Asal-Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia


Temuan perkakas kebudayaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sedikitnya dapat membuka tabir dari mana mereka datang dan berasal? Adanya kesamaan bentuk dalam sejumlah perkakas dan budaya di tempat-tempat yang berbeda di Indonesia, membuat kita menafsirkan bahwa manusia-manusia yang kini mendiami Kepulauan Indonesia berasal dari moyang yang sama.

Pengembaraan manusia prasejarah yang muncul di Afrika, kemudian tiba di tepi laut Asia Tenggara secara bergelombang. Melalui jalur utara (Taiwan dan Filipina) dan jalur barat (Semenanjung Melayu) pada Zaman Es dengan naik-turunnya air laut pada Dangkalan Sunda dan Sahul. Berikutnya, masuklah Ras Mongolia, Ras Kaukasoid, dan Ras Negrito. Ketiga ras pendatang itu melebur menjadi Indocina dan Indonesia yang berkulit coklat. Dalam jangka waktu yang lama, manusia pendatang menyebar ke kepulauan melalui Dangkalan Sunda dan Sahul, kemudian menjadi manusia kepulauan yang mencakup kawasan Sumatera sampai Irian.

Sebagian besar masyarakat pendatang itu tinggal di pinggir pantai. Lama kelamaan, terbentuklah masyarakat kepulauan yang berjiwa pelaut (bahari) dengan peralatan berlayar yang sederhana seperti perahu bercadik. Samudera dan lautan dengan demikian telah menyatu dengan penduduk bahari di Nusantara. Mereka lalu menyebar ke seluruh kawasan lautan Hindia dan Pasifik, Madagaskar di barat Afrika, Kepulauan Paskah di timur, Hawaii, dan Selandia Baru di selatan.

Sebelum zaman es atau glasial, wilayah Indonesa bagian barat masih bersatu dengan daratan Asia. Sedangkan wilayah Indonesia bagian timur masih bersatu dengan daratan Australia. Kondisi geografis tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan jenis hewan dan tumbuhan yang tersebar di dua wilayah tersebut.

Sejak naiknya air laut karena mencairnya bukit-bukit es di kawasan kutub utara dan selatan bumi maka kawasan timur Indonesia terpisah dari Australia dan kawasan baratnya terpisah dari Asia. Bekas daratan yang menghubungi Indonesia Barat dengan Asia kemudian menjadi Paparan Sunda, sedangkan bekas daratan yang menghubungi Indonesia Timur dengan Asia menjadi Paparan Sahul. Dengan demikian, terbentuklah beberapa pulau besar dan puluhan pulau kecil yang dipisahkan oleh lautan dan selat baru. Kumpulan pulau-pulau inilah yang menjadi Kepulauan Indonesia. Perubahan geografis ini kemudian berpengaruh besar terhadap persebaran manusia purba di Indonesia.

Pada bab ini, kalian akan mempelajari asal-usul masyarakat Indonesia, dari mana mereka datang dan di mana saja mereka berdiam dan lalu berkembang biak. Kalian akan mengetahui proses persebaran masyarakat (suku) awal yang di Kepulauan Nusantara.


Teori-Teori Mengenai Asal Usul Masyarakat Indonesia

Sebelum membahas asal-usul masyarakat Indonesia, ada baiknya kita mengetahui batasan antara ras, rumpun, bangsa, dan suku dalam segi antropologi. Menurut KBBI 2002, ras adalah golongan masyarakat luas yang terdiri dari berbagai rumpun, misalnya ras Kaukasoid yang menurunkan beberapa rumpun-bangsa. Rumpun adalah golongan besar dari bangsa-bangsa yang sama asalnya, misalnya rumpun Melayu. Bangsa adalah kumpulan manusia yang biasa terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum dan menempati wilayah tertentu, misalnya India, Cina, atau Indonesia yang terdiri atas pelbagai suku. Sedangkan suku (atau suku-bangsa) adalah kesatuan sosial yang disatukan oleh identitas kebudayaan, khususnya dari identitas bahasa, misalnya Dayak di Kalimantan atau Dani di Papua. Namun, adakalanya sebuah rumpun bisa disebut bangsa pula, misalnya Melayu.

Para ahli memiliki pandangan masing-masing mengenai asalmula bangsa Indonesia. Masing-masing berpendapat berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Ada ahli yang menyelidiki asal-usul bangsa Indonesia dari persebaran bahasa, ada pula yang melihatnya dari persebaran peninggalan artefak-artefak (benda-benda rumah tangga dari batu, tulang dan logam) atau pun fosil-fosil manusia purbanya. Berikut ini teori-teori para ahli tentang asal-usul masyarakat Indonesia.

Prof. Dr. H. Kern, ilmuwan asal Belanda, menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa-bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata "kampong" yang banyak digunakan sebagai kata tempat di Kamboja. Selain nama geografis, istilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.

Van Heine Geldern pun berpendapat tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia. Sedangkan, Max Muller berpendapat lebih spesifik, yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia Tenggara. Namun, alasan Muller tak didukung oleh alasan yang jelas.

Sementara itu, Willem Smith melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia, dan Polinesia.

Peta Persebaran Bahasa Austronesia

Gambar: Peta Persebaran Bahasa Austronesia

Ahli lain yang bernama Hogen menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM.

Pendapat Hogen tak jauh beda dengan pendapat Drs. Moh. Ali. Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang kedua terjadi pada 1.500 hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri gelombang pertama adalah kebudayaan Neolitikum dengan jenis perahu bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik-dua.

Sementara itu Prof. Dr. Krom menguraikan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM sampai 1.500 SM. Sedangkan Mayundar berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.

Ahli lain, Dr. Brandes, berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau Madagaskar, sebelah selatan yaitu Jawa, Bali, sebelah timur hingga ke tepi pantai bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.

Sejarawan Indonesia, Prof. Mohammad Yamin, bahkan menentang teori-teori di atas. Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia. Yamin menyatakan bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap di Indonesia daripada daerah lainnya di Asia, misalnya, temuan fosil Homo atau Pithecanthropus soloensis dan wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indocina (Asia Tenggara).

Persebaran ras, rumpun, bangsa, dan suku, selain dapat diteliti melalui ilmu antropologi juga dapat dilacak melalui penelitian biologis, yakni pada gen manusia. Gen merupakan bagian dari kromosom yang menjadi lokasi tempat sifat-sifat keturunan (hereditas) pada makhluk hidup. Dalam gen inilah terdapat senyawa asam yang bernama deoxyribo nucleic acid atau DNA. Dari penelitian terhadat zat kimia inilah para ilmuwan dapat menentukan karakter dan usia manusia secara genetis. Dari sinilah mereka menafsirkan ke mana sajaarah persebaran ras manusia.


Proto Melayu dan Deutro Melayu

Berdasarkan kesimpulan Kern bahwa nenek-moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Campa di Vietnam Utara (Tonkin), Kamboja, dan Kochin Cina (Indocina). Namun, sebelum mereka tiba di Kepulauan Indonesia, di Indonesia sendiri telah ada bangsa yang lebih dulu berdiam. Bangsa tersebut berkulit hitam dan berambut keriting (ras Negrito). Hingga sekarang bangsa tersebut mendiami Indonesia bagian timur pedalaman dan sebagian Australia. Jadi, sebetulnya bangsa berkulit hitam inilah yang merupakan penduduk asli Indonesia.

Sementara itu, sekitar tahun 1.500 SM, bangsa dari Campa terdesak oleh bangsa lain yang lebih kuat yang datang dari Asia Tengah (sekitar Mongol). Bangsa yang terdesak ini lalu bermigrasi ke Kamboja dan meneruskannya ke Semenanjung Malaka. Dari Malaka, mereka melanjutkan pelariannya ke daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Filipina. Yang di Filipina lalu melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi dan Maluku.

Selanjutnya, mereka yang mendiami wilayah Indonesia membentuk komunitas masing-masing. Mereka berkembang menjadi suku-suku tersendiri, seperti Aceh, Batak, Padang, Palembang, di Sumatera, Sunda dan Jawa di Pulau Jawa, Dayak di Kalimantan, Minahasa, Bugis, Toraja, Makassar di Sulawesi, Ambon di Maluku. Sedangkan mereka yang bercampur dengan bangsa asli yang berkulit hitam berkembang menjadi suku-suku tersendiri, seperti di Flores.

Peta Persebaran Bangsa Proti dan Deutro Melayu

Gambar: Peta Persebaran Bangsa Proti dan Deutro Melayu melalui Dua Rute (Air dan Darat)

Selain teori di atas, ada pendapat yang menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang-orang Melayu. Bangsa Melayu ini telah mendiami Indonesia bagian barat dan Semenanjung Melayu (Malaysia) sejak dulu. Para ahli membagi dua bangsa Melayu ini: Proto Melayu atau Melayu Tua dan Deutro Melayu atau Melayu Muda.

1. Melayu Tua (Proto Melayu)

Bangsa Melayu Tua ini memasuki wilayah Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM. Mereka masuk melalui dua rute: jalan barat dan jalan timur. Jalan barat adalah melalui Semenanjung Melayu kemudian terus ke Sumatera dan selanjutnya menyebar ke seluruh Indonesia. Sementara jalan timur adalah melalui Kepulauan Filipina terus ke Sulawesi dan kemudian tersebar ke seluruh Indonesia. Para ahli memperkirakan bahwa bangsa Melayu Tua ini peradabannya satu tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan manusia purba yang ada di Indonesia. Orang-orang Melayu Tua ini berkebudayaan Batu Muda (Neolitikum). Benda-benda buatan mereka masih menggunakan batu namun telah sangat halus. Kebudayaan kapak persegi dibawa bangsa Proto Melayu melalui jalan barat, sedangkan kebudayaan kapak lonjong melalui jalan timur. Sebagian dari mereka ada yang bercampur dengan ras kulit hitam.

Pada perkembangan selanjutnya, mereka terdesak ke arah timur karena kedatangan bangsa Melayu Muda. Keturunan Proto Melayu ini sampai kini masih berdiam di Indonesia bagian timur, seperti di Dayak, Toraja, Mentawai, Nias, dan Papua. Sementara itu, bangsa kulit hitam (Ras Negrito) yang tidak mau bercampur dengan bangsa Proto Melayu lalu berpindah ke pedalaman atau pulau terpencil agar terhindar dari pertemuan dengan suku atau bangsa lain yang mereka anggap sebagai "peganggu". Keturunan mereka hingga kini masih dapat dilihat meski populasinya sedikit, antara lain orang Sakai di Siak, orang Kubu di Palembang, dan orang Semang di Malaka.

2. Melayu Muda (Deutro Melayu)

Bangsa Melayu Muda memasuki kawasan Indonesia sekitar 500 SM secara bergelombang. Mereka masuk melalui jalur barat, yaitu melalui daerah Semenanjung Melayu terus ke Sumatera dan tersebar ke wilayah Indonesia yang lain. Kebudayaan mereka lebih maju daripada bangsa Proto Melayu. Mereka telah pandai membuat benda-benda logam (perunggu). Kepandaian ini lalu berkembang menjadi membuat besi. Kebudayaan Melayu Muda ini sering disebut kebudayaan Dong Son. Nama Dong Son ini disesuaikan dengan nama daerah di sekitar Teluk Tonkin (Vietnam) yang banyak ditemukan benda-benda peninggalan dari logam. Daerah Dong Son ini ditafsir sebagai tempat asal bangsa Melayu Muda sebelum pergi menuju Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia di antaranya adalah kapak corong (kapak sepatu), nekara, dan bejana perunggu. Benda-benda logam ini umumnya terbuat dari tuangan (cetakan).

Keturunan bangsa Deutro Melayu ini selanjutnya berkembang menjadi suku-suku tersendiri, misalnya Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Minang, dan lain-lain. Kern menyimpulkan hasil penelitian bahasa yang tersebar di Nusantara adalah serumpun karena berasal dari bahasa Austronesia Perbedaan bahasa yang terjadi di daerah-daerah Nusantara seperti bahasa Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Minangkabau, dan lain-lainnya, merupakan akibat dari keadaan alam Indonesia sendiri yang dipisahkan oleh laut dan selat.

Di samping dipisahkan oleh selat dan samudera, perbedaan bahasa pun disebabkan karena setiap pulau di Indonesia memiliki karakteristik alam yang berbeda-beda. Semula bahasa bangsa Deutro Melayu ini sama, namun setelah menetap di tempat masing-masing mereka pun mengembangkan bahasa tersendiri.

Kosakata yang dulu dipakai dan masih diingat tetap digunakan, sedangkan untuk menamai benda-benda yang baru dilihat di tempat tinggal yang baru (Indonesia) mereka membuat kata-kata mereka sendiri. Jadi, jangan heran, bila ada sejumlah kata yang terkadang sama bunyinya di antara dua suku namun memiliki arti yang berbeda sama sekali, tak ada hubungan. Ada pula kata yang memiliki arti yang masih berhubungan meski tak identik, seperti kata "awak". Kata awak bagi orang Minang berarti "saya", sedangkan menurut orang Sunda berarti "badan".

Selanjutnya, bangsa Melayu Muda inilah yang berhasil mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang lebih maju daripada bangsa Proto Melayu dan bangsa Negrito yang menjadi penduduk di pedalaman. Hingga sekarang keturunan bangsa Proto Melayu dan Negrito masih bermasyarakat secara sederhana, mengikuti pola moyang mereka, dan kurang bersentuhan dengan budaya luar seperti India, Islam, dan Eropa. Sedangkan bangsa Deutero Melayu mampu berasimilasi dengan kebudayaan Hindu-Budha, Islam, dan Barat.


Hubungan Kebudayaan Purbakala di Vietnam dan India dengan Perkembangan Masyarakat Purbakala Indonesia

Seperti yang telah dijelaskan bahwa cikal-bakal masyarakat Indonesia adalah daerah Campa di Tonkin, Vietnam serta Kamboja. Dari tempat-tempat inilah nenek-moyang Indonesia mengenal kebudayaan meski masih primitif. Oleh karena itu, kebudayaan masyarakat di sekitar Indocina, terutama Vietnam, Kamboja, Laos, (Indochina) dan Myanmar (Burma), dan tentunya India, sangat berkaitan dengan kebudayaan manusia purba di Indonesia. Kebudayaan-kebudayaan yang cukup memengaruhi kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia adalah kebudayan yang berasal dari Bacson-Hoabinh, Dong Son, Sa Huynh, dan India. Kebudayaan dari Vietnam ini biasanya berbentuk budaya logam, terutama perunggu. Berdasarkan hasil penelitian, benda-benda perunggu yang tersebar ke pelbagai wilayah Indonesia melalui jalur darat dan jalur laut. Jalur darat adalah melalui Muangthai (Thailand) dan Malaysia, kemudian terus ke Kepulauan Indonesia. Jalur laut adalah dengan menyeberangi lautan Cina Selatan, Filipina menuju pulau-pulau di Indonesia.

1. Kebudayaan Bacson-Hoabinh

Istilah Bacson-Hoabinh dipergunakan sejak tahun 1920. Istilah ini ditujukan bagi sebuah tempat penemuan alat-alat batu yang khas, yakni pada satu atau kedua permukaan batu terdapat bekas pangkasan. Tempat temuan kebudayaan Bacson-Hoabinh ini hampir ditemukan di wilayah Asia Tenggara hingga Myanmar.

Kebudayaan ini berlangsung dari 18.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Proses berkebudayaan ini masih terus berlangsung di kemudian waktu di beberapa kawasan hingga masa yang lebih baru. Ciri khas alat batu hasil budaya Bacson-Hoabinh ini adalah penyerpihan pada satu atau kedua sisi permukaan batu kali yang dapat dikepal oleh tangan. Sering kali seluruh tepian batu tersebut tajam dan hasil penyerpihan inii menunjukkan bermacam-macam bentuk, misalnya lonjong, segi empat, segi tiga, dan lain-lain.

Seorang ahli sejarah, C.F. Gorman, menyatakan bahwa alat-alat batu paling banyak ditemukan di pegunungan batu kapur di Vietnam utara, yaitu di daerah Bacson pegunungan Hoabinh. Selain alat-alat dari batu, di Bacson ditemukan pula alat-alat serpih, batu giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang, dan sisa-sisa tulang belulang manusia purba yang dikuburkan dalam posisi terlipat dan ditaburi zat warna merah.

Di Gua Xom Trai, masih di Vietnam Utara, ditemukan alat-alat batu yang telah diasah tajam pada sisi-sisinya. Alat ini diperkirakan berasal dari 18.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangan selanjutnya, alat batu yang diasah ini tersebar hampir di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, alat-alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh bisa dilihat di daerah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi (Semenanjung Minahasa), Maluku Utara, Flores, hingga Papua. Di Sumatera, alat-alat batu Bacson-Hoabinh ada di Lhokseumawe dan Medan. Alat-alat batu ini ditemukan pada bukit-bukit sampah kerang yang berdiameter sampai 100 meter dengan kedalaman 10 meter. Lapisan kerang tersebut bersatu dengan tanah dan abu. Tempat penemuan bukit kerang tersebut ada pada daerah dengan ketinggian yang hampir sama dengan permukaan garis pantai. Kebanyakan tempat penemuan alat-alat batu ini di sepanjang pantai, telah terkubur di bawah endapan tanah sebagai akibat dari proses pengendapan yang berlangsung selama beberapa milenium. Alat-alat batu yang ditemukan di sini adalah yang telah diserpih pada satu sisi berbentuk lonjong atau bulat telur.

Sementara itu, di Jawa, alat-alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh banyak ditemukan di Lembah Sungai Bengawan Solo. Alat-alat batu di lembah ini diperkirakan berusia lebih tua dari yang ada di Sumatera. Perkakas batu yang ada di Bengawan Solo ini belum diserpih atau diasah; batu kali yang dibelah langsung digenggam tanpa diserpih dulu. Menurut Koenigswalg, peralatan batu itu digunakan oleh manusia purba Jawa, yaitu Pithecanthropus erectus.

Di daerah Cabbenge, Sulawesi Selatan, berhasil ditemukan perkakas-perkakas batu dari masa Pleistosen dan Holosen. Penelitian juga dilakukan di pedalaman Maros. Dari beberapa penggalian berhasil ditemukan alat serpih berpunggung dan mkrolit yang disebut Toalian. Perkakas batu Toalian ditafsirkan berasal dari 7.000 tahun yang lalu. Perkembangan batu dari daerah Maros diperkirakan hampir berbarengan dengan munculnya tradisi membuat tembikar di daerah tersebut.

2. Kebudayaan Dong Son

Tradisi perunggu telah dimulai di Vietnam bagian utara sekitar tahun 2.500 SM, jadi 4.000 tahun yang lalu. Kebudayaan perunggu ini berkaitan erat dengan kebudayaan Dong Son dan Go Mun. Jika diperbandingkan dengan daerah Muangthai Tengah dan Timur Laut, Vietnam memiliki bukti-bukti lebih awal mengenai pembuatan benda-benda dari perunggu di Indocina. Benda-benda perunggu yang ada sebelum 500 SM terdiri atas kapak corong, ujung tombak, sabit bercorong, ujung tombak bertangkai, mata panah, pisau, kail pancing, gelang, dan lain-lain. Corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya.

Benda-benda kebudayaan Dong Son merupakan benda logam yang paling banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Jadi, bukan pengaruh budaya logam dari India maupun Cina, melainkan dari wilayah Dong Son di Vietnam Utara. Contoh benda budaya Dong Son yang ditemukan di Indonesia adalah nekara tipe Heger I yang memiliki kesamaan dengan nekara yang tertua dan terbaik di Vietnam. Nekara tersebut memiliki jalur hiasan yang disusun mendatar membentuk gambar manusia, hewan, dan motif geometris.

Perkakas perunggu lain yang ditemukan di wilayah Dong Son serta beberapa kuburan seperti di daerah Vie Khe, Lang Ca, Lang Vac adalah alat-alat rumah tangga berupa mangkuk dan ember kecil. Selain itu ditemukan pula miniatur nekara dan genta, kapak corong, cangkul bercorong, mata panah dan mata tombak bertangkai atau bercorong, belati dengan bentuk antropormofis, gelang, timang, ikat pinggang. Sebuah nekara yang sangat besar berhasil digali di daerah Co Loa, berisi 96 mata bajak perunggu bercorang. Di antara penemuan ini, terdapat pula alat-alat dari besi dengan jumlah yang sedikit.

Dari penemuan benda-benda budaya Dong Son diketahui tentang cara pembuatannya, yakni dengan menggunakan teknik cetak lilin hilang, yaitu dengan membuat bentuk benda yang diinginkan dari lilin. Lalu lilin tersebut dibalut dengan tanah liat dan dibakar hingga terdapat lubang pada tanah liat tersebut. Berikutnya, pada cetakan tanah liat itu dituangkan cairan logam dan setelah dingin, tanah liat tersebut dipecahkan. Dengan demikian, terbentuklah benda logam tersebut.

Tidak kurang dari 56 nekara yang ditemukan di sejumlah tempat di Indonesia. Nekara banyak ditemui di Sumatera, Jawa, dan Maluku Selatan. Misalnya, nekara yang ada di Makalaman dari Pulau Sangeang, dekat Pulau Sumbawa. Nekara ini memuat motif hiasan bergambar orang-orang berseragam mirip pakaian seragam yang dikenakan Dinasti Han di Cina, Kushan di India Utara, dan Satavahana di India Tengah. Sedangkan, nekara dari Kepulauan Kei di Maluku memiliki hiasan lajur mendatar, berisi gambar kijang dan adegan perburuan macan. Sementara itu, nekara dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, memuat hiasan bergambar gajah dan burung merak.

Hiasan-hiasan pada nekara-nekara tersebut ternyata tidak dikenal oleh penduduk dari pulau-pulau lain di Indonesia bagian timur tempat di mana nekara-nekara tersebut ditemukan. Maka dari itu, para ahli berpendapat, tak mungkin nekara-nekara tersebut dibuat di tempat penemuannya, melainkan dibawa dari Cina, tempat asli dibuatnya benda-benda tersebut. Ini dilihat pula dari sudut gaya dan kandungan timahnya yang cukup tinggi, sedangkan budaya Dong Son cenderung memakai perunggu. Namun, Von Heine Geldern, peneliti nekara, berpendapat bahwa nekara yang ditemukan di Sangeang ditafsir dicetak di daerah Funan, Vietnam, yang sebelumnya telah dipengaruhi oleh budaya India pada 250 M.

Seorang ahli lain, Berner Kempers, menemukan bahwa semua nekara yang ditemukan di Bali bagian timur memiliki empat patung katak pada bagian membran pukulnya. Di samping itu, Nekara di Bali memiliki motif hias yang kurang terpadu ini dapat dilihat dari gambar prajurit dan motif perahu yang banyak ditemukan pada nekara-nekara tertua di Vietnam. Berners memberikan gambaran cara nekara tipe Heger I dicetak secara utuh. Awalnya, lembaran lilin ditempelkan pada inti tanah liat yang menyerupai bentuk nekara dan berfungsi sebagai cetakan bagian dalam. Pada lembaran lilin lalu dihiasi dengan cap-cap dari tanah liat atau batu yang bermotif hias berupa gambar perahu dan iring-iringan manusia. Kemudian, lembaran lilin tersebut ditutup dengan tanah liat yang berfungsi sebagai cetakan bagian luar, setelah terlebih dahulu diberi paku-paku sebagai penjaga jarak agar seimbang. Setelah itu, cetakan tersebut dibakar dan lilin pun meleleh keluar dari rongga dan rongga yang kosong tersebut diisi dengan cairan logam panas.

Persebaran nekara tipe Heger I mencakup daerah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta Maluku Selatan. Selain nekara, banyak ditemukan pula benda-benda perunggu lainnya, seperti patung, perkakas rumah tangga dan bercocok tanam, serta perhiasan.

3. Kebudayaan Sa Huynh

Selain kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Dong Son yang berada di utara Vietnam, ada pula kebudayaan yang berhubungan dengan masyarakat Indonesia purba, yaitu kebudayaan Sa Huynh di selatan Vietnam. Budaya Sa Huynh didukung oleh kelompok sosial yang berbahasa Cham (Austronesia) yang diperkirakan berasal dari Indonesia. Penduduk yang mendiami wilayah Sa Huynh ini diperkirakan berasal dari Semenenjung Melayu atau Kalimantan.

Seorang arkeolog Vietnam mengemukakan bahwa sebelum munculnya budaya Sa Huynh atau budaya turunan langsung dari Sa Huynh, daerah Vietnam Selatan telah didiami oleh bangsa yang berbahasa Austronesia. Orang-orang Cham (Campa) pernah mengembangkan peradaban yang dipengaruhi oleh budaya India. Kemudian mereka dikalahkan oleh ekspansi yang dilakukan oleh penduduk mayoritas Vietnam sekarang. Mereka yang tetap bertahan menjadi kelompok minoritas.

Keberadaan masyarakat Cham di dekat pusat-pusat penemuan benda-benda logam di Vietnam Utara pada akhir masa prasejarah ini memiliki arti yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia. Mereka adalah kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa Austronesia dan memiliki kedekatan fisik dengan orang Indonesia.

Kebudayaan Sa Huynh yang diketahui hingga kini kebanyakan berbentuk kuburan tempayan, yakni jenazah dimasukkan ke dalam tempayan besar. Penguburan jenis ini merupakan adat yang mungkin dibawa oleh orang-orang Cham gelombang pertama ke Indonesia karena penguburan dalam tempayan tak terdapat pada kebudayaan Dong Son atau yang lain yang sezaman di daratan Asia Tenggara.

Penemuan-penemuan Sa Huynh terdapat di kawasan pantai, mulai dari Vietnam Tengah selatan hingga ke delta lembah Sungai Mekong. Budaya Sa Huynh banyak memiliki kesamaan dengan peninggalan yang ditemukan di wilayah Laut Sulawesi. Hal ini diperkuat dengan adanya kemiripan bentuk anting-anting batu bertonjolan (disebut “Lingling O”) dan jenis anting-anting yang khas atau bandul kalung dengan kedua ujungnya berhiaskan kepala hewan (mungkin kijang) yang ditemukan di sejumlah daerah di Muangthai, Vietnam, Palawan, dan Serawak.

Kebudayaan Sa Huynh yang berhasil ditemukan mencakup berbagai perkakas yang bertangkai corong, seperti sekop, tembilang, dan kapak. Ada pula yang tidak memiliki corong, seperti sabit, pisau bertangkai, kumparan tenun, cincin dan gelang berbetuk spiral. Teknologi pembuatan perkakas-perkakas dari besi di wilayah Sa Huynh diperkirakan berasal dari Cina.

Perkakas besi ternyata lebih banyak dipergunakan dalam budaya Sa Huynh dibanding dalam budaya Dong Son. Benda-benda perunggu yang ditemukan di Sa Huynh berupa perhiasan, gelang, lonceng, dan bejana-bejana kecil. Ditemukan pula beberapa manik-manik emas yang langka, manik-manik kaca dari batu agate bergaris, manik-manik Carnelian (bundar, seperti cerutu), dan kawat perak. Kebudayaan Sa Huynh ditafsir berlangsung antara tahun 600 SM hingga awal Masehi.

4. Kebudayaan India

Perkembangan masa perunggu awal di Kepulauan Indonesia bertumpang tindih dengan bermunculan negeri-negeri dagang kecil yang ada pada periode paling awal masa sejarah, yakni masa di mana masyarakat mulai mengenal tulisan. Pada masa ini mulai bermunculan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di bagian barat Indonesia. Berbeda dengan pengaruh budaya Vietnam yang kebanyakan berupa perkakas fisik, pengaruh budaya India cenderung lebih dalam hal nonfisik, di antaranya kesusastraan. Karya sastra berbahasa Sansekerta dan Tamil sudah lama berkembang di wilayah Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Menjelang tahun 70 M, menurut kronik dari Romawi terdapat bukti bahwa cengkeh dari Maluku telah mencapai Roma, Italia, melalui perdagangan laut. Hal ini menimbulkan penafsiran bahwa sekitar abad pertama sampai ke lima Masehi telah ada pusat-pusat perdagangan di kawasan Nusantara yang dilewati rute-rute perlayaran dagang. Pemukiman dagang ini awalnya hanya sebagai tempat persinggahan dan peristirahatan para pelaut dan pedagang sebelum melanjutkan perjalanan. Para pedagang tersebut mengajak pedagang dari Indonesia untuk ikut serta dalam pelayaran dan perdagangan mereka. Akhirnya, kepulauan Nusantara menjadi salah satu pusat kegiatan perniagaan yang dilakukan pedagang asing seperti Cina, India, Indocina, Arab, Persia, bahkan dari Romawi yang datang dari penjuru Eropa bagian barat.

Perkembangan perdagangan di Indonesia yang semakin ramai menyebabkan semakin banyaknya pedagang dari India, terutama orang Gujarat dan Tamil, yang berhubungan dengan pedagang Indonesia. Pengaruh India lambat laun dirasakan oleh masyarakat pribumi, terutama dalam bidang pemerintahan (politik), agama, serta budaya. Dari kaum pedagang dan selanjutnya kaum agamawan, lahirlah kerajaan-kerajaan tradisional yang bercorak Hindu dan Buddha di Indonesia, seperti Kutai, Tarumanagara, Ho-ling, Mataram, Sriwijaya, dan lain-lainnya.


Perkembangan Budaya Logam di Indonesia

Pengaruh budaya Dong Son sangat besar terhadap perkembangan budaya logam di Indonesia. Persebaran budaya logam, terutama perunggu (bronze), di Indonesia dapat terlihat dari tempat-tempat ditemukannya alat pencetakan benda-benda perunggu. Lokasi-lokasi pencetakan tersebut tersebar di Jawa, Bali, Madura. Sementara itu, perkembangan tahap awal budaya logam di Indonesia tersebar di daerah Sumatera, Jawa, Bali, Kepulauan Talaud dan Maluku Utara, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

1. Tahap Logam Awal di Sumatera

Di Sumatera Selatan, tepatnya di dataran Pasemah, banyak ditemukan kubur batu dari masa Megalitikum. Seorang arkeolog, A.N. van der Hoop pada 1932 berhasil menemukan kubur peti batu di daerah Tegur Wangi. Dari peti kubur tersebut ditemukan manik-manik kaca dan sejumlah benda logam. Benda-benda logam tersebut, yaitu peniti emas dan tombak besi yang telah rusak.

Sementara itu, di Pasemah ditemukan patung manusia dan patung hewan dari bongkahan batu besar. Patung laki-laki diperlihatkan tengah mengendarai gajah atau kerbau dengan memakai kalung, gelang kaki, cawat, jubah, penutup telinga, dan penutup kepala berbentuk meruncing pada bagian dekat punggung. Kepala hewan dan manusia sering diukir dengan sangat detail, sedangkan tubuhnya seringkali dibentuk terlalu kecil sehingga tidak proporsional. Jadi, bila dilihat sepintas pahatan patung tersebut tampak seperti karikatur saja. Sejumlah relief lain menunjukkan pertempuran manusia melawan harimau atau ular. Tampak pula pahatan berbentuk kerbau dan gajah, yang digambarkan sebagai hewan yang dapat dikendalikan manusia.

Dari penemuan tadi terlihat perkembangan logam tahap awal di wilayah Sumatera. Melalui teknik pengecoran dan pencetakan logam, masyarakat purba memenuhi kebutuhan hidupnya lebih efisien.

2. Tahap Logam Awal di Jawa

A.R. van der Hoop melakukan penelitian terhadap sejumlah kubur peti batu atau sarkofagus di daerah Gunung Kidul dekat Wonosari, Jawa Tengah. Penelitiannya membuktikan bahwa pada kubur peti batu tersebut terdapat bekal kubur berupa perkakas-perkakas dari besi seperti pisau bertangkai, belati, kapak, cincin perunggu, dan manik-manik kaca. Sementara itu, penelitian yang dilakukan Heekern pada tahun 1931 di Besuki, Jawa Timur, terhadap sarkofagus tidak berhasil menemukan benda-benda logam.

Situs-situs lainnya di Jawa terdapat di Leuwiliang dekat Bogor, Jawa Barat, dan di Pejaten, Jakarta bagian selatan. Di Leuwiliang berhasil ditemukan sejumlah bekal kubur yang terdiri atas anting-anting perunggu dan topeng dari logam mulia, sedangkan di Pejaten ditemukan cetakan dari tanah liat yang dibakar sebagai tempat membuat beliung perunggu dan pisau. Cetakan tanah liat tersebut ditafsir dibuat pada tahun 200 SM.

3. Tahap Logam Awal di Bali

Sama seperti di Sumatera dan Jawa, penemuan benda-benda logam tahap awal di Pulau Bali berbarengan dengan ditemukannya sejumlah peti kubur (sarkofagus). Sebagian benda-benda logam tersebut telah hancur dimakan usia, namun masih ada yang utuh seperti perhiasan, selubung tangan yang terbuat dari lilitan atau kumparan kawat perunggu, serta alat-alat tani semacam sekop. Di Gilimanuk, situs yang ditemukan berbentuk perkakas logam, tombak besi yang bertangkai, pisau belati besi yang bergagang perunggu, dan manik-manik dari emas. Sedangkan di daerah Pangkung Liplip ditemukan penutup mata dan penutup mulut dari emas.

4. Tahap Logam Awal di Sumba

Di Sumba, Nusa Tenggara Barat, ditemukan sejumlah benda-benda logam yang berupa bejana atau tembikar berukuran kecil yang ditempatkan di dalam atau di sekitar tempayan. Ditemukan pula manik-manik gelang dan benda logam lainnya yang difungsikan sebagai bekal kubur yang umum. Selain sebagai bekal kubur, terdapat pula peralatan rumah tangga, bercocok tanam, dan berkebun.

Candrasa di daerah Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur

Gambar: Candrasa untuk upacara yang ditemukan di daerah Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur

Selain di Nusa Tenggara Barat, ditemukan beberapa benda logam di Nusa Tenggara Timur. Sebuah kapak upacara yang terbuat dari perunggu ditemukan di daerah Landau, Roti, Nusa Tenggara Timur. Kapak ini bermotifkan manusia dan memiliki desain seperti model yang ditemukan di bagian selatan Pasifik.

5. Tahap Logam Awal di Kepulauan Talaud dan Maluku Utara

Penguburan dalam tempayan ditemukan pula di sebuah goa kecil di Leang Buidane di Pulau Selababu, Kepulauan Talaud. Aslinya, jenazah disimpan di atas lantai gua. Perkakas-perkakas logam yang berada di Leang Buidane di antaranya adalah gelang, beberapa pecahan benda dari besi yang sudah tak berbentuk, serta kerucut perunggu dan satu kapak corong dari tembaga. Ditemukan pula peralatan cetak dari tanah liat bakar sebagai alat untuk mencetak kapak serta benda-benda dari tembaga. Peralatan cetak tersebut membuktikan bahwa benda-benda logam tersebut bukanlah hasil impor dari daerah lain, melainkan hasil produksi penduduk setempat. Namun, apakah alat cetaknya dibuat di tempat yang bersangkutan atau sebelumnya dibawa dari daerah lain? Harus ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Di daerah Maluku bagian Utara berhasil ditemukan sisa-sisa penguburan dalam tempayan yang terdapat di Goa Uattamdi di Pulau Kayoa. Benda-benda logam yang terdapat di daerah ini sudah tidak utuh, berupa pecahan-pecahan besi dan perunggu. Ditemukan pula manik-manik kaca, mata uang Cina, cangkang kerang besar, dan lain-lain.

6. Tahap Logam Awal di Sulawesi

Sama seperti di daerah lain, di Sulawesi ditemukan pula kuburan dari tempayan, umumnya berada di goa-goa. Tembikar-tembikar yang ada di Sulawesi ini diperkirakan berhubungan dengan tembikar yang ada di daerah Ulu Leang-Leang di Maros, Sulawesi Selatan. Tembikar ini memiliki bidang hiasan yang padat dengan pola hias goresan seperti beberapa tembikar yang ada di Sembiran, Bali.

Di Sulawesi Tengah ditemukan pula beberapa kuburan tempayan, terutama di daerah Bada, sebelah barat Danau Poso. Pada tempayan-tempayan tersebut banyak ditemukan bendabenda logam sebagai bekal kubur dan tembikar berpola hias dan berukir.

Nekara Tipe Dong Son dari Pulau Salayar, Sulawesi Selatan

Gambar: Rincian kotak pada Nekara Tipe Dong Son dari Pulau Salayar, Sulawesi Selatan

Dari uraian-uraian di atas jelaslah bahwa asal-usul masyarakat Indonesia yang paling awal berasal dari Vietnam, Cina Selatan. Ini terlihat salah satu dari persebaran benda-benda prasejarah dari logam di sejumlah wilayah di Indonesia yang memperlihatkan kesamaan dengan kebudayaan logam yang ditemukan di Vietnam, khususnya kebudayaan Dong Son.

Bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda secara bergelombang memasuki Kepulauan Indonesia. Masing-masing mendiami wilayah dan pulau yang berbeda-beda sehingga menghasilkan budaya yang berbeda pula. Meski asalnya bahasa dan budaya mereka sama (karena berasal dari wilayah yang sama), namun setelah masing-masing mendiami tempat yang berbeda maka otomatis mereka beradaptasi dengan lingkungan yang baru mereka tempati. Dari adaptasi inilah muncul kebudayaan yang berbeda antara mereka.


Kesimpulan

Para ahli memiliki pendapat masing-masing mengenai asal-mula bangsa Indonesia, berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Ada ahli yang menyelidiki asal-usul bangsa Indonesia dari persebaran bahasa, ada pula yang melihatnya dari persebaran peninggalan benda-benda logam dan fosil-fosil manusia purbanya.

Kern berpendapat bahwa bahasa-bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Pendapat Kern didukung oleh Geldern yang menyatakan bahwa sejumlah artefak yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia. Willem Smith juga melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa orang-orang Indonesia.

Hogen berpendapat tak jauh beda dari pendapat Moh. Ali, bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang. Sedangkan Brandes berpendapat bahwa suku-suku di Indonesia memiliki persamaan bahasa dengan bangsa-bangsa yang bermukim di utara Pulau Formosa, sebelah barat Pulau Madagaskar sebelah selatan, yaitu Jawa dan Bali sebelah timur hingga tepi pantai barat Amerika. Namun, Mohammad Yamin menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri.

Dari sejumlah pendapat di atas, pendapat yang paling masuk akal dan banyak didukung oleh penemuan-penemuan adalah pendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang-orang Melayu. Bangsa Melayu ini telah mendiami Indonesia bagian barat dan Semenanjung Melayu (Malaysia) sejak dulu. Para ahli membagi dua bangsa Melayu ini. Proto Melayu atau Melayu Tua dan Deutro Melayu atau Melayu Muda. Gelombang Proto Melayu berlangsung dari 3.000-1.500 SM dan gelombang Deutro Melayu terjadi pada 1.500-500 SM.

Karena cikal-bakal masyarakat Indonesia berasal dari adalah daerah Campa di Teluk Tonkin, Vietnam maka kebudayaan nenek-moyang Indonesia berkaiatan erat dengan kebudayaan masyarakat asal, khususnya budaya logam. Dari Vietnam, terutama daerah Bacson-Hoabinh, Dong Son, Sa Huynh, kebudayaan logam terutama perunggu, dibawa ke wilayah Indonesia melalui jalur darat dan jalur laut. Kebudayaan India pun kemudian berperan dalam kehidupan masyarakat Indonesia terutama dalam bidang sastra, ekonomi, dan politik.

Persebaran budaya logam, terutama perunggu, di Indonesia dapat terlihat dari tempat-tempat ditemukannya alat pencetakan untuk membuat benda-benda perunggu seperti tembikar, nekara, alat-alat tajam untuk urusan dapur, bercocok tanam, dan berperang. Ditemukan pula benda-benda perhiasan seperti manik-manik dan gelang yang tertimbun di dalam kuburan batu sebagai bekal kubur. Lokasi-lokasi pencetakan tersebut tersebar di Jawa, Bali, Madura. Sementara itu, perkembangan tahap awal budaya logam di Indonesia tersebar di daerah Sumatera, Jawa, Bali, Kepulauan Talaud dan Maluku Utara, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: