Jenis Jenis Sejarah


Kehidupan manusia memiliki aspek budaya, ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Selain itu, ruang lingkup kehidupan manusia bisa dalam bentuk ruang lingkup yang kecil hingga ruang lingkup yang besar. Ruang lingkup yang kecil misalnya keluarga, sedangkan ruang lingkup yang besar misalnya masyarakat.

Aspek kehidupan dan ruang lingkup manusia dapat menjadi tema-tema penelitian sejarah. Tema-tema tersebut dapat menjadi jenis-jenis sejarah yang dapat ditulis oleh peneliti. Jenis sejarah yang bisa ditulis adalah sejarah keluarga, sejarah politik, sejarah militer, sejarah ekonomi, sejarah sosial, sejarah intelektual, sejarah pendidikan, sejarah kebudayaan, sejarah teknologi, sejarah etnis, sejarah dunia, sejarah nasional Indonesia, dan sejarah lokal.

1. Sejarah Keluarga

Sejarah keluarga menarik untuk ditulis menjadi suatu karya sejarah. Dalam penulisannya sudah barang tentu harus menjadi suatu karya ilmiah. Bukanlah suatu cerita yang bersifat narasi belaka. Agar tulisan itu menarik, maka seorang penulis sejarah terlebih dahulu memahami batasan keluarga. Secara sosilogis keluarga merupakan ikatan terkecil dari bentuk masyarakat. Dalam keluarga terdapat sekumpulan individu-individu. Individu-individu yang ada dalam keluarga minimal ayah, ibu, dan anak.

Sebagaimana telah dikemukakan, keluarga adalah ruang lingkup terkecil dari suatu masyarakat. Dalam keluarga terdapat individu-individu yang saling berinteraksi. Interaksi yang dilakukan oleh mereka menunjukkan berbagi perilaku yang beragam. Perilaku-perilaku individu tersebut dapat menjadi kajian bidang ilmu sosial khususnya seperti antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, dan lain-lain. Secara mikro, keluarga merupakan suatu bangunan struktur. Struktur dalam penelitian sejarah dapat dilihat sebagai sesuatu yang berubah. Dengan demikian, penulisan sejarah keluarga dapat dilihat dari berbagai pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dalam menulis sejarah keluarga tergantung pada batasan ilmu yang digunakan. Sebagaimana telah dikemukakan, keluarga secara sosilogis adalah sebuah bentuk terkecil dari masyarakat yang dapat membentuk suatu struktur. Sebagai suatu struktur, maka keluarga dapat membangun suatu perubahan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Misalnya kita akan menulis sejarah asal usul suatu daerah, maka kita dapat melihat asal-usul keluarga yang berpengaruh pada daerah tersebut. Misalnya di Tasikmalaya Jawa Barat, asal usul kota tersebut bisa dilihat dari keluarga bupati keturunan Wiradadaha. Sebagian besar Bupati yang memerintah di Tasikmalaya berasal dari keluarga Wiradadaha.

Selain pendekatan sosilogis, penulisan sejarah keluarga bisa dilihat pula dari pendekatan antropologi. Dalam pendekatan ini, biasanya lebih mementingkan aspek budaya. Misalnya kita menulis sejarah keluarga dengan cara melihat nilai-nilai apa yang yang ditanamkan oleh keluarga tersebut. Sebuah keluarga yang berasal dari lingkungan santri sudah barang tentu akan berbeda dengan yang bukan dari kalangan santri, dalam hal nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga. Aspek budaya ini dapat kita kaji dari segi perilaku. Misalnya kita ingin melihat peran politik yang dimainkan oleh keluarga tersebut. Kalau keluarga yang berasal dari kalangan santri mungkin dalam peran politik yang dilakukan lebih banyak diwarnai oleh nilai-nilai keagamaan. Dengan demikian, pendekatan antropologi dan politik dapat dilakukan dalam penulisan sejarah keluarga. Pendekatan ekonomi pun dapat dilakukan dalam menulis sejarah keluarga.

Keluarga dalam konteks ini bisa dilihat sebagai unit ekonomi. Dalam sebuah keluarga, terdapat hubungan individu-individu yang membentuk suatu jaringan. Jaringan yang dibangun dapat menjadi suatu jaringan ekonomi. Bahkan jaringan tersebut dapat meluas, dari suatu ruang lingkup keluarga kecil menjadi ruang lingkup keluarga yang besar. Bahkan jaringan ini membentuk suatu daerah. Misalnya dalam sebuah kampung pengrajin terdapat ikatan-ikatan keluarga di antara sesama pengrajin. Sejarah ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari perilaku ekonomi yang ditanamkan dalam keluarga. Pengkajian seperti ini akan menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa perekonomian tumbuh dengan baik pada daerah tersebut.

2. Sejarah Politik

Salah satu bagian dari perilaku manusia adalah kekuasaan. Kajian tentang kekuasaan merupakan fokus utama dalam sejarah politik. Dalam pendekatan yang konvensional, sejarah politik biasanya dikaitkan dengan sejarah "orang-orang besar". Orang-orang ini biasanya berkuasa dalam sebuah kerajaan atau negara. Orang-orang tersebut misalnya raja atau penguasa.

Kalau kita menulis sejarah Perang Dunia II sebagai sejarah politik, maka kita akan menampilkan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai "orang-orang besar". Tokoh-tokoh tersebut misalnya Hitler, Kaisar Hirohito, dan Musolini. Kita akan mendeskripsikan bahwa tindakan tokoh-tokoh tersebut sangat menentukan perubahan dunia. Perang tidak mungkin terjadi kalau tokoh-tokoh tersebut tidak menghendakinya. Pada tangan-tangan kekuasaan merekalah, dunia terjerumus dalam Perang Dunia II.

Dalam penulisan sejarah yang lama, kita sering menemukan sejarah politik, misalnya jatuh bangun dan pergantian pada dinasti-dinasti lama. Pergantian dinasti lebih dilihat sebagai ulah atau perilaku dari rajanya sendiri. Penulisan sejarah pada periode kerajaan-kerajaan Hindu atau Islam misalnya, menunjukkan bagaimana peran sentral para raja dalam menentukan kebijakan negerinya.

Penulisan sejarah politik yang kontemporer misalnya penulisan tentang peran parlemen. Sejarah Indonesia pada masa demokrasi liberal bisa ditulis dengan penulisan sejarah politik. Pada masa demokrasi liberal, Indonesia mengalami jatuh bangunnya parlemen akibat adanya mosi tidak percaya. Kita yang menulis sejarah tersebut harus bisa melihat dari aspek politik, mengapa pada masa itu parlemen sering jatuh. Untuk menjawabnya kita bisa melihat dari undang-undang yang berlaku saat itu, partai-partai politik yang terlibat, ideologi, dan misi dari masing-masing partai politik, program-program dari masing-masing kabinet, dan aspek-aspek politik lainnya.

3. Sejarah Militer

Dalam banyak catatan sejarah dunia, perang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perilaku manusia. Kajian tentang perang merupakan bagian penting dari sejarah militer. Dalam sejarah militer, bisa dikaji strategi yang digunakan, kekuatan pasukan yang berperang, dan senjata yang digunakan. Penulisan sejarah militer sesungguhnya tidak hanya melihat aspek politik dari militer itu sendiri. Perang dapat pula menjadi budaya pada suatu masyarakat tertentu. Dengan pemahaman seperti ini, maka dalam menulis sejarah militer bisa dilihat dari aspek budaya.

Dalam sejarah Indonesia, sejarah militer merupakan tema yang cukup banyak untuk ditulis. Misalnya periode kedatangan VOC. Kegiatan VOC ketika berada di Indonesia tidak lepas dari peperangan. Sebagai kongsi dagang, VOC memiliki kewenangan untuk memerangi lawan-lawannya. Bagaimana VOC dengan cara berperang mampu menguasai dan menjajah Indonesia. Dari sejarah militer tentang VOC, kita bisa dengan mudah mengetahui bagaimana awalnya penjajahan Barat di Indonesia. Mengapa VOC yang berasal dari negeri yang cukup jauh dan dapat menguasai wilayah Indonesia yang sangat luas?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita harus memperhatikan teknologi dan strategi perang yang dimiliki oleh VOC. VOC memiliki kapal-kapal yang cukup besar yang dilengkapi dengan persenjataan yang cukup maju pada saat itu. Teknologi pelayaran dan perang yang dimiliki oleh VOC jauh lebih maju dibandingkan dengan teknologi yang dimiliki orang pribumi. Perdagangan yang dilakukan oleh VOC adalah perdagangan sambil berperang. Dengan cara seperti ini, VOC mampu menguasai wilayah lautan di Nusantara pada saat itu dan menjajah Indonesia.

Dalam mempelajari sejarah perang, perhatian kita bukan hanya pada persenjataan saja. Perang dapat berhasil harus didukung oleh faktor-faktor lainnya seperti dukungan logistik. Contoh hal ini bisa kita lihat dalam perang antara Mataram dengan VOC. Sultan Agung sebagai raja Mataram mengirimkan pasukannya ke Batavia (Jakarta). Dalam melakukan perang dengan VOC, Mataram ternyata mengalami kekalahan. VOC berhasil membakar gudang persediaan makanan pasukan Mataram di daerah Krawang. Dengan cara seperti ini, bantuan logistik pasukan Mataram menjadi lemah.

Pada masa penjajahan Belanda selama periode berikutnya, peperangan banyak terjadi, seperti perlawanan-perlawanan di beberapa daerah terhadap Belanda. Perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada saat itu dilakukan dengan cara berperang. Beberapa perang yang terjadi seperti Perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Paderi, Perang Banjarmasin, Perang Puputan di Bali, dan beberapa perang lainnya. Di antara perang-perang tersebut, yang memakan waktu lama adalah Perang Aceh, bahkan pasukan Belanda pun banyak yang meninggal. Salah satu faktor yang menjadi penyebab kegigihan rakyat Aceh dalam berperang melawan Belanda adalah ideologi yang begitu kuat tertanam dalam diri orang-orang Aceh. Ideologi yang dipegangnya adalah ideologi perang sabil. Dalam ideologi ini perang adalah jalan untuk mencapai kemuliaan agama (Islam). Dengan contoh pada perang Aceh ini, maka sejarah perang harus pula menampilkan adanya ideologi yang dimiliki oleh pasukan yang berperang. Kekuatan perang ternyata bukan hanya terletak pada kekuatan teknologi persenjataan yang dimilikinya, tetapi juga ideologi yang dianut oleh pasukan yang berperang.

4. Sejarah Ekonomi

Secara sederhana ekonomi dapat didefinisikan sebagai kegiatan manusia yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka manusia melakukan berbagai aktivitas. Aktivitas manusia tersebut misalnya produksi, penjualan, pembelian, penawaran, dan permintaan barang-barang, penggunaan sumber-sumber ekonomi, dan lain-lain. Aktivitas-aktivitas tersebut akan menyebabkan adanya hubungan di antara sesama individu, baik dalam ruang lingkup yang kecil maupun yang besar. Aktivitas ekonomi manusia menjadi kajian penting dalam penulisan sejarah ekonomi.

Ruang lingkup penulisan sejarah ekonomi bisa dalam skala yang lebih mikro maupun makro. Ruang lingkup yang lebih mikro, misalnya kita menulis sejarah ekonomi pedesaan. Hal-hal yang bisa kita kaji dari sejarah ekonomi pedesaan, yaitu bagaimana kegiatan sehari-hari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya: apakah mereka berdagang, bagaimana cara berdagang yang mereka lakukan; apakah mereka bertani, bagaimana cara bertani yang mereka lakukan; berapa pendapatan yang mereka peroleh; apakah dari pendapatan yang mereka peroleh itu dapat menyejahterakan hidupnya; dan masih banyak faktor-faktor lainnya. Dalam penulisan sejarah ekonomi pedesaan, kajian kita yang terpenting ialah bagaimana perkembangan ekonomi masyarakat pedesaan dalam suatu periode tertentu? Apakah perkembangan ekonomi itu mengarah pada kesejahteraan atau kemiskinan? Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab tumbuhnya perekonomian masyarakat pedesaan tersebut? Apakah pertumbuhan itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah? Apakah disebabkan oleh kreativitas masyarakat pedesaan sendiri?

Kajian sejarah ekonomi bisa dalam bentuk aktivitas sekelompok masyarakat, seperti kelompok masyarakat pedesaan, dapat pula kajian terhadap lembaga-lembaga ekonomi. Misalnya perkembangan ekonomi suatu perusahaan. Dalam menulis sejarah ekonomi perusahaan, kita bisa mengkaji bagaimana perkembangan ekonomi perusahaan tersebut dalam suatu periode jangka waktu tertentu? Apakah mengalami suatu kemajuan atau keuntungan? apakah mengalami kemunduran atau kerugian? Faktor-faktor apakah yang menjadi penyebab kemunduran atau kemajuan dari ekonomi perusahaan tersebut? Apakah disebabkan oleh faktor internal atau oleh faktor eksternal perusahaan tersebut?

Dalam skala yang lebih makro atau lebih luas, kajian sejarah ekonomi bisa dalam ruang lingkup yang lebih luas misalnya skala nasional. Sejarah ekonomi Indonesia pada zaman kolonial memiliki kajian yang cukup banyak. Periode yang cukup penting bagi penulisan sejarah ekonomi Indonesia pada masa kolonial yaitu pada masa Tanam Paksa dan masa berlakunya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Pada zaman Tanam Paksa penulisan sejarah ekonomi dapat mengkaji hal-hal seperti jenis-jenis tanaman apa yang diwajibkan untuk ditanam, bagaimana pemerintah kolonial membuka lahan-lahan perkebunan, bagaimana pengelolaan Tanam Paksa yang bisa menguntungkan pemerintah kolonial secara ekonomi, bagaimana keuntungan yang diperoleh pemerintah kolonial dari Tanam Paksa, bagaimana kehidupan ekonomi kaum pribumi dengan adanya Tanam Paksa.

5. Sejarah Sosial

Sebagaimana telah dibahas bahwa masyarakat pada dasarnya merupakan kumpulan individu-individu yang membangun suatu struktur. Struktur secara sosiologis dapat berubah. Ada yang berubah karena interaksi dari dalam dan ada pula yang berubah karena adanya interaksi dari luar. Perubahan struktur inilah yang merupakan kajian penting dalam sejarah sosial. Sehingga sejarah sosial dapat pula disebut sebagai sejarah masyarakat atau sejarah struktur.

Pada mulanya, sejarah sosial lahir sebagai respon terhadap penulisan sejarah yang konvensional. Sejarah konvensional yang dimaksud adalah sejarah yang hanya menekankan orang-orang besar saja seperti para raja atau penguasa. Penulisan sejarah yang konvensional memberikan kesan seolah-olah sejarah adalah milik orang-orang besar saja. Respon terhadap sejarah konvensional tersebut kemudian melahirkan sejarah “orang-orang kecil”. Orang-orang kecil yang dimaksud seperti petani, buruh, rakyat kecil, dan kelompok-kelompok marginal lainnya. Dalam hal ini, peran-peran yang dilakukan oleh orang-orang kecil harus menjadi kajian sejarah. Kajian inilah yang pertama kali menjadi fokus penulisan sejarah sosial.

Kehidupan buruh di perkebunan pada zaman penjajahan merupakan salah satu tema yang dapat dijadikan penulisan sejarah sosial. Buruh dapat dilihat sebagai suatu masyarakat yang terstruktur. Bahkan kehidupan di perkebunan menunjukkan adanya suatu struktur masyarakat, ada pemilik perkebunan sebagai penguasa, pejabat perkebunan, dan buruh. Kajian yang bisa kita lakukan dengan sejarah buruh di perkebunan yaitu bagaimana latar belakang lahirnya kaum buruh di perkebunan, bagaimana kehidupan sehari-hari kaum buruh, bagaimana hubungan antara buruh dengan pejabat dan pemilik perkebunan, bagaimana kebijakan pemilik perkebunan atau pemerintah terhadap kesejahteraan kaum buruh, bagaimana reaksi kaum buruh terhadap kebijakan pemilik perkebunan atau pemerintah, apakah ada gejolak dalam kehidupan kaum buruh, faktor apakah yang menjadi penyebab terjadinya gejolak tersebut, dan faktor-faktor lainnya

6. Sejarah Intelektual

Fokus utama sejarah intelektual adalah bagaimana lahirnya pemikiran-pemikiran manusia. Pemikiran-pemikiran yang dikaji dalam sejarah intelektual adalah pemikiran yang memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia, baik dalam ruang lingkup yang kecil maupun ruang lingkup yang besar. Hasil pemikiran manusia dapat berupa filsafat atau ilmu pengetahuan. Apabila filsafat yang dikaji, maka akan melahirkan sejarah filsafat, misalnya aliran-aliran filsafat yang berkembang di Yunani. Hal ini menjadi kajian sejarah yang menarik karena pemikiran filsafat Yunani memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perubahan dunia.

Sejarah intelektual bisa dikaji dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Misalnya perkembangan ilmu pengetahuan di Barat. Untuk melihat bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, maka harus dilacak ke belakang, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Islam. Orang-orang Barat pada masa itu banyak mempelajari pemikiran-pemikiran dari para cendikiawan muslim, seperti ilmu kedokteran dari Ibnu Sina, sehingga di Barat nama Ibnu Sina dikenal dengan sebutan Avicena. Kajian tentang perkembangan ilmu pengetahuan di Barat dapat merupakan tema dalam sejarah intelektual.

Sejarah intelektual di Indonesia dapat kita kaji. Kita dapat mengkaji beberapa pemikiran tentang tokoh-tokoh. Bagaimana kita mengkaji pemikiran-pemikiran para tokoh pejuang Indonesia, kita dapat mulai mempelajarinya dari latar belakang pendidikannya. Kebanyakan dari tokoh-tokoh pejuang Indonesia berlatar belakang pendidikan Barat (Belanda). Walaupun mereka belajar dari pemikiran-pemikiran Barat, tetapi dalam prakteknya para tokoh tersebut mencoba menyesuaikan dengan kondisi objektif masyarakat di Indonesia. Misalnya gagasan tentang ekonomi kerakyatan menurut Mohammad Hatta, gagasan marhaenisme menurut Soekarno, gagasan nasionalisme manurut Ki Hajar Dewantara, gagasan tentang negara menurut Mohammad Natsir, gagasan sosialisme menurut HOS Cokroaminoto. Gagasan-gagasan dari para tokoh pemimpin Indonesia ini penting kita pelajari, karena gagasan-gagasan mereka cukup berpengaruh dalam perubahan sosial politik di Indonesia. Marhaenisme Soekarno pada dasarnya merupakan bentuk sosialisme yang ditafsirkan dengan kondisi nyata bangsa Indonesia. Nasionalismenya Ki Hajar Dewantara adalah nasionalisme yang berakar dari kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa. Gagasan nasionalismenya kemudian ia terapkan pada sistem persekolahan yang didirikannya, yaitu Sekolah Taman Siswa. Sekolah ini memberikan peran sejarah yang cukup penting dan sampai sekarang sekolah ini masih tetap ada. Sosialisme Cokroaminoto merupakan bentuk reaksi terhadap komunisme yang waktu itu masuk ke dalam tubuh Syarekat Islam. Gagasan nasionalisme Cokroaminoto berakar dari nilai-nilai agama Islam. Ekonomi kerakyatan yang dimaksud oleh Mohammad Hatta dan cocok dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia adalah koperasi, karena dalam diri bangsa Indonesia terdapat nilai kekeluargaan yang merupakan ciri dari koperasi.

7. Sejarah Pendidikan

Sejarah pendidikan merupakan uraian tentang proses perkembangan pendidikan di suatu daerah. Secara umum pendidikan dibedakan atas tingkat dasar, menengah, dan tinggi. Dari suatu tingkat pendidikan setempat dapatlah diketahui sudah maju tidaknya masyarakat setempat. Proses perkembangan pendidikan di Indonesia, salah satunya dapat dilihat dari pendidikan pada masa kolonial Belanda sampai pada masa RI. Dari sejarah pendidikan dapat diketahui bahwa pendidikan yang diberikan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia bertujuan untuk memperoleh tenaga kerja yang murah, sedangkan Republik Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, belum didirikan universitas, yang ada hanyalah sekolah tinggi. Setelah Indonesia merdeka, jumlah sekolah atau lembaga pendidikan tinggi di Indonesia terus meningkat,

Di negara-negara Eropa (dan Amerika) perhatian kepada sejarah pendidikan mulai ada sejak abad ke-19 dan digunakan untuk bermacam-macam tujuan, terutama untuk membangkitkan kesadaran bangsa dan kesatuan kebudayaan, pengembangan profesi guru-guru, atau untuk kebanggaan terhadap lembaga-lembaga dan tipe-tipe pendidikan tertentu.

Substansi dan tekanan dalam sejarah pendidikan bermacam-macam tergantung kepada maksud dan kajian, mulai tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistem pendidikan beserta komponen-komponennya, sampai kepada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi, dan gerakan-gerakan sosial.

Esensi dari pendidikan itu sendiri sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan), teknologi, ide-ide dan nilai-nilai spiritual (serta estetika) dari generasi tua kepada generasi muda dalam setiap masyarakat atau bangsa. Oleh sebab itu, sejarah pendidikan mempunyai sejarah yang sama tuanya dengan masyarakat pelakunya sendiri, sejak dari pendidikan informal dalam keluarga batih, sampai dengan pendidikan formal dan non formal dalam masyarakat agraris maupun industri.

8. Sejarah Kebudayaan

Sejarah kebudayaan merupakan sejarah tentang kebudayaan. Dengan kebudayaan, kebutuhan fisik manusia dapat tercukupi. Hal itu dapat diwujudkan karena manusia mempunyai akal dan budi sehingga berbeda dengan hewan yang hidupnya sekadar naluriah dan alamiah. Apabila kebutuhan pokok (basic needs) sudah terpenuhi, manusia mulai ingin menikmati kebutuhan psikisnya dengan menikmati hasil budaya, di antaranya kesenian. Timbullah sejarah kesenian seperti seni suara, seni tari, seni ukir.

Ruang lingkup sejarah kebudayaan sangat luas. Semua bentuk manifestasi keberadaan manusia berupa bukti atau saksi seperti artefact (fakta benda), mentifact (fakta mental-kejiwaan), dan sociofact (fakta atau hubungan sosial) termasuk dalam kebudayaan. Semua perwujudan berupa struktur dan proses kegiatan manusia menurut dimensi etis dan estetis adalah kebudayaan. Sejarah kebudayaan adalah sejarah yang membahas hasil-hasil budaya manusia, dari masa lampau sampai sekarang.

9. Sejarah Teknologi

Sejarah teknologi menggambarkan bagaimana manusia menciptakan cara atau alat-alat agar apa yang dikehendaki mudah diperoleh. Ditinjau dari cara membuat sesuatu, pada mulanya manusia menggunakan tangan. Demi kebutuhan yang terus meningkat, dipergunakan mesin yang dapat bekerja lebih cepat dan efektif. Teknologi yang dipergunakan terus meningkat secara cepat. Semula ditemukan sumber tenaga berupa uap kemudian berkembang pada bentuk gas dan akhirnya atom. Industri pun berkembang cepat sehingga timbul revolusi industri.

Kemajuan teknologi yang sekarang dinilai menakjubkan adalah kemajuan dalam bidang biologi berupa kloning dan elektronik berupa komputer dan telekomunikasi.

10. Sejarah Etnis

Sejarah Etnis (Ethno history) mulai digunakan secara umum oleh para pakar anthropologi, arkeologi dan sejarawan sendiri sejak tahun 1940-an. Semula jenis sejarah ini mengkaji kelompok-kelompok etnis Indian di Amerika Serikat. Kemudian berkembang untuk penelitian sejarah penduduk pribumi bukan Eropa seperti di Asia, Afrika dan Australia (Aboriegin). Para sejarawan Etnis mencoba merekonstruksi sejarah dari kelompok-kelompok Etnis sejak sebelum kedatangan bangsa Eropa sampai dengan interaksi mereka dengan orang-orang Eropa.

Sumber-sumber yang mereka gunakan selain dari bahan-bahan etnografi yang pernah ditulis tentang kelompok etnis itu, juga dari tradisi-tradisi lisan (oral traditional) yang masih bertahan di antara kelompok etnis tersebut. Ruang lingkup kajiannya meliputi aspek-aspek sosial, kebudayaan, ekonomi, kepercayaan dari masyarakat, intra-aksi dalam lingkungan kelompok, sistem kekerabatan, migrasi, perubahan-perubahan sosial, termasuk dampak interaksi dengan orang-orang Eropa.

11. Sejarah Dunia

Sejarah Dunia telah kita ketahui bahwa perkembangan dunia dewasa ini sangat pesat sehingga sukar bagi seseorang untuk mengikuti secara terus menerus. Di antara kejadian-kejadian itu terdapat peristiwa-peristiwa penting dan kurang penting. Peristiwa-peristiwa yang dianggap penting kemudian dicatat sebagai kejadian yang bersejarah dan secara cepat tersiar ke seluruh dunia. Di samping itu, seringkali peristiwa-peristiwa yang terjadi pada suatu negara erat kaitannya dengan peristiwa yang terjadi pada belahan bumi yang lain.

Untuk itulah mempelajari sejarah dunia, juga penting artinya untuk memahami sejarah nasional suatu bangsa. Sebagai contoh kedatangan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tidak lepas dari pendudukan Perancis (Napoleon Bonaparte) terhadap negeri Belanda di Eropa.

12. Sejarah Nasional Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia, pengertian tentang Sejarah Indonesia sebenarnya baru terdapat sejak tahun 1942. Sebelum itu pengajaran sejarah di Indonesia masih menggunakan Sejarah Hindia Belanda. Materi Sejarah Hindia tentu saja lebih banyak berorientasi pada kepentingan politik penjajah yang banyak menceritakan sejarah bangsa Belanda di Indonesia sejak tahun 1600. Tahun-tahun sebelumnya dianggap oleh Belanda sebagai suatu pendahuluan singkat dari cerita Belanda di Indonesia.

Dengan runtuhnya pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1942, pengajaran sejarah di Indonesia mengalami masa baru. Hampir semua buku atau diktat yang diterbitkan pada masa itu menggunakan istilah Sejarah Indonesia, Sejarah Tanah Air, Sejarah Kebangsaan, Sejarah Nasional, Sejarah Nusantara, dan lain sebagainya. Dalam perubahan ini yang terpenting adalah perubahan pembabakan waktu atau periodisasi, misalnya, terdapat istilah Zaman Penjajahan VOC (1602-1799), Zaman Kemerdekaan, dan Iain-lain.

Para penyusun sejarah Indonesia berlomba-lomba agar materi sejarah yang disajikannya akan sanggup menempa pembacanya menjadi warga negara yang memiliki sifat kebangsaan. Itu semua dilukiskan dengan adanya penggambaran perjuangan yang patriotik dari bangsa Indonesia terhadap usaha-usaha bangsa lain untuk merongrong kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian, pengajaran sejarah Indonesia oleh guru-guru sejarah menjadi sangat penting.

13. Sejarah Lokal

Sejarah lokal mengandung pengertian suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau dan hanya terjadi di suatu daerah atau tempat tertentu yang tidak menyebar ke daerah lain di Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang muncul hanyalah dari daerah tertentu dan memuat masalah-masalah yang ada di daerah tertentu itu juga, misalnya, sejarah lokal tentang kampung Minahasa, sejarah suku Toraja, masyarakat Nias, atau suku Dayak di Kalimantan. Dalam sejarah lokal muncul tokoh-tokoh lokal yang memperjuangkan wilayahnya, misalnya, perjuangan Imam Bonjol dari Sumatra Barat, perjuangan Teuku Umar dari Aceh, perjuangan Pangeran Diponegoro dari Jawa (Yogyakarta), dan pahlawan-pahlawan lain dari berbagai daerah di Nusantara.

Sejarah lokal merupakan sejarah yang penting, namun sering kali kita justru memperoleh sumber-sumber dari negara lain (misalnya, Belanda), walaupun banyak juga kita temukan bukti-bukti sejarah dari pelosok tanah air. Barang bukti sejarah yang sudah pindah tangan ke negara lain, misalnya, kitab asli Negara Kertagama dan patung Ken Dedes (Prajna Paramita) yang berada di negara Belanda. Masyarakat yang dinamis dan berkembang memang terjadi di mana-mana, namun di sisi lain dampak dari perkembangan ini sangat menyulitkan pengungkapan bukti sejarah lokal dikarenakan adanya percepatan pembangunan, pergantian generasi, serta perkembangan penduduk yang pesat sehingga menambah semaraknya negeri ini. Sejarah lokal dapat dikategorikan menjadi sejarah peristiwa masa silam, sejarah mengenai kerajaan-kerajaan di Nusantara, sejarah yang membentangkan peranan petani dan para priyayi serta kuli kontrak di zaman Belanda, dan sejarah lokal yang membentangkan keadaan masa kuno sampai sekarang mengenai tradisi, adat istiadat, dan kepercayaan pada daerah-daerah tertentu.

Oleh karena itu, dapat kita perhatikan bagaimana kenyataan dalam penulisan sejarah lokal sebagai berikut:
  • Sejarah lokal hanya membicarakan daerah tertentu saja, misalnya, sejarah kabupaten Madiun, sejarah kabupaten Tegal, atau sejarah Yogyakarta.
  • Sejarah lokal lebih menekankan struktur daripada prosesnya.
  • Sejarah lokal hanya membicarakan peristiwa tertentu yang dianggap terkenal di suatu daerah.
  • Sejarah lokal hanya membahas aspek tertentu saja.

Menurut Louis Gattaschalk dalam bukunya yang berjudul Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto tahun 1975, ia membagi sejarah dalam tiga jenis:
  1. yang menentukan kelangsungan hidup rekaman sejarah hanya kebetulan ditemukan;
  2. untuk penulisan sejarah di masa mendatang dengan teknik sampling, akan diperoleh tokoh sejarah yang konkret;
  3. penulisan sejarah yang menggunakan contoh par excellen, yaitu seorang individu terkemuka dalam bangsanya yang memiliki watak mampu memperbaiki perilaku bangsanya secara optimal menyeluruh.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: