, kerajaan Mesir memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Sudan (Nubia) dan Abessyiria.
  • Pepi II. Kekuataan Mesir melemah, sehingga Kerajaan Mesir yang beribu kota di Memphis mengalami disintegrasi dan berubah menjadi kerajaan yang kecil-kecil. Perpecahan di tubuh Kerajaan Mesir sebagian besar diakibatkan oleh perpecahan di antara kalangan bangsawan yang berdampak pada ketidakstabilan Mesir.

b. Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan (2160-1788 SM)

1) Sesotris III

Raja ini berhasil mempersatukan Mesir kembali dari perpecahan yang dialami pada masa Raja Pepi II. Selain berhasil mempersatukan Mesir, dia juga berhasil memperluas wilayah kekuasaan Mesir sampai ke Sudan, Palestina, dan ke daerah Sichem. Perekonomian rakyat Mesir semakin berkembang dan ramai disebabkan kemampuan raja itu untuk berhubungan dengan negara-negara sekitar Laut Tengah dan Laut Merah. Perdagangan yang ramai itu berdampak pada meningkatnya taraf kesejahteraan penduduk. Kestabilan di bidang ekonomi akan berdampak pada kestabilan di bidang politik, apalagi dengan berhasilnya Sesotris mempersatukan kerajaannya yang pecah.

Kita dapat memberikan kesimpulan bahwa firaun ini memiliki kekuatan politik dan tentara yang kuat sehingga mampu menstabilkan negara. Pada masa Sesotris III, raja-raja tidak dimakamkan di piramida, tetapi firaun-firaun dimakamkan di Gua Karang karena dirasakan tidak aman. Di dalam piramida, selain terdapat mayat-mayat para Firaun, juga disimpan kekayaan dari raja itu sebagai simbol kebesaran dan keagungan raja itu.

2) Amenemhet III.

Pada masa Raja Amenemhet III, perekonomian Mesir mengalami kemajuan yang pesat terutama dalam bidang pertanian. Bangsa Mesir mengandalkan Sungai Nil selain sebagai sarana transportasi, perdagangan, juga digunakan dan dimanfaatkan untuk pertanian. Sungai Nil yang selalu meluap sekali dalam setahun dimanfaatkan oleh para petani untuk menyuburkan lahan pertaniannya. Banjir Sungai Nil selalu membasahi padang pasir berkilo-kilo panjangnya. Para petani dengan dibantu para pendeta, selalu mempersiapkan tempat untuk menampung banjir dari Sungai Nil tersebut, sehingga ketika banjir telah surut, maka petani menggunakannya untuk ditanami dengan tanaman. Kemajuan dan kesuburan Mesir ternyata mengundang petaka, karena pada tahun 1750 SM, bangsa Hykos menyerang Mesir. Hal tersebut menyebabkan Kerajaan Mesir mengalami kemunduran. Bangsa Hykos berkuasa di Mesir, dan menjadikan Kota Awiris sebagai ibu kotanya. Dari Awiris ini Bangsa Hykos melancarkan serangan lagi ke beberapa daerah di Mesir, Palestina dan Syria.

Bangsa Hykos adalah bangsa yang berasal dari Jazirah Arab, mereka adalah bangsa nonmaden yang terus berkelana untuk mencari daerah subur. Kedatangan bangsa Hykos ke Mesir menyebabkan terjadinya tukar-menukar kebudayaan. Hykos seperti bangsa-bangsa yang lain menyerap kebudayaan Mesir, sementara bangsa Mesir berhasil juga menyerap kebudayaan bangsa Hykos yaitu keterampilam untuk membuat alat-alat pertanian dan senjata yang terbuat dari perunggu. Peralatan tersebut menyebabkan Mesir pada zaman Mesir baru menjadi kerajaan yang semakin kuat dan pertanian mereka menjadi semakin maju dengan teknologi yang baru tersebut.

c. Zaman Kerajaan Mesir Baru (1500-1100 SM)

Kerajaan Mesir yang dikuasai oleh bangsa Hykos sejak 1750 SM, mencoba berkonsolidasi untuk mengusir bangsa Hykos. Bangsa Mesir di bawah Kerajaan Thebe menyerang bangsa Hykos di ibu kotanya yaitu Awiris, dan Hykos berhasil dikalahkan. Dengan demikian, sejak itu ibu kota Awiris dikuasai oleh raja-raja Thebe, dan mendirikan Kerajaan Mesir Baru. Raja-raja yang memerintah pada masa ini antara lain sebagai berikut:
  • Ahmosis I. Ahmosis adalah Firaun yang berasal dari kerajaan Thebe yang memimpin langsung serangan ke Kerajaan Hykos. Dia berhasil mengusir bangsa Hykos dan membangun peradaban baru bangsa Mesir di ibu kota Awiris.
  • Thutmosis I. Thutmosis I adalah firaun yang berhasil melakukan perluasan kekuasaan mesir ke daerah Asia Barat.
  • Thutmosis III (1500-1447 SM). Pada masa kerajaan Mesir di bawah pimpinan Firaun Thutmosis II, maka sikap ekspansionis melekat pada raja itu. Mesir menyerang negara-negara Babylonia, Assyria, Cicilia, Cyprus, dan lain-lain.
  • Amenhotep II (1447-1430 SM). Mempertahankan kerajaan Mesir yang memiliki wilayah yang luas.
  • Thutmosis IV. Berusaha mmpertahankan kekuasaan Mesir dengan melakukan beberapa tindakan politik yaitu: menjalin persahabatan dengan raja Babilonia, menjalin hubungan dengan Firaun Mitanni, dan melakukan perkawinan politik antara Thutmosis IV dengan Putri Firaun Artatama.
  • Amenhotep IV. Pada masa pemerintahannya, terjadi revolusi di bidang kepercayaan dan keyakinan, karena Firaun yang satu ini menentang ajaran Politheisme untuk menyembah Amon, dan dia mengajarkan ajaran monotheisme. Kebijakan Firaun tersebut menyebabkan terjadinya pertentangan antara golongan pendeta dengan pihak kerajaan. Untuk menghindari konflik itu, maka ibu kota kerajaan dipindahkan dari Thebe ke Al-Amarna.
  • Tut-ankh-Amon. Pada masa pemerintahannya, golongan pendeta sangat berkuasa, dan kekuasaan Firaun pun dirongrong oleh para pendeta Amon di Thebe. Krisis kepemimpinan dan politik tersebut mengakibatkan Mesir mengalami kemunduran dan perpecahan kembali, Mesir terpecah menjadi kerjaan-kerajaan kecil yang saling berperang.
  • Ramses I. Pada masa pemerintahannya, Mesir melakukan ekspansi ke daerah Palestina, dan berhasil menguasai seluruh daerah Palestina serta mengalahkan bangsa Hittit di Asia Barat.
  • Ramses II. Pada masa pemerintahannya, bangsa Yahudi yang bermigrasi ke Mesir mendapat perlakuan yang kejam. Dia menindas dan memperlakukan bangsa Israil sebagai budak. Mereka dipaksa untuk membangun gedung-gedung serta piramida yang megah. Firaun ini mendirikan sebuah kuil yang diberi nama Ramsessum. Makam firaun ini terletak di Abu simbel.
  • Ramses III. Pada masa pemerintahannya Mesir mengalami kemunduran dan dapat dikuasai oleh bangsa-bangsa Asing seperti Libia, Abbessyiria, dan Assyria. Masa Ramses II diperkirakan sezaman dengan kehidupan Nabi Musa. Mesir ditaklukkan Assyria pada tahun 670 SM dan pada tahun 525 SM Mesir menjadi bagian Imperium Persia. Setelah Persia, Mesir dikuasai oleh Iskandar Zulkarnaen dan para penggantinya dari Yunani dengan dinasti terakhir Ptolemeus. Salah satu keturunan Dinasti Ptolemeus ialah Ratu Cleopatra dan sejak tahun 27 SM Mesir menjadi wilayah Romawi.

Bangsa-bangsa yang pernah menyerbu ke daerah Mesir Kuno antara lain:
  • Bangsa Nubia (selatan Mesir);
  • Bangsa Eropa, yang menguasai Mesir dari 1750 SM - 1580 SM;
  • Bangsa Assyria, pada tahun 670 SM berhasil merebut kota Memphis dan Thebe;
  • Bangsa Persia, yang merebut Mesir (525 SM - 404 SM);
  • Alexander Agung dari Macedonia, yang menguasai Mesir pada tahun 332 - 323 SM; dan
  • Bangsa Romawi, yang menguasai Mesir dari mulai Ptolemeus sampai Cleopatra (44-30 SM).

2. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Bangsa Mesir terkenal memiliki teknologi dan kebudayaan yang tinggi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai bangunan raksasa yang terdapat di Mesir. Selain itu, bangsa Mesir terkenal dengan berbagai penemuannya sebagai berikut:
  • Kemampuan untuk membuat alat-alat rumah tangga, senjata, dan peralatan hidup lainnya dari tanah liat dan logam.
  • Sistem penanggalan kalender yang sudah berdasarkan perhitungan perputaran bumi mengitari matahari. Sistem kalender yang seperti itu membagi 1 tahun menjadi 12 bulan dan satu bulan terdiri atas 30 hari. Peredaran bulan selama 29 2 1 hari. Karena dianggap kurang tetap, kemudian mereka menetapkan kalender berdasarkan kemunculan bintang anjing (Sirius) yang muncul setiap tahun. Mereka menghitung satu tahun adalah 12 bulan, satu bulan 30 hari, dan lamanya setahun adalah 365 hari, yaitu 12 ×30 hari lalu ditambahkan 5 hari. Mereka juga mengenal tahun kabisat. Penghitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan sekarang yang disebut Tahun Syamsiah (sistem solar).
  • Kemampuan membuat perhiasan dari logam mulia dan gading.
  • Masyarakat Mesir mengenal bentuk tulisan yang disebut hieroglyph berbentuk gambar. Tulisan Hieroglyph ditemukan di dinding piramida, tugu obelisk, maupun daun papirus. Huruf Hieroglyph terdiri atas gambar dan lambang berbentuk manusia, hewan, dan benda-benda. Setiap lambang memiliki makna. Tulisan Hieroglyph berkembang menjadi lebih sederhana kemudian dikenal dengan tulisan hieratik dan demotis. Tulisan hieratik atau tulisan suci dipergunakan oleh para pendeta. Demotis adalah tulisan rakyat yang dipergunakan untuk urusan keduniawian misalnya jual beli.

3. Seni Bangunan

Piramida di Mesir

Gambar: Piramida di Mesir

Seni bangunan di Mesir antara lain:
  • Piramida. Piramida adalah tempat yang digunakan untuk makam raja-raja Mesir yang terbuat dari batu yang disusun secara rapi dan menggunakan model punden berundak-undak. Di Kota Gizeh terdapat piramida yang berukuran tinggi 137 meter.
  • Sphinx. Sphinx adalah patung manusia berkepala singa.
  • Obelisk. Obelisk adalah tiang batu yang ujungnya runcing sebagai lambang pemujaan kepada roh. Obelisk juga dipakai sebagai tempat mencatat kejadian-kejadian
  • Kuil. Untuk pemujaan terhadap dewa Amon-Ra, dibangunlah Kuil Karnak yang sangat indah pada masa Raja Thutmosis III.

4. Sistem Kepercayaan

Masyarakat Mesir Kuno menyembah beberapa dewa (politheisme) yaitu sebagai berikut:
  • Dewa matahari yang disebut Amon (Mesir Selatan) dan Ra (Mesir Utara). Namun pada perkembangannya dewa matahari itu disebut Amon-Ra.
  • Dewa peradilan di akhirat yaitu Dewa Osiris.
  • Dewa Sungai Nil, yaitu Dewi Horus yang merupakan dewa kecantikan (Dewi Isis).
  • Dewa Anubis, yaitu dewa kematian.
  • Dewa Aris sebagai dewa kesuburan.

Masyarakat Mesir Kuno sudah mempercayai tentang kehidupan sesudah mati. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya mumi. Di balik mumi terkandung kepercayaan bangsa Mesir Kuno tentang kehidupan setelah mati. Masyarakat Mesir Kuno berkeyakinan bahwa selama jasadnya masih utuh, maka dia akan tetap hidup. Oleh karena itu, masyarakat berusaha untuk mengawetkan mayat agar dia tetap hidup abadi. Alasan masyarakat membuat mumi adalah bahwa manusia tidak dapat menghindar dari kehendak dewa maut. Tetapi tidak semua masyarakat Mesir mayatnya diawetkan, biasanya mereka yang yang diawetkan adalah para bangsawan dan raja.

Mayat-mayat yang diawetkan itu disimpan di dalam piramida. Wujud kepercayaan yang berkembang di Mesir didasarkan pada pemahaman sebagai berikut:
  • Penyembahan terhadap dewa berangkat dari ide/gagasan bahwa manusia tidak berdaya dalam menaklukkan alam.
  • Dewa yang disembah adalah dewa/dewi yang menakutkan seperti Dewa Anubis atau yang memberi sumber kehidupan. Dengan taat menyembah pada dewa, masyarakat Lembah Sungai Nil mengharap jangan menjadi sasaran maut.

5. Masyarakat

Masyarakat Mesir Kuno terdiri atas beberapa lapisan masyarakat. Lapisan pertama terdiri atas para bangsawan, raja, dan pendeta mempunyai hak-hak istimewa. Golongan kedua yaitu masyarakat kelas menengah yang umumnya terdiri atas pedagang kaya dan pemilik tanah, dan lapisan ketiga terdiri atas rakyat biasa, yaitu para petani dan buruh serta budak. Dengan demikian, sebutan Mesir merupakan berkah Sungai Nil tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh rakyat Mesir, karena rakyat kecil kekayaannya banyak habis untuk membayar pajak.

Lembah Sungai Nil yang subur mendorong masyarakat untuk bertani. Air Sungai Nil dimanfaatkan untuk irigasi dengan membangun saluran air, terusan-terusan, dan waduk. Air sungai dialirkan ke ladang-ladang milik penduduk dengan distribusi yang merata. Untuk keperluan irigasi, dibuatlah organisasi pengairan yang biasanya diketuai oleh para tuan tanah atau golongan feodal. Hasil pertanian Mesir yaitu gandum, sekoi atau jamawut, dan jelai yaitu padi-padian yang biji atau buahnya keras seperti jagung.


Peradaban Mesopotamia

Mesopotamia berasal dari kata mesos=tengah dan potamas = sungai. Mesopotamia artinya daerah yang terletak di antara dua sungai, yakni Euprat dan Tigris. Sumber air kedua sungai itu dari Pegunungan Armenia (Turki), mengalir ke arah tenggara menuju Teluk Persia.

Mesopotamia merupakan pengertian dari daerah atau tanah yang terletak di antara sungai-sungai. Mesopotamia disebut juga bulan sabit yang subur karena wilayahnya menyerupai bulan sabit yang daerahnya terletak di lembah sungai Eufrat dan Tigris. Daerah Mesopotamia terletak di utara sungai Eufrat dan Tigris. Sumber air kedua sungai itu terdapat di lereng pegunungan Armenia, yaitu di Perbatasan antara Irak dan Rusia. Lumpur endapan bertumpuk-tumpuk pada muaranya dan muncullah dataran rendah baru. Di sekitar muaranya terdapat rawarawa penuh dengan tumbuhan semak belukar dan dihuni oleh aneka jenis burung liar. Makin ke arah pedalaman, alamnya makin kering. Banjir-banjir di Mesopotamia tidak dapat diramalkan waktunya seperti pada sungai Nil di Mesir. Luapannya datang secara mendadak, dengan demikian tidak dapat dibuat perhitungan-perhitungan. Ada delapan bangsa yang pernah bermukim di Mesopotamia diantaranya yaitu, bangsa Sumeria, Akkadia, Assyria-Babylonia, Chaldea-Babylonia baru, Persia, Guti, Karssita dan Medes.

Peradaban Mesopotamia disebut sebagai peradaban tinggi karena di Mesopotamia telah mengenal bahasa dan tulisan, tulisan yang dikembangkan menggunakan huruf paku. Tulisan dibuat bukan di atas kertas seperti di Mesir (papirus), tetapi dengan jalan menekan tanah liat (soft clay) oleh alat sederhana yang disebut a square tipped (ujung bambu persegi). Di Mesopotamia berkembang seni bangunan yang disebut Ziggurat (menara bata-bata).

Di bawah ini adalah peta letak dari peradaban Mesopotamia:
  • Sumeria Pusat pemerintahan bangsa Sumeria di UR. Kepercayaan bangsa Sumeria bersifat Polytheisme, pemujaannya dipusatkan di kota Nippur. Kebudayaan bangsa Sumeria mempunyai nilai yang tinggi, antara lain: mengenal tulisan paku, mengenal sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan dan matahari, mengenal sistem hitungan yang didasarkan pada jumlah enam, dan dapat membuat pakaian, perhiasan, tongkat dan cermin dari tembaga mata pencahariannya: bertani, beternak, dan berdagangPeradaban bangsa Sumeria mengalami keruntuhan karena serangan dari bangsa Akkadia yang dipimpin oleh Sargon.
  • Babylonia Lama Bangsa Babylonia masih keturunan Amori yaitu orang semit dari gurun Siria dan Arabia. Mereka merupakan bangsa pengembara. 1850 SM bangsa Babylonia mulai mendirikan kerajaannya, dan mencapai kebesaran pada masa Raja Hammurabi. Pusat pemerintahannya di Babilon. Kepercayaannya masih bersifat politheisme dengan dewa Marduk sebagai dewa tertingginya. Kebudayaan bangsa Babylonia lama antara lain: menciptakan undang-undang tertulis yang dipahatkan pada tugu batu, mengenal ilmu pengetahuan Matematika, dan mengenal ilmu Astronomi.
  • Assiria Bangsa Assiria menempati daerah hulu sungai Tigris, ibu kota kerajaan di Niniveh. Pemerintahannya bersifat militer, senang berperang. Bangsa Assiria di bawah pimpinan Assur Nashirpal II melaksanakan ekspansi ke Babylonia lama. Bangsa Assiria mencapai kebesaran pada masa Raja Assurbanipal. Kebudayaan yang dihasilkan bangsa Assiria antara lain: mendirikan perpustakaan yang bukunya terdiri dari lempengan-lempengan tanah liat yang telah ditulisi, mengenal sistem astronomi, mengenal ilmu Astrologi, mengenal sistem perhitungan tahun (satu tahun 365 ¼ hari), dan menyempurnakan tulisan huruf paku.
  • Babylonia Baru Bangsa Babylonia baru mencapai kebesaran pada masa pemerintahan Nebukadnezar, wilayahnya meliputi Mesopotamia, Babylonia, Arab, dan Palestina. Kebudayaan yang dihasilkan bangsa Babylonia Baru antara lain: membangun jembatan, membuat tamantaman bergantung, membuat menara Babylon, dan mengenal ilmu Astronomi.
  • Persia Kerajaan Persia ibukotanya Persepolis, di bawah pemerintahan Cyrus Persia berhasil mengalahkan Babylonia sehingga meliputi Mesopotamia, Mesir, dan Abesinia. Persia mencapai kebesarannya pada masa pemerintahan Darius Agung. Usaha yang dilakukannya: melakukan ekspansi ke Yunani, tetapi mengalami kegagalan, mmembagi wilayahnya dalam satrapi-satrapi, membangun jalan dari Susa sampai Sardes, dan menyederhanakan huruf paku
  • Palestina Bangsa Ibrani berasal dari daerah Mesopotamia, mereka mengembara sampai ke Mesir. Pada masa Ramses II mereka ditindas di Mesir. Akhirnya di bawah pimpinan Nabi Musa mereka pindah ke daerah Kanaan di Palestina, kemudian mereka membangun kerajaan, raja-raja yang terkenal: Saul, Daud, dan Sulaiman atau Salomo. Kepercayaan mereka monotheisme yaitu menyembah Tuhan dengan sebutan Yahwe atau Yehowah. Hasil peradaban bangsa Ibrani yang terkenal antara lain kitab Mazmur dan Masjidil Aqsha.
  • Funisia Bangsa Funisia menempati pantai timur Laut Tengah, mereka hidup sebagai pelaut. Pada masa kejayaannya, mereka berhasil mendirikan koloni di Kartago. Hasil kebudayaannya antara lain kepandaian membuat kapal dan gelas. Kepercayaan mereka bersifat polytheisme dengan dewa tertingginya Boal dan Moloch.

Peta Daerah Mesopotamia

Gambar: Peta Daerah Mesopotamia

Daerah-daerah yang terletak di sepanjang Sungai Eufrat dan Tigris, merupakan daerah yang subur. Karena bentuknya seperti bulan sabit, maka daerahnya disebut The Fertille Crescent Moon.

Penduduk Mesopotamia termasuk bangsa Semit. Kehidupannya bersifat seminomadik. Mereka hidup dari beternak dan berdagang. Namun setelah mendapat tanah-tanah yang subur, mereka mulai hidup dari pertanian. Kira-kira tahun 3000 SM, daerah Mesopotamia didiami oleh bangsa Semit:
  • Ilmu pengetahuan bidang arsitektur ziggurat, bangunan perkotaan. Bangsa Sumeria telah membangun kota dengan tata kota yang rapi dan tiap bangunan menggunakan model Zigurat. Selain itu, bangsa Sumeria sangat terampil dalam pengolahan logam untuk dibuat peralatan pembuatan senjata. Bangsa Sumeria telah mengenal ilmu hitung, lingkaran 360 derajat, dan bangunan dari tanah liat yang dikeringkan dengan panas matahari. Bangsa Assyria pada masa Ashru Bhanifal telah membuat perpustakaan tertua di dunia. Dibangunnya perpustakaan merupakan suatu ciri kepedulian seorang pemimpin akan pentingnya ilmu pengetahuan. Begitu juga Bangsa Khaldea pada masa kerajaan Babylonia Baru berhasil membangun taman Gantung yang merupakan salah satu keajaiban dunia.
  • Sumber tulisan. Huruf yang digunakan yaitu berupa Cuneiform writing/Pytograph 250 jenis (tulisan huruf paku).
  • Sistem kalender. Orang-orang Sumeria sudah mengenal sistem penanggalan dan pembagian waktu. Pengetahuan tentang waktu sangat mereka butuhkan untuk kepentingan perdagangan dan pertanian, sehingga mereka akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menanam dan berdagang. Pembagian waktu yang telah mereka lakukan adalah membagi satu hari menjadi 24 jam, satu bulan terdiri atas 30 hari, dan satu tahun terdiri dari 12 bulan sama dengan 354 hari.

Daerah ini juga merupakan lalu lintas perdagangan yang strategis antara Laut Tengah dan Sungai Shindu. Dengan demikian aktivitas perdagangan di Mesopotamia sangat ramai. Begitu pula sistem pertanian dijalankan dengan baik dan sudah terdapat irigasi yang teratur, hasil utamanya yaitu gandum dan kapas.

Pemerintahan di Mesopotamia berbentuk negara kota. Raja merangkap sebagai kepala negara. Kronologis bangsa-bangsa yang mendiami Mesopotamia sampai dengan tahun 323 SM yaitu sebagai berikut:
  • Bangsa Ubaidian 5000 – 4500 SM
  • Bangsa Sumeria I 3800 – 3200 SM
  • Bangsa Jamdet Nasr 3200 – 3000 SM
  • Bangsa Akkadia 2900 – 2250 SM
  • Bangsa Sumeria II 2250 – 2200 SM
  • Bangsa Guti 2200 – 2100 SM
  • Bangsa Amolia (Babilonia I) 1850 – 1600 SM
  • Bangsa Hittit 1600 – 1300 SM
  • Bangsa Asyria 1300 – 612 SM
  • Bangsa Khaldea (Babilonia II) 612 – 500 SM
  • Bangsa Persia 500 – 326 SM
  • Bangsa Yunani (Alexander the Great) 326 – 323 SM

Pada masa ini diberlakukan undang-undang yang dikenal dengan sebutan Undang-Undang Hammurabi (Codex Hammurabi).

Peradaban Mesopotamia pada akhirnya beralih kepada Islam setelah jatuhnya Persia ke tangan kaum muslim Arab. Menurut Lothrop Stoddard, akan terbentuk dunia baru yaitu dunia Islam. Ada tiga faktor yang mendukung terciptanya dunia baru Islam, di antaranya sebagai berikut:
  • Situasi umum di kawasan Asia Barat Daya ada dua negara besar yang bertikai, yaitu Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dan Kesultanan Persia (Dinasti Sasanid). Kedua negara besar tersebut memperebutkan wilayah Levannt dan Bulan Sabit. Karena pertikaian tersebut dua rakyat menjadi korban politik sehingga menyebabkan kerajaan masing-masing menjadi lemah.
  • Dekadensi (kemunduran) dalam masalah keagamaan. Banyak agama yang banyak disimpan patung-patung berhala. Hal tersebut menyebabkan menyimpang dan muncul kembali pemujaan terhadap berhala. Di Ka’bah masyarakat pada umumnya kehilangan pegangan.
  • Hakikat dari agama Islam itu sendiri.


Peradaban Romawi

Peradaban Romawi terletak di negara Italia sekarang yaitu sebuah negara yang menjulur ke Laut Tengah. Peradaban romawi berada pada suatu jazirah, yaitu Jazirah Apenia. Jazirah ini seperti sebuah kaki yang sedang menyepak bola, bolanya adalah pulau Sisilia. Di lembah sungai Tiber berdiam bangsa lain. Lembah itu merupakan daerah subur yang terletak di antara tujuh buah bukit. Diperkirakan kota Roma didirikan pada tahun 750 SM. Roma adalah sebuah negara kota berbentuk republik. Warga Roma dibagi dua golongan:
  • Golongan warga tertua yang menjadi penduduk Roma disebut golongan Patrisia. Mereka memegang kekuasaan dalam pemerintahan kota.
  • Golongan warga Roma pendatang disebut golongan Plebea.

Bangsa Romawi kuno percaya kepada banyak dewa (polytheisme). Penyembahan kepada dewa-dewa berlangsung seperti penyembahan dewa-dewa Yunani, hanya namanya diganti, misalnya Zeus jadi Yupiter, Aphrodite menjadi Venus, Aries menjadi Mars, Poseidon menjadi Neptunus, dan lain-lain.

Kehidupan bangsa Romawi dari hasil pertanian. Tanahnya berupa pegunungan Aeonia, daerah dataran rendah yang sempit yang terletak di sepanjang sungai. Pada abad 8 SM dikuasai bangsa Estruka dan terjadi percampuran darah dengan bangsa pendatang tersebut. Para pendatang ini lalu mendirikan polis-polis, di antaranya yang terkenal adalah Roma. Peradaban Romawi di bedakan menjadi tiga zaman, yaitu:

1. Zaman Kerajaan

Pemerintahan dipegang oleh seorang raja yang mempunyai kekuasaan absolut. Raja merangkap sebagai panglima perang, hakim tertinggi, dan kepala agama. Raja bersama-sama senat membentuk undang-undang. Senat beranggotakan 300 orang yang terdiri atas kaum bangsawan dan rakyat biasa.

2. Zaman Republik

Pemerintahan dipegang oleh seorang konsul yang berasal dari golongan bangsawan untuk masa jabatan dua tahun. Ada empat orang anggota dewan yang mempunyai hak veto yang disebut Tribune plebis, kelompok ini dapat membatalkan keputusan. Urusan agama dipegang oleh badan tingkat pusat yang disebut Pontifex maximus.

Republik Roma meluaskan wilayahnya ke seluruh kawasan Italia, Yunani, dan Asia Kecil. Daerah Galia (Prancis) menjadi wilayahnya juga, akan tetapi lautnya masih dikuasai oleh orang-orang Funisia yang berkedudukan di Karthago. Hal ini menimbulkan pertentangan antara Romawi dengan Funisia. Perang pertama terjadi pada tahun 264–241 SM, Karthago dapat dikalahkan. Perang kedua terjadi pada tahun 218–201 SM. Karthago di bawah pimpinan Hanibal berhasil menduduki Italia Selatan. Tetapi pada tahun 146 SM Karthago dapat dihancurkan pasukan Romawi di bawah pimpinan Scipio Africanus. Dengan demikian, wilayah Romawi sangat luas yang meliputi seluruh daerah di sekitar Laut Tengah, Spanyol, Prancis, Inggris Selatan, Eropa Barat dan Tenggara, Asia Kecil, Timur Tengah, Arab, Mesir, dan Afrika Utara.

3. Zaman Kekaisaran

Perebutan kekuasaan antara senat dengan panglima perang sering terjadi. Pada tahun 44 SM kekuasaan jatuh ke tangan tiga serangkai, yaitu Pompeyus, Crasus, dan Julius Caesar. Mereka terkenal dengan sebutan Triumvirat I. Mereka berhasil mengatasi keadaan, tetapi setelah Julius Caesar terbunuh, muncul lagi kekacauan. Pada tahun 43 SM muncul Triumvirat II, yaitu Anthonius, Lepidus, dan Octavianus. Triumvirat II berhasil merebut kekuasaan. Daerahnya dibagibagi; Anthonius mendapat Asia Kecil dan Mesir, Lepidus mendapat Afrika Utara, dan Octavianus mendapat Yunani hingga Spanyol. Karena saling curiga, timbul perpecahan. Dalam perang saudara ini Octavianus muncul sebagai pemenang. Sejak itu Romawi berubah menjadi kekaisaran.

Selain menjabat sebagai kaisar, Octavianus merangkap sebagai panglima tertinggi dan kepala agama. Ia dianggap sebagai keturunan dewa sehingga diberi gelar Augustus yang artinya yang amat mulia. Kaisar-kaisar penggantinya, yaitu Vespasianus, Handrianus, Anthonius, Markus Aurelius. Pada masa kaisar Konstantinus ibu kota Romawi dipindahkan ke Byzantium yang kemudian disebut Konstantinopel. Untuk menghindari perpecahan pada tahun 395 M, kaisar Theodosius membagi Romawi menjadi dua, yaitu Romawi Barat ibu kotanya di Roma dan Romawi Timur ibu kotanya di Konstantinopel.


Peradaban Yunani

Yunani terletak di ujung selatan jazirah Balkan yang menjorok ke Laut Tengah. Bentuknya menyerupai jari-jari tangan yang dijulurkan ke Laut Tengah, hal ini disebabkan tanah tersebut terdiri atas ujung-ujung tanah yang menjulur ke laut dan teluk di antaranya yang menjorok ke darat. Suku bangsa Yunani terdiri atas suku bangsa Doria, Aeolia, Acholia, dan Ionia. Di antara keempat suku bangsa ini, bangsa Ionia yang paling maju. Dari nama Ionia inilah lahir nama Yunani.

Peradaban Yunani lahir di lingkungan geografis yang sebenarnya tidak mendukung. Tanah Yunani tidak seperti Mesopotamia, Huang Ho, ataupun Mesir yang subur. Yunan merupakan tanah yang kering, dengan banyak benteng alam yang kuat berupa jurang-jurang yang terjal, gunung-gunung yang tinggi, serta pantai-pantai yang curam dan terjal. Hujan sangat jarang turun di Yunani. Namun karena terletak di daerah Laut Tengah, maka iklim mediterania yang sejuk sangat mendominasi wilayah Yunani. Masyarakat Yunani bisa menanam tanaman khas Laut Tengah seperti zaitun dan anggur.

Secara umum perkembangan Yunani dapat dibagi menjadi 4 periode, yaitu sebagai berikut:
  • Fase pembentukan negara-negara kota (Polis) yang berlangsung antara 1000-800 SM.
  • Fase ekspansi negara-negara kota atau fase kolonisasi polis-polis Yunani. Ekspansi polis-polis Yunani ke arah barat sampai ke Italia Selatan, sedangkan ke arah Timur sampai ke Asia Kecil (Troya)
  • Masa kejayaan polis-polis Yunani (600-400SM)
  • Masa Keruntuhan Yunani (400-300 SM), tetapi kebudayaan Yunani berkembang di luar daerah Yunani itu sendiri.

Menurut ahli anthropolog, bangsa Yunani berasal dari bangsa Indo-Jerman. Nenek moyang bangsa Yunani yaitu bangsa Ionia, Helen, Akea, dan Yonia. Bangsa Yunani terdiri atas beberapa suku, yaitu suku Epirot, Ionia, Goria, Spharta. Masyarakat Yunani umumnya bermata pencaharian sebagai pedagang dan bertani.

Di bawah ini merupakan polis-polis yang hidup pada Zaman Yunani Kuno antara lain sebagai berikut:

1. Athena

Athena merupakan Polis yang menerapkan sistem Demokrasi. Sistem itu diperkenalkan oleh Solon (638 SM-559 SM). Dengan sistem itu, kekuasaan berada di tangan dewan rakyat. Pelaksanaan pemerintahan dilakukan oleh sembilan orang Archon yang setiap tahun diganti. Para Archon diawasi oleh Aeropagus (Mahkamah Agung) yang para anggotanya berasal dari mantan anggota Archon. Athena banyak menghasilkan para filosof yang pemikirannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia hingga dewasa ini. Para Filosof itu antara lain sebagai berikut:
  • Tahles. Dia terkenal sebagai ahli matematika dan astronomi. Thales dikenal dengan perhitungannya tentang gerhana, menghitung ketinggian piramida dan menghitung bayangannya. Selain itu Thales berpendapat bahwa bumi ini berasal dari air.
  • Anaximander. Dia berpendapat bahwa segala apa yang ada di dunia ini berasal dari bahan tunggal yang bukan air. Selain itu, Anaximander berpendapat bahwa bumi itu seperti silinder yang mempunyai ukuran lebih kecil daripada matahari.
  • Anaximenes. Dia berpendapat bahwa bahan pembentuk alam adalah udara.
  • Pytagoras. Dia terkenal sebagai ahli matematika, dia percaya bahwa segala sesuatu itu pada aturannya menurut bilangan tertentu. Sehubungan dengan hal itu, Pytagoras berpendapat bahwa melalui pengetahuan tentang bilangan, kita akan memahami tentang kenyataan.
  • Heraclitus. Dia adalah seorang filosof mengembangkan pemikiran tentang logika.
  • Parmenindes. Filosof ini mengemukakan pentingnya logika dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
  • Hippocartus. Dia adalah seorang filosof yang ahli dalam bidang kedokteran.
  • Socrates. Filosof ini mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa manusia dan lingkungannya merupakan subjek untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran.
  • Plato. Filosof ini berpendapat bahwa orang bisa berperilaku baik jika ia telah mempunyai persepsi perilaku apa yang disebut baik dan jahat. Plato juga berpendapat bahwa sumber kekuasaan adalah pengetahuan
  • Aristoteles. Filosof ini mengembangkan ajaran tentang politik dan etika.

Menurut Aritoteles, pada dasarnya setiap manusia memiliki hak yang sama yang harus diakui. Kebahagian menurut Aristoteles adalah terpenuhinya semua kebutuhan kita. Di bidang logika, Aristoteles mengembangkan silogisme.

Lahirnya tradisi intelektual dari bangsa Yunani disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini:
  • Faktor Geografis dari Yunani bergunung-gunung dan tidak subur. Hal ini memacu para penduduknya untuk berpikir dan berkreasi agar mampu bertahan hidup.
  • Orang Yunani membangun hubungan dengan bangsa-bangsa lain seperti Mesir, Babylonia, dan yang lainnya, sehingga terjadi tukar-menukar pengetahuan
  • Penduduk Yunani memiliki hak otonomi kemerdekaan dan kemakmuran di bidang ekonomi, sehingga mereka lebih berkonsentrasi untuk menumbuhkembangkan pengetahuan.
  • Bangsa Yunani menghargai logika dan cara berpikir yang rasional.
  • Bangsa Yunani selalu terlibat aktif dalam urusan politik, ekonomi, dan sosial. Hal itu membuat mereka selalu berusaha untuk mencari pemecahan dalam setiap masalah yang muncul.

2. Spartha

Pemerintahan Spartha didasari oleh pemerintahan yang bergaya militeristik. Pola ini diperkenalkan oleh Lycurgus tahun 625 SM. Pemerintahan dipegang oleh dua orang raja, sementara pelaksana tertinggi dipegang oleh suatu dewan yang bernama Ephor yang terdiri dari lima orang. Setiap Ephor memiliki dewan tua yang berusia lebih dari 60 tahun, yang bertugas untuk mempersiapkan UU yang diajukan kepada dewan rakyat (perwakilan dari semua warga kota). Para pemuda yang terseleksi secara fisik dan mental, dijadikan tentara.

Keberadaan polis-polis di Yunani mengakibatkan mereka saling bersaing dalam memperebutkan hegemoni kekuasaan atas wilayah Yunani. Sehingga tidaklah mengherankan apabila di Yunani selalu terjadi peperangan di antara sesama polis-polis tersebut. Tetapi, datang tentara Persia yang akan menginvasi daerah Yunani, maka polis-polis yang ada di Yunani terutama Spharta dan Athena, bersatu untuk menghadapi Persia tersebut. Pertempuran antara Yunani dan Persia terjadi beberapa kali:
  • Perang Persia Yunani I (492 SM). Peperangan antara Yunani dan Persia tidak terjadi karena armada tempur Persia dihancurkan oleh badai dan terpaksa harus pulang kembali.
  • Perang Persia Yunani II (490 SM). Pertempuran terjadi di Marathon, pertempuran itu berhasil dimenangkan oleh bangsa Yunani. Para prajurit Yunani harus lari sepanjang 42 km antara Marathon dan Athena dalam rangka berkonsolidasi dan meminta bantuan.
  • Perang Yunani dan Persia III. Bangsa Persia datang kembali, dan pasukan Yunani menghadapinya di Termopile. Persia dapat dipukul mundur, namun Raja Spartha terbunuh dalam pertempuran itu.

Setelah peperangan antara Yunani dan Persia reda, maka muncullah politik koalisi militer yaitu Persatuan Peloponessos (Spartha dan beberapa polis lainnya) serta Persatuan Delosatika (Athena dan polis lainnya). Koalisi militer ini pada akhirnya saling berperang untuk memperebutkan hegemoni (Perang Peloponessos). Pertempuran demi pertempuran mengakibatkan polis-polis Yunani itu mengalami kelemahan, dan situasi itu dimanfaatkan oleh raja Macedonia yaitu Alexander Agung untuk menyerang. Akhirnya Alexander Agung berhasil menguasai Yunani. Namun, setelah Alexander wafat, wilayahnya terpecah-pecah menjadi beberapa didopos yaitu Yunani, Syria, dan Mesir.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: