PA Islam dan Budi Pekerti Dalam Pembelajaran Tematik Terpadu SD


Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap, dan kepribadian peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dilaksanakan melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan, yang pengamalannya dapat dikembangkan dalam berbagai kegiatan baik yang bersifat kokurikuler maupun ekstrakurikuler.

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah pendidikan yang berlandaskan pada aqidah yang berisi tentang keesaan Allah Swt sebagai sumber utama nilai-nilai kehidupan bagi manusia dan alam semesta. Sumber lainnya adalah akhlak yang merupakan manifestasi dari aqidah, yang sekaligus merupakan landasan pengembangan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah pendidikan yang ditujukan untuk dapat menserasikan, menselaraskan dan menyeimbangkan antara iman, Islam, dan ihsan yang diwujudkan dalam:
  1. Hubungan manusia dengan Allah Swt. Membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.
  2. Hubungan manusia dengan diri sendiri. Menghargai, menghormati dan mengembangkan potensi diri yang berlandaskan pada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.
  3. Hubungan manusia dengan sesama. Menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama serta menumbuhkembangkan akhlak mulia dan budi pekerti luhur.
  4. Hubungan manusia dengan lingkungan alam. Penyesuaian mental keislaman terhadap lingkungan fisik dan sosial.

Tujuan pedoman ini adalah Menjadi acuan bagi para guru PAI dan Budi Pekerti jenjang SD/MI dalam merencanakan, melaksanakan, dan melakukan penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran. Meningkatkan kemampuan guru PAI dan Budi Pekerti dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran PAI. Meningkatkan kualitas pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di sekolah sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Sasaran yang hendak dicapai pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti adalah untuk memenuhi kebutuhan guru dalam upaya menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Pembelajaran yang dimaksud, mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dikembangkan pada setiap satuan pendidikan sesuai dengan strategi implementasi kurikulum 2013 dengan menggunakan pendekatan scientific dan penilaian authentic.

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR

A. Kompetensi Inti

Isi Kurikulum 2013 dikembangkan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Inti dikembangkan dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan merupakan kualitas minimal yang harus dikuasai peserta didik di kelas untuk setiap mata pelajaran. Kompetensi Inti terdiri atas jenjang kompetensi minimal yang harus dikuasai peserta didik di kelas tertentu, isi umum materi pembelajaran, dan ruang lingkup penerapan kompetensi yang dipelajari. Jenjang kompetensi dalam KI meningkat untuk kelas-kelas berikutnya, KI tidak memuat konten khusus mata pelajaran tetapi konten umum yaitu fakta, konsep, prosedur, metakognitif dan kemampuan menerapkan pengetahuan yang terkandung dalam setiap mata pelajaran. Perluasan penerapan kompetensi yang dipelajari dinyatakan dalam KI, dimulai dari lingkungan terdekat sampai ke lingkungan global. Dalam desain Kurikulum 2013, Kompetensi Inti berfungsi sebagai pengikat bagi Kompetensi Dasar. Oleh karena itu, setiap Kompetensi Dasar yang dikembangkan harus mengacu kepada Kompetensi Inti.

Kompetensi Inti terdiri atas empat dimensi yang satu sama lain saling terkait. Keempat dimensi tersebut adalah: sikap spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4), yang tercantum dalam pengembangan Kompetensi Dasar, Silabus, dan RPP. Dalam proses pembelajaran, KI 1 dan KI 2 dikembangkan di setiap kegiatan sekolah dengan pendekatan pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Sedangkan KI 3 dan KI 4 dikembangkan oleh masing-masing mata pelajaran dengan pendekatan pembelajaran langsung (direct teaching). Kompetensi Inti 3 (KI 3) menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif) dalam jenjang kemampuan kognitif dari mengingat sampai mencipta. Sedangkan KI 4 merupakan penerapan dari apa yang dipelajari pada KI 3 dalam proses pembelajaran yang terintegrasi ataupun terpisah. Pembelajaran terintegrasi mengandung makna bahwa proses pembelajaran KI 3 dan KI 4 dilakukan pada waktu bersamaan baik di kelas, laboratorium maupun di luar sekolah. Pembelajaran terpisah mengandung makna bahwa pembelajaran mengenai KI 3 terpisah dalam waktu dan/atau tempat dengan KI 4.

Selanjutnya, setiap KI dijabarkan dalam bentuk Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Dasar (KD) dari masing-masing KI menjadi rujukan guru dalam pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

Lingkup kompetensi minimal pada jenjang SD/MI Kelas I-VI SD/MI meliputi lingkungan keluarga, teman, guru dan tetangga. Kompetensi minimal tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut oleh satuan pendidikan yang telah memenuhi standar nasional pendidikan.

B. Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar (KD) adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi Inti yang harus diperoleh peserta didik melalui pembelajaran. Kompetensi Dasar setiap mata pelajaran dikembangkan dengan merujuk kepada Kompetensi Inti dan setiap KI memiliki KD yang sesuai. Dengan perkataan lain, KI 1 memiliki KD yang berkaitan dengan sikap spiritual, KI 2 memiliki KD yang berkaitan dengan sikap sosial, KI 3 memiliki KD yang berkaitan dengan pengetahuan dan KI 4 memiliki KD yang berkaitan dengan keterampilan. KI-1, KI-2, dan KI-4 dikembangkan melalui proses pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3. KI-1 dan KI-2 tidak diajarkan langsung, tetapi indirect teaching pada setiap kegiatan pembelajaran.

Setiap kompetensi berimplikasi terhadap tuntutan proses pembelajaran dan penilaian. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran dan penilaian pada tingkat yang sama memiliki karakteristik yang relatif sama dan memungkinkan terjadinya akselerasi belajar dalam 1 (satu) tingkat Kompetensi. Selain itu, untuk tingkat kompetensi yang berbeda menuntut pembelajaran dan penilaian dengan fokus dan penekanan yang berbeda pula. Semakin tinggi Tingkat Kompetensi, semakin kompleks intensitas pengalaman belajar peserta didik dan proses pembelajaran serta penilaian Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang dimaksud di atas mulai dari jenjang SD/MI Kelas I sampai dengan Kelas VI.

DISAIN DASAR PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI

A. Karakteristik Mata Pelajaran PAI dan Budi Pekerti

Karakteristik pembelajaran PAI dan Budi Pekerti pada setiap satuan pendidikan terkait erat pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran PAI dan Budi Pekerti mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), dan tematik internal (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya (project based learning), dan berbasis pemecahan masalah (problem based learning).

Rincian gradasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan adalah: sikap, pengetahuan, keterampilan, menerima, mengingat, mengamati, menjalankan, memahami, menanya, menghargai, menerapkan, mencoba, menghayati, menganalisis, menalar, mengamalkan, mengevaluasi, menyaji, dan mencipta.

Adapun karakteristik mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti adalah:
  1. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari materi pokok pendidikan agama Islam (al-Qur’an dan Hadis, aqidah, akhlak, fiqih dan sejarah peradaban Islam).
  2. Ditinjau dari segi muatan pendidikannya, PAI dan Budi Pekerti merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Maka, semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti.
  3. Diberikannya mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., berbudi pekerti yang luhur (berakhlak yang mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk memelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut. 4. PAI dan Budi Pekerti adalah mata pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, PAI dan Budi Pekerti tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, tetapi yang lebih penting adalah pada aspek afektif dan psikomotornya.
  4. Secara umum mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw., juga melalui metode ijtihad (dalil aqli), para ulama dapat mengembangkannya dengan lebih rinci dan mendetail dalam kajian fiqih dan hasil-hasil ijtihad lainnya.
  5. Tujuan akhir dari mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak yang mulia (budi pekerti yang luhur), yang merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw di dunia. Hal ini tidak berarti bahwa pendidikan Islam tidak memerhatikan pendidikan jasmani, akal, ilmu, ataupun segi-segi praktis lainnya, tetapi maksudnya adalah bahwa pendidikan Islam memerhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya.

B. Disain Dasar Pembelajaran Pelajaran PAI dan Budi Pekerti

1. Perencanaan

Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Silabus

Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Silabus paling sedikit memuat:
  • Identitas mata pelajaran;
  • Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas;
  • Kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran;
  • Kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran;
  • Tema (khusus SD/MI);
  • Materi pembelajaran;
  • Pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan;
  • Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;
  • Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan
  • Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan.

Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan danStandar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu. Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pesertadidik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Komponen RPP terdiri atas:
  • Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
  • Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
  • Kelas/semester;
  • Materi pembelajaran;
  • Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian kd dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan kd yang harus dicapai;
  • Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
  • Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
  • Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
  • Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
  • Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan), dan penutup; dan
  • Penilaian hasil pembelajaran.

Prinsip Penyusunan RPP

Dalam menyusun RPP hendaknya memerhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
  • Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
  • Partisipasi aktif peserta didik.
  • Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.
  • Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
  • Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
  • Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian 7 Kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
  • Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
  • Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, meliputi kegiatan pendahuluan, inti dan penutup.

a. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
  • Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
  • Memberi motivasi belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaatdan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional;
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
  • Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan
  • Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan/atau scientific dan/atau inkuiridan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan.
  1. Sikap. Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong siswa untuk melakuan aktivitas tersebut.
  2. Pengetahuan. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Karakteritik aktivititas belajar dalam domain pengetahuan ini memiliki perbedaan dan kesamaan dengan aktivitas belajar dalam domain keterampilan. Untuk memperkuat pendekatan scientific, dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penyingkapan penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
  3. Keterampilan. Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong siswa untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquirylearning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi:
  • Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
  • Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok; dan
  • Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

3. Penilaian

Penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik (authentic assesment) yang menilai kesiapan siswa, proses, dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan belajar siswa atau bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran.

Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Dalam PAI, penilaian yang dilakukan adalah penilaian proses dan outcome yang dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.
  • Penilaian Unjuk Kerja. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: Praktik salat, baca al-Qu’ran, presentasi, diskusi, bermain peran, dll.
  • Penilaian Tertulis. Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.
  • Penilaian Projek. Penilaian projek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
  • Penilaian Produk. Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti hasil karya seni kaligrafi Arab dan lain sebagainya.
  • Penilaian Portofolio. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, antara lain: seni kaligrafi Arab, resensi buku/literatur, laporan kerja individu atau kelompok, dan lain sebagainya.
  • Penilaian Diri (Self Assessment). Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN

Dari sekian banyaknya model-model pembelajaran, ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diantaranya:

A. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Direct Instruction diartikan dengan Instruksi Langsung dikenal juga dengan active learning atau ada juga yang menamakan whole-class teaching. Hal ini mengacu pada gaya mengajar guru yang mengusung isi pelajaran kepada peserta didik dan mengajarkannya secara langsung kepada mereka. Karena model ini masih merupakan rentetan dari model pembelajaran behavioral, maka sasaran yang dilakukan oleh guru adalah pencapaian tingkah laku yang lebih positif dan lebih baik dari sebelumnya, kepada seluruh peserta didik Dalam model ini juga, guru menjelaskan mengenai suatu konsep baru kepada peserta didik. Pembelajarannya ditekankan pada aspek modelling, reinforcement (penguatan), feedback (respon balik), successive approximation (perkiraan suksesif), yang pada akhirnya tercipta tingkah laku peserta didik yang lebih positif.

Oleh karena karakternya yang seperti itu, tidak semua materi dapat menggunakan model ini, model ini hanya dapat diterapkan pada materi-materi yang membutuhkan latihan, meskipun demikian model ini mempunyai track record empiris yang cukup solid. Untuk pembelajaran PAI dan Budi Pekerti misalnya, guru dapat melaksanakan model ini pada materi memahami surah dalam al-Qur’an dan materi praktik bersuci atau salat.

Prinsip

Prinsip-prinsip rancangan dalam model Direct Instruction ini adalah :
  • Konseptualisasi performa pembelajaran ke dalam tujuan-tujuan dan tugas-tugas;
  • Menguraikan tugas-tugas tersebut ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil;
  • Mengembangkan aktivitas-aktivitas latihan;
  • Memastikan adanya penguasaan;
  • Menyusun seluruh situasi pembelajaran ke dalam rangkaian-rangkaian yang memastikan adanya transfer antara satu komponen dengan komponen yang lain;
  • Terpenuhinya prasyarat pembelajaran sebelum menapaki pembelajaran berikutnya.

Keunggulan

Keunggulan dari model direct instruction ini adalah :
  • Fokus terhadap pencapaian akademik peserta didik;
  • Arahan dan kontrol guru sangat dominan;
  • Harapan yang tinggi untuk peserta didik;
  • Sistem manajemen waktu sangat ketat sehingga dalam jangka waktu tertentu pencapaian kemampuan akademik peserta didik dapat terpenuhi.

Dari keunggulan-keunggulan yang dipaparkan di atas, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa model ini dirancang sedemikian rupa untuk membuat sebuah lingkungan pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian prestasi akademik dan mengharuskan peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pada saat melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam bagian sebelumnya, telah dipaparkan, bahwa model Direct Instruction ini adalah model pembelajaran yang terdiri dari; penjelasan guru mengenai konsep baru, menguji pemahaman peserta didik di bawah bimbingan guru, dan mendorong mereka untuk terus melaksakan Praktik. Adapun pelaksanaan dari model ini terbagai menjadi tiga tahap yaitu :

Tahap Persiapan
Sebelum melaksanakan model ini, guru membuat ‘kontrak belajar’ yang berisi :
  • Menentukan materi pelajaran;
  • Melakukan peninjauan terhadap materi sebelumnya dan mengaitkan dengan materi yang akan datang (appersepsi);
  • Menentukan tujuan pelajaran; dan
  • Menentukan prosedur pengajaran diantaranya adalah arahan yang jelas dan eksplisit tentang tugas yang harus dilakukan, penjelasan tentang aktivitas yang harus dilakukan dan dijalani selama proses pembelajaran, membuat rekapitulasi hasil pelajaran (daftar nilai).

Tahap Pelaksanaan
  • Presentasi yang dilakukan oleh guru adalah : Menyajikan materi dengan singkat, padat dan memikat, Menyediakan beragam contoh tentang keterampilan baru, Memberi gambaran mengenai tugas pembelajaran, Menghindari digresi, tetap dan konsisten dalam satu topik, Menjelaskan poin yang sulit.
  • Praktik yang terstruktur. Guru menuntun peserta didik dengan cara memberi contoh, Peserta didik merespons, Guru memberikan koreksi terhadap kesalahan dan memperkuat paraktek yang benar.
  • Praktik di bawah bimbingan guru. Peserta didik melakukan Praktik lagi di bawah bimbingan guru, Guru menyuruh peserta didik melakukan Praktik secara bergiliran.
  • Diskusi. Guru menguji pemahaman peserta didik tentang skill yang baru diajarkan dengan cara menanyakan pertanyaan yang efektif kepada mereka, dengan cara:Mengajukan pertanyaan yang konvergen yaitu pertanyaan yang mengarah pada satu jawaban, Memastikan bahwa seluruh peserta didik memiliki kesempatan untuk merespons, Mengajukan pertanyaan pada mereka selama beberapa waktu, Menghindari pertanyaan yang tidak berhubungan dengan akademik.

Guru memberi respons balik. Dalam memberikan respons balik, hendaknya seorang guru menjadi guru yang efektif dengan kriteria: Apabila jawaban peserta didik salah, guru tidak menghakimi, Tanggap terhadap peserta didik, Guru menjelaskan dengan objektif apabila peserta didik mempunyai nilai baik.

Tahap Akhir
Tahap akhir dari rangkaian model Direct Instruction ini adalah dengan melaksanakan praktik mandiri, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Peserta didik melakukan Praktik secara mandiri di kelas atau di rumah;
  • Guru menunda memberikan respons terhadap peserta didik apabila mereka belum menyelesaikan seluruh rangkaian materi pelajaran;
  • Praktik mandiri dilakukan beberapa kali, dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa hal yang merupakan stressing dari model pembelajaran Direct Instruction ini, yaitu:
  1. Dengan model ini, peserta didik menghabiskan 50-70% waktu untuk mengeksplorasi kemampuannya seorang diri, oleh karena itu guru harus dapat mengarahkan dan membimbing secara produktif, sehingga mereka menjadi aktif. Cara yang dapat ditempuh oleh guru dalam mengarahkan mereka adalah dengan persiapan yang matang dan penyajian yang optimal.
  2. Inti dari model ini adalah aktivitas Praktik peserta didik.
  3. Tingkat Praktik yang dimaksud adalah ;
  4. Memperkenalkan skill baru, dengan cara : Membuat pengelompokan, Peserta didik melaksanakan Praktik, Peserta didik melaksanakan Praktik mandiri, Peserta didik menguasai dengan kesalahan yang minimal.
  5. Penggunaan waktu yang optimal, karena panjang pendeknya sesi berdasarkan pada satu asumsi; semakin sering seseorang untuk memPraktikan sebuah skill, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melupakannya. Sebaliknya semakin jarang seseorang untuk memPraktikan sebuah skill, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk melupakannya.
  6. Kebutuhan akan pemantauan skill peserta didik. Peserta didik sangat membutuhkan respons balik dari guru yang sifatnya korektif untuk mencegah prosedur yang tidak benar, Mendorong peserta didik untuk mencapai tingkat prestasi akademik antara 85-90%, Mereview pelajaran secara berkala, Peserta didik tidak dibiarkan untuk tidak mengulang-ulang skillnya, langkah ini merupakan antisipasi supaya mereka tidak melupakannya.

B. Model Pembelajaran Kooperatif

Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesakan suatu tugas, atau untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Bukanlah cooperative learning jika siswa duduk bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan mempersilahkan salah seorang diantaranya untuk menyelesaikan pekerjaan seluruh kelompok. Cooperative learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas suatu masalah atau tugas.

Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam cooperative learning agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif, hal tersebut meliputi: pertama para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai. Kedua para siswa yang tergabung dalam sebuah kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu. Ketiga untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya.

Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yangn terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok, yaitu saling ketergantungan positis, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.

Ciri-ciri pembelajaran Kooperatif
  • Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  • Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  • Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelmin berbeda-beda.
  • Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Tujuan pembelajaran kooperatif
  • Hasil belajar akademik
  • Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit.
  • Penerimaan terhadap perbedaan individu.
  • Efek penting yang kedua adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuan.
  • Pengembangan keterampilan sosial.
  • Model pembelajaran kooperatif bertujuan mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi.

Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif:
  • Prinsip ketergantungan positif. Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya.
  • Tanggung jawab perseorangan. Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip yang pertama. Karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
  • Interaksi tatap muka. Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota dan mengisi kekurangan masing-masing.
  • Partisipasi dan komunikasi. Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh karena itu, sebelum melakukan pembelajaran, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi.

Prosedur Pembelajaran Koperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu :
  • Penjelasan materi. Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahapan ini dalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok.
  • Belajar dalam kelompok. Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masning yang telah dibentuk sebelumnya.
  • Penilaian. Penilain dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok
  • Pengakuan Tim. Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi (Wina Sanjaya: 2008).

C. Model Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Untuk memperkuat pengalaman belajar siswa diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri, dan bahkan sekedar sebagai pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru. Oleh karena itu melalui pendekatan CTL, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada sisawa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup dari apa yang dipelajarinya.

Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

  1. Melakukan hubungan yang bermakna. Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat.
  2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan. Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
  3. Belajar yang diatur sendiri. Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata.
  4. Bekerja sama. Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
  5. Berpikir kritis dan kreatif. Siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif, dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
  6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa. Siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yanng tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanda dukungan orang dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.
  7. Mencapai standar yang tinggi. Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan motivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”.
  8. Menggunakan penilaian autentik. Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna.

Fokus Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa didalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan factor kebutuhan individual siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal berikut:
  1. Belajar berbasis masalah (problem-based learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yangn menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tenrang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
  2. Pengajaran autentik (authentic intruction) yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna.
  3. Belajar berbasis inquiri (inquiry-based learning) yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metidologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
  4. Belajar berbasis proyek/tugas (project-based learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehebsif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalama materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
  5. Belajar berbasis kerja (work-based learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa mrnggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbsis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja.
  6. Belajar berbasis jasa-layanan (service learning) yang memerlukan penggunaan metodelogi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut.
  7. Belajar kooperatif (cooperative learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa intuk bekerja sama dalam mencapai tujuan belajar.

Strategi Umum Pembelajaran Kontekstual

Center of Occupational Reseach And Development (CORD) menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual, yang disingkat react, yaitu:
  1. Relating, artinnya belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
  2. Experiencingartinya bBelajar ditekankan kepada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention).
  3. Applying yaitu belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan didalam konteks pemanfaatannya.
  4. Cooperating maksudnya belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama dan sebagainya.
  5. Transferring artinya belajar melalui pemanfaatan pengetahuan didalam situasi atau konteks baru.

Komponen Pembelajaran Kontekstual

Dalam pembelajaran kontekstual ada 7 komponen pokok yang harus dikembangkan oleh guru yaitu:
  1. Kontruktivisme. Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran melalui CTL, pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Mengapa demikian? Karena pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Asumsi inilah yang mendasari diterapkan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
  2. Inquiry. Inquiry artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Secara umum proses inkuiry dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut: Merumuskan masalah, Mangajukan hipotesis, Mengumpulkan data, Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, dan Membuat kesimpulan.
  3. Bertanya (questioning). Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran, Membangkitkan motivasi untuk belajar, Meransang keingintahuan siswa terhadap sesuatu, Menfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan, dan Membimbing siswa untuk menemukan atau mengumpulkan sesuatu.
  4. Masyarakat Belajar (learning community). Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain (kelompok belajar, sharing). Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan dan juga mendatangkan dan mengundang orang-orang yang dianggap memilki keahlian khusus untuk membelajarkan siswa. Setiap orang bisa sering terlibat, bisa saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukan pengalaman.
  5. Pemodelan (modeling). Adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Proses modeling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.
  6. Refleksi (reflection). Adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap akhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya.
  7. Penilaian Nyata (authentic assessment). Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan hasil belajar. Karakteristik authentic assessment adalah:Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, Yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta, Berkesinambungan, Terintegrasi, Dapat digunakan sebagai feed back, dan Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn).

Berdasarkan pemahaman, karakteristik, dan komponen pendekatan kontekstual, beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran kontekstual, antara lain:
  1. Pembelajaran Berbasis Masalah. Sebelum melalui proses belajar mengajar didalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada.
  2. Tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
  3. Memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajarGuru memberikan penugasan yang dapat dilakukan diberbagai konteks lingkungan siswa, antara lain: di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan diberikan oleh guru, memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di luar kelas.
  4. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman lansung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai penugasan standar kompetensi, kemampuan dasar, dan materi pembelajaran.
  5. Memberikan aktivitas kelompok. Aktivitas belajar secara berkelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima, maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
  6. Membuat aktivitas belajar mandiri. Peserta didik mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka mamproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji coba terlebih dahulu, menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri.
  7. Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat. Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung, dimana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerjasama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja.
  8. Menerapkan penilaian autentik. Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu.

Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran. Adapun bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru, yaitu portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Bentuk penilaian seperti ini lebih baik daripada menghafalkan teks, siswa dituntut untuk menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi agar dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

D. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)

Model Problem Based Instruction adalah suatu metode yang diajarkan dengan melihat fakta yang berkembang atau berdasarkan masalah yang ada kemudian akan dilakukan diskusi dan pemecahan masalah tersebut. Model Pembelajaran berdasarkan pada masalah tertentu, bertujuan untuk:
  1. Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan memecahkan masalah.
  2. Belajar menjadi peranan sebagai orang dewasa.
  3. Belajar Mandiri.

Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah sebagai berikut:
  1. Penetapan tujuan guru mendeskripsikan tujuan model pembelajaran masalah.
  2. Merancang situasi masalah guru merumuskan masalah yang akan dipelajari/ diselidiki siswa. Masalah tersebut harus otentik, dan bermakna bagi siswa.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR MATA PELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI

A. Media Belajar PAI dan Budi Pekerti

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Media pembelajaran berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang berupa alat bantu audio-visual, komputer internet dan lain sebagainya.

Fungsi Media belajar antara lain:
  • Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
  • Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, dikarenakan obyek terlalu besar, obyek terlalu kecil, obyek yang bergerak terlalu lambat, obyek yang bergerak terlalu cepat, obyek yang terlalu kompleks, obyek yang bunyinya terlalu halus, obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik. c. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
  • Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
  • Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
  • Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
  • Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
  • Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak.

Macam-macam media belajar Pendidikan Agama Islam, diantaranya:
  • Media Visual: grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik.
  • Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya.
  • Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya.
  • Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
  • Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Sebagai contoh dalam penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.

Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
  • Kesesuaian dengan tujuan. Didalam pemilihan media harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Kesesuaian dengan materi pembelajaran. Media yang akan digunakan harus disesuaikan dengan materi pembelajaran.
  • Kesesuaian dengan karakteristik pembelajar atau siswa. Dalam hal ini media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa/guru. Karakteristik siswa dilihat dari segi kuantitatif ataupun kualitatif terhadap media yang akan digunakan. Artinya ada media yang cocok untuk sekelompok siswa, namun tidak cocok dengan siswa lainnya. Misalnya ada siswa yang memiliki kekurangan pada salah satu alat inderanya, maka guru tidak akan memilih media yang tidak bisa diserap oleh indera peserta didiknya. Selain itu, dipertimbangkan juga aspek kemampuan awal siswa, budaya maupun kebiasaan siswa. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari respon negatif siswa, kesenjangan pemahaman antara pemahaman peserta didik sebagai hasil belajarnya dengan isi materi yang terdapat pada media tersebut.
  • Kesesuaian dengan teori. Media yang dipilih bukan karena fanatisme guru terhadap suatu media yang dianggap paling disukai dan paling bagus, namun didasarkan atas teori yang diangkat dari penelitian dan riset sehingga teruji validitasnya. Media yang dipilih harus menunjukkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
  • Kesesuaian dengan gaya belajar siswa. Siswa yang belajar dipengaruhi oleh gaya belajar, oleh karenanya pemilihan media harus didasarkan pada kondisi psikologis siswa. Menurut Bobbi DePorter, terdapat tiga gaya belajar siswa; pertama, tipe visual. Siswa yang memiliki tipe visual akan mudah memahami materi jika media yang digunakan adalah media visual seperti TV, Video, Gafis dan lain-lain, kedua, tipe auditif. Siswa tipe ini lebih menyukai cara belajar dengan mendengarkan dibanding menulis dan melihat tayangan, ketiga, tipe kinestetik. Siswa pada tipe ini lebih suka melakukan dibandingkan membaca dan mendengarkan.

Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
  • Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan. Jadi kemungkinan suatu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin juga bisa digunakan untuk materi yang lain atau dengan kata lain menggunakan media sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
  • Media adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar saja, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen lain dalam perancangan pembelajaran.
  • Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar peserta didik. Kemudahan belajar peserta didik haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.
  • Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan, pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang berlangsung.
  • Pemilihan media hendaknya objektif, yaitu didasarkan pada tujuan pembelajaran, tidak didasarkan pada kesenangan pribadi tenaga pengajar, dan sebagainya.

B. Sumber Belajar PAI dan Budi Pekerti

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Dengan demikian sumber belajar itu merupakan bahan untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru.

Fungsi Sumber Belajar
  • Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
  • Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
  • Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
  • Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan meningkatkan kemampuan sumber belajar dan penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
  • Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit dan memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
  • Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

Jenis-jenis Sumber Belajar
  • Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
  • Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

Bentuk-bentuk sumber belajar
  • Sumber belajar pokok : Al-Qur-an dan Hadis.
  • Sumber belajar tambahan : Pesan informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya, Orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya, Bahan buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya.
  • Alat/perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera, papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya.
  • Pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya.
  • Lingkungan: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya.

Kriteria memilih sumber belajar
Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut:
  • Ekonomis adalah sumber belajar yang digunakan tidak harus terpatok pada harga yang mahal
  • Praktis adalah sumber belajar yang digunakan tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka
  • Mudah adalah sumber belajar yang digunakan dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita
  • Fleksibel adalah sumber belajar dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional
  • Sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa.

BUDAYA BELAJAR YANG DIKEMBANGKAN

Budaya atau kebudayaan tidak hanya berupa fenomena yang berwujud material semata, baik yang berupa benda, tindakan ataupun emosi, melainkan sesuatu yang abstrak yang terdapat dalam pikiran manusia, yaitu berupa model system pengetahuan manusia yang digunakan oleh pemiliknya untuk menafsirkan benda, tindakan dan emosi (Geodenough dalam Spradley, 1972). Tegasnya kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosio budaya yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman, lingkungannya yang menjadi kerangka landasan untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakuan (Suparlan: 1980). Berdasarkan konsep tersebut, maka budaya belajar juga dipandang sebagai model-model pengetahuan manusia mengenai belajar yang digunakan oleh individu atau kelompok social untuk menafsirkan benda, tindakan dan emosi dalam lingkungannya.

Cara pandang budaya belajar sebagai system pengetahuan mengisyaratkan bahwa, budaya belajar merupakan “pola kelakuan manusia yang berfungsi sebagai blueprint (pedoman hidup) yang dianut secara bersama” (Keesing & Keesing, 1971). Sebagai sebuah pedoman, budaya belajar digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, yang dapat menciptakan dan mendorong individu-individu bersangkutan melakukan berbagai macam tindakan dan pola tindakan yang sesuai dengan kerangka aturan yang telah digariskan bersama.

Dalam kaitannya itu, maka budaya belajar dapat dipandang juga sebagai strategi adaptasi yang berupa model-model pengetahuan belajar yang mencakup serangkaian aturan, petunjuk, resep-resep, rencana, strategi yang dimiliki dan digunakan oleh individu pembelajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya(spradley, 1972). Resep-resep tersebut berisikan pengetahuan belajar yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan dan tata cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya.

Pendidikan sebagai pranata social selalu berbeda dalam tatanan system social masyarakat pendukungnya, yang memiliki kedudukan penting yang relative sama dengan pranata keluarga, agama dan pemerintahan dalam menentukan tata kelakuan seseorang dan kelompok. Oleh karena itu kepribadian seseorang adalah produk dari budaya masyarakat pendukung kebudayaan itu.

Berdasarkan penjelasan diatas budaya belajar yang dikembangkan di sekolah harus berintegrasi dengan kegiatan intrakurikuler, Kokurikuler, dan ektrakurikuler.

A. Kegiatan Intrakurikuler Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kegiatan Intrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah yang sudah teratur, jelas. dan terjadwal dengan sistematik yang merupakan program utama dalam proses mendidik siswa. Jumlah jam mengajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti disesuaikan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

B. Kegiatan Kokurikuler Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kegiatan Kokurikuler adalah kegiatan yang sangat erat sekali dan menunjang serta membantu kegiatan intrakurikuler biasanya dilaksanakan diluar jadwal intrakurikuler dengan maksud agar siswa lebih memahami dan memperdalam materi yang ada di intrakurikuler, biasanya kegiatan ini berupa penugasan atau pekerjaan rumah ataupun tindakan lainnya yang berhubungan dengan materi intrakurikuler yang harus diselesaikan oleh siswa.

Dalam melaksanakan kegiatan kokurikuler, adal hal-hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
  1. Dalam memberikan tugas kokurikuler hendaknya jelas dan sesuai dengan pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang sedang diajarkan.
  2. Dalam memberikan tugas kokurikuler seorang guru hendaknya tahu mengenai tingkat kesulitannya bagi siswa sehingga tugas yang diberikan kepada siswa itu sesuai dengan kemampuannya dan tidak memberatkan baik pada fisiknya maupun psikisnya.
  3. Dalam penilaian tugas kokurikuler, hendaknya jelas dan adil sesuai dengan hasil masing-masing kemampuan siswanya.
  4. Dalam fungsi memberikan tugas kokurikuler, hendaknya selain untuk memperdalam pengetahuan siswa, guru juga hendaknya dengan tugas kokurikuler ini bisa membantu dalam penentuan nilai raport.

C. Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Istilah ekstrakurikuler secara etimologi terdiri dari “ekstra” dan “kurikuler”. Ekstra artinya tambahan diluar yang seharusnya dikerjakan. Sedangkan kurikuler berkaitan dengan kurikulum, yaitu perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada suatu lembaga tertentu. Akan tetapi mengingat pengertian kurikulum mengalami banyak perkembangan, maka kurikulum tidak lagi hanya sekedar jumlah mata pelajaran yang harus dilalui melainkan program yang disiapkan suatu lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu. Program itu berisi rumusan rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran, dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuanpendidikan tertentu.

Pendidikan di sekolah secara umum menyelenggarakan 2 kegiatan, yaitu kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran yang sudah terstruktur dan terjadwal. Sedangkan pendidikan melalui mata pelajaran yang terstruktur dan terjadwal sesuaidengan standar isi, termasuk kegiatan intrakurikuler. Adapun kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah adalah kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan diluar jam pelajaran intrakurikuler, yang dilaksanakan disekolah atau diluar sekolah untuk lebih memperluas pengetahuan, wawasan, kemampuan, meningkatkan dan menerapkan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler yang dituangkan dalam standar kompetensi kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Pengertian ekstrakurikuler yang terdapat pada Peraturan Menteri Agama Nomor 16 tahun 2010 bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah upaya pemantapan dan pengayaan nilai-nilai dan norma serta pengembangan kepribadian, bakat dan minat peserta didik pendidikan agama yang dilaksanakan di luar jam intrakurikuler dalam bentuk tatap muka atau non tatap muka.

Tujuan Ekstrakurikuler
  • Memperdalam dan memperluas pengetahuan dan wawasan keagamaan peserta didik.
  • Mendorong peserta didik agar taat menjalankan agamanya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menjadikan agama sebagai landasan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  • Membangun sikap mental peserta didik untuk bersikap dan berprilaku jujur, amanah, disiplin, bekerja keras, mandiri, percaya diri, kompetitif, dan bertanggung jawab.
  • Mewujudkan kerukunan antara umat beragama.

Tujuan Ekstrakulrikuler Pendidikan Agama Islam di sekolah
  • Pendalaman, yaitu pengayaan materi Pendidikan Agama Islam,
  • Penguatan, yaitu peningkatan keimanan dan ketaqwaan,
  • Pembiasaan, yaitu pengamalan dan pembudayaan ajaran agama serta perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari,
  • Perluasan, yaitu penggalian potensi, bakat, minat, keterampilan dan kemampuan peserta didik di bidang pendidikan agama.

Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler
  • Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
  • Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
  • Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
  • Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.

Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler
  • Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
  • Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
  • Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
  • Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.
  • Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
  • Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.

Pendekatan Ekstrakurikuler PAI di Sekolah
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam program kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah berdasarkan Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah yang diterbitkan oleh Kemenag RI adalah sebagai berikut:
  • Pendekatan Among
  • Pendekatan kekeluargaan dan sosial kemasyarakatan
  • Pendekatan keterampilan proses
  • Pendekatan pengalaman
  • Pendekatan pembiasaan
  • Pendekatan emosional
  • Pendekatan rasional

Beberapa alternatif metode yang dapat digunakan dalam proses kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah adalah sebagai berikut:
  • Metode simulasi
  • Metode sosiodrama
  • Metode demontrasi
  • Metode latihan (drill)
  • Metode karyawisata
  • Metode pemberian tugas
  • Metode tanya jawab
  • Metode diskusi
  • Metode ceramah
  • Metode cerita

Format Kegiatan
  • Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.
  • Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.
  • Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.
  • Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.
  • Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan).

Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler PAI di Sekolah
  • Pembiasaan. Salat berjamaah, Salat Duha, Membaca al-Qur’an mengawali dan mengakhiri suatu hari proses pembelajaran, Membaca doa mengawali dan mengakhiri proses pembelajaran dan pekerjaan lainnya, Membaca Asmaul Husna 10 menit sebelum jam pelajaran dimulai, Mengucapkan dan menjawab salam, Menjaga kebersihan, kesehatan dan lainnya, dan Membiasakan akhlak mulia (salam).
  • Pentas PAI. Musabaqah Tilawatil Qur’an, Kaligrafi, Hafalan suratpendek, Pidato, Cerdas cermat, Lomba mengarang tentang sejarah Islam, Membaca puisi, dan sajak, Qasidah, dan Marawis/hadroh.
  • Pesantren Kilat, dengan materi antara lain Keimanan, Ibadah, Akhlak, Praktik-Praktik dan latihan-latihan, dan Latihan pengendalian diri dan kebersamaan.
  • Ibadah Ramadan. Puasa Ramadan, Sahur dan Berbuka Puasa Bersama, Salat Lail (Tarawih), Tadarrus al-Qur’an, I’tikaf, Infak dan Sadaqah, Zakat Fitrah, Pesantren Kilat Ramadan, Peringatan Nuzulul Qur’an, Mendengarkan Ceramah Ramadan, Salat Idul Fitri, dan Halal Bil Halal.
  • Rohani Islam (ROHIS). Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dan pemahaman ajaranIslam, Kesadaran untuk berorganisasi, Mengorganisasikan tugas sehari-hari, Kemampuan keterampilan hidup yang sadar, Keterampilan berbahasa yang santun, Kesadaran berestetika, Kesadaran mentaati peraturan, Keterampilan sosial, Keterampilan Pengelolaan agresivitas, Keterampilan mengelola stress, dan Keterampilan merencanakan.
  • Wajib Belajar Membaca Menulis al-Qur’an. Mengenal huruf-huruf dalam al-Qur’an, Mengenal kata dalam al-Qur’an, Mengenalkata-kata pilihan dalam al-Qur’an, Mengenal ayat-ayat dalam al-Qur’an, Mengenal surat-surat dalam al-Qur’an, dan Mengenal hukum baca dalam al-Qur’an berkaitan dengan Tajwid.
  • Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Muhammad saw, Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw, Nuzulul Qur’an, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha
  • Praktik Ibadah. Praktik berwudu, Praktik Tayamum, Praktik Salat, Praktik Memandikan, mengafani, menyalatkan, menguburkan Jenazah, Praktik Zakat, Praktik Haji dan Umrah, dan Praktik Muamalah dan lainnya.

GURU SEBAGAI PENGEMBANG BUDAYA SEKOLAH

Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab II pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan menyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Serta Bab III pasal 4 yang menyatakan “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.” Dan bab IV pasal 5 yang menyatakan “Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.”

Berdasarkan undang-undang tersebut maka sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan harus melaksanakan amanat yang telah digariskan dengan cara menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan relevan agar siswa memiliki kualitas sesuai dengan profil peserta didik yang sesuai dengan amanat UU tersebut. Salah satu faktor penentu keberhasilan penyelanggaraan proses pendidikan adalah budaya yang dibangun dengan baik. Budaya sekolah yang baik diharapkan akan berhasil meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya memiliki nilai akademik namun sekaligus bernilai afektif. Budaya sekolah yang baik akan menunjukkan prestasi akademik siswa yang baik, berbudaya, berahlak dan berbudi pekerti yang baik.

Paparan di atas menunjukkan bahwa pengembangan budaya sekolah harus menjadi prioritas penting. Sekolah harus secara positif membangun budaya sekolah yang dilakukan dengan sebaik-baiknya, mengimplementasikannya secara konsisten, memperbaikinya secara berkelanjutan melalui peningkatan mutu terpadu agar sekolah benar-benar menjadi sebuah lembaga pendidikan yang terhormat yang berhasil melaksanakan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Budaya sekolah adalah pola nilai, keyakinan dan tradisi yang terbentuk melalui sejarah sekolah (Deal dan Peterson, 1990). Stolp dan Smith (1994) menyatakan bahwa budaya sekolah adalah pola makna yang dipancarkan secara historis yang mencakup norma, nilai, keyakinan, seremonial, ritual, tradisi dan mitos dalam derajat yang bervariasi oleh warga sekolah. Budaya sekolah adalah budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran bersama (shared ideas), asumsi-asumsi (assumptions), nilai-nilai (values), dan keyakinan (belief) yang dapat memberikan identitas (identity) sekolah yang menjadi standar perilaku yang diharapkan. (Zamroni, 2009).

Lembaga sekolah sebagai pihak internal seharusnya membangun budaya sekolah berdasarkan pemikiran-pemikiran lembaga yang ditunjang oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah, perilaku guru dan siswa serta pegawai dalam memberikan layanan kepada para siswa, orang tua, dan lingkungannya sebagai pihak eksternal. Budaya positif sekolah seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mengarahkan seluruh warga sekolah menuju perubahan-perubahan positif. Pada umumnya setiap sekolah telah memiliki budayanya sendiri namun sekolah yang berhasil adalah sekolah yang memiliki budaya positif yang sejalan dengan visi dan misi sekolah. Budaya sekolah yang baik, dapat menampilkan figur atau sosok guru sebagai multi fungsi dan keteladanan, memanfaatkan lingkungan alam, sosial dan budaya.

Bentuk kerjasama yang dapat dikembangkan di sekolah antara lain:

A. Guru Mata Pelajaran PAI dan Budi Pekerti dengan guru mata pelajaran lain

Hubungan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan guru mata pelajaran lain harus menunjukkan keharmonisan, baik di luar maupun di dalam sekolah, ketika di dalam sekolah hubungan itu akan dilihat langsung oleh siswanya. Oleh karena itu tingkah laku guru harus mencerminkan suri tauladan yang baik. Keharmonisan antara guru akan menimbulkan suasana kedamaian yang menyenangkan. Suasana sekolah yang efektif dirasakan sebagai penuh rasa kekeluargaan, bersifat praktis, dan penuh kejujuran. Sekolah selalu beranggapan, bahwa lingkungan sekolah yang baik merupakan prioritas utama untuk pencapaian kemajuan pendidikan di sekolah.

B. Guru dengan siswa

Tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan segenap potensi siswanya secara optimal, agar mereka dapat mandiri dan berkembang menjadi manusia-manusia yang cerdas, baik cerdas secara fisik, intelektual, sosial, emosional, moral dan spiritual. Sebagai konsekuensi logis dari tugas yang diembannya, guru senantiasa berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswanya. Dalam konteks tugas, hubungan diantara keduanya adalah hubungan profesional. Berikut ini bentuk kerjasama guru dengan siswa:
  1. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
  2. Guru membimbing siswa untuk memahami, menghayati dan mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.
  3. Guru mengetahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik secara individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.
  4. Guru menghimpun informasi tentang siswa dan menggunakannya untuk kepentingan proses kependidikan.
  5. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi siswa.
  6. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi siswa.
  7. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu siswa dalam mengembangkan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.
  8. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat siswanya.
  9. Guru bertindak dan memandang semua tindakan siswanya secara adil.
  10. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak siswanya.
  11. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan siswanya.
  12. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.

C. Guru dengan orang tua

Hubungan Kerjasama Antara Guru dan Orang tua dalam meningkatkan aktivitas belajar Murid:
  1. Adanya Kunjungan ke rumah siswa (home visit). Pelaksanaan kunjungan kerumah anak didik berdampak positif diantaranya kunjungan melahirkan perasaan pada diri siswa bahwa sekolahnya selalu memperhatikan dan mengawasinya. Kunjungan tersebut memberi kesempatan kepada guru melihat sendiri dan mengobservasi langsung cara siswa belajar, latar belakang hidupnya, dan tentang masalah-masalah yang dihadapinya dalam keluarga. Guru berkesempatan untuk memberikan penerangan kepada orangtua siswa tentang pendidikan yang baik, cara-cara menghadapi masalah yang sedang dialami anaknya. Hubungan antara orangtua dengan guru akan bertambah erat. Kunjungan dapat memberikan motivasi kepada orangtua siswa untuk lebih terbuka dan dapat bekerjasama dalam upaya memajukan pendidikan anaknya. Guru mempunyai kesempatan untuk mengadakan interview mengenai berbagai macam keadaan atau kejadian tentang sesuatu yang ingin ia ketahui. Terjadinya komunikasi dan saling memberikan informasi tentang keadaan anak serta saling memberi petunjuk antara guru dengan orangtua.
  2. Diundangnya Orangtua Kesekolah. Kalau ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang memungkinkan untuk dihadiri oleh orang tua maka akan positif sekali bila orang tua diundang untuk datang ke sekolah.
  3. Case Conference. Case Conference merupakan rapat atau conference tentang penyelesaian masalah. Conference biasanya dipimpin oleh orang yang paling mengetahui persoalan bimbingan konseling khususnya tentang permasalahan yang dimaksud tujuannya agar mencari jalan yang paling tepat agar masalah anak didik dapat diatasi dengan baik.
  4. Komite sekolah. Komite sekolah adalah organisasi orang tua siswa atau wali murid yang dimaksudkan untuk menjalin kerjasama dalam usaha pengembangan sekolah baik dari segi pembelajaran atau segi yang lain yang dapat membantu menciptakan suasana sekolah yang kondusif.
  5. Mengadakan Surat Menyurat antara Sekolah dan Keluarga. Surat menyurat diperlukan terutama pada waktu-waktu yang sangat diperlukan pada perbaikan pendidikan siswa, seperti surat peringatan dari guru kepada orang tua jika anaknya perlu lebih giat, sering membolos, sering berbuat keributan dan sebagainya.
  6. Guru dengan masyarakat. Bentuk-bentuk hubungan kerja sama guru dengan masyarakat antara lain mengikutsertakan guru dalam kegiatan masyarakat Partisipasi warga sekolah dalam kegiatan masyarakat sekitarnya, misalnya dalam kegiatan kerja bakti, perayaan-perayaan hari besar nasional atau keagamaan, sanitasi, dan sebagainya. Selain itu keikutsertaan guru dan siswa dalam kegiatan masyarakat bisa ditunjukkan dengan adanya program baksos (bakti sosial) untuk masyarakat yang kurang mampu ataupun yang terkena musibah/ bencana, kegiatan bazar sekolah dengan memamerkan hasil karya siswa, termasuk pementasan karya tulis, karya seni dan karya keterampilan pada saat hari kemerdekaan Republik Indonesia, kunjungan guru ke rumah tokoh masyarakat. Hal ini akan menambah kesan masyarakat sekitar akan kepedulian sekolah terhadap lingkungan sekitar sebagai anggota masyarakat yang senantiasa sadar lingkungan demi baktinya terhadap pembangunan masyarakat. Bagi sekolah sendiri, kegiatan tersebut dapat melatih para siswanya untuk lebih mudah dalam bersosialisasi dengan masyarakat dan untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap sesama, dan menjadi fasilitator dalam hal penyediaan fasilitas sekolah untuk keperluan masyarakat. Sekolah dapat menyediakan fasilitasnya untuk kepentingan masyarakat sekitar sepanjang tidak mengganggu kelancaran kegiatan pembelajaran.

Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang Pendidik untuk melalui tahap-tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik Pendidik harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh siswa. Untuk mampu melakukan proses pembelajaran ini guru harus mampu menyiapkan proses pembelajarannya.

Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran. Semua metode yang menjadi dasar dan prinsip pendidikan Islam beserta sederatan contohnya termasuk katagori metode pendidikan Islam yang secara operasional dapat digunakan untuk melakukan proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Mudah-mudahan pedoman ini menjadi acuan bagi para guru PAI dan Budi Pekerti jenjang SD/MI, dalam merencanakan, melaksanakan, dan melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran di sekolah sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas.
loading...

Informasi lain yang kami bagikan :

0 komentar: