Akulturasi Budaya Tradisi Lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia


Posisi geografis Indonesia memberikan peluang yang besar bagi masuknya kebudayaan asing secara lebih mudah dan cepat. Keuntungan geografis ini pada melahirkan keuntungan-keuntungan ekonomis, politis, sosial, dan kultural. Keadaan ini telah berlangsung sejak awal masehi. Tak heran bila bentuk dan corak pratik kepercayaan dan budaya yang ada di Indonesia cukup beragam dan pluralistik.

Jika kita melihat praktik dan bentuk kebudayaan, misalnya, Hindu atau Buddha di India, takkan sama dengan yang ada di Indonesia. Atau bila melihat tradisi umat Islam di Arab atau Timur Tengah lainnya akan sedikit (atau banyak) berbeda dengan apa yang dipraktikan umat Islam di Indonesia. Ini terjadi karena setiap bangsa dan suku memiliki caranya masing-masing dalam menerima, merespon, dan mengadaptasikan budaya asing yang datang padanya. Selanjutnya, orang Indonesia, khususnya bagian timur, mengenal pula agama Kristen yang dibawa orang Portugis (Katolik) dan Belanda (Protestan).

Makam Syekh Yusuf di Goa, Sulawesi Selatan

Gambar: Masuknya Islam tidak serta-merta menghilangkan tradisi keagamaan dan kebudayaan yang sebelumnya telah berkembang di Nusantara. tampak para peziarah makam Syekh Yusuf di Goa, Sulawesi Selatan, tengah memanjatkan doa seraya bersemadi

Hasil interaksi antara budaya pribumi-lokal, dengan budaya Hindu-Buddha dan Islam sebagai tradisi dan budaya "baru" dan sinkretis. Akan terlihat bagaimana masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia sesuai kearifan lokalnya masing-masing-menyatukan ketiga tradisi tersebut secara damai dan bijak tanpa mempertentangkannya satu sama lain.


Perkembangan Tradisi Agama di Indonesia sebagai Perwujudan Interaksi antara Agama Lokal, Hindu-Buddha, dengan Islam

Bila melihat sejarah, diperkirakan agama Buddhalah agama yang pertama masuk ke Indonesia, khususnya Sumatera (Sriwijaya pada abad ke-7), sebelum akhirnya ke Jawa Tengah (Mataram Kuno dengan adanya Dinasti Syailendra abad ke-9). Setelah itu barulah agama Hindu masuk ke Indonesia, khususnya Kalimantan dan Jawa bagian barat, tengah, dan kemudian timur. Persinggungan dua agama produk Jazirah India dengan kepercayaan lokal melahirkan praktik keagamaan yang tipikal. Konsep pemujaan terhadap arwah leluhur berpadu dengan konsep pengagungan terhadap dewa-dewi India.

Kepercayaan animisme dan dinamisme yang bercampur dengan praktik paganisme membentuk tradisi yang sinkretis, unsur-unsur asli sudah bersenyawa dalam bentuk yang "baru". Bangunan zaman Megalitikum yang sederhana dan kaku dipersatukan dengan candi-candi Hindu-Buddha yang arsitekturnya lebih maju dan modern. Jenazah seseorang yang berkuasa (kepala suku atau ketua adat) yang sebelumnya disimpan di peti batu, sarkofagus, menhir, dan bangunan megalitik lainnya (tidak dikubur dalam tanah) diganti oleh pembakaran jenazah yang abunya diletakkan di ruangan candi. Lalu abu jenazah tersebut ditaburkan di sungai atau laut agar jasad besarnya "menyatu" lagi dengan alam dan jiwanya tenang di alam swarga.

Proses interaksi masyarakat Indonesia dengan budaya asing berlanjut terus-menerus hingga datanglah pengaruh Islam yang dimulai dari Pasai hingga Ternate-Tidore, dari Malaka hingga Maluku. Ketika Islam datang, masyarakat Indonesia telah berada dalam pengaruh Hindu-Buddha yang masing-masing penganutnya hidup berdampingan. Kedatangan kaum muslim yang relatif damai tersebut diterima oleh sebagian masyarakat pribumi Indonesia, terutama kaum bangsawan dan pedagang. Melalui pendekatan budaya, pengenalan Islam sebagai agama pendatang kepada masyarakat Indonesia penganut Hindu-Buddha, berproses cukup damai. Peranan para ulama dalam penyebaran agama Islam disambut oleh masyarakat karena dakwah yang dilakukan menggunakan pendekatan yang menyesuaikan dengan adat lokal, tanpa menghilangkan tradisi sebelumnya yang lebih tua.

Menhir yang ditemukan di Bori Toraja, Sulawesi Selatan

Gambar: Menhir yang ditemukan di Bori Toraja, Sulawesi Selatan, bersifat ritual dan spiritual bagi masyarakat prasejarah

Pendekatan kultural ini dapat dilihat pada, misalnya, menara Masjid Kudus yang mirip dengan atap candi Hindu-Buddha atau gapura di komplek makam raja-raja Mataram-Islam di Imogiri yang berbentuk seperti gapura zaman Majapahit. Dalam hal seni, ada Sunan Kalijaga yang konon sering mempertunjukkan tontonan wayang dalam menarik perhatian umat nonmuslim di Jawa dengan menyisipi ajaran-ajaran Islam yang ringan. Meskipun, kisah yang digelarnya diambil dari kakawin Mahabharata dan Ramayana atau cerita-cerita rakyat-tutur (legenda dan mitos), namun sehabis pagelaran wayang usai Sunan Kalijaga tidak meminta upah melainkan meminta para penonton mengucapkan dua kalimat syahadat (Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan rasul Allah).

Selain dikenal sebagai ulama dan budayawan, Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai ahli ukir dan ahli busana. Maka dari itu, dalam hal berpakaian Kalijaga tetap memakai busana bangsawan ala Jawa, tidak seperti para wali yang lain yang berbusana ala Timur-Tengah. Dengan demikian, penampilan Sunan Kalijaga dikenal cukup fashionable.

Cerita pewayangan yang telah dikenal sejak zaman Mataram Kuno yang semula berwujud boneka (golek) yang tiga dimensi oleh Sang Sunan dibentuk menjadi pipih (dua dimensi) yang terbuat dari kulit binatang. Contoh lain dari islamisasi dalam koridor kebudayaan ini adalah busana yang dipakai Raden Patah sewaktu menjadi penguasa Demak bukanlah pakaian adat Timur Tengah, melainkan memakai kuluk, jamang, dan sumping laiknya bangsawan Jawa yang Hindu-Buddha. Selain hanya cukup mengucapkan syahadat, Islam tidak mengenal struktur sosial kasta seperti dalam Hindu.

Di samping faktor internal yang bersifat sosiokultural, faktor luar pun cukup memberikan pengaruhnya terhadap perkembangan Islam. Faktor luar tersebut di antaranya adalah tingkat intelektualitas kaum muslim yang dalam beberapa hal lebih tinggi dari masyarakat pribumi. Misalnya tradisi menulis: sebelumnya hanya para brahmana dan pujangga saja yang mampu membaca dan menulis aksara (Sansekerta, Kawi, Melayu Kuno, dan abjad tradisional lainnya); dan setelah Islam masuk tradisi menulis lebih berkembang karena hampir semua kalangan di umat muslim melek huruf setidaknya hanya mampu membaca sekalipun.

Perpaduan antara unsur budaya asli, Hindu-Budha dan Islam membentuk corak tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh para wali dan sunan, corak kebudayaan yang lama tidak dihilangkan dengan alasan agar masyarakat tidak terlalu kaget dengan perubahan. Dengan demikian, ajaran Islam dapat diterima dengan mudah dan tanpa ketakutan. Kaum ulama menyadari bahwa masyarakat Indonesia bersifat plural, masyarakat yang beranekaragam dalam hal bahasa, budaya, dan suku-bangsa. Unsur-unsur tradisi masih melekat dapat dirasakan hingga sekarang, di antaranya acara tahlilan, halal bi halal, berziarah, sekatenan, dan tembangan khususnya di Jawa.

1. Tahlilan

Umat Islam di Indonesia memiliki kekhasan sendiri yang tidak ditemui pada masyarakat Islam di Timur Tengah, salah satunya adalah tahlilan. Tahlilan adalah acara doa bersama yang diadakan di rumah keluarga orang yang meninggal, yang diikuti oleh keluarga yang berduka, para tetangga, dan sanak-saudara orang yang meninggal. Tahlilan pada dasarnya pengucapan "La ilaha illallah", yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah".

Tahlilan dimulai pada hari di mana orang bersangkutan meninggal, biasanya pada malam hari setelah salat magrib atau isya. Dalam pelaksanaannya, dibacakan ayat-ayat dari Al-Quran, terutama Surat Yaasin hingga dari ayat pertama hingga terakhir, doa-doa agar sang almarhum/almarhumah diampuni segala dosanya dan diterima amal-ibadahnya, serta salawat (salam) terhadap Nabi Muhammad beserta para kekuarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya. Pembacaan ayat dan doa tersebut biasanya dipimpin oleh seorang ulama. Setelah pembacaan doa selesai, biasanya tuan rumah yang berduka menyediakan penganan/makanan tradisional, air minum, serta berbungkus-bungkus rokok untuk disajikan kepada peserta tahlilan. Setelah berbincang-bincang sekadarnya, para peserta tahlilan pulang.

Acara tahlilan ini lazimnya diselenggarakan selama tujuh hari berturut-turut. Lalu setelah itu, diadakan pula tahlilan untuk memperingati 40 bahkan hingga 1.000 hari kematian almarhum/almarhumah. Peringatan 7, 40, dan 100 hari merupakan tradisi Indonesia pra-Islam, yakni budaya lokal yang telah bersatu dengan tradisi Hindu-Buddha. Pada zaman Majapahit, penghormatan terhadap orang yang meninggal dilakukan secara bertahap, yakni pada hari orang bersangkutan meninggal, 3 hari kemudian, 7 hari kemudian, 40 hari kemudian, 1 tahun kemudian, 2 tahun kemudian, dan 1000 hari kemudian.

Terlihat bahwa acara tahlilan tak sepenuhnya ajaran murni Islam. Nabi Muhammad tak pernah mengadakan acara tahlilan bila ada yang meninggal, melainkan hanya mendoakan agar orang meninggal tersebut diampuni dosanya dan diterima keimanan Islamnya.

2. Halal bi Halal

Salah satu lagi kekhasan sinkretisme dalam masyarakat Indonesia adalah tradisi halah bi halal. Halal bi halal secara harfiah berarti "yang halal dengan yang halal", "yang boleh dengan yang boleh", "saling melepaskan ikatan", atau "saling mencairkan hubungan yang membeku sebelumnya". Dengan kalimat lain, ia dapat berarti acara saling maaf-memaafkan antarsesama umat Islam.

Di Indonesia tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah bulan puasa (shaum) pada bulan Ramadhan berakhir, yakni perayaan Idul Fitri (Lebaran) pada tahun Hijriyah. Bila di Arab dan negara-negara Timur Tengah, budaya saling maaf-memaafkan antarumat Islam dilakukan ketika menjelang puasa bulan Ramadhan, di Indonesia tradisi maaf-memaafkan cenderung dilakukan setelah Ramadhan berakhir, yakni pada perayaan Idul Fitri (Lebaran). Perayaan saling memaafkan ini biasanya "diformalkan" menjadi acara saling mengunjungi (atau dikunjungi) antara saudara, kerabat, atau sahabat untuk saling meminta memaafkan. Tradisi ini disebut pula silaturahmi (silaturrahim), yang bertujuan umtuk memperpanjang dan menjaga hubungan antarsesama.

Bila ditelusuri, kebiasaan berhalal bi halal ini dilaksanakan sejak zaman kesultanan (kekhalifahan) non-Arab yang memiliki budaya sendiri sebelum Islam datang. Jadilah, pengaruh budaya lokal (non-Arab) tersebut saling berdialektika dengan tradisi asli Islam.

3. Ziarah

Dalam agama Islam dikenal tradisi ziarah, yakni berkunjung kepada makam atau kuburan untuk mendoakan almarhum/almarhumah agar iman Islamnya diterima oleh Sang Pencipta dan dihapuskan segala dosa yang pernah dilakuan selama hidupnya. Namun, pada perkembangannya di Indonesia, tradisi ziarah ini disisipi oleh kehendak-kehendak lain yang tak ada hubunganya dalam konteks keislaman.

Tradisi berziarah (pilgrim) Islam bercampur padu dengan tradisi pemujaan terhadap roh nenek-moyang atau dewa-dewa Hindu-Buddha, dan hasilnya adalah sang penziarah bukannya mendoakaan arwah yang meninggal akan tetapi memiliki tujuan lain, di antaranya meminta kekuatan gaib kepada roh nenek moyang atau arwah tokoh-tokoh penting dan keramat. Tak jarang, makam para wali di Jawa banyak dikunjungi oleh mereka yang memintai "petunjuknya" kepada roh sang wali yang telah meninggal. Padahal dalam pandangan Islam, orang yang sudah meninggal itu tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk memberikan bantuan kepada orang yang masih hidup, seperti memberikan kekayaan, jabatan, pangkat, kekebalan tubuh, atau yang lainnya. Maka dari itu, ada orang yang menyebut ziarah sebagai nandran atau nyadran atau nyekar. Tradisi nyekar ini merupakan peninggalan prasejarah yang paling kental dalam tradisi Islam sekarang.

Alkisah, pada tahun 1284 Saka atau 1362 M, Raja Majapahit, Hayam Wuruk melakukan acara srada untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Tradisi penghormatan terhadap roh nenek moyang terasa masih sangat kental, walaupun sudah masuk agama Hindu-Buddha. Di saat masuknya agama Islam, upacara seperti ini tidak hilang malah dibumbui dengan unsur-unsur Islam. Acara srada dalam bahasa Jawa sekarang adalah nyadran dilakukan pada bulan arwah (Ruwah) atau disebut pula Syaban untuk menjemput datangnya bulan Ramadhan serta pada hari raya Idul-Fitri dan Idul Adha (Lebaran Haji). Para penziarah mulanya membacakan doa-doa dan Surat Yaasin dari Al-Quran. Setelah itu mereka menaburkan bebungaan berwarna-warni dan mengucurkan air tawar yang telah diberi bacaan/doa di atas tanah makam yang dimaksud.

Tradisi tahlilan dan nyekar atau nyadran oleh sebagain ulama dipandang bid'ah, artinya menyimpang dari syariat Islam sesunggunya. Adapula yang menilainya sebagai makruh, yaitu tak dilarang namun lebih baik jangan dilaksanakan. Namun, oleh kalangan Islam liberal yang memegang paham pluralisme, tradisi-tradisi tadi sah-sah saja selama tak menyekutukan Tuhan. Mnurut mereka, tradisi tersebut merupakan fakta yang tak bisa dipungkiri dan dihapus bahwa sejak dahulu dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat keanekaragaman (diversity), dan Islam bukanlah agama yang kaku dan tak fleksibel, melainkan sebaliknya: luwes dan rahmat bagi semesta alam.

4. Sekatenan dan Grebeg Maulid

Upacara sekatenan diciptakan Sunan Bonang dalam rangka menyambut hari Maulud Nabi Muhammad Saw. yang jatuh pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Jadi, sekatenan merupakan bagian dari acara grebeg Maulud. Sunan Bonang, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwahnya. Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama Islam. Setiap bait diselingi ucapan syahadatain yang kemudian dikenal dengan istilah sekaten. Dalam tradisi sekatenan, semua pihak diharapkan keikutsertaannya, dari raja, abdi dalem istana, pasukan kerajaan, hingga rakyat kecil. Mereka tumpahruah di jalan guna berebutan berkah yang berupa nasi dan laukpauk berikut sayur mayurnya untuk disantap.

5. Kebatinan dan Kejawen

Kebatinan merupakan bentuk kerohanian yang menggabungkan kepercayaan agama kuno orang Jawa dengan tradisi mistik Hindu, Buddha, dan sufi-Islam (dan juga Kristen). Meski di luar Jawa terdapat pula pengikut kebatinan, namun sebagian besar pengikut ajaran ini memang orang Jawa. Ajaran kebatinan dan kejawen ini bukan hanya mencakup pengetahuan mistik, namun juga alam gaib yang dijalankan oleh kaum bangsawan maupun rakyat biasa. Dunia kebatinan ini sering disebut pula dunia asketisme dan dijalaninya dengan cara yang bermacam-macam, seperti bertapa, berpuasa, mengatur pernafasan.

Para pengikut kebatinan maupun kejawen tidak melaksanakan perintah syariat Islam secara lengkap. Mereka tidak sembahyang lima waktu, percaya terhadap kekuatan benda-benda sakti dan roh leluhur. Selain roh nenek-moyang, mereka pun memuja arwah-arwah tokoh sejarah dan legendaris, misalnya tokoh Wali Sanga, Panembahan Senopati, dewa-dewi Hindu seperti Dewi Sri atau Batara Kala. Dalam acara ruwatan, misalnya, seseorang diharapkan terhindarkan dari segala marabahaya dan kesialan dengan menanggap pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

6. Tembangan

Selain Sunan Bonang, dakwah dengan menggunakan media seni dilakukan oleh Sunan Giri. Ia menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam namun dengan langgam (nada-irama) Jawa. seperti "Ilir-ilir" dan "Jamuran". Sunan Drajat pun menciptakan tembang berbahasa Jawa, yakni "Pangkur". Tak ketinggalan, Sunan Muria ikut menciptakan tembang seperti "Sinom" dan "Kinanti". Tembang "Sinom" umumnya menggambarkan suasana ramah tamah dan berisi nasehat, sedangkan "Kinanti" yang bernada gembira digunakan guna menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan filsafat hidup. Sementara itu, Sunan Kalijaga berhasil menciptakan "Dandanggula", tembang yang berisi rukun iman. Berikut ini petikan dari "Dandanggula" dalam bahasa Jawa.

"...wa man tu bi’ilahi tegesi pun pracaya ing Allah ing Pangeran sejatine, ya Pangeran kang agung kang akarna bumi lan langit angganjar lawan niksa mring manusa sagung langgeng tur murba misesa maha suci angganjar paring rezeki, aniksa angapura"

Yang artinya adalah:
Sifat iman itu percaya kepada Allah Tuhan yang sejati dan Yang Maha Besar Yang menciptakan bumi dan langit, memberi dan menyiksa Kepada seluruh manusia, kekal dan berbuat sekehendaknya Yang memberi rezeki, yang memberi siksa dan mengampuni.

7. Tradisi-Tradisi Lainnya

Selain tahlilan, halal bi halal, ziarah, sekatenan-gerebeg, dan tembangan Jawa, masih banyak tradisi lainnya yang dalam praktiknya terbentuk dari campuran tradisi lokal, Hindu-Buddha, dengan Islam. Tradisi tersebut mencakupi acara selamatan kelahiran bayi (aqiqah), hari ashura, sunat atau khitan, pernikahan, dan lain-lainnya. Tradisi-tradisi ini hampir terdapat di semua daerah Indonesia yang terpengaruh agama-budaya Islam.

Bagi masyarakat Bugis, tanggal 10 Muharam dirayakan sebagai hari ashura, yakni tradisi kaum Syiah dalam memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, yakni Husein bin Abi Thalib yang dihabisi musuhnya secara kejam. Pada perayaan ashura disajikan hidangan ”bubur tujuh macam” yang berisi lauk-pauk berbeda.

Khusus bagi masyarakat Sasak di Lombok, di daerah ini sebagian masyarakatnya melakukan praktik Islam yang berbeda dengan ajarah syariah Islam. Ajaran Islam-sinkretis yang dilakukan oleh masyarakat bagian utara dan selatan Pulau Lombok ini disebut wetu telu atau tiga waktu. Ajaran wetu telu ini hampir sama dengan ajaran Hindu-Bali dan kejawen-Jawa. Mereka percaya akan roh leluhur atau kerabat yang mati akan tetap hidup di dunia lain. Arwah leluhur itu dipercaya dapat menolong orang yang masih hidup. Ada dua orang yang dapat memanggil arwah leluhur, yakni pemangku dan kyai. Bagi penganut wetu telu, alam sekitar seperti mata air dan bukit, memiliki jiwa. Dalam menjalankan ajaran Islam, para kyai tidak memimpin shalat lima kali sehari. Pada hari Jumat, khotbah tidak dilakukan. Di dalam mesjid wetu telu, terdapat patung kayu berbentuk naga yang disebut bayan, yang dianggap nenek moyang mereka.


Pengaruh Tradisi Lokal, Hindu-Buddha, dan Islam terhadap Perkembangan Kebudayaan di Indonesia

Interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dengan Islam akhirnya menghasilkan sesuatu yang budaya yang khas. Melalui proses akulturasi yang evolusioner (berjalan lambat-laun), masyarakat Indonesia semakin kaya akan keberagaman budaya, dari mulai bidang seni arsitekturnya, sastra, seni rupa, seni tarian dan musik, konsep kekuasaan, dan bidang-bidang yang lainnya.

1. Dalam Seni Arsitektur dan Bangunan

Corak arsitektur bangunan bercorak Islam yang ada di Indonesia banyak dipengaruhi warna Gujarat, India. Masyarakat Gujarat ini pada awalnya beragama Hindu, namun sejak Islam masuk ke India sebagian dari mereka memeluk Islam. Gaya arsitektur bangunan di Gujarat merupakan akulturasi antara Hindu dan Islam, sehingga bentuknya berbeda dengan bangunan yang berada di Arab. Dengan demikian, masuknya Islam melalui Gujarat tidak memengaruhi bentuk bangunan Indonesia yang masih melekat dengan budaya Hindu-Buddhanya.

Seperti candi dan biara, arsitektur bangunan mesjid dibuat secara khusus agar terlihat beda dengan bangunan-bangunan lainnya. Sebagai tempat beribadah tetntunya bangunan bersangkutan harus terlihat lebih spesial dibandingkan bangunan-bangunan lainnya dan tahan lama. Biasanya atap masjid dibuat berundak-undak (bertingkat), sedangkan masjidnya berdenah persegi panjang, memiliki serambi depan atau samping, dikelilingi benteng, dan gerbang masjid tersebut berbentuk gapura yang berornamen Hindu-Buddha. Contoh masjid-masjid yang berarsitektur seperti ini dapat dijumpai pada Mesjid Marunda di Jakarta, Mesjid Agung Demak, Mesjid Agung Banten, dan Mesjid Agung Cirebon. Adapula beberapa masjid arsitekturnya sangat kental akan nuansa Cina, masjid ini biasanya didirikan oleh komunitas Tionghoa muslim yang ada di Indonesia, dan tak jarang masjid tersebut berubah fungsi menjadi kelenteng karena ditinggalkan penduduk aslinya.

Gerbang Masjid Jamik di Sumenep, Madura

Gambar: Gerbang Masjid Jamik di Sumenep, Madura. Perhatikan atap masjid yang dipengaruhi arsitektur Cina

Biasanya, di sekitar masjid pada zaman dahulu selalu terdapat makam orang-orang penting di zamannya. Makam yang terdapat di belakang atau di samping masjid tersebut, biasanya merupakan tempat peristirahatan terakhir para raja beserta keluarga dan kerabatnya atau para wali. Makam-makam tersebut dibuat lebih tinggi dari tanah sebagai penanda bahwa kedudukan almarhum/almarhumah berbeda dengan rakyat biasa. Makam raja dan keturunannya dikumpulkan dalam satu wilayah seperti halnya keluarga (ayah, ibu, dan anak). Batu nisan pada makam dibuat dari batu dan ditulisi nama orang, tempat dan tanggal lahir dan meninggal orang bersangkutan dengan huruf Arab dan bertarikh hijriah.

a. Keraton

Perpaduan budaya dalam bentuk bangunan dapat dilihat dari bentuk arsitektur pada keraton sebagai tempat raja. Keraton yang berada di Jawa dan Sumatera kebanyakan merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan Hindu dan Buddha. Keraton-keraton yang terdapat di Jawa, lazimnya dihiasi dengan ornamen-ornamen hiasan khas Islam yang dipadukan dengan ornamen Jawa yang Hindu-Buddha. Pada gerbang tempat masuk kerajaan dihiasi oleh gapura dan makara model Majapahit atau Singasari. Ruangan-ruangan di dalam keraton tersebut dihiasi ukiran-ukiran yang memadukan unsur Islam dengan Hindu-Buddha.

b. Masjid

Bagi umat Islam, masjid merupakan pusat kekuasaan politik yang handal, selain sebagai lambang persatuan umat. Pada masa Raden Patah menjadi raja, Masjid Demak merupakan tempat para wali dan pihak kerajaan membahas masalah-masalah politik. Sebagai pemimpin umat, seorang raja dituntut untuk membangun masjid dengan semegah mungkin. Besar dan kecilnya bangunan masjid merupakan cerminan dari kekuasaan yang dimiliki oleh seorang raja.

Di Indonesia, sebelum seni arsitektur Islam dikenal betul, bangunan mesjid mengikuti seni arsitektur yang berkembang sebelumnya, seperti Mesjid Agung Cirebon, Agung Banten, Demak, Kudus, Jepara dan mesjid-mesjid lainnya. Mesjid-mesjid tersebut memiliki ciri atap yang bertumpuk-tumpuk yang banyak pengaruh dari budaya lokal dan Hindu-Buddha.

c. Makam

Sejarah senantiasa memperlihatkan kepada generasi mendatang tentang begitu banyak raja yang sangat cintai karena ketenaran dan kekayannya. Dan walaupun, raja tersebut sesungguhaya tak disukai rakyatnya, tetap saja makamnya dibangun begitu megah. Ketika raja tersebut meninggal dunia, sebuah makam atau kuburan pun dibuatkan dengan megah dan besar serta bercitra rasa arsitektural yang tinggi. Di India, misalnya, kita melihatnya pada Taj Mahal, makam permaisuri Sultan Syah Jehan dari Dinasti Mughal yang bernama Arjuman Banu Begum yang dikenal juga dengan Muntaz Mahal yang meninggal pada 1631.

Di Indonesia, sejumlah peninggalan makam raja-raja yang pernah berkuasa cukup terpelihara dengan baik. Tidak seperti jenazah raja-raja Hindu-Buddha yang diabukan dan disimpan dalam candi, jenazah raja-raja Islam biasanya dikubur dalam tanah. Setelah dikubur jenazahnya maka makam raja bersangkutan akan dipelihara dan disanjung-sanjung. Para raja dan kerabat raja Mataram-Islam memiliki komplek pemakaman khusus yang berada di Bukit Imogiri, Yogyakarta. Komplek Imogiri ini dibangun atas perintah Sultan Agung Mataram sebagai tempat kuburannya dan sanak-saudaranya kelak bila meninggal dunia.

Pembangunan komplek pemakaman di bukit tersebut memiliki motivasi yang bersifat kosmis yang berhubungan dengan kepercayaan animisme dan konsep dewa-dewi Hindu. Menurut kepercayaan tradisional, bukit atau dataran tinggi merupakan tempat yang layak bagi "tempat peristirahatan terakhir" seorang raja atau penguasa yang berperan sebagai wakil Tuhan di dunia. Bandingkanlah komplek Imogiri ini dengan komplek Candi Dieng peninggalan Mataram Kuno yang juga berada di dataran tinggi.

Selain makam raja, makam-makam kerabat istana dan para pemuka agama yang terpandang juga senantiasa dirawat dan pada momen-momen tertentu sering diziarahi orang untuk berbagai macam kepentingan. Makam para Wali Sanga, misalnya, hingga sekarang masih sering dikunjungi, terutama pada hari-hari raya besar Islam. Selain mendoakan arwah yang diziarahinya, para pendatang juga selalu berdoa meminta kepada makam atau arwah bersangkutan agar keinginannya terpenuhi. Tak jarang keinginan para peziarah tersebut berbau mistis atau duniawi, seperti minta awet-muda, jabatan, kekayaan, perjodohan, dan hal-hal keduniawian lainnya.

2. Pengaruh dalam Kesusastraan

Karya sastra merupakan cerminan budaya di mana sastra tersebut lahir dan berkembang. Sejak masa prasejarah, sastra telah berkembang dari generasi ke generasi secara tuturan (folklore). Dengan masuknya tradisi Hindu-Buddha, seni sastra di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatera) mengalami perkembangan yang progresif, sastra lisan pun beralih menjadi sastra tulis yang menandakan zaman sejarah dimulai. Para pujangga atau sekretarsi (juru tulis) istana menulis kitab-kitab dengan tema-tema beragam, tidak lagi terbatas kepada legenda dan mitologi semata, melainkan tema yang lebih rasional, yang bernilai sejarah. Karya-karya sastra India sangat kental pengaruhnya terhadap penulisan sastra yang berkembang pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Pada mulanya para pujangga istana menerjemahkan kitab-kitab India seperti Mahabharata dan Ramayana ke dalam bahasa ibu/daerah masing-masing, misalnya bahasa Melayu atau Jawa Kuno. Setelah kehidupan politik, sosial, ekonomi stabil, mereka kemudian menggubah atau memparafrasakan (menulis kembali berdasarkan kalimat-kalimat ciptaan sendiri bukan sekadar mengalihbahaskan semata) sastra-sastra India tersebut. Yang mempelopori penggubahan dari sastra India ke sastra Jawa Kuno (Kawi) adalah Dharmawangsa Teguh, yakni epik Mahabharata. Penggubahan ini makin pesat pada masa berikutnya. Lahirlah karya sastra dalam bentuk kakawin seperti: Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Gatotkaca Sraya karya Mpu Panuluh, Kresnayana karya Mpu Triguna. Di daratan Sumatera dan Melayu lahir pula karya-karya saduran dari India seperti Hikayat Sri Rama (saduran dari Ramayana), Hikayat Pandawa, Hikayat Pandawa Panca Kelima, Hikayat Pandawa Jawa (semuanya saduran dari epos Mahabharata), serta Hikayat Sang Boma meski ada kemungkinan baru ditulis setelah pengaruh Islam datang.

Selain menggubah dan menyadur, para pujangga makin memperlihatkan kematangannya sebagai budayawan. Mereka mulai mengarang kisah-kisah sendiri meski temanya tidak jauh dengan karya-karya pada zaman sebelumnya. Masa ini di Jawa disebut masa Jawa-Hindu-Buddha bukan lagi masa Hindu-Buddha-Jawa, yang artinya bahwa para sastrawan telah menemukan "jati diri" mereka sebagai orang Jawa dalam bekarya; begitu pula di Ranah Melayu dan daerah-daerah lain di Indonesia. Berikut ini adalah sejumlah karya "asli" para pujangga Jawa: Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu Tantular, kitab Pararaton, Kidung Sunda, Ranggalawe, Sorandaka, Usana Jawa, Sutasoma karya Mpu Tantular, Smaradhana karya Mpu Dharmaja, Lubdaka dan Wrtasancaya karya Mpu Tanakung.

Setelah masyarakat Indonesia mengenal agama dan kebudayaan Islam, perkembangan dunia sastra makin pesat. Banyak karya sastra yang bersifat historiografi tradisional yang di dalamnya memuat elemen-elemen kesejarahan namun tetap mengandung unsur-unsur pra-Islam. Kitab-kitab seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, Hikayat Hasanuddin dapat dijadikan sumber dalam melacak sejarah kedatangan Islam ke Indonesia. Di Jawa muncullah kitab-kitab dalam bentuk suluk, hikayat, serat, dan perimbon. Perimbon ini berisi ramalan dan penentuan hari yang baik untuk berdagang, mencari ilmu, menikah, acara syukuran, dan sebagainya.

Pada masa Mataram-Islam, pengaruh seni musik, sastra, dan bahasa Jawa menyebar ke wilayah lainnya di Nusantara. Sebagai pihak yang paling berkuasa secara politik, otomatis Mataram pun menghendaki bahwa seni-budaya khas Mataram dikenal dan dipelajari oleh kerajaan-kerajaan lain sebagai bawahannya. Oleh karena itu, misalnya, di daerah Priangan (Jawa Barat) dikenal sejumlah kosa kata dan tembang yang berasal dari budaya Jawa.

Karya-karya sastra di Jawa hasil akulturasi Islam-tasawuf dengan konsep Jawa-Hindu-Buddha antara lain:
  • Suluk Minang Sumirang, menggambarkan jiwa manusia menyatu dengan Tuhan.
  • Suluk Sukarsa, menceritakan Ki Sukarsa mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan. Cerita ini mirip cerita Dewa Ruci dalam cerita pewayangan Jawa yang mengisahkan pencarian Bima (Pandawa nomor dua) akan hakikat dan makna kehidupan.
  • Suluk Wijil, berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wijil, seorang mantan abdi istana di Majapahit yang bertubuh cebol.

Karya-karya sastra Melayu (dan kemudian Jawa) banyak terpengaruhi oleh kebudayaan Arab dan Persia. Cerita-cerita terkenal dari Timur Tengah ikut menyemarakkan sastra yang beredar di Indonesia. Cerita seperti Kisah 1001 Malam gubahan sastrawan yang hidup pada masa Dinasti Umayyah, yakni Abu Nawas dari Irak, atau cerita Aladin yang banyak memperngaruhi sastra Melayu di bagian barat Indonesia. Sastra karya Hamzah Fansuri merupakan contoh hasil akulturasi kebudayaan Islam-Timur-Tengah dengan ajaran Buddha.

Hamzah Fansuri adalah contoh begitu terpengaruhnya para sastrawan Sumatera oleh karya sastra Timur Tengah. Dua karya sastra Hamzah Fansuri yang terkenal adalah Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingai. Syair Perahu menggambarkan manusia yang didibaratkan perahu yang mengarungi lautan dengan menghadapi segala rintangan. Segala rintangan tersebut dalam pandangan tulisan tersebut harus dihadapi oleh tauhid dan makrifat kepada Tuhan (Allah SWT). Sedangkan Syair si Burung Pingai menggambarkan manusia sebagai seekor burung yang dianggap sebagai dzat Tuhan.

Selain karya-karya di atas, akulturasi sastra Islam dengan budaya lokal bisa dilihat dari karya-karya sastra lainnya, seperti Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekel Weneng Pati, Hikayat Panni Wilakusuma, Syair Ken Tumbunan, Lelakon Mesda Kuminir. Karya-karya yang kaya dengan budaya Islam dan lokal ini banyak dihasilkan pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, terutama yang ada di Sumatera dan Semenanjung Melayu.

Naskah Salinan Hikayat Hang Tuah

Gambar: Naskah Salinan Hikayat Hang Tuah yang ditulis tahun 1882 di Malaka

Budaya dan sastra Jawa, berbeda dengan budaya Sumatera, pengaruh kebudayaan Hindu-Buddhanya sangat kental dan sarat akan unsur-unsur "kebatinan". Pada saat kebudayan ini berrtemu dengan tasawwuf dalam Islam, akhirnya menjadi sangat pas untuk dikembangkan. Karya-karya sastra Jawa, seperti suluk yang berisi tentang ramalan, masalah gaib dan arti dari simbol-simbol tertentu. Suluk merupakan bagian dari ajaran tasawuf yang isinya tantang proses menuju makrifat.

3. Konsep Kekuasaan

Bentuk akulturasi, tidak terjadi hanya dalam wilayah kesenian dan sosial kemasyarakatan, melainkan juga merambah ke dalam dunia politik dan kekuasaan. Dalam tradisi Jawa Hindu-Buddha, seorang raja selalu ditempatkan menjadi seorang yang memiliki tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan manusia lain. Begitu pula dalam ajaran Islam, raja atau sultan dipandang sebagi wali atau wakil Tuhan di muka bumi agar kehidupan bermasyarakat terjamin.

Seorang sultan akan dipandang rendah bila ia tak mampu mengembang amanah rakyat yang dipercayakan ke pundaknya. Dan konsepsi akan kekuasan Hindu-Buddha dan Islam tersebut pertama-tama akan berhadapan dengan konsep kekuasaan tradisional, yang senantiasa dihubung-hubungkan dengan alam gaib. Karena anggapan dan persepsi tadi, konsep kekuasaan, baik pada masa Hindu-Buddha maupun Islam, selalu disangkutpautkan dengan hal-hal mistis, contohnya:
  • Seorang raja di Jawa, baik ia Hindu, Buddha, atau Islam, selalu akan memperkuat legitimasi kekuasannya dengan mengaku sebagai "suami" dari Nyi Roro Kidul, tokoh wanita cantik yang legendaris yang konon penguasa Pantai Selatan (Segara Kidul) di Pulau Jawa (Samudera Indonesia).
  • Seorang raja selalu mengangkat dirinya sebagai penjelmaan dewa di dunia (dewaraja) atau seorang khilafah (utusan) Tuhan di muka bumi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat anggapan bahwa seorang raja memiliki hubungan tertentu dengan dewa atau Tuhan.
  • Raja-raja di Jawa selalu menggunakan gelar-gelar yang menunjukkan bahwa kekuasaan mereka sangat kuat dan agung, misalnya gelar Mas Jolang raja Mataram: "Sultan Agung Hanyokrokusumo Senopati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidina Panatagama" yang seolah-olah ia merupakan raja sekaligus senapati tak tertandingi dalam peperangan dan juga sekaligus pemimpin agama. Atau lihat pula gelar yang dipakai Mpu Sindhok pendiri Dinasti Isana yaitu "Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa" yang menandai bahwa ia adalah penguasa bumi, wakil dewa, dan juga pendiri dinasti baru.

Raja-raja biasanya memiliki benda-benda pusaka yang biasa dipakai untuk menyimpan kekuatan magis. Kekuatan ini dalam anggapan para raja mampu menahan marabahaya, kesulitan, bencana alam dan gejolak alam lainnya. Benda-benda tersebut biasanya berbentuk keris, payung, tombak, gong, bahkan gamelan musik, dan benda-benda keramat lainnya. Kebesaran seorang raja atau penguasa pun hingga kini sering terlihat dari dipahatkannya patung-patung raja bersangkutan, seperti halnya raja-raja Hindu-Buddha pada masa lalu.


Perbandingan Konsep Kekuasaan di Kerajaan-Kerajaan Hindu–Buddha dan Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam

1. Konsep Kekuasaan di Kerajaan-kerajaan Bercorak Hindu atau Buddha

Sejak zaman Prasejarah, yakni sebelum masuknya pengaruh Hindu–Buddha, sebenarnya telah terdapat semacam pola atau sistem tertentu dalam hubungan antara "pemimpin" dan "rakyat". Pada zaman Megalitikum telah terdapat struktur pemerintahan yang sederhana. Seorang pemimpin masyarakat yang kurang lebih setingkat dengan desa dipilih berdasarkan asas primus interpares, artinya pemimpin dipilih dari orang yang memiliki kelebihan dan keunggulan dari yang lain (disegani dan sakti) sehingga mampu melindungi dan mengayomi masyarakatnya.

Dengan adanya pengaruh Hindu–Buddha dari India menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan terhadap kebudayaan Indonesia asli. Pengaruh Hindu–Buddha bukan saja mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman Sejarah, tetapi juga membawa perubahan dalam susunan masyarakatnya, yakni timbulnya kedudukan raja dan bentuk pemerintahan kerajaan. Dengan demikian, pola kepemimpinan yang ada kemudian meningkat menjadi sistem kerajaan. Itulah sebabnya kemudian muncul sebutan raja. Untuk memperkuat kedudukan raja maka ada kebiasaan untuk mengundang brahmana untuk pentasbihan (abhiseka = penobatan), dan sekaligus menjadikannya sebagai penasihat spiritual raja.

Selanjutnya untuk menjaga kelestarian suatu kekuasaan maka muncul prinsip geneology kinship (keturuan). Artinya yang berhak menjadi raja adalah keturunannya. Di samping itu, menurut konsep Jawa orang yang menjadi raja ialah orang yang mendapatkan "wahyu". Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan raja itu datangnya dari "atas" (Dewa = Tuhan). Dengan berlandaskan ajaran Hindu–Buddha maka muncullah "kultus dewa raja", dalam pengertian kekuasaan raja seperti dewa. Raja dianggap sebagai penjilmaan dewa sehingga apa yang dikatakan raja adalah benar, "sabda pandita ratu datan kena wola-wali".

Dengan demikian, pengaruh Hindu–Buddha turut membentuk konsep kekuasaan yang berpusat pada raja dan muncullah "kultus dewa raja". Kekusaan raja sangatlah besar, raja berwenang memerintah seluruh negara (menang wisesa sa nagari). Di balik kekuasaannya yang besar raja juga harus mengimbangi dengan kewajibannya yang besar pula, yakni mampu melindungi rakyatnya sehingga tercipta kedamaian dan ketentraman. Oleh karena itu, kemudian muncul suatu konsep tentang idealnya seorang raja, yakni harus memiliki sifat "astabrata" atau delapan kebajikan sebagai seorang pemimpin seperti yang dimiliki oleh delapan dewa dalam kepercayaan Hindu, seperti berikt ini:
  • Memiliki jiwa dermawan, sifat Dewa Indra;
  • Memiliki kemampuan untuk menekan semua kejahatan, sifat Dewa Yama;
  • Memiliki kebijaksanaan, sifat Dewa Surya;
  • Memiliki sifat kasih sayang, welas asih terhadap rakyat, sifat Dewa Candra;
  • Memiliki pandangan yang luas dan tajam, sifat Dewa Bayu;
  • Mampu menciptakan keamanan, ketenteraman dan kesejerahteraan, sifat Dewa Kuwera;
  • Mampu menghadapi berbagai macam kesulitan, sifat Dewa Baruna;
  • Memiliki keberanian yang menyala-nyala dan tekad yang bulat, sifat Dewa Brahma.

2. Konsep Kekuasaan di Kerajaan-Kerajaan Islam

Jika masa Hindu–Buddha, konsep kekuasaan diwarnai oleh nilai-nilai religius Hindu–Buddha sehingga muncul kultus dewa raja maka pada masa kerajaan-kerajaan Islam, konsep kekuasaan juga diwarnai nilai-nilai religus, yakni islamisme. Raja pada masa kerajaan-kerajaan Islam menggunakan gelar sultan atau susuhunan. Sultan adalah istilah dalam bahasa Arab yang jika di indonesiakan sama dengan raja yakni penguasa kerajaan. Susuhunan dari kata suhun yang artinya terhormat, disembah/dipuji.

Jika pada masa Hindu–Buddha para brahmana berperan sebagai penasihat raja maka pada masa Islam yang menjadi penasihat raja ialah pada wali/sunan atau kiai. Raja pada masa Islam juga memiliki kekuasaan yang besar seperti pada masa kerajaan-kerajaan Hindu–Buddha. Bahkan, untuk raja-raja Jawa umumnya dan Mataram Islam khususnya, muncul konsep keagung-binatharaan. Dalam dunia pewayangan kekuasaan yang besar itu bisa digambarkan sebagai gung binathara bau dhendha nyakrawati (sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa dunia). Raja tidak hanya berkuasa di bidang politik, tetapi juga di bidang agama sehingga muncul gelar Sayidin Panatagama.

Raja yang dikatakan baik adalah raja yng menjalankan kekuasaannya dalam keseimbangan antara kewenangannya yang besar dan kewajibannya yang besar juga. Konsep itulah yang disebut keagungbinatharaan, yakni berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta, (meluap budi luhur mulia dan sikap adilnya terhadap sesama). Selain itu, tugas raja adalah anjaga tata titi tentreming praja (menjaga keteraturan dan ketenteraman hidup rakyat) supaya tercapai suasana karta tuwin raharja (aman dan sejahtera). Jika diibaratkan sama dengan konsep Hindu–Buddha berupa astabrata. Selanjutnya, untuk pembinaan kekuasaan dilakukan dengan menyusun silsilah (silsilah politik) sebagai garis keturunan yang berhak menggantikan takhta kerajaan.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: